Arsitektur dan Iklim

Jika iklim adalah yang kita harapkan dan cuaca adalah yang kita dapatkan, maka arsitektur selayaknya jadi penangkal rasa kecewa.

Author
(foto oleh jlhopgood, CC BY-ND)

Hujan tiba-tiba turun deras. Panas yang tadi begitu mendera, seketika jinak. Di luar, pembantu rumah telah selesai menurunkan tirai bambu untuk menghindarkan ruang duduk basah kena tempias. Ujung hujan yang menempa genteng dan tanah dengan keras memang kerap memantul masuk. Di dalam kamar, suasana redup meskipun baru pukul 15:43. Angin menyelusup dari kisi-kisi kayu, menjalar di sepanjang koridor, menghembus sudut kamar di mana saya duduk.

Di tempat lain, di Salihara, saya bayangkan sebuah kehebohan sedang terjadi. Nirwan Dewanto, Ketua Dewan Kurator Komunitas Salihara, menceritakan:

“Tempias waktu hujan luar biasa besar. Terutama di banyak bukaan Lantai  2 dan 3, yaitu di bagian perkantoran. Ini kondisi yang menyiksa. Karena banjir praktis harus dikuras. Sementara orang harus bergerak aktif (bekerja) di koridor yang sangat berair itu.”

“Masalah tersiram-hujan yang lain adalah jalur penonton dari mulai depan sampai pintu Teater dan pintu Galeri. Orang harus berbasah-basah, melewati jalur yang licin pula. Ini problem desain.”

 Tanya saya, “Apakah keluhan ini pernah disampaikan pada pihak arsitek? Apa upaya arsitek menangani masalah ini?”

Jawab Nirwan, “Ya, disampaikan, pada dua tahun pertama. Setelah itu tidak lagi. Ada juga respons dari mereka, meskipun sangat kurang. Oh ya, mereka memberi nasihat teknis, sebelum kami lakukan perbaikan. Kami juga tahu bahwa desain sudah selesai, tidak bisa diubah. Selebihnya adalah masalah kami untuk mengatasi berbagai kesulitan akibat hujan ini.”

“Teman-teman di Salihara sering berseloroh, "Inilah arsitektur hujan" - mengutip judul buku puisi Afrizal Malna. Masalah yang sama tampaknya juga kami temui di Salihara 2. Arsitektur hujan lagi. Tapi ini harus kita uji di bulan-bulan basah ini.”

Lanjutnya, “Pertanyaan dasarnya, apakah mereka (para arsitek) membayangkan kayak apa jadinya karya mereka di musim hujan?”

 

Koridor menuju kantor Salihara (foto oleh Avianti Armand)

Arsitektur Modern vs Iklim

Juni 1930. Madame Savoye, pemilik dari Villa Savoye yang terkenal di tepian kota Paris, menulis pada arsiteknya, Le Corbusier: “Hujan masih juga masuk ke garasi kami,” – sebuah tema yang tetap dalam surat-menyurat mereka. Surat ini dikirim sesudah sebuah surat lain di bulan Maret yang mengeluhkan kebocoran di garasi dan beberapa kamar tidur. Madame Savoye menambahkan bahwa derau air yang jatuh di skylight kamar mandi “begitu berisik sehingga kami tidak bisa tidur.”

Mengaku telah mengingatkan Le Corbusier akan masalah yang mungkin timbul, kontraktor yang mengerjakan Villa Savoye menolak untuk bertanggung jawab. Masalah ini, ditambah dengan hilangnya panas dalam jumlah besar akibat penggunaan bentang kaca lebar, membuat rumah tersebut dingin dan lembab – satu hal yang diduga mengakibatkan terganggunya kesehatan Roger Savoye, anak satu-satunya keluarga itu. Ia terkena radang paru-paru setelah tinggal di sana dan terpaksa mendekam di sebuah Sanatorium di Perancis.

Keluhan Madame Savoye tentang kondisi basah, kelembaban, kondensasi, dan segala kebocoran di rumahnya, tak berubah bahkan setelah bertahun-tahun kemudian. Setiap musim gugur, akan segera terdengar jeritan putus asa dari keluarga Savoye begitu hujan pertama turun.

Di tahun 1935, dengan lelah, nyonya itu menulis lagi kepada Le Corbusier, mengeluhkan air yang masih masuk ke aula, mengguyur ramp, dan mengakibatkan dinding garasi basah kuyup. Hujan juga masuk hingga kamar mandi melalui skylight, dan menyebabkan banjir. Kejengkelan Madame Savoye akan masalah-masalah waterporoofing yang tak terselesaikan terus meningkat. Hingga akhirnya, dua tahun kemudian, sebuah surat dengan nada mengancam dilayangkan:

“…..akhirnya Anda sepakat bahwa rumah yang anda bangun di tahun 1929 ini tidak bisa dihuni…. Tolong ubah agar rumah ini bisa ditempati secepatnya. Saya benar-benar berharap bahwa saya tidak perlu mengambil sebuah langkah hukum.”

Perang Dunia ke II menyelamatkan Le Corbusier. Ia tidak pernah dituntut. Rumah itu tak pernah didiami kembali. Dan hari ini, Villa Savoye telah berubah fungsi dari sebuah “rumah” menjadi “monumen historis”.

Ruang dalam Villa Savoye, (foto oleh End User)

Ironis. Meski bentang kaca besar yang jadi favorit Le Corbusier sering terlalu banyak melepas panas atau sebaliknya mengubah bangunan yang ia desain menjadi hot house, atap-atap datarnya bocor, dan ruang-ruangnya tak efektif, adalah Le Corbusier yang pada tahun 1923 meletakkan dasar dari keseluruhan filosofi arsitektur modern dalam sebuah kalimat:

“Rumah adalah sebuah mesin untuk tinggal.”

Mies van der Rohe tidak seberuntung Le Corbusier. Farnsworth House, Plano Illinois, yang selesai tahun 1951, jadi sebuah kontroversi panjang.

Rumah peristirahatan ini didesain untuk “membingkai dan merenungkan alam”. Kualitasnya yang transendental membuat ia jadi salah satu kanon arsitektur modern abad 20. Arthur Drexler, Direktur Departemen Desain dan Arsitektur di Museum of Modern Art, New York, melukiskan Fransworth House sebagai “satu bentang udara yang terperangkap di antara langit-langit dan lantai”. Mies sendiri dengan bangga menyatakan bahwa “alam menjadi lebih bermakna dilihat dari dalam rumah itu.”

Farnsworth House (sumber: Library of Congress, Prints and Photographs Division, Historic American Buildings Survey, HABS: ILL,47-PLAN.V,1-9)

Namun, menjelang akhir pembangunan, dokter Farnsworth menambahkan sejumlah jendela lengkap dengan insect screens dan tirai yang mengganggu kehalusan penampilan dan imaji minimalis arsitektur rumah ini. Bahkan  membuatnya kelihatan kikuk.

Dalam jurnalnya, Farnsworth mencatat beberapa kegagalan yang jadi alasan: "Rumah ini disegel sedemikian kedap sehingga asap di perapian yang naik ke cerobong menyebabkan tekanan negatif di dalam rumah." Ia juga menyebutkan betapa rumah itu menjelma “bohlam lampu” yang menyilaukan di tengah padang salju musim dingin. Dalam sebuah artikel di House Beautiful, April 1953, Elizabeth Gordon, sang editor, menambahkan: "Anda terbakar di musim panas dan membeku di musim dingin, karena tidak ada yang boleh mengganggu bentuk 'murni' persegi panjang rumah itu."

Perseteruan antara Mies dan Farnsworth yang berlanjut ke ranah publik tidak hanya berhenti di media massa, tapi hingga ke meja hijau. Sebuah sidang bahkan digelar di atap rumah itu untuk menunjukkan bocor yang mengakibatkan air menggenang di dalam rumah hingga beberapa inci.

Frank Lloyd Wright mungkin yang paling licin di antara mereka. Dia tidak pernah dituntut secara legal atas masalah-masalah dalam proyeknya. Dalam hal ini, dia selalu lolos dan telah jadi mitos. Menanggapi masalah di Falling Water, dengan bergurau ia berkata: “Jika atap tak bocor, maka arsiteknya masih kurang kreatif.”

Kisah kebocoran yang melegenda dalam sejarah arsitektur adalah tentang Herbert Johnson, salah satu klien Wright. Johnson menelpon Wright di malam Thanksgiving, mengeluhkan air dari skylight yang jatuh tepat di mangkok sup tamu kehormatannya. Dengan sopan Wright menjawab, “Katakan pada nyonya itu untuk menggeser kursinya.”

 

Wingspread, rumah Herbert Johnson (Foto oleh Jacob Fraser, CC-BY-SA) 

Dua Domain dalam Arsitektur

Jika, seperti kata Mark Twain, “Iklim adalah apa yang kita harapkan. Cuaca adalah apa yang kita dapatkan.” – maka arsitektur selayaknya jadi penangkal rasa kecewa. Sesuatu yang bisa diandalkan menghadapi cuaca yang tak pasti.

Tapi cerita di atas memaparkan fakta yang lain. Lepas dari posisi yang tak terbantahkan dalam kanon arsitektural, banyak karya ikonik arsitektur modern yang tergopoh-gopoh ketika dihadapkan pada hal-hal pragmatik; seperti biaya, kebutuhan ruang, dan keefektifan dalam menghadapi iklim dan cuaca.

Dari fakta di atas juga, secara tersirat, bisa  kita baca: dua representasi kultural telah hadir; satu adalah arsitek-arsitek garda depan eksperimental, yang lain adalah arsitek insinyur yang praktikal, berakar, dan sederhana. Dua representasi yang berseberangan ini mempengaruhi  bagaimana kita melihat fenomena kegagalan yang, untuk menghindari perdebatan antara apakah ini kegagalan desain atau konstruksi, baiknya kita sebut quality deficiency saja.

Dalam “Architects: the Noted and Ignored”, 1984, Niels Luning Prak menyebutkan bahwa mayoritas arsitek sebetulnya berada di tengah-tengah dua titik ekstrim ini. Meski begitu, secara prinsip semuanya ingin menjadi artis. Mekanisme ini berjalan secara otomatis dan didukung oleh elit-elit kebudayaan. Penjelasannya mungkin seperti ini:  keberhasilan artistik menganugerahkan status sosial yang lebih baik dan mengulurkan iming-iming keabadian, sedangkan sisi praktis dari praktik ini hanya dapat membawa lebih banyak uang.

Tidak bisa disalahkan jika lalu “arus” gerak praktik arsitektur kita lebih mengarah pada domain garda-depan-eksperimental ketimbang insinyur-praktikal-berakar-sederhana. Quality deficiency kemudian diambil sebagai resiko dari sebuah terobosan artistik untuk menghasilkan karya arsitektur  yang ikonik. Tentu saja, karena terobosan artistik seringkali juga menerobos batasan-batasan teknis konvensional. Konsekuensi dan risikonya terhadap fungsi,  kenyamanan – bahkan mungkin keselamatan – pengguna pasti ada.

 

Inkompetensi dan Toleransi

Masalahnya, mengulangi pertanyaan Nirwan Dewanto, dua pertanyaan etikal kemudian muncul: Apakah arsitek sudah membayangkan apa yang akan terjadi dengan desainnya? Dan jika memang ada resiko, siapakah yang sepatutnya menanggung resiko tersebut?

Jika jawaban atas pertanyaan pertama di atas adalah “belum”, maka kita bicara soal inkompetensi.

Apa boleh buat, kita hidup dalam era yang disebut oleh Guy Debord sebagai “The Society of Spectacle” di mana kehidupan sosial yang otentik telah digantikan dengan yang representatif; di mana “keberadaan” merosot menjadi “kepunyaan”, dan “kepunyaan” melorot sekedar “kenampakan” atau tampilan. Imbas kondisi ini meluas hingga ke arsitektur. Padahal arsitektur adalah tentang pengalaman dalam ruang, gagasan yang lahir dan berkembang bersama tubuh. Dalam hal ini, tentu saja sulit mengupayakan keseimbangan antara tiga pilar Vitruvius yang menjadi penopang praktik arsitektur kita: “Utilitas, Venustas, Firmitas”.

Media yang marak dan mangkrak seringkali adalah lampu sorot yang menggiurkan. Dan ketergesa-gesaan mengekspresikan hasrat artistik tanpa pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk mendukungnya, menciptakan arsitek-arsitek laron yang terbang menggebu menuju cahaya. Pemuja “venustas” yang tak terlalu peduli pada aspek-aspek intrinsik dalam arsitektur cuma bisa menciptakan cangkang cantik yang keropos.

Jika jawabannya adalah sebaliknya (“sudah, tapi….”), maka kita bicara soal toleransi terhadap iklim dan cuaca. Tentunya demi sesuatu yang lain.

Manusia punya toleransi yang berbeda-beda terhadap iklim dan cuaca. Begitu juga tiap arsitek. Kita ambil contoh Komunitas Salihara. Kompleks bangunan ini adalah karya kolaborasi dari 3 arsitek: Adi Purnomo, Andra Matin, dan Marco Kusumawijaya. Diresmikan di bulan Agustus 2008, kompleks ini dianugerahi IAI Award tahun 2012 untuk kategori khusus. Tahun berikutnya, ia dinominasikan untuk Aga Khan Award. Meskipun tidak masuk ke dalam shortlist, ini bukan  prestasi yang sembarangan.

Jika kita membuat daftar 10 arsitek paling terkenal di Indonesia, saya yakin, Adi Purnomo dan Andra Matin ada di 5 besar. Bisa dikatakan, karya-karya mereka adalah media darlings dan the usual suspects untuk ajang penghargaan dan sayembara arsitektur di Indonesia. Marco Kusumawijaya memang sedikit berbeda. Ia arsitek yang lebih banyak berkecimpung di bidang perkotaan, dan karenanya tidak aktif mendesain arsitektur. Meski begitu, ia sangat vokal menyuarakan pentingnya partisipasi warga dalam perencanaan dan pembangunan kota, dan karenanya terkenal juga.

Adi Purnomo mendesain teater black box dalam kompleks Salihara, satu tipe teater yang baru pertama kalinya ada di Indonesia. Nyaris tak ada masalah jika saja tak terjadi retak rambut di atap teater yang mengakibatkan air rembes ke dalam. Upaya memperbaiki keretakan itu perlu dilakukan berkali-kali. Yang merepotkan adalah karena bagian atas teater dijadikan taman, sehingga untuk memperbaikinya, harus mengangkat volume tanah yang besar. Bisa dibayangkan kotor dan joroknya pekerjaan tersebut.  

Problem teknis juga terjadi di salah satu karya Adi Purnomo yang pernah mendapat IAI Award untuk Urban Houses, tahun 2002: rumah pasangan Eddy dan Hetty, di Kompleks Polri, Ragunan. Tidak ada keluhan tentang bocor atau tampias di rumah itu, melainkan “sempit”, apalagi sesudah anak-anak pasangan ini bertambah besar, dan “panas”, terutama karena skylight di sepanjang tangga dibuat kedap, hingga tidak dimungkinkan udara panas mengalir ke luar.

Bisa jadi ini memang kesalahan konstruksi, karena – seperti dikatakan oleh Hetty – gambar kerja tidak lengkap sehingga kontraktor terpaksa berimprovisasi sendiri. Terutama karena pada saat pembangunan, Mamo (nama akrab Adi Purnomo) sulit dihubungi. Satu-satunya hal yang disesalkan oleh Hetty adalah  penggunaan lantai teraso hitam yang “mengundang banyak nyamuk”. Nyamuk, adalah masalah berikut di daerah beriklim tropis yang tidak bisa kita abaikan.

Di karya Mamo yang lain, Studi-o Cahaya, komentar tentang panas terdengar juga dari Dokter Lau, si pemilik rumah. Pencarian atas karya ini via Google menampilkan 2.770.000 hasil dalam 0,31 detik. Anehnya, tak satupun bicara soal panas. Tapi Dokter Lau tidak sedang mengeluh. Dalam satu kunjungan saya ke bangunan ini, ia dengan semangat meminta pendapat seandainya bidang kaca besar di bagian depan rumah diganti dengan perforated steel untuk mengeluarkan udara panas yang terperangkap di bagian atas volume dalam bangunan. Dengan semangat pula ia berkata, “Pada akhirnya saya sadar, yang saya beli ini lebih sebuah karya seni – dari pada arsitektur.”

Studi-o Cahaya (foto oleh mamostudio)

Andra matin, arsitek bangunan perkantoran Salihara, membuat gugus massa rumahnya terpisah-pisah. Untuk masuk ke bangunan utama orang harus melalui ramp terbuka yang ramah terhadap hujan dan panas. Untuk menuju ke kamar tidur utama yang terletak di sudut jauh, juga naik ke lantai atas, orang kembali dianjurkan melewati ramp yang terekspos cuaca. Betul, ada sebuah tangga putar yang cukup terlindungi di pojok belakang dapur, yang menghubungkan lantai dasar hingga atap. Tapi letaknya yang “nyempil” menyiratkan bahwa tangga ini sekedar alternatif.

Andra Matin memang punya toleransi yang besar terhadap cuaca. Ruang duduk dan makannya adalah sebuah hall terbuka. Bisa dibayangkan kondisinya ketika hujan. Dewi Soeharto, salah satu klien Andra Matin dengan lucu mengatakan, “Kalau Aang (panggilan sayang Andra Matin) sih memang Raja Tempias.” Tapi ia tak keberatan berbasah-basah di bawah payung ketika harus mondar-mandir dari ruang duduk ke kamar dan sebaliknya. Ia juga tak keberatan berkeringat di ruang makan terbuka di lantai atas, meskipun melengkapi ruang lain (perpustakaan dan setiap kamar tidur) dengan unit-unit AC demi kenyamanan.

Saya yakin, hal itu bukannya tidak disadari oleh Andra Matin. Mengutip Muh Darman dari Ruang 17, dalam sebuah diskusi, ketika ditanya mengenai masalah keterbukaan terhadap cuaca yang dihadapi karya-karyanya, Andra Matin – setelah menerawang beberapa saat – menjawab: “Hidup ini indah.”

Betul. Hidup memang indah. Terutama ketika kita punya pilihan dan kebebasan untuk sedikit kuyub saat hujan, atau sekedar duduk dalam kehangatan sambil menyeruput kopi, menyaksikan jatuhnya air dari tepian dinding. Ketika kita boleh berkeringat di samping kolam renang kala hari terik, atau sejuk bergelung di kamar ber-AC.

Arsitek yang mendesain Galeri Salihara, Marco Kusumawijaya, membiarkan rumahnya terbuka tanpa AC. Sama sekali. Berlokasi di daerah Menteng, tentunya panas, debu, juga nyamuk, jadi tantangan utama.

Marco (yang tidak punya nama akrab atau panggilan sayang) tidak memungkiri hal itu. Tentang debu, pembantu rumah tangganya memang berperan besar membersihkan rumah. Tapi seluruh keluarga kecilnya ikut membantu. Ia, misalnya, disiplin mengelap barang-barang pribadinya, seperti sepeda, patung-patung, dan buku-buku. Ia juga menanam banyak pohon yang diyakininya menyaring butiran debu yang masuk, meskipun  tidak bisa dipastikan berapa banyak. “Pohon-pohon itu sudah besar ketika rumah ini jadi, sehingga saya tidak sempat mengukur kondisi debu sebelum dan sesudah mereka ada.”

Nyamuk ia atasi dengan tidur menggunakan kelambu. “Kalau sedang tidak tidur?” Tanya saya. “Kalau sedang tidak tidur, kami mengoleskan lavender yang kami tanam sendiri, atau minyak kayu putih. Atau memasang kipas angin di dekat kaki.” Kami tertawa. Itu pemecahan yang sederhana, efektif, dan lucu.

Sementara, di bulan Juni dan Juli, ketika temperatur Jakarta mencapai titik-titik tertingginya, mereka biasa melapisi bantal dengan handuk, untuk menadahi keringat yang mengucur. Marco bukannya tidak tergoda memasang AC. Terutama di kamar anaknya. “Kasihan, dia perlu merasa nyaman untuk belajar.” Tapi pertimbangan bahwa sebentar lagi anak itu akan lulus SMA dan bersekolah di luar kota mengurungkan niatnya.

Dengan tiga arsitek yang punya toleransi sedemikian lebar terhadap iklim, tentu kita tidak heran akan kondisi Salihara hari ini, bukan?

 

Rumah Andra Matin saat masih dalam pembangunan (foto oleh Robin Hartanto)

Klien atau Patron?

Bicara soal “arsitektur dan iklim” pada akhirnya adalah bicara soal “manusia dan iklim”. Kita tidak bisa meminta alam untuk berubah, tapi kita bisa berubah, dan beradaptasi. Arsitek, mau tidak mau, akan selalu menggunakan tubuhnya sendiri sebagai parameter, ukuran untuk rentang toleransi terhadap iklim yang ia berikan bagi karyanya, dan dengan demikian bagi sang pemberi tugas. Karena itu, tidak salah rasanya apabila arsitek beranggapan bahwa apa yang tidak mengganggunya akan bisa diterima oleh pemberi tugas.

Sampai di sini kita tiba di satu titik krusial. Titik di mana seorang arsitek harus bisa membedakan mana “klien” mana “patron”, sebelum ia menarik garis pertama. Titik di mana jawaban atas pertanyaan kedua, siapa yang harus menganggung resiko atas “quality deficiency”, terletak.

Seorang “klien” atau seorang “patron” menentukan perbedaan mendasar yang melahirkan tuntutan yang sangat berbeda terhadap tanggung jawab arsitek: menghasilkan sebuah bangunan layak pakai yang memenuhi kebutuhan dan keinginan pemberi tugas atau sebuah ikon arsitektural.

Membicarakan arsitektur dan iklim dikaitkan dengan etik, memang bisa jadi jalan buntu, ketika estetik dipaksa beradu dengan etik. Di sinilah patron menjadi pintu keluar dari kebuntuan itu.

Tentang hubungan antara arsitek dan patronnya, Peter Blake – arsitek, kritikus, dan mantan editor in chief dari Architectural Forum – menulis:

Rumah-rumah yang didesain oleh arsitek-arsitek terkenal cenderung tidak praktis; banyak pemilik rumah tinggal yang dirancang oleh Corbu maupun Wright menyadari bahwa mereka tinggal di bangunan-bangunan yang terlalu mahal dan tidak efisien. Namun mereka tidak akan mau menukar rumah-rumah mereka dengan karya yang, meskipun bekerja dengan baik, desainnya biasa-biasa saja.

Cerita tentang Peter Palumbo bisa jadi ilustrasi yang tepat untuk hal di atas.

Palumbo membeli Farnsworth House dari pemilik pertamanya, dan menugaskan cucu Mies, yang juga arsitek, untuk mengembalikan rumah tersebut ke kondisi aslinya. Ia menghilangkan jendela, tirai-tirai dan insect screens, dan memasang instalasi AC di sana.

Dalam pengantar untuk monografnya yang terbit tahun 2003, secara puitis Palumbo menulis:

“Kehidupan di dalam rumah sangat dipengaruhi oleh alam, dan adalah perpanjangan dari alam. Perubahan musim maupun perubahan lansekap menciptakan perubahan mood yang nyata.”

Ia tidak mengeluhkan badai salju yang mengguncang fondasi, pun air yang masuk ke dalam rumah karenanya. Ia menganggap wajar luapan sungai akibat lelehan salju yang mencapai pintu depan, dan menyebabkan akses ke rumah tertutup kecuali dengan kano. Tulisannya tentang proyek ini, juga restorasi yang dilakukannya, sesungguhnya telah memosisikan Palumbo sebagai patron arsitektural yang sejati dari Farnsworth House.

Seorang patron tahu resiko yang akan dihadapi ketika menugaskan arsitek garda-depan-eksperimental mendesain untuknya. Seorang klien – tidak. Di sini, quality deficiency berpotensi memicu konflik.

 

Konteks

Dokter Lau mungkin seorang patron. Pasangan Hetty dan Eddy bukan. Demikian juga Dewi Soeharto dan Nirwan Dewanto. Goenawan Mohamad bisa jadi juga cuma seorang klien, tapi ia menanggapi masalah hujan, tampias dan bocor di Salihara dengan ringan, karena: “Begitu hujannya selesai, masalahnya selesai juga.” Memang cuaca, di sini, adalah sesuatu yang kasual.

Iklim Indonesia seluruhnya tropis. Temperaturnya cenderung konstan, dan berubah sangat sedikit dari musim ke musim. Di hari-hari biasa, suhu berkisar antara 23 hingga 28 derajat Celsius. Di hari-hari yang sangat terik, temperatur bisa mencapai hingga 32 derajat celsius. Variabel utama dalam iklim di Indonesia bukanlah suhu udara, melainkan curah hujan yang tinggi. Ini mengakibatkan kelebaban relatif di Indonesia berkisar antara 70 hingga 90 persen.

Bandingkan dengan di Illinois yang memiliki iklim benua, dengan curah salju tahunan berkisar antara 360 mm hingga 970 mm, suhu tertinggi yang pernah tercatat adalah 47 derajat, dan yang terendah adalah –39 derajat Celsius. Dalam titik-titik ekstremnya, cuaca adalah urusan hidup dan mati.

Indonesia tidak pernah akan dihadapkan pada kondisi semacam itu. Kita bisa bertahan hanya dengan selembar pakaian. Menggelandang tidak membuat kita kehilangan nyawa. Karena itu, arsitektur bukan moda bertahan hidup melainkan “perabot” yang menambah kenyamanan hidup. Karena itu juga, kita masih bisa berseloroh soal quality deficiency.

Kondisi di atas, ditambah dengan makin jamaknya penggunaan teknologi untuk mengatasi kelembaban dan panas, menyebabkan kita abai pada teknik-teknik dasar membangun yang diperlukan untuk menghasilkan arsitektur yang bisa memberikan respons positif terhadap cuaca. Kita tidak lagi melakukan apa yang dilakukan Silaban pada zamannya. Kita tidak menghadirkan emper-emper besar di keliling rumah sebagai buffer cuaca. Kita tidak membuat ruang-ruang dengan volume besar yang tak cepat jadi panas oleh temperatur di luar maupun suhu tubuh penghuni. Kita tidak menciptakan naungan atap lebar, yang bisa mencegah “sinar matahari dapat mencapai setitik pun dari lantai.”

Rumah Friedrich Silaban, Bogor (Sumber: arsip mAAN Indonesia)

Lalu apa yang kita buat? Mungkin sesuatu yang loncat dari majalah. Atau tempat-tempat jauh yang pernah kita datangi. Atau terobosan artistik baru yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, dan hanya mungkin terwujud dan bekerja dengan bantuan teknologi plus sedikit quality deficiency.

Teknologi versus teknik. Apakah ini suatu kemajuan? Untuk menjawabnya, saya yakin kita perlu melihat masalah arsitektur dan iklim ini dalam konteks hari ini.

Bicara soal teknologi mau tidak mau harus kita letakkan dalam kerangka keberlanjutan dan kelestarian. Sampai hari ini, ketergantungan kita terhadap teknologi adalah ketergantungan terhadap sumber yang tak terbarukan: energi fosil. Dan hal ini mengakibatkan carbon footprint yang besar. Dengan kata lain, kita harus memikirkan cara yang lebih bijaksana untuk berarsitektur tanpa mengakibatkan kerusakan lingkungan yang lebih besar lagi.

Maka, lepas dari apakah kita arsitek garda-depan-eksperimental atau insinyur-praktikal-berakar-sederhana, satu hal yang membuat kita berada di tataran yang sama adalah bagaimana kita memproduksi arsitektur:

a machine for living atau a machine for destroying the living.

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu