Anabata Live Series #1: Budi Pradono dan Junya Ishigami

Anabata Live Series #1 mengkombinasikan atmosfer bangunan tua dengan semangat berkarya arsitek muda.

Author
Suasana acara Anabata Live Series #1

Di dalam bangunan tua Tjipta Niaga-Kota Tua Jakarta, pengunjung duduk mengitari panggung persegi, dimana Budi Pradono dan Junya Ishigami mempresentasikan karya-karyanya. Cat-cat yang mulai mengelotok kontras dengan sorotan proyektor ke layar-layar yang dipasang di empat sisi ruangan. Kualitas suara yang jelas dan tampilan video serta klip presentasi mereka menjadikan Anabata Live Series #1 sebagai presentasi arsitektur dengan suasana seperti konser musik. Briantarra Ajibadi, sebagai perwakilan dari Anabata memang sengaja membuat acara arsitektur dalam kemasan baru, yaitu seperti konser dan berharap dapat menjadi preseden bagi acara serupa.

Sabtu, 8 Agustus 2015 Anabata bekerja sama dengan Triennale Arsitektur UPH 2015 menggelar Anabata Live Series #1 sebagai acara puncak dari pameran mahasiswa arsitektur UPH dan serangkaian acara diskusi arsitektur pada Triennake Arsitektur 2015 bertemakan Waktu Adalah Ruang. 

Acara ini dimulai dengan presentasi oleh Budi Pradono, principal architect dari Budi Pradono Architects  dan dimoderasi oleh Kumiko Homma, seorang pakar di bidang Comperative Civilization Studies yang telah tinggal di Indonesia sejak 2008. 

Pada sesi ke-2, Junya Ishigami, arsitek dari Jepang yang merupakan principal architect dari junya.ishigami+associates, memulai presentasinya dengan dimoderasi oleh Avianti Armand, arsitek Indonesia yang juga memiliki profesi sebagai penulis.

Kedua pembicara ini membicarakan karya-karya mereka sendiri baik yang sudah direalisasikan maupun yang sedang berjalan.

 

Dimulai dari kiri, Kumiko Homma, Budi Pradono, Avianti Armand, serta Junya Ishigami

Dimulai dari kiri, Kumiko Homma, Budi Pradono, Avianti Armand, serta Junya Ishigami photo by: William Sutanto

 

Budi Pradono: Pulau Run dan Pulau Manhattan, Gunung, serta Karya-karyanya

Budi Pradono saat sesi tanya jawab

photo by: William Sutanto

Budi Pradono membuka presentasinya dengan sejarah pulau Run yang berada di Maluku dengan pulau Manhattan yang berada di New York. Melalui Perjanjian Breda yang mengikat Inggris dan Belanda dalam pertukaran pulau, pulau Run diberikan kepada Belanda dan pulau Manhattan diberikan kepada Inggris. Pada 1667, kedua pulau ini memiliki nilai yang sama. Namun, nilai itu berubah menjadi berbeda sekali seiring berjalannya waktu. Pulau Manhattan semakin hari semakin bertumbuh seiring revolusi di bidang arsitektur, sedangkan pulau Run tetap seperti beberapa ratus tahun yang lalu. New York menjadi kunci kemajuan teknologi yang tinggi. Hal tersebut menyadarkan Budi Pradono bahwa seorang arsitek harus memiliki pemikiran yang sama tentang waktu dan ruang. Menurutnya, relasi antara waktu dan tempat, dimana seorang arsitek menciptakan ruang, ditentukan oleh arsiteknya.

Bagi Budi Pradono gunung merupakan tempat yang penting bagi manusia. Saat ia meletus, ia berkontribusi dalam sejarah dunia, contohnya seperti di Indonesia, pada 1815, gunung Tambora meletus dan mengeluarkan awan sehingga menutupi matahari di benua Eropa. Hal itu menyebabkan Napoleon menjadi kalah perang melawan Prusia. Seperti halnya gunung yang meletus, arsitek juga meninggalkan tanda saat ia merancang sesuatu, sehingga arsitek harus memikirkan apa yang akan ia hasilkan karena itu akan menjadi bagian dalam sejarah. 

Mountain of Hope

Mountain of Hope di Venice Architecture Biennale 2014 © Budi Pradono Architects

Selain membicarakan hal tersebut, ia juga mengutarakan proyek-proyeknya baik yang terealisasikan maupun yang sekedar proposal. Selain proyek-proyek arsitektural, ia juga menciptakan instalasi seperti Mountain of Hope yang merupakan atap Indonesia yang juga merepresentasikan gunung, dan juga Clay City. Ia juga menciptakan beberapa furniture-furniture seperti Substraksius Table dan juga meja untuk memperingati gempa bumi di Jepang yang ia beri nama Q Table.

Q Table

Q Table © Budi Pradono Architects

Walaupun karyanya  yang berjudul Inverted Pyramid masih dalam bentuk proposal, karya ini merupakan karya yang paling Budi banggakan. Karya yang merupakan rumah susun dengan taman yang lebih besar diciptakan pada tahun 2012 dan masih terus berkembang konsepnya sampai sekarang ini. Karya ini Budi anggap sebagai karya utopia karena kemungkinan karya ini tidak dapat direalisasikan dan hanya merupakan sebuah konsep. Namun, ada beberapa bagian dalam karyanya yang dapat dipakai dan direalisasikan.

Budi Pradono dengan Inverted Pyramidnya

Kumiko Homma, Budi Pradono, serta Inverted Pyramidnya. photo by: William Sutanto

 

Junya Ishigami dan Karya-karyanya 

Junya Ishigami

photo by: William Sutanto

Setelah perkenalan singkat yang dilakukan oleh Junya Ishigami, ia langsung mempresentasikan karya-karyanya. Dimulai dari karya non-arsitekturalnya yaitu sebuah meja yang ia namakan Table, hingga karya-karya arsitekturalnya baik yang sudah, sedang, maupun yang akan dibangun. Arsitek kelahiran tahun 1974 ini memulai presentasinya dengan meja buatannya. Dengan panjang 9,5 m, lebar 2,6 m, tinggi 1,1m,  dan ketebalan baja 4,5 mm dengan lapisan kayu penutup setebal 3 mm, meja yang ‘setipis’ kertas ini dapat berdiri seperti meja pada umumnya tanpa melendut.

Table

Table © junya.ishigami+associates

Selanjutnya ia menjelaskan proyeknya yang telah terbangun lainnya yaitu Garden House. Rumah yang tamannya bukan ada di luar bangunan namun terdapat di dalam bangunan tersebut. Dalam rumah yang dirancang untuk pasangan muda di Jepang ini, Junya tidak hanya menciptakan ruang yang baru namun juga lingkungan yang baru. Walaupun rumah ini berbentuk kotak seperti rumah pada umumnya dan dibuat dengan façade yang polos, keunikan rumah ini terdapat pada konsep yang Junya pegang bahwa ia membuat hunian yang benar-benar menyatu dengan alam. 

di dalam garden house

Bagian dalam dari Garden House © junya.ishigami+associates

tampak garden house

Tampak depan dari Garden House © junya.ishigami+associates

Junya memiliki beberapa proyek yang berada di luar Jepang seperti Lecture Hall in The Park, Yohji Yamamoto New York Store, serta renovasi Polytechnic Museum di Moskow. Serta proyeknya yang berada di Jepang seperti KAIT (Kanagawa Institute of Technology) Multi-purpose Hall, House & Restaurant, KAIT Workshop, serta instalasi “Balloon”nya. 

kait workshop

KAIT Workshop © junya.ishigami+associates

Menurut saya, dari seluruh karya yang dipresentasikan oleh Junya, proyek House & Restaurantlah yang paling menarik karena keunikannya. Dalam proyek yang dikatakannya sebagai low budget project ini, ia membuat semacam ‘gua’ dengan cara menggali tanah secara acak, lalu ia menuangkan adukan beton ke dalam ‘cetakan’ tanah tersebut. Setelah betonnya mengering, ia menggali tanahnya dengan kedalaman yang lebih dalam sehingga menyisakan ‘bangunan’ yang terbuat dari beton tersebut. ‘Bangunan’ itulah yang akan dipakai menjadi rumah serta restaurantnya. Proyek ini akan dimulai pada musim semi tahun ini.

Selain proyek House & Restaurant, proyek lain yang mengesankan ialah KAIT Multi-purpose Hall yang akan dimulai tahun depan. KAIT Multi-purpose Hall yang terletak di sebelah KAIT Workshop ini memiliki luas 70 m x 110 m dan akan dibuat tanpa adanya kolom di dalam ruangan yang dibuat. Pondasinya hanya akan berada pada dinding yang membatasi ruangan itu dengan lingkungan luarnya. Atap dengan ketebalan 9 mm hanya akan didukung dengan dinding luar. Dengan atap yang ia buat dengan bolong-bolong, terdapat area dimana saat hujan akan masuk hujannya dan ada juga yang tertutupi oleh atap. Ia mendapatkan inspirasi membuat atap seperti itu melalui horizon bumi. Dalam horizon, dapat terjadi hujan di suatu tempat dan ‘cerah’ di tempat lain. 

Dengan mendatangkan dua arsitek yang keryanya tersebar di mancanegara, Anabata Live Series #1 diharapkan dapat menjadi preseden untuk mendatangkan narasumber-narasumber yang berkualitas demi memperkaya pengetahuan akademisi dan praktisi melalui dialog secara langsung.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu