Budi Lim: Konservasi Seperti Menghidupkan Manusia

Keynote Speech Budi Lim merangkum poin-poin yang ia amati mengenai praktik konservasi.

Author

14 November 2014 di Gedoeng Jasindo, Jakarta, Budi Lim menyampaikan keynote speech yang bernas mengenai konservasi pada pembukaan Trade’s Fair: Heritage Building Conservation (14-16 November 2014) dan pameran A Conservation Story (15 November 2014-11 Januari 2015) yang diselenggarakan oleh UNESCO.

Arsitek yang sering terlibat dalam upaya konservasi itu telah dua kali mendapatkan UNESCO Awards for Cultural Heritage Conservation, yaitu untuk proyek konservasi Gedung Arsip Nasional, Jakarta, dan De Driekleur, Bandung. Ia juga pernah menjadi anggota juri pada penghargaan serupa.

Budi Lim membagi presentasinya yang berlangsung selama satu jam itu menjadi tiga bagian: latar belakang dan hal-hal yang ia amati dalam praktik konservasi, pengalamannya di Gedung Arsip Nasional dan De Driekleur, dan pendapatnya mengenai UNESCO Awards for Cultural Heritage Conservation. Dengan bekal pengalaman di berbagai proyek konservasi, ia menyampaikan setiap poinnya dengan fasih dan dengan disertai contoh-contoh yang jitu.

Berikut adalah cuplikan bagian pertama dari presentasinya.

***

"Saya lahir dari latar keluarga ncek yang tidak tahu sama sekali tentang arsitektur. Saya mau menjadi Jesuit tetapi ayah saya tidak mengizinkan, sehingga saya “dibuang” ke Inggris—agar jauh-jauh dari Kanisius. Saya lalu memilih jurusan arsitektur.

Pendidikan di Oxford Brookes University, Inggris, mempengaruhi saya. Waktu itu, sedang ada renovasi bangunan tua. Saya ingat sekali ada banyak perdebatan [perihal konservasi] antara kritikus arsitektur, sejarahwan, dan arsitek. Antara lain mengenai pemanfaatan ruang, konstruksi, sampai mengenai perlakukan terhadap material. Saya tidak sangka bahwa konservasi harus seperti itu. Lama-lama saya sadar bahwa memang arsitek konservasi itu mengerjakan restorasi seperti ia menghidupkan manusia. Pada kulitnya pun harus hati-hati. Misalnya ada perdebatan apakah dinding batu paras boleh dikasih pelapis atau tidak—sampai seperti itu, seakan-akan kalau kulit istri saya lagi ada merah-merah, ya perdebatannya boleh ditutupi atau tidak.

Saya sadar, restorasi itu butuh kemampuan khusus. Sangat tidak mudah. Butuh passion. Butuh pengetahuan. Butuh latar akademik. Ia harus tahu tentang style arsitektur: tipe apa dan kenapa. Bukan hanya pada permukaannya, melainkan sampai pada pengetahuan tentang konstruksi dan bahan bangunannya.

Pendidikan tentang cagar budaya [di pendidikan arsitektur] itu sedikit sekali. Padahal cinta terhadap bangunan tua menurut saya tidak cukup. Seringkali kita juga terjebak. Kita senang bangunan tua, lalu kita merasa sudah menjadi ahli. Itu masalah paling besar yang saya perhatikan: selama senang dengan bangunan tua, berarti orang itu jadi ahli. Dari lurah, walikota, hingga siapapun.

Kalau kita sudah membongkar, mengganti material, memperkosa bangunan, [hal-hal itu] tidak mungkin bisa dibalikkan lagi. Saya ingat ada pejabat yang begitu bangga terhadap suatu bangunan. Yang dipertahankan hanya bagian depan. Saya dengan sopan meninggalkan ruangannya karena saya marah luar biasa. Kalau saya mempertahankan nenek saya yang berjasa, apa saya akan hanya mempertahankan mukanya, lalu badannya saya ganti saja dengan yang lebih muda? Tetapi ini kenyataan yang banyak terjadi, yang menempatkan pelestarian cagar budaya hanya sebagai kedok.

Bertahun-tahun saya berusaha menyelamatkan Segitiga Senen. Saya dulu suka bawa staf saya keliling seharian di sana, di mana Majalah Tempo lahir, di mana warga Betawi, orang Tionghoa, orang Arab, bisa bergosip di pinggir jalan. Gereja dan kelenteng bisa berdampingan. Bangunan-bangunannya bagus sekali. Yang saya sangat menyesal, penasehat konsultannya mengatakan bahwa ia sudah berusaha menyelamatkan tujuh dari semua bangunan, tetapi akhirnya hanya satu yang selamat. Yang dipilih, katanya, yang terbaik, yaitu bangunan Tionghoa yang tampaknya lalu diubah seperti Disneyland. Saya berkata pada beliau, orang Jawa, bahwa wayang itu tidak bisa diambil satu lalu dipertahankan. Wayang harus satu set, sama gunung dan dalangnya. Begitu pula bangunan.

Pada 1976 saya pergi ke Pulau Samosir di Danau Toba—satu bulan setengah tinggal di sana—untuk tugas menggambar. Dari pengalaman itu, saya belajar konservasi sebagai by product dari masyarakat yang mempunyai nilai dan kebudayaan yang luar biasa sampai menghasilkan bangunan seperti itu. Bahkan sistem konstruksinya punya arti. Dari situ saya, sebagai mahasiswa tingkat kedua, disadarkan oleh arsitektur Pulau Samosir: bahwa saya tidak boleh melihat bangunan hanya dari kayunya atau ukirannya yang indah. Di belakang semua itu, ada masyarakat. Ada nilai-nilai yang kontekstual. Saya tidak mau mempertanyakan nilai-nilai mereka. Benar atau tidak itu bukan urusan saya, tapi yang saya kagumi, mereka begitu komitmen terhadap nilai-nilai masyarakat, lingkungan, dan lain sebagainya.

Lapisan sejarah penting bagi bangunan, karena bangunan by product merupakan hasil dari sejarah. Itu sebabnya kita mesti mempertahankan urban grain. Ini yang jadi masalah di mana-mana. Negara yang katanya berpendidikan maju, seperti Singapura, justru perusak urban grain terbesar. Mau mengefisiensikan bangunan, pertahankan tampaknya, tetapi dalamnya dikeruk semua jadi satu. Bangunan buat saya seperti manusia. Bayangkan kalau teman-teman Anda tidak punya profesi, tidak punya uang cukup, apa mereka bisa ususnya disambung?

Ada bagian-bagian kota yang medium grain atau fine grain, berukuran menengah atau besar—kita tidak bisa memanipulasi itu. Hal itu dibentuk bertahun-tahun, berabad-abad. Bangunan cagar budaya tidak bisa dipisah dari konteksnya. Ia tidak bisa berdiri sendiri. Tugas kita adalah memperbaiki anatominya, bukan sekadar membongkarnya. Bayangkan saya sebagai arsitek tidak dapat kerjaan karena kerjaan saya jelek, saya bangkrut, anak istri tidak bisa saya kasih makan; apa yang harus dikerjakan? Apa seperti tadi dikeruk satu keluarga untuk dijadikan satu atau saya ditolongi supaya saya sehat kembali?

Restorasi bukan tentang cover, bukan tentang tampak luar. Salah satu contoh buruk restorasi adalah deretan bangunan di Clarke Quay, Singapura, di mana dalamnya (pada lantai dua) jadi satu. Itu adalah kebohongan. Ada bangunan Cina, tetapi juga sudah diperkosa habis. Strukturnya berantakan semua. Pihak yang berwenang begitu bangga bahwa ia sudah merestorasi bangunan ini. Saya juga punya dosa di sini. Saya membuat fasadnya jadi warna-warni, saking jengkelnya melihat bangunan tua itu seragam semua dengan warna abu-abu. Saat mereka tanya saya apakah saya dari taman kanak-kanak, saya bercanda saja, karena buat saya ini bukan konservasi lagi. Sebagai bangunan, ini sudah diperkosa habis.

Agar dapat lestari, bangunan yang dikonservasi perlu peran baru. Yang sering terjadi, kita kerap terkecoh dengan masa lalu. Saya ingat, 36 tahun lalu, ketika saya berusaha kampanye restorasi di sini [Kota Tua] saya dimarahi Walikota Jakarta Barat dan Wakil Gubernur,“Apa-apaan kamu mau merestorasi bangunan kolonial kita?” Padahal hampir seluruh bangunan tua di Indonesia itu bangunan Belanda, masa kolonial. Sampai saya disebut “Cina kecil gila”. Tapi zaman itu sudah lewat, sekarang sudah banyak kemajuan.

Saat mewawancarai mahasiswa yang baru lulus, seringkali saya kecewa. Mereka bilang gini, “yang lama jelek, Pak.” Saya tanya, “Kamu tidak ada bangunan tua yang kamu suka?” Mereka menjawab, “Bangunan tua mana ada yang bagus, Pak, yang bagus bangunan baru.”

Selain itu, kita juga sering terjebak pada old look revival—kita bernostalgia dengan bangunan. Contohnya bangunan [Menara Da Vinci] di Jalan Sudirman, Jakarta, ini. Saya tidak mengerti kekayaan apa yang hendak diperlihatkan oleh bangunan ini. Padahal kita sudah mau keluar dari kolonialisme, tetapi arsitektur ini justru mencerminkan kolonialisme, otoritas, eksploitasi, dan ekstravaganza. Jika kita bisa menerima ini, kita perlu mempertanyakan betulkah ini mencerminkan identitas kita sebagai bangsa dan sebagai warga Jakarta—karena ini berada di jalan utama bangsa kita.

Apakah semua bangunan tua adalah bangunan cagar budaya? Tidak juga. Tapi bangunan tua mungkin menjadi bangunan cagar budaya. Di Cina, ada daerah yang meniru Venesia, palsu semua. Pihak yang melakukan fabrikasi sejarah semestinya ditangkap polisi, karena ia berdosa terhadap generasi yang akan datang. Mereka membohongi orang demi turisme, menghalalkan segala-galanya. Amat menguntungkan, tetapi menjijikkan. Conservation is not for sale.

Saya ingat daerah [Kota Tua] ini butuh 40 tahun untuk menghidupkan kembali, tetapi sekarang sudah sukses. Waktu zaman saya mahasiswa, restorasi itu baru dibicarakan. Untuk mengkonservasi, kita butuh komitmen. Tentu visinya harus sama. Yang sering sekali itu visinya aneh-aneh. Pejabat visi lain, arsitek visi lain, yayasan visi lain. Ini yang sering terjadi.

Yang sering sekali juga jadi kendala, kita sudah tidak mengenal sistem konstruksi atau sistem struktur dari tipe bangunan tertentu, sehingga apa yang ada sering kita rusak. Bangunan yang tadinya bisa napas, kita jadikan tidak bisa bernapas.

***

Demi kenyamanan membaca, kami hanya menampilkan bagian pertama dari keynote speech Budi Lim. Untuk mendapatkan rekaman audio lengkap presentasi ini, yang spesifik membahas karya-karya konservasi Budi Lim dan pendapatnya mengenai UNESCO Awards for Cultural Heritage Conservation , bisa menghubungi redaksi@konteks.org.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu