Buku Digital Rumah Silaban Dirilis

Rekaman sosok Silaban, arsitek yang dekat dengan Sukarno, dan serba-serbi mengenai rumah tinggalnya di Bogor.

Author

Juli 2007, modern Asian Architecture Network (mAAN) Indonesia, bekerjasama dengan Universitas Tarumanagara dan Center for Sustainable Urban Regeneration (cSUR) Universitas Tokyo, mengadakan lokakarya internasional yang berfokus pada Friedrich Silaban (1912-1984), arsitek ternama Indonesia yang juga salah satu pendiri Ikatan Arsitek Indonesia. Pada rangkaian acara yang mencakup inventarisasi, kuliah, seminar, dan diskusi itu, Rumah Silaban di Bogor didokumentasikan dan dipublikasikan melalui buku Rumah Silaban (2008). Buku itu kini dirilis untuk publik dan bisa diunduh di tautan ini.

 

 

 Silaban bukan arsitek biasa—begitu cara Silaban menerangkan ihwal dirinya sendiri dalam sebuah surat. Ia belajar arsitektur secara otodidak dan tidak menempuh pendidikan arsitektur di universitas. Pada masa pemerintahan kolonial, ia pernah bekerja untuk J. H. Antonisse, arsitek Belanda yang mendesain skema Pasar Gambir tahun 1929 dan kemudian menjadi pegawai di Departemen Umum. Setelah kemerdekaan sejak 1947, ia diangkat menjadi direktur Pekerjaan Umum di Bogor.

Silaban dikenal dekat dengan Sukarno dan banyak membantu Presiden Republik Indonesia pertama itu dalam menerjemahkan visi arsitekturnya. Karya-karyanya hingga sekarang masih menjadi ikon Kota Jakarta, antara lain Masjid Istiqlal, Gedung Bank Indonesia, dan Gedung Pola.

Rumah Silaban di Jalan Gedung Sawah II, Bogor, dibangun pada 1958. Rumah itu bermula dari niat Sukarno mengunjungi kediamannya. Rumah Silaban sebelumnya, yang berada di lokasi yang sama, amat sederhana, sehingga ia tidak percaya diri dan meminta Sukarno menunda kedatangannya. Ia lalu habiskan satu malam untuk merancang rumah baru dan satu tahun untuk membangunnya. Sekitar tahun 1959, Silaban menyambut Sukarno di rumah barunya itu.

Silaban dan Presiden Sukarno berbincang di ruang duduk Rumah Silaban (sekitar 1959)

Rumah Silaban memiliki respons yang cermat terhadap iklim tropis. Rumahnya ditempatkan menghadap ke selatan; dengan massa bangunan memanjang pada sumbu timur-barat. Ruangan-ruangannya, yang mesti mewadahi 10 anak, ia susun dalam lajur yang mengikuti sumbu tersebut. Rumah tersebut memiliki serambi yang panjang dan emperan atap yang lebar. Pintu kaca sorong dan celah antara pintu dan langit-langit memberikan celah untuk sirkulasi cahaya dan udara.

Buku Rumah Silaban mengungkap sosok Silaban, riwayat rumahnya, serta prinsip-prinsip arsitektur yang ia pegang dan terjemahkan ke rumahnya. Buku ini juga menampilkan foto-foto rumah Silaban beserta gambar-gambar kerja yang digambar oleh arsitek kelahiran Tapanuli itu. Selain itu, tulisan-tulisan dari akademisi seperti Josef Prijotomo, Gunawan Tjahjono, dan Sutrisno Murtiyoso, serta tulisan dari Panogu Silaban, arsitek yang juga anak dari Silaban, turut menyertai isi buku ini.

Pembuatan buku ini melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dari dalam dan luar negeri, beserta para pengajar muda. Prosesnya meliputi pengamatan intensif berupa diskusi mengenai sejarah dan teori arsitektur, pengamatan langsung, pengukuran kondisi iklim, serta paparan dari para sejarahwan arsitektur senior dari dalam maupun luar negeri, selama 10 hari di Rumah Silaban, Bogor. Kegiatan penulisan sejarah arsitektur ini dilakukan dengan kolektif dan swadaya untuk mengatasi berbagai keterbatasan yang selama ini dijumpai dalam penulisan sejarah arsitektur di Indonesia.

Menyertai buku digitalnya, video proses lokakarya internasional tersebut turut dirilis dan bisa disaksikan di kanal video Konteks.




comments powered by Disqus
 

Login dahulu