Anabata Live Series #5

"Arsitektur berkelanjutan ala Menis dan Nieto Sobejano"

Author
Fernando Menis, Fuesanta Nieto, Enrique Sobejano, dan Achmad D. Tardiyana

Sabtu (4/8/2018) Soehanna Hall dipenuhi oleh pengunjung dari dunia arsitektur yang antusias untuk mengikuti acara Anabata Live Series. Live Series yang sudah diadakan sejak Agustus 2015 menyajikan presentasi dari arsitek mancanegara. Pada Live Series 1 Anabata mengundang Junya Ishigami dan pada Live Series 2 Anabata mengundang pasangan Joshua Comaroff & Ong Ker-Shing (Lekker Architect) serta Florian Idenburg & Jing Liu (SO-IL). Berbeda dengan Live Series 3 yang menampilkan dua arsitek Asia, Live Series 5 mengundang arsitek – arsitek yang berasal dari Benua Eropa, atau lebih tepatnya dari Spanyol. Arsitek yang diundang antara lain adalah Fernando Menis (Menis Arcquitectos, Tenerife Spain), Fuensanta Nieto, dan Enrique Sobejano (Nieto Sobejano Arquitectos). Seperti format acara Anabata sebelumnya, acara ini dibagi menjadi tiga bagian, presentasi pertama oleh Fernando Menis, dilanjutkan oleh Nieto Sobejano Architects, dan ditutup dengan sesi tanya jawab. 

Seperti Live Series sebelumya, acara dibuka dengan penampilan musik yang berlangsung kurang lebih selama setengah jam dan dilanjutkan dengan presentasi oleh Artemi sebagai sponsor utama dari acara Anabata Live Series 5. Setelah presentasi oleh Artemi, Wendy Djuhara selaku host, mengundang Achmad Tardiyana sebagai moderator untuk memulai acara utama. 

Presentasi pertama dilakukan oleh Fernando Menis, arsitek pendiri dari Menis Arcquitectos. Menis adalah seorang arsitek kelahiran Tenerife, Spanyol, tepatnya di Canary Islands. Beliau merupakan lulusan dari Barcelona Institute of Architecture yang sekarang menjabat sebagai Chairman of the Laboratory for Innovation in Architecture, Design and Advanced Tourism of Tenerife dan Profesor di European University of the Canary Islands. Menis juga tidak jarang mendapat undangan menjadi pembicara pada beberapa universitas ternama di dunia, seperti Harvard dan University of Berlin. Menis memenangkan banyak penghargaan, diantaranya adalah Best Cultural Building in Poland, SARP Awards (Association of Polish Architects), 2016; Best Concrete Building Award, World Architecture News Intl. Awards (WAN), United Kingdom, 2016; World Architecture Festival (WAF) First Prize in the “New & Old” category and the Director’s Special Award, 2012; "Simproni Accessibility Architecture" First Prize, 2007, dan tentunya masih banyak penghargaan dan nominasi lainnya.

Fernando Menis, pendiri dari Menis Arquitectos di Tenerife, Spanyol mempresentasikan karyanya.

Dalam presentasinya yang berlangsung kurang lebih selama satu jam, Menis menjelaskan objek – objek arsitektur yang selama ini telah dirancangnya. CKK Jordanki, salah satu karya yang dipresentasikan oleh Menis, merupakan sebuah concert hall yang didirikan di Polandia. Bangunan ini didominasi oleh struktur yang adalah gabungan dari beton campuran dan pecahan bata merah, sebuah teknik yang disebut picado oleh Menis, yang tujuan utamanya adalah untuk mengaugmentasi akustik ruang agar optimal saat acara – acara seperti konser.

Tidak hanya bangunan, namun juga instalasi yang ia buat bersama timnya, salah satunya instalasi lighting di Pulau Fuerteventura, Canary Islands. Oleh sebuah premis utama yaitu untuk menciptakan pencahayaan berkelanjutan dalam hal konsumsi energi dengan menggunakan bahan daur ulang, Menis dan tim mengumpulkan barang – barang bekas seperti plastik, botol, bahkan pelampung ban bekas yang dibuang di pinggir pantai, dan berhasil menggubahnya menjadi sebuah instalasi jalanan yang berfokuskan pada atraksi bagi turis. 

Dari presentasi yang dipaparkan olehnya, Menis kerap menekankan bahwa arsitektur yang dirancangnya adalah arsitektur yang berkelanjutan dan mudah beradaptasi dengan lingkungan di mana objek tersebut didirikan, diwakili oleh proyek yang berbiaya relatif rendah dan menggabungkan elemen alami dari lanskap perkotaan dengan arsitektur yang dirancangnya.

Presentasi kedua dari Nieto Sobejano Arquitectos, biro arsitektur yang didirikan oleh Fuensanta Nieto dan Enrique Sobejano. Nieto Sobejano Arquitectos didirikan pada tahun 1985, dan sekarang sudah memiliki kantor di Madrid dan Berlin. Fuensanta Nieto dan Enrique Sobejano telah bekerja sebagai arsitek sejak lulus dari Universidad Politécnica de Madrid dan Graduate School of Architecture and Planning di Universitas Columbia, New York pada tahun 1983. Keduanya sekarang menjabat sebagai profesor di Universidad Europea de Madrid (Nieto) dan Universität der Künste Berlin (Sobejano). Nieto Sobejano Arquitectos, tidak lain dengan Menis, juga memenangkan banyak penghargaan, beberapa antaranya adalah Alvar Aalto Medal 2015; Hannes-Meyer Award 2012; Award of the VIII BIENAL Iberoamericana de Arquitectura y Urbanismo 2012, dan lainnya.

Presentasi Nieto Sobejano didominasi oleh karya-karya museum dan galeri seperti Montblanc Haus, yang mengeksposisikan pendekatan desain dengan bentuk – bentuk geomteri sederhana, namun pada saat yang sama merupakan desain yang kompleks. 

Fuensanta Nieto selaku co-founder dari Nieto Sobejano Arquitectos menjelaskan karya arsitektur yang selama ini dibuatnya.

Karya dari Nieto Sobejano Arquitectos memiliki karakter yang konsisten dengan menggunakan bentuk geometri dasar, seperti heksagon sebagai ide awal dari desain, seperti contoh Mercado Barceló di Madrid, Spanyol.

Enrique Sobejano saat mempresentasikan karya Barcelo Temporary Market di Madrid.

Bangunan Nieto Sobejano secara bentukan geometris memang memiliki karakternya dalam mendesain yang secara spesifik berbeda dari arsitek lainnya, objek arsitektur seakan – akan berteriak bahwa mereka adalah karya tangan dari Nieto dan Sobejano.

Fokus dari Nieto dan Sobejano bisa dibilang hampir sama dengan arsitektur yang dibuat oleh Menis, yaitu bagaimana arsitektur dapat menjawab atau menjadi solusi atas masalah yang terjadi di wilayah tempat dibangunnya objek tersebut. Hanya saja, pendekatan mereka terhadap merancang sebuah objek arsitektur yang berbeda. Menis dengan pendekatannya yang lebih tradisional dengan memaksimalkan material daur ulang seperti sampah plastik dan material – material berkelanjutan, sebagai contoh campuran beton dengan pecahan bata merah, di satu sisi lainnya Nieto Sobejano menggunakan approach yang simplistic, dalam artian tidak berlebihan dalam penggunaan material, bentukan, dan lainnya, selama arsitektur tersebut menjawab permasalahan yang ada di tempat objek tersebut dibangun. Bagaimanapun juga, kedua arsitek mengindikasikan pendekatan yang baik terhadap arsitektur dan problema yang muncul di dunia masa kini. 

Acara Live Series 5, kemudian diakhiri dengan sesi tanya jawab dan penyerahan plakat oleh Ahmad Djuhara selaku ketua Ikatan Arsitektur Indonesia, sebagai bentuk apresiasi kepada pembicara undangan dan moderator. Dengan berakhirnya acara Live Series 5 ini, pertanyaan yang muncul di benak orang – orang pastinya adalah apakah Live Series selanjutnya akan menampilkan arsitek – arsitek mancanegara dengan nama besar lagi?  Dari wilayah manakah akan arsitek arsitek yang diundang berasal, dan bagaimana pendekatan desain dari negara mereka akan berdampak pada diskusi serta perkembangan arsitektur di Indonesia ke depannya? 

Sesi tanya jawab bersama audience yang dipimpin oleh Achmad Tardiana sebagai moderator acara. 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu