Author
Paviliun Indonesia.

Tiga negara Asia Tenggara berpartisipasi dalam Pameran Arsitektur Internasional ke-14 – la Biennale di Venezia. ketiga negara itu: Thailand, Malaysia, dan Indonesia, merespons Absorbing Modernity: 1914-2014, tema Paviliun Nasional yang diajukan Rem Koolhaas, dengan mengajukan suatu nilai yang fundamental dalam dialektika antara modernitas dan karakteristik masing-masing negara—dengan cara yang amat berbeda.

Paviliun Thailand  Spirituality: Freedom and Creativity

Kurator Lek Mathar Bunnag menyajikan Spiritualitas sebagai sisi fundamental dari Thailand. “Spiritualitas adalah jiwa dari perjalanan kehidupan kita dan sumber dari kebebasan dan kreativitas individu,” tulisnya dalam catatan kuratorialnya. Namun, lanjutnya, seiring kita menyerap modernitas, Spiritualitas justru semakin terancam.

Lek, dalam desain paviliunnya, justru memilih untuk menghadirkan rasa ketimbang informasi yang padat, lepas dari keharusan menyampaikan sejarah seratus tahun. Ia coba menghadirkan suatu kualitas ruang yang, menurutnya, memiliki kandungan Spiritualitas. Desainnya berupa ruang gelap dengan beberapa objek di dalamnya, yang disinari cahaya kuning remang. Objek-objek tersebut, antara lain kolom-kolom besar, dinding penuh berlekuk, dan miniatur kolom dan dinding sebagai pusat ruang, berupaya menghasilkan rasa ruang yang puitik.

Paviliun Malaysia  Sufficiency

Terdiri dari 22 model dan 2 proyeksi video, Paviliun Malaysia mengangkat topik Sufficiency sebagai jawaban kurator atas apa yang fundamental. Menurut kurator paviliun Lim Teng Ngiom, “kecukupan” membentuk landasan bagi arsitektur, yang diawali dengan sikap penuh perhitungan dalam penggunaan material.

Masing-masing karya berdiri independen, namun memiliki relasi dalam menjawab isu yang diangkat oleh kurator. Salah satunya adalah T Colony, oleh Tan Loke Mun, yang membuat struktur dengan penempatan yang minimal di tanah. Modul Bambu, karya Najib Ariffin dan Rahim Ismail, menghadirkan maket unit modul bambu yang bisa disusun beragam hingga mencapai tingkat empat.

Karya-karya tersebut ditampilkan di atas kandang-kandang hewan yang digantung dengan tujuan, menurut Lim Teng Ngiom, menciptakan efek ringan dan “cukup”.

Paviliun Indonesia Craftsmanship: Material Consciousness

“Indonesia hari ini adalah buah sejarah ketukangan selama berabad-abad,” begitulah catatan pembuka yang akan menyambut pengunjung paviliun Indonesia. “Ketukangan bukan hanya menyangkut soal-soal praktis dan teknis, tapi juga nilai, sikap dan komitmen.  Ia sudah jadi bagian kerja yang dihayati  dalam tradisi kita,  bahkan merupakan dorongan batin untuk mencapai karya yang unggul.”

Mengambil tema Craftsmanship: Material Consciousness, tim kurator Paviliun Indonesia menyajikan tujuh video—satu video menyampaikan pengantar teks dan ilustrasi tentang tema kuratorial, enam lainnya menyampaikan sejarah material kayu, batu, bata, baja, beton, dan bambu.

Video-video tersebut ditampilkan dalam instalasi bidang-bidang kaca yang disusun memanjang (lihat video Paviliun Indonesia di tautan ini).

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu