Ayos Purwoaji: “Itu Kan Arsitektur yang Bonek dan Banal!”

Wawancara dengan kurator Pameran Arsip Arsitektur Harjono Sigit.

Author
Ayos Purwoaji (Foto: Chandra Miraz)

 

November 2014, saya dan Ardi Yunanto menjadi narasumber pada sebuah diskusi yang dihadiri para peserta Workshop Kurator Muda yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta dan ruangrupa. Diskusi itu mengulas pameran Kisah Konservasi yang kami kurasi bersama dengan Farid Rakun. Di situ kami ditanya macam-macam terutama oleh seorang pemuda gagah nan semangat dan hiperaktif bernama Ayos Purwoaji. Saat itulah saya pertama kali mendengar rencananya membuat pameran tentang seorang arsitek bernama Harjono Sigit. Saya sungguh tidak punya bayangan sedikitpun siapa nama yang ia sebut—mendengar namanya sekali saja pun rasanya tidak pernah! 

Keheranan saya bertambah dua kali lipat sebab Ayos sendiri bukan orang yang saya bayangkan akan membuat pameran arsitektur. Ia adalah seorang jurnalis dan travel writer, pengasuh situs travel hifatlobrain.net yang sedari namanya saja sudah berbobot. Ia lulusan Desain Produk di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, bukan sarjana arsitektur apalagi seorang arsitek.

Rupanya, latar belakang Ayos yang tak disangka itu justru membuat pameran yang tadinya saya kira hanya akan jadi pameran angkat topi saja ini memiliki sudut pandang pembacaan yang menarik. Ketertarikannya pada cerita-cerita di balik karya ketimbang aspek arsitektural karya itu sendiri membuat pameran ini punya warna berbeda dari pameran-pameran arsitektur biasanya. Foto-foto yang ditampilkan di pameran ini juga tampak woles dan sehari-hari, tanpa upaya berlebih untuk membuat karya-karya arsitektur yang dipotret jadi tampak cantik rupawan macam foto-foto ala Archdaily.

Maka pada pertemuan berikutnya dengan Ayos di kotanya, Surabaya, giliran saya bertanya macam-macam mengenai ia dan pamerannya.

 

Apa yang membuatmu tertarik dengan arsitektur?

Dari mahasiswa, saya sering ngobrol dengan mahasiswa-mahasiswa arsitektur di kampus. Kebetulan mahasiswa desain produk dan arsitektur di ITS cukup dekat karena suka band bareng. Dari situ, akhirnya saya suka membicarakan arsitektur. Lalu, saya ketemu dengan komunitas Kami Arsitek Jengki dan juga dengan Josef Prijotomo yang banyak membicarakan arsitektur nusantara. Kebetulan saya suka travelling. Waktu zaman-zaman baru masuk kuliah, saya juga mengikuti milis deMAYA (Desainer Muda Surabaya). Karena deMAYA sebagian besar berisi arsitek, obrolan-obrolan tentang arsitektur pun banyak. Saya tambah suka lagi dengan arsitektur.

Dari pengalaman jalan-jalanmu, adakah karya arsitektur yang membekas?

Tidak ada satu yang spesifik. Tapi saya menyukai bangunan yang punya karakter kuat. Apapun. Saya bukan tipe spesialis, sehingga bisa jatuh cinta dengan banyak hal. Datang, meinggalkan kesan yang lama, ada beberapa. Wisma Kuwera saya suka. Mungkin karena dia (Y.B. Mangunwijaya) adalah salah satu penulis kesukaanku. Saya membaca Wastu Citra juga. Kesukaan saya disebabkan terutama bukan dari segi arsitekturnya, melainkan ceritanya. Karena latar saya jurnalis, apresiasi saya lebih ke siapa yang membangun dan apa cerita di baliknya.


Wisma Kuwera (Foto: dokumentasi Paviliun Indonesia)

Saya juga menyukai rumah Eko Nugroho (dirancang oleh Eko Prawoto) yang dibahas di buku The Pating Tlecek Arsitektur. Rumahnya biasa, tapi justru cerita dari Eko Nugroho yang diturunkan Yoshi Fajar Kresno Murti itu yang bikin menarik. Misalnya soal malam pertama mereka menghuni.

 “Wah saya gak bisa tidur malam pertama, ” kata istri Eko, “karena kasurnya terlalu luas.”

Pengalaman manusia berinteraksi dengan ruang ini yang saya lihat menarik. Eko Nugroho juga bercerita, hari pertama di rumah itu ia merasa aneh. Karena dulu di rumahnya di Kali Code, dari dapur ke depan pasti kulitnya menyentuh sesuatu. Entah menyenggol meja atau menyenggol lemari. Tapi di rumah ini, dari belakang sampai ke depan, ia lowong saja.

Saya punya satu contoh lagi untuk menjelaskan ketertarikan saya pada arsitektur. Ada satu buku travel writing berjudul At Home: A Short History of Private Life, ditulis oleh Bill Bryson, seorang travel writer yang sudah pergi ke mana-mana. Buku itu salah satu karyanya yang paling kuat. Ia menulis cerita perjalanan, tapi di rumahnya sendiri, tentang bagaimana ia memaknai masing-masing bagian dari rumahnya. Ia mulai bab pertama dari kasur. Ia bercerita bagaimana kehidupan bermula di kasur dan berakhir di kasur. Kamu lahir di kasur, sakit di kasur, bercinta di kasur, mati pun di kasur. Dari situ ia menceritakan silsilah dan sejarah keluarganya. Setelahnya, ia menceritakan dapur dan tradisi memasak di keluarganya. Menceritakan kuliner, Tapi ini travel writing dan ia sedang membicarakan rumahnya sendiri. Menurut saya, itu keren banget. Mungkin bentuk rumahnya biasa saja, tapi setelah kita tahu cerita-cerita di baliknya, rumah itu menjadi istimewa. Arsitektur pada sisi yang lain itu justru muncul dari segi-segi nonfisik semacam itu.

Menurutmu, arsitektur lebih menarik dari desain produk, bidang yang kamu tekuni semasa kuliah?

Bagi saya, pada titik ini, iya. Karena desain produk adalah miniatur dari arsitektur. Dia sama-sama produk perancangan, tapi dia tidak seperti arsitektur karena tidak dihidupi. Arsitektur buat saya menarik karena dihidupi. Ada interaksi dan pemaknaan ruang.

Arsitektur satu hal. Kuratorial satu hal lain. Apakah kamu tertarik juga dengan dunia kuratorial atau menurut kamu itu hanya sebagai medium saja untuk meluapkan ketertarikan pada arsitektur?

Dua sisi. Pameran bisa jadi medium. Di sisi lain, kerja kurator serupa dengan kerja editor—memilih, membuang yang tidak perlu, menata struktur, memberikan konteks, dan sebagainya. Kerja semacam itu sudah saya akrabi, hanya bentuknya saja yang berbeda: mediumnya beda, perlakuannya beda. Bagi saya, di satu sisi kerja kurator bisa jadi medium dan, di sisi lain, saya juga sudah akrab dengan kerja tersebut.

Dari mana ide Pameran Arsip Arsitektur Harjono Sigit bermula?

Mulanya gara-gara Workshop Kurator Muda yang diadakan DKJ dan ruangrupa (November 2014). Ketika saya mau berangkat, saya berbincang dengan Fandi (Rifandi Nugroho, alumnus arsitektur ITS). Dia yang mengusulkan nama Harjono Sigit. Pada saat bersamaan, teman-teman arsitek muda Surabaya seperti Hermawan Dasmanto (ARA Studio) dan Defry Ardianta (ITS & Ordes) mau bikin tur arsitektur ke karya-karya Harjono Sigit, walaupun sayangnya tidak jadi.

Prototipe awal pameran ini saya buat ketika mengikuti workshop ruangrupa itu. Sebetulnya tidak ada tuntutan untuk menjadikan pamerannya setelah workshop, tapi saya merasa sayang. Akhirnya kerja itu kami teruskan. Mulai mengobrol dengan Harjono Sigit bulan Januari dan mulai riset mengunjungi karya-karya Harjono Sigit pada Februari. 

Suasana Pameran Arsip Arsitektur Harjono Sigit (Foto: Konteks.org)

Saat saya mencari tahu mengenai Harjono Sigit di dunia maya, yang muncul hanyalah ia sebagai bapak Maia Estianty. Tidak ada yang membicarakan dia sebagai arsitek.

Saya mengulik arsip Kompas dari tahun 1960-an, tidak ada berita sama sekali mengenai Harjono Sigit sebagai arsitek. Adanya dia sebagai rektor ITS, 3-4 berita, dan sebagai bapaknya Maya beberapa kali.

Sebagai cucu Tjokroaminoto?

Itu juga ada, dua artikel di Kompas edisi kemerdekaan, yang bahas rumah Tjokroaminoto di Peneleh, narasumbernya Harjono Sigit. Di Tempo, ada foto dia yang dijual dan artikel dia sebagai rektor. Jadi dia sebagai arsitek memang tidak pernah dikenal.

Tujuan pameranmu adalah mengenalkan dia?

Ya, terutama pada publik Surabaya sendiri. Selama ini orang tidak tahu kalau orang ini ada, padahal karya-karya dia banyak juga. Pada akhirnya, orang ini memang harus diperkenalkan.

Adakah relevansinya memperkenalkan dia, selain untuk penghormatan, di konteks sekarang?

Di Ayorek! tahun 2014 kemarin, kami sempat kepikiran mengusung Surabaya Old Masters sebagai tema satu tahun. Harjono Sigit jadi salah satu kepingan. Tapi, di sisi lain saya tidak ingin pameran ini jadi glorifikasi saja. Makanya ada pembacaan-pembacaan kritis yang mungkin relevan untuk hari ini.

Skripsi atau tesis yang membahas karya dia untuk hanya ada satu jilid. Penyebabnya bisa jadi dua hal. Yang pertama karena tidak menarik, dan yang kedua karena tidak tahu. Semoga jawabannya yang kedua. Makanya, tujuan saya adalah agar informasi mengenainya bisa menyebar. Pameran hanya salah satu medium saja. Minimal, orang-orang Surabaya kenal, lalu mengkaji, dan mengapresiasi lagi karya-karyanya.

Karena saat kita tidak punya tatakan dari sejarah sebelumnya, susah buat kita untuk berkembang. Tunggang langgang. Karena tidak mengenal yang lampau, akhirnya “yang kayak ini bagus nih”, padahal yang zaman dulu mungkin lebih oke. Dia sudah bikin beton tipis bentang lebar, sekarang mungkin kita bertanya-tanya “bagaimana cara bikinnya”, padahal itu sudah ada tahun 1970-an. Kenapa tidak berlanjut? Mungkin bukan masalah ketidakmampuan, melainkan karena tidak banyak media yang membahas itu sehingga pengetahuan kita kurang di Surabaya. Preseden-preseden itu yang semoga membuat arsitektur Surabaya atau di Jawa Timur bisa didorong lebih maju.


Harjono Sigit, kedua dari kiri (Foto: koleksi Kami Arsitek Jengki)

Saya tertarik dengan bagaimana kamu melakukan pembacaan dan menurunkan kuratorial Form Follows Fiasco. Bagaimana ide itu bermula dan berkembang?

Prototipe kuratorial saat mengikuti workshop ruangrupa adalah glorifikasi. Setelah dibawa lagi ke Surabaya, saya mulai merasa perlu ada pembacaan lagi. Kebetulan, ada teman bernama Gugun (Wahyu Gunawan), yang sempat magang di Indonesian Visual Art Archive, Yogyakarta. Saya minta ia ikut mengelola proyek ini. Dia membantu saya untuk menajamkan kuratorialnya. Ia menanyakan apakah arsip ini hanya akan ditampilkan sebagai arsip atau saya akan punya pembacaan lagi. Di situ mulai ada diskusi dan pembacaan yang lebih dalam.

Itu tidak terjadi ketika di workshop ruangrupa?

Tidak, karena datanya belum banyak. Saat survei, diskusi dengan Gugun dan Fandi terus-menerus, akhirnya muncul pembacaan itu. Jadi, kuratorial itu mengalami evolusi karena kami turun ke jalan. Yang paling membuka mata itu gedung PT. Mentras. Kawasannya dulu adalah kompleks penggilingan padi dan gedung yang dirancang Harjono Sigit adalah kantornya. Saat kami ke sana, kondisinya sudah berubah jauh. Kantor utama jadi mebel, gudang di belakang jadi tempat futsal, dan tempat jemur padi jadi lapangan basket. Ketika sore, ada sekelompok wanita yang sedang main basket.

“Dek, ini bagaimana ceritanya kok bisa jadi tempat basket?”

“Iya mas, kami dari SMP sini, di sekolah kami cuma punya 1 lapangan basket. Pemakaiannya bergantian antara kelompok cewek dan cowok. Kalau cowok latihan, cewek gak bisa main. Melihat lapangan ini kosong, guru kami bikin lapangan basket di sini,” katanya.

Di gedung belakang yang jadi tempat futsal, kami juga melihat bentuk-bentuk menarik. Tempat itu disewakan, ada tulisan harganya per jam. Tetapi di dalam itu mereka tidak menambahkan banyak hal baru. Mereka cuma bikin gawang dari bambu di pojokan. Karena gudangnya gelap, atapnya pun dijebol. Ngeri kan! Dulu dibuat fungsinya apa, form follows function, sekarang sudah tidak begitu. “Wah gelap nih, yaudahlah bolongin saja biar cahaya masuk.” Itu kan bentuk-bentuk arsitektur yang bonek dan banal banget, dan ada di mana-mana. 

Gedung kantor PT. Mentras (Foto: Kami Arsitek Jengki)

Apakah anarkis juga, mengingat gedung itu masih ada legal right-nya?

Anarkis itu kan saat kontrolnya ada. Ini kontrolnya tidak ada. Saat kami lihat konteksnya lebih luas lagi, kami baru sadar bahwa pabrik ini mungkin mangkrak karena sawah di sekelilingnya juga sudah hilang. Jadi rumah, jadi ruko, dan sebagainya. Padahal, tempat itu pernah jadi salah satu penghasil beras yang bagus dan banyak. Perlahan-lahan konteksnya hilang. Fungsi dia sebagai tempat pengolahan beras ikut hilang. Mungkin itu sebabnya dia mangkrak. Saat mangkrak, tidak ada kontrol. Makna baru akhirnya bisa tercipta.

Di tembok-tembok tetap ada “Dilarang bla-bla-bla, ini properti PT Mentras”. Tapi ketika saya tanya ke pemilik bisnis mebel sudah berapa lama mengokupasi gedung ini, dia jawab sudah enam tahunan. Itu bisa kelihatan dari arsip Murtijas Sulistyowati, yang melakukan studi mengenai karya Harjono Sigit. Pada fotonya tahun 2006, bisnis mebel ini tidak ada. Dalam waktu 10 tahun saja, bedanya sudah gila-gilaan. Di karya Harjono Sigit lainnya, perubahan yang terjadi lain lagi. Di PPS PT. Semen Indonesia, bentuk dan fungsinya relatif masih sama. Hanya yang di bagian bawahnya, yang memakai kolom V, ditambahkan ruang arsip. Itu dibangun tahun 1965, karya awal Harjono Sigit. Sampai sekarang tetap seperti demikian. Di satu sisi ada yang tetap seperti itu, di sisi lain ada yang berubah total. Akhirnya, ada empat bentuk perubahan yang saya baca di karya-karya Harjono Sigit. Ada yang relatif tetap sejak dibangun, ada yang hilang sama sekali, seperti Gedung Direksi Perhutani, ada yang berubah sebagian seperti di Pasar Atum, dan ada yang yang berubah ekstrem seperti di Gedung PT. Mentras. Keempat itu yang jadi highlight pameran ini, yang menjelaskan empat tipologi perubahan yang terjadi di karya Harjono Sigit.


Tulisan di dinding Gedung PT. Mentras (Foto: Kami Arsitek Jengki)

Tentang asal-usul istilahnya sendiri, form follows fiasco?

Form follows fiasco itu istilah dari Harjono Sigit. Di antropologi visual, ada satu metode bernama elisitasi. Kamu ambil gambar di lapangan sebanyak-banyaknya, terus kamu bawa lagi ke narasumber dan kamu menggali informasi berdasarkan ingatan-ingatan visualnya. Itu yang saya terapkan pada riset ini. Istilah itu muncul saat kita balik dari lapangan, membuat video rough cut, dan menunjukkan video itu padanya. Kebetulan, dia hobi jalan-jalan via Youtube. Travelling without moving. Kegemaran itu kita manfaatkan. Di situ dia mulai cerita banyak. Lalu, saya menanyakan pendapatnya mengenai perubahan fungsi yang terjadi pada karya-karyanya.

“Bukan form follows function lagi dong, Pak. Form follows fun.

“Oh ya, sekarang ini form follows fiasco jadinya.”

Dari situ saya cari kata fiasco, yang artinya messy, kekacauan. Istilah itu sesuai dengan konteks pamerannya yang membicarakan pergeseran dan perubahan. Akhirnya istilah itu yang saya pakai sebagai tajuk kuratorial.

Istilah itu dicetuskan oleh Peter Blake di bukunya yang membicarakan kegagalan arsitektur modern untuk menimbang penggunanya. Buku itu ditulis tahun 1970-an, ketika postmodernisme dalam arsitektur mulai marak. Anggaplah Harjono Sigit mewakili arsitek modern, sebagaimana karya-karyanya banyak mengambil inspirasi dari arsitek-arsitek modern seperti Le Corbusier dan Oscar Niemeyer. Apakah artinya kamu menilai karya-karya Harjono Sigit gagal?

Gagal itu tidak bisa kita terapkan di karya-karya dia, karena bangunan-bangunannya sudah teruji waktu. Dia sempat berfungsi dengan baik sebagaimana ia diciptakan pada kurun waktu tertentu. Kecuali dia dari awal tidak berfungsi, maka dia gagal. Masalahnya, kebutuhan manusia yang berubah, sementara bangunan, sebagai benda fisik, tetap. Selain itu, konteksnya juga berubah karena waktunya sudah berbeda. 

Konteks.org.

Konteks.org ini yang menyebabkan segala sesuatunya menjadi gagal. Hahaha.

Saya melihatnya bukan gagal. Tapi mungkin harus dipertanyakan sejauh mana karya arsitektur bisa dan perlu mengakomodasi kebutuhan penggunanya.

Kamu memiliki statement kuratorial yang kuat. Tetapi, ketika saya melihat penyajian pamerannya, kamu seperti berupaya menyampaikannya dengan subtil. Bagaimana strategi penyajian pameran kamu sebenarnya?

Ruangan itu dibuat dua bagian. Mungkin secara presentasi, pesan kuratorialnya jadi tidak kentara. Kalo mau dibuat kentara form follows fiasco, maket itu semestinya dicoret-coret. Ide itu sempat ada. Tapi itu tidak terjadi karena di satu sisi, mungkin ada bias orang Jawa; orang tua mesti dihormati, sehingga saya tak sampai hati berbuat seperti itu. Unggah-ungguh ala jawa. Yang kedua, harganya mahal. Cari duit susah-susah buat dicoret-coret, sungguh tidak sampai hati. Mungkin nanti mending saya bikin model digital tiga dimensi pamerannya saja terus saya ledakkan di sana.

Atau foto-foto pamerannya saja yang di-photoshop, yang penting kan representasinya tuh. Terus lampunya dibuat ala disko.

Terus ada tempelan sewa futsal Rp 10.000,- dan grafis-grafis seperti di PT. Mentras. Font object gitu ya.

Haha. Tapi memang sangat mungkin pameran ini jadi tampak seperti menanggung dua beban: mendokumentasi dengan baik (dan sopan) dan menyampaikan pesan kuratorial (yang nakal). Maket, obyek presentasi arsitektur yang sangat kuat, kamu hadirkan sebagai objek yang steril. Sementara, pada penyajian teks, ada upaya menjelaskan kehebatan karya-karya Harjono Sigit, sehingga perubahan-perubahan pada karyanya justru ditempatkan sebagai poin tambahan. Begitu pun pada tampilan foto seperti ada beban untuk menjelaskan karyanya dengan utuh. Di sisi lain, memang tidak semua orang peduli dengan catatan kuratorial. Tidak semua orang datang ke pameran ini dengan ekspektasi ingin membaca pembacaan kurator. Banyak yang mungkin cuma datang untuk melihat karya-karya Harjono Sigit atau karena menghormati sosoknya. 

Benar, tidak salah. Kamu cocok jadi penulis konteks.org. Pembacaanmu dalam juga ya.

Maket-maket di Pameran Arsip Arsitektur Harjono Sigit (Foto: Konteks.org)

Tapi kalau lihat pameran saya, jangan dikritisi balik ya. Hahaha. Apa kendala menyiapkan pameran ini, baik teknis maupun konten?

Pendanaan sudah pasti salah satunya. Untungnya banyak dimudahkan dukungan teman-teman DeMAYA. Beberapa firma arsitektur jadi sponsor utama kami. Josef Prijotomo juga sangat membantu kami. Defry Ardianta juga.

Kemudian Human resources kami memang kecil. Belakangan dapat banyak bantuan dari teman-teman Hima Sthapati (himpunan mahasiswa Arsitektur ITS) untuk membantu urusan teknis.

Pro bono?

Semua pro bono. Saya sebagai kurator juga pro bono.

Istri tidak ngomel?

Sedikit. Untungnya dia sudah tahu, suaminya suka bermain-main.

Waktu pertama kali bilang ke Harjono Sigit mau bikin pameran, bagaimana respons dia?

Datar. Waktu saya bilang, “Pak kita mau bikin pameran karya bapak,” dia hanya jawab “Oh, ya.” Tapi ia memang begitu, mesti didatangi terus, baru setelah itu ia mengeluarkan semuanya.

Pas pertama kali kami datang, nyaris tidak dapat apa-apa. Pertemuan kedua, kami tanya apakah ada foto-foto lama karyanya, ia jawab “Tidak ada.” Baru ketika tahap elisitasi tadi, dia jadi semangat dan mengapresiasi kerja kami. Besoknya, ia mengabari bahwa ia menemukan foto-foto lamanya. Jadi memang bertahap.

Berikutnya ada rencana apalagi?

Belum tahu benar. Ada beberapa diskusi dengan Gugun dan Fandi. Saya mengompori Fandi juga karena ia sudah banyak melakukan dokumentasi di Kami Arsitek Jengki. Mungkin ke depannya mengembangkan dokumentasi-dokumentasi itu. Kami ingin membahas tentang heritage di Surabaya juga.

 Baca juga: Ode untuk Sang "Arsitek Tak Berbakat"



comments powered by Disqus
 

Login dahulu