Final Display

An exhibition to close all the hardworks we have gone through

Author
Pembukaan acara Final Display dihadiri oleh mahasiswa arsitektur UPH beserta para dosen dan rekannya

Mahasiswa dari berbagai angkatan datang berkunjung ke setiap studio untuk melihat karya-karya akhir

(Karya Johan Raphael & Ivan Linardi, DA3)

Final Display, acara tahunan mahasiswa arsitektur Universitas Pelita Harapan, dibuka pada Selasa, 12 Desember 2017. Acara pada hari itu dihadiri oleh para dosen dan mahasiswa dari angkatan 2014-2017. Pameran terbuka untuk publik pada tanggal 16 hingga 17 Desember. Dalam Final Display, proses ber-studio dan proyek akhir semester mulai dari maket studi, maket final, board research, board presentasi dari setiap studio ditampilkan sesuai dengan masing-masing topik pembelajaran dari setiap angkatannya.

Kegiatan Final Display dibuka oleh Bpk. Ferry Gunawan selaku ketua program studi arsitektur di ruang studio 2017 dan dilanjutkan dengan kata sambutan dari ketua Final Display, yaitu Stephanie Sutikno. Setelah itu, mahasiswa per studio diajak untuk berkeliling ke setiap studio untuk dapat melihat hasil akhir dari kakak ataupun adik kelasnya secara bergiliran. Kegiatan selama Final Display tersebut bukan hanya sekedar membawa pengunjung untuk datang berkeliling dan melihat-lihat karya. Selain itu, setiap studio juga menyelenggarakan acara hiburannya masing-masing, seperti talkshow dengan beberapa dosen, penampilan bakat dari beberapa performer, door prize, ulasan singkat mengenai karya terbaik setiap angkatan. Acara Final Display disambut meriah oleh mahasiswa, terutama ketika penutupan yang diisi dengan nominasi mahasiswa dan dosen dengan kategori yang unik dan berhasil membangkitkan semarak para mahasiswa untuk tertawa dan bersorak bersama.

Studi Glow
Touch of art brighten your study.


Gelap namun terang. SDD 2 (mahasiswa angkatan 2017) menyuguhkan dan mengundang pengunjung untuk ikut menelusuri dan merasakan pengalaman ruang nan gelap karena sisi studio ditutup dengan kain hitam. Suasananya tenang. Tenang oleh karena berkas cahaya oleh lampu-lampu flouresent yang tak menyilaukan mata, namun berhasil memberikan penerangan yang baik bagi pengunjung untuk melihat-lihat hasil studi mereka. Ruang terbagi karena perbedaan warna lampu; biru, ungu, dan merah. Selama studio ini, pembelajaran mereka terdiri dari tema bentuk dasar, elemen dasar desain, operasi desain, prinsip desain, gestalt dan opt art. Di sisi kiri dan kanan pengunjung, ditampilkan maket abstraksi yang telah disusun. Bentuknya yang unik mampu membuat para pengunjung bertanya-tanya apa konsep desainnya? Mengapa bentuknya seperti itu? Beberapa pengunjung adapula yang tertarik dengan karya para mahasiswa dan meninggalkan sticky notes dengan tulisan berkonsepkan, “good job!”, “keren!”, dan sejenisnya. Selain pameran hasil akhir studi di Final Display, mereka telah menggelar pameran publik yang bertemakan Interpreting Christmas yang diadakan dari tanggal 8 Desember 2017 hingga 10 Januari 2018 berlokasi di Taman Menari Matahari Lippo Karawaci. Hasil studi setiap tim dipamerkan dalam skala 1:1 juga ikut menyemarakkan suasana Natal pada malam hari dengan permainan cahaya dan bentuk dari instalasi.

Solitary Living
Breaking the rules to live in unusual living spaces. How architecture could be built on sites previously thought as unhabitable?


Studio Desain Arsitektur 1 (mahasiswa angkatan 2016) memiliki suasana yang berbeda. Pengunjung dituntun melihat-lihat karya melalui layout ruangan yang sudah diatur sehingga pengunjung pun tahu alur perjalanannya. Berbicara tentang lebar, begitu juga dengan maket final mahasiswa angkatannya. Pandangan pertama pengunjung cenderung tertuju pada tampilan maket site yang besar berskala 1:100 dan maket potongan prinsip 1:50, langsung bisa merepresentasikan keberadaan tempat tinggal di lokasi yang ekstrim tersebut. Maket tersebut dibuat oleh setiap mahasiswa dengan menggunakan material-material sederhana, mulai dari kardus yang disisir, bubur kertas koran, glue gun dan plastik, hingga penggunaan paku besi. Site yang dipilih tentu bukan hanya sekedar penempatan arsitektur biasa, melainkan keberadaannya ada yang di padang gurun, hutan, kutub utara, goa, danau, tebing, sawah, dan laut. Bpk. Jacky Thiodore selaku koordinator dari studio DA 1 ini mengatakan bahwa respon yang diharapkan di studio ini ialah agar mahasiswa dapat berpikir kritis dalam menggali informasi yang asing bagi mereka. Ketika mereka melakukan research mengenai suatu daerah, maka mereka sekaligus mempelajari materi lokal. Materi lokal inilah yang membawa mereka sampai kepada tahap program ruang, penghuni, ruang arsitektur, dan material fisik arsitekturnya.

Temporary Living Space

Talkshow, membicarakan tentang perancangan Urban Youth Hostel pada studio DA3
Memasuki suasana ruang pada pameran studio Desain Arsitektur 3 (angkatan 2015), pengunjung tidak diarahkan langsung oleh bilik-bilik sama seperti angkatan 2017, melainkan pengunjung bebas berpencar dan ingin melihat mulai dari mana saja. Enam titik pameran Youth Hostel dari studio ini tetap sama; yaitu menampilkan maket studi dan 2 maket final, disertai dengan board presentasi setiap tim. Dosen-dosen yang membawa rekannya terlihat ada yang sedang membahas beberapa projek mahasiswa, mereka tersenyum dan saling berpendapat. Bahasa tubuh mereka bisa dibaca bahwa mereka sedang membicarakan karya tersebut.

Pengunjung bukan hanya dari kalangan mahasiswa, melainkan juga dari para dosen beserta rekannya


“Pada studio kali ini, mahasiswa ditantang untuk mendesain youth hostel bagi para user, berupa backpacker yang digunakan dalam jangka waktu yang singkat dan budget yang minim”, ucap Bpk. Alvar Mensana selaku koordinator dari angkatan ini. Mahasiswa merancang mengikuti site dan konteks yang berlokasi di Harmoni di Jakarta Pusat, tepat seberang halte pusat bus TransJakarta. “Studio ini berangkat dari isu ergonomi dan utilitas. Kita mengerti ruangan itu seberapa besar dan untuk kegiatan apa. Dari utilitas, kita belajar bagaimana ergonomi bisa terhubung dengan ruang dan user-nya. Kita juga belajar program ruang dan sequence. Pada projek akhir, mahasiswa dihadapkan dengan konteks site dan ditantang untuk membuat program untuk 100 pengguna.” ungkap beliau ketika MC menanyakan apa yang sebenarnya diharapkan dalam pembelajaran studio tahap ini.

(Karya Klaudia Tan & Jeremiah Tiono, DA 3)

Dinding diantara Kita

Maket tapak sebagai representasi eksisting bangunan beserta konteksnya
Studio Desain Arsitektur 5 yang dikoordinasi oleh Bpk. Dicky S. Tanumihardja juga memiliki pembelajaran kuliah yang berbeda pula. Studio DA 5 ini cenderung lebih tenang dan terlihat kosong. Kosong, bukan berarti semua mahasiswa tidak mengeluarkan output, melainkan board mereka dibundel menjadi buku A3 sehingga tak ada lagi kertas-kertas besar yang terpampang menghiasi dinding ruangan. Pun maket-maket final mereka tak terlalu besar, skala bergantung pada masing-masing mahasiswa dan sebagian besar memperlihatkan bagaimana eksisting arsitektur pada tapak yang telah dipilih.

(Karya Lina Puspitasari, DA 5)
Angkatan 2014 membahas tentang revitalisasi Kota Lasem untuk mengenal isu dan persoalan arsitektur di Indonesia. Caranya yaitu dengan mempelajari objek studi berupa site dengan kompleksitas sosial, budaya, dan lingkungannya. Tujuan dari studio ini ialah untuk melatih kepekaan dan intuisi baik desain maupun perencanaan para mahasiswa untuk memberikan solusi dengan pendekatan yang spesifik. Pada akhirnya, solusi tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat yang dilayaninya.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu