Author
Poster 2019 Seoul Biennale of Architecture and Urbanism: Collective City (Foto oleh Gilbert Antonious)

Tahun ini Kota Seoul, Korea Selatan menyambut kembali acara arsitektur dwi tahunannya, setelah yang sebelumnya telah sukses dilaksanakan pada tahun 2017. “Collective City”, demikianlah tema yang dibawakan pada acara Seoul Biennale of Architecture and Urbanism tahun 2019 ini. Diselenggarakan oleh Seoul Metropolitan Government, acara ini bertujuan untuk menjadi sebuah wadah berdiskusi bagi publik dalam membahas perubahan dan perkembangan kota modern melalui arsitektur. Orang-orang dapat mengeksplorasi arsitektur perkotaan secara global melalui respon-respon inovatif yang disajikan oleh para peserta terhadap tantangan-tantangan tertentu. Sesuai dengan temanya, komunikasi yang terjalin diharapkan menjadi strategi kolektif yang dapat diberdayakan terhadap dinamika socio-urban perkotaan.

Mengutip Jaeyong Lim dan Francisco Sanin sebagai co-director Seoul Biennale of Architecture and Urbanism (SBAU) 2019, kota pada hakikatnya merupakan wilayah yang diperebutkan jika dilihat dari berbagai macam aspek, seperti hak orang-orang untuk mendapatkan tempat tinggal, akses kepada sumber daya alam dan sumber daya sosial, transportasi, kebebasan berpolitik dan keadilan; selagi secara terus menerus menghadapi tantangan-tantangan dari luar, seperti migrasi, perubahan iklim, dan meningkatnya ketidakadilan. SBAU 2019 mengklaim arsitektur sebagai partisipan aktif dalam membentuk sebuah kota dari segi politik dan budaya, dan bukan hanya berperan sebagai objek-ikon seperti yang dianggap publik saat ini.

Acara yang berlangsung dari tanggal 7 September hingga 10 November 2019 ini terbagi menjadi empat kategori, yakni:

  1. Thematic Exhibitions, menjadi bagian dari pameran yang mengajak orang-orang untuk melihat kembali seperti apa tatanan kota saat ini. Mengubah paradigma yang selalu menganggap tanah adalah hak milik individu dan untuk diperjualbelikan, menjadi hak milik bersama dan bahwa kota adalah hasil investasi bersama. Isi dari pameran ini berupa kritik terhadap proses urbanisasi kontemporer, explorasi sistem infrastruktur dan mempertanyakan material dan produksinya, serta uji coba terhadap model-model alternatif melalui inovasi tipologis – inovasi berdasarkan jenis dan tipe kotanya – untuk memperluas dan menetapkan teritori-teritori baru.

  2. Cities Exhibitions, menjadi panggung diskusi untuk lebih memahami lagi konsekuensi yang diakibatkan oleh adanya konsep kota kolektif ini dan hubungan antarkota. Bahwa pada dasarnya kota berperan sebagai sebuah konsekuensi yang ditanggung bersama. Sebagai sebuah tempat tinggal, kota selalu berubah oleh karena faktor-faktor yang direncanakan maupun yang tidak direncanakan.

  3. Global Studios, merupakan wadah bagi mereka yang berstatus pelajar, khususnya arsitektur, baik domestik maupun internasional, untuk mengutarakan pendapat mereka mengenai konsep kota kolektif ini. Beragam studi kasus dan proposal desain disuguhkan sebagai respon terhadap lingkungan yang dibentuk dari peranan sosial dan ekonomi, dan memungkinkan untuk memberi pengaruh yang kuat terhadap masyarakat.

  4. Live Projects, secara khusus membahas tentang wujud pasar secara fisik di Kota Seoul yang semakin hari semakin bertambah banyak dan semakin kompleks dalam hal fungsi, menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakatnya. Di tengah-tengah kependudukan yang padat, pasar memiliki peran yang sangat penting dalam hal tatanan sosial ekonomi suatu kota. Dalam pameran ini, para peserta berpartisipasi dengan cara mengintervensi area pasar dengan instalasi sebagai pembuktian bahwa arsitektur dan urbanisme dapat memberikan peran dalam mengubah area yang sifatnya sangat tradisional, seperti pasar.


Instalasi ‘Weaving Dome’

Instalasi ‘Weaving Dome’ (Foto oleh Gilbert Antonious)

Salah satu instalasi yang dipamerkan dalam segmen Live Projects SBAU 2019 di Sewoon Plaza adalah ‘Weaving Dome’. Instalasi ini berbentuk kubah dan terbuat dari kumpulan keranjang anyaman bambu yang terinspirasi dari keranjang-keranjang yang digunakan oleh para penjual di sekitar pasar. Selain itu, di antara keranjang-keranjang tersebut diselipkan akrilik yang beraneka warna sehingga ketika terkena sinar matahari, akan menghasilkan efek visual yang indah. Penggunaan warna ini terinspirasi dari warna-warna yang setiap harinya dapat ditemui di sekitar area pasar.

Detail tampilan instalasi ‘Weaving Dome’

Detail tampilan instalasi ‘Weaving Dome’ (Foto oleh Gilbert Antonius)

Adapun pelaksanaan acara tersebar di seluruh Kota Seoul, mendorong pengunjung untuk tidak hanya menikmati pameran saja, tetapi secara langsung mengeksplorasi Kota Seoul juga. Tempat pelaksanaannya, yaitu Dongdaemun Design Plaza (DDP), Donuimun Museum Village, Seoul Hall of Urbanism & Architecture, Sewoon Plaza, dan Daelim Plaza.

Tampilan pameran Thematic Exhibitions SBAU 2019 di Dongdaemun Design Plaza

Tampilan pameran Thematic Exhibitions SBAU 2019 di Dongdaemun Design Plaza (Foto oleh Jesslyn Amanda dan Gilbert Antonious)

Tampilan pameran Global Studios SBAU 2019 di Sewoon Plaza

Tampilan pameran Global Studios SBAU 2019 di Sewoon Plaza (Foto oleh Gilbert Antonious)

Kota, sungguh adalah sebuah lingkungan yang sangat kompleks dengan seribu kisah dan permasalahan yang terjadi setiap harinya. Tanpa disadari, arsitektur mengambil alih peran utama di dalam membentuk alur dari kisah-kisah tersebut, sejak masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Arsitektur mampu memberikan identitas kepada sebuah kota, membentuk batasan-batasan teritorinya, menghidupkan kembali sejarah dan menjadi jaminan masa depan, serta yang paling penting, arsitektur mampu untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia yang ada di dalamnya.

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu