Author
Ekskursi UI

“Keluar menimba hasil perjalanan adalah hakikat ekskursi. Perjalanan melintasi yang dilalui, berkunjung mengamat-cermati kehidupan luar kampus sambil berlibur,” demikian sepenggal kata sambutan oleh Prof. Ir. Gunawan Tjahjono, M.Arch., Ph.D. pada papan yang terletak persis di depan pintu masuk pameran ekskursi Korowai.  Ekskursi sendiri merupakan kegiatan rutin tahunan oleh mahasiswa arsitektur UI. Dimulai pada tahun 1970 dan diadakan berseling, Ekskursi UI menjadi tradisi tahunan sejak 1977.

Diawali dari ekskursi pertamanya, yang mendatangi suku Anakalang sampai ekskursi terakhir mendatangi suku Korowai, kini mahasiswa jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia telah berhasil mengadakan 18 ekskursi. Perbedaan dari pameran pada tahun-tahun sebelumnya ialah pameran yang berlangsung dari 14-20 Maret 2016 ini tidak hanya memamerkan hasil ekskursi Korowai saja, namun juga rangkuman dari ekskursi yang dilakukan sebelumnya, di antaranya Lombok, Trowulan, Banjar, Sumba, Mentawai, dan lainnya.

Suku yang "diteliti" pada Ekskursi UI 2015 adalah suku Korowai. Terletak di Papua, suku Korowai merupakan salah satu suku yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Mereka hidup bersama kelompok keluarga masing-masing di dusun atau boluf. Suku Korowai tidak mengenal keberadaan kepala adat dalam strata masyarakatnya. Secara turun temurun, batasan dari dusun ke dusun lainnya berupa batas alam, seperti kali atau sungai. Tiap dusun dimiliki oleh kelompok keluarga tertentu dan nama dusun diambil dari marga keluarga tersebut.

Selain dusun, ada juga suku Korowai yang hidup di kampung. Kampung ini dikategorikan sebagai tempat tinggal yang lebih modern daripada dusun. Rumah-rumah di kampung ini lokasinya saling berdekatan, berbeda dengan dusun-dusun yang lokasinya lebih tersebar. Perbedaan antara dusun dan kampung juga dapat dilihat dari bentuk bangunannya.

Contoh Rumah Tinggi suku Korowai yang terletak di Dusun

 

Para mahasiswa UI mendatangi tiga dari enam kampung yang ada di sana, yaitu Yafufla, Sinimburu, Mabul. Yafufla merupakan salah satu contoh kampung “transmigrasi” yang dibangun untuk menyatukan suku Korowai dengan suku-suku lainnya. Awalnya, penyatuan ini dilakukan untuk kepentingan penyebaran firman oleh misionaris yang datang.

Suku Korowai hidup dengan memanfaatkan apa yang ada di alam. Makanan didapatkan lewat hasil buruan, dengan sagu sebagai makanan pokok. Mereka memiliki beberapa alat berburu dan alat pikul, seluruhnya dibuat dengan tangan. Hewan yang biasa diburu  lain, babi hutan, burung kasuari, ikan, dan udang di sungai. 

Salah satu alat berburu suku Korowai

Untuk hal medis, suku Korowai juga memiliki tradisi tersendiri. Mereka percaya bahwa orang yang sakit akan sembuh dengan cara menarik rambutnya sendiri. Jika ada orang sakit yang tidak memiliki rambut, maka bisa diwakilkan oleh temannya yang memiliki rambut, dengan syarat orang yang sehat memegang bahu orang yang sakit. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, mereka sekarang lebih mengenal dan percaya kepada obat-obatan modern.

            Hasil dari pameran Ekskursi UI diperoleh lewat perjalanan 12 mahasiswa UI yang tergabung dalam tim ekskursi Korowai. Pameran sukses merangkum kehidupan suku Korowai dalam penyajian yang menarik. Bagi kalian yang penasaran, pameran masih berlangsung hingga 20 Maret 2016. Tidak perlu sampai pergi jauh-jauh ke Papua, mari datang dan saksikan sendiri cara hidup suku Korowai dari dekat.

Informasi lebih lengkap, bisa menghubungi : Kanya Pratita (081808480808 / line id: kanyapratita)

 

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu