Desain, Sebuah Rangkaian Dialog yang Panjang

Cerita di balik sebuah proyek perancangan masjid.

Author

Prolog

Pengantar yang (tak) biasa.

Di akhir sebuah rapat mingguan pembangunan gedung kantor di bilangan ujung timur Jakarta, sang pemilik proyek menghampiri saya. Ia menanyakan kesediaan saya untuk merancang masjid tempat ia terlibat sebagai anggota dewan panitia pembangunan.

Dari kacamata bisnis, tentu ini pertanyaan biasa saja. Arsitek mana yang tidak ingin terlibat di sebuah kesempatan proyek? Tapi bagi saya dan mungkin juga klien saya, ini adalah pertanyaan yang penting untuk dijawab karena akan menentukan apa yang muncul berikutnya: dialog yang berlanjut atau situasi yang kikuk.

Saya tahu klien tersebut mengenal saya sebagai seorang Katolik, walaupun saya tidak tahu sejauh mana ia mengenal kekatolikan saya. Sebaliknya, saya juga tak cukup mengenal sejauh mana keislaman klien saya ini. Yang saya tahu ia adalah pribadi sederhana dan bersahaja. Ia juga rajin menunaikan ibadah salat.

Kami memang tak pernah mendiskusikan hal-hal di luar proyek yang berkaitan dengan agama atau kepercayaan kami. Oleh karena itu, pertanyaan ini penting untuk dijawab bagi kami berdua. Selain bisa menjadi pengantar kami dalam membangun wacana dan topik pembicaraan yang lain, melaluinya kami juga bisa memperluas spektrum pemahaman dan perkenalan di antara kami.

“From what you didn’t say, lies that you did say.” - Dejan Stojanovic

Sekian detik berselang, jawaban saya berikan. Jawaban yang sepertinya tak jauh dari bayangan dan harapan yang tergambar di benak masing-masing pihak:

“Ya, saya tak sedikitpun keberatan! Saya justru bersemangat menerimanya.”

Sebuah jawaban sederhana untuk pertanyaan sederhana, yang mengantarkan kami ke dialog-dialog selanjutnya.

 

Dialog #1

TOR, dan kemewahan yang seketika “lusuh”.

Di ruang rapat direksi keet (kantor sementara) proyek kantor itu, diskusi tentang agama mulai mengalir penuh gairah. Berbagai pandangan kami tentang agama mulai bermunculan satu-persatu, sahut-menyahut.

Dialog mulai mengerucut pada konteks arsitekturalnya. Kami pun sama-sama tak bisa menghindari pembicaraan tentang salah satu masjid besar di Indonesia: Istiqlal, yang dalam bahasa Arab kurang lebih berarti “kemerdekaan”.

Saya berterima kasih pada sosok arsitek Friedrich Silaban dan sosok bouwheer (pembangun) Soekarno, yang lewat proyek Istiqlal membuat saya, dan juga klien saya, tak kesulitan mencari preseden positif kolaborasi antar umat berbeda agama di Indonesia. Saya pun mencuri kesempatan untuk mengenalkan seorang maestro arsitektur Indonesia lainnya, Y. B. Mangunwijaya, dengan mengutip pernyataan hebatnya:

Arsitektur ialah sarana untuk memanusiakan dan memerdekakan manusia, sehingga mampu mengantar manusia untuk setara satu dengan lainnya.

Meminjam perspektifnya, saya sampaikan bahwa arsitektur mempunyai cita-cita luhur yang sama dengan cita-cita mulia agama, yang merindukan kemanusiaan dan berupaya mendorong manusia untuk mencapai level terbaik kemanusiaannya.

Dialog yang terjadi hari itu bagi saya adalah momen berharga. Ia tidak hanya membangun spektrum baru hubungan “kerja” antara saya dan seorang klien, tapi mengantar saya pada sebuah kesempatan membangun tempat ibadah untuk saudara-saudara yang lain.

“Ini adalah sebuah kehormatan besar dan juga salah satu kemewahan luar biasa dalam perjalanan hidup saya,” begitu ucap saya.

Tak lama setelah bereuforia dengan dialog-dialog berbalut filosofi dan teologi dadakan, saya mencoba mengerucutkan pembicaraan pada sebuah pertanyaan dasar dalam desain arsitektur, “Bolehkah saya tahu bagaimana TOR-nya (Term of References, atau Kerangka Acuan Kerja)?”

Klien lalu menjawab pertanyaan ini dengan lugas, “Nanti ada sesi khusus. Tim Panitia Pembangunan Masjid akan mengundang arsitek. Untuk kemudian menjelaskan tentang apa-apa saja harapan dari warga dan masyarakat terkait proyek pembangunan masjid ini. Tapi satu hal ya, proyek ini tidak seratus persen baru—tidak dimulai dari nol. Proyek ini sudah berjalan sampai tahap struktur, dan tadinya ada di bawah yayasan yang lain. Karena satu dan lain hal, masyarakat mengambil alih yayasan tersebut dan menggantinya dengan yayasan baru. Desain lama dihentikan dan ingin diganti dengan semangat desain yang baru.”

Lalu tambahnya, “Oh ya, karena struktur-struktur fondasi serta kolom sudah berdiri, boleh dibilang sebenarnya ini (hanyalah) sebuah proyek (desain) tampak.”

Perasaan yang membuncah karena merasa terhormat dan mendapat kemewahan besar, tiba-tiba kocar-kacir tak beraturan mendengar susunan kalimat jawaban di atas.

Sebelum saya mampu merumuskan apa yang saya rasakan, insting saya merespon cepat dengan kembali bertanya tentang apa yang terjadi, soal mengapa masyarakat mengambil alih yayasan sebelumnya, juga soal konflik atau “drama politik” apakah yang terjadi. Ia terlihat tak terlalu nyaman dengan arah pertanyaan saya, lalu hanya menjawabnya secara diplomatis, “Ah biasa saja, yayasan lama dianggap masyarakat terlalu ekstrim dan eksklusif. Kami tak ingin “model” seperti ini ada di lingkungan kami.”

Kemudian, seperti tak mau meninggalkan jeda, dan menutup lubang atas pertanyaan berikutnya, ia segera menambahkan sekaligus menegaskan, “sebenarnya arsitek tak perlu repot, hanya tinggal mengubah tampilan desain masjid yang lama, ke desain tampilan baru yang lebih ‘modern’ sambil memenuhi arahan-arahan lain dari tim panitia.”

Saya pun mengangguk pelan—mengiyakan. Terjebak di batas antara mencoba paham dan tak mengerti sama sekali.

Pertanyaan yang tak tuntas dijawab, dan penegasannya bahwa ini hanyalah proyek desain tampak, jelas menarik dan membanting saya, yang sudah sempat melayang-layang, keras ke atas tanah. Kemewahan yang sempat saya rasakan begitu glamor dan kaya nuansa epik nan heroik, tiba-tiba menjadi kabur. Ibarat kain songket yang terbayang mewah warna-warni, tapi kini hadir di tangan dalam baluran lumpur tebal.

Sebuah dialog lanjutan, yang memorakporandakan ruang penuh gelora yang sebelumnya saya rasakan. Sebuah kontras.

 

Dialog #2

Read between the lines.

Seminggu setelah percakapan sebelumnya, saya dan tim menghadiri rapat di sebuah masjid kecil sederhana berukuran sekitar seratus meter persegi. Saya mengajak seorang rekan yang akan menjadi project architect dan seorang rekan lain yang memiliki pemahaman luas mengenai Islam, untuk mengimbangi pemahaman saya yang masih sangat minim.

Agenda utama rapat hari itu adalah penyampaian TOR dari panitia ke tim arsitek. Setelah ramah-tamah perkenalan, wakil panitia masjid menyampaikan belasan poin utama yang wajib dipenuhi tim arsitek dalam usulan rancangannya.

Di antara poin-poin tersebut, sebagian besar didominasi oleh ekspektasi akan tampilan fisik bangunan masjid. Dan yang cukup bisa diingat, karena disampaikan hampir berulang, masjid harus memiliki kubah dan menara (minaret). Poin penting lainnya, mengingat bahwa struktur fondasi dan kolom masjid sudah berdiri, tim arsitek diminta mengajukan proposal rancangan tampak masjid yang baru.

Sebelas dua belas dengan diskusi sebelumnya bersama klien saya, informasi soal latar belakang pergantian yayasan tak banyak disampaikan. Kami akhirnya lebih banyak menggali maksud poin-poin yang terdapat di TOR tersebut. Seperti soal apakah arsitek diberi keleluasan untuk menerjemahkan poin-poin yang ada, termasuk berdiskusi panjang lebar soal kubah, minaret, dan sejarah wujud estetikanya.

Kami berusaha meminta agar poin-poin yang berkaitan dengan bentuk-bentuk ekspresi yang subjektif bisa lebih longgar diintepretasi. Kami menilai bangunan masjid sebagai sebuah bentuk harusnya merdeka untuk ditafsirkan ulang secara terus-menerus.

Tak banyak jawaban segar yang diberikan. Panita hanya menyampaikan bahwa poin-poin tersebut adalah hasil urung rembuk seluruh warga. Masjid yang akan berdiri di tanah seluas 1,3 hektar dan berdaya tampung sekitar 2000 orang tersebut akan menjadi masjid kebanggaan warga. Dan karena masjid akan dibangun atas prakarsa swadaya warga, setiap jengkal masjid adalah hasil keringat dan sumbangsih tiap warganya. Setiap suara harus didengar.

Catatan tentang poin-poin tersebut kami simpan dan bawa pulang.

***

“Kalau belum paham, jangan sekali-sekali menarik garis. Pahami dahulu baru tarik garis agar garis tersebut berbunyi.”

Sepenggal kalimat tersebut selalu saya ingat, pesan seorang dosen di sebuah ruang studio kampus belasan tahun yang lalu.

Brief yang kaku mengikat, serta batasan bahwa ini hanya sebuah proyek desain tampak, tak mampu mengantar kami pada sebuah pemahaman.

Di titik ini, terlintas pemikiran untuk mundur saja. Bukan semata-mata karena prospek proyek ini tiba-tiba menjadi tidak menarik, tapi terlebih karena kami tak mampu sedikitpun mendefinisikan tantangan dan peran yang bisa kami berikan di proyek ini. Tumpukan hasil studi tipologi masjid tak juga membawa kami pada pemahaman tentang apa yang harus kami kerjakan.

Di sisi lain, kami sepertinya tidak cukup siap menghadapi kelompok klien yang kompleks, yang tiap suaranya adalah penting dan layak didengar. Terlebih lagi bukan hanya suara satu-dua orang melainkan ratusan hingga ribuan.

Sebelum keputusan final diambil, kami adakan rapat khusus untuk proyek ini. Saya masih tergoda oleh frasa “read between the lines”. Bila belum paham sesuatu, coba baca kembali. Siapa tahu ada yang tersembunyi di balik kata demi katanya. Kalau toh makna tak terlihat atau tak terbaca, bukan karena makna itu tak ada. Mungkin ia tersembunyi rapi di dalam jalinan atau rangkaian teksnya.

Kami mencoba untuk mencari apa yang tersembunyi itu. Sesuatu yang mungkin bisa membuat kami semua paham apa tantangan sebenarnya proyek ini. Kami coba membaca ulang TOR, mengingat kembali semua detail percakapan, dan mencari data-data turunan baru.

Beberapa hari berselang, lewat proses riset kecil, sebuah fakta terkuak. Seorang  rekan anggota tim menemukan berita-berita terkait pengambilalihan kepemilikan masjid dari yayasan lama oleh yayasan baru. Walaupun berskala lokal, berita-berita itu cukup menyita halaman berita. Bahkan tertulis di dalamnya bahwa peristiwa ini telah berujung di pengadilan. Sosok ketua umum sebuah partai Islam besar berskala nasional disebut ikut turun tangan menengahi konflik ini.

Di sini, kami mulai melihat bahwa ini bukan lagi sekadar proyek desain tampak. Ada yang lebih penting. Ini adalah proyek rekonsiliasi, proyek perdamaian.

Di ruang diskusi studio, kami sepakat: rumah ibadah ini tak boleh dibangun atas  dasar amarah dan panasnya konflik. Ia tak boleh jadi “menara kemenangan” satu kelompok atas kelompok lain. Ia harus jadi monumen perdamaian. Bila arsitektur diminta hadir dan terlibat, ia haruslah menjadi karya yang bermanfaat, bukan sekedar karya yang memenuhi dan memuaskan estetika yang subjektif semata.

Dalam sebuah teks, selalu ada celah dan retakan-retakan. Di celah dan retakan inilah, sebuah makna dapat luput, rapi tersembunyi. Bangunan ruang dialog yang tak sempurna, menyembunyikan sebuah celah kritisnya.

 

Dialog #3

Sebuah diskursus.

Kami bertanya pada diri sendiri apakah gagasan arsitektur yang akan kami perjuangkan akan menuai hasil dan manfaat ataukah ia hanya menjadi seonggok gagasan mati yang tak menggerakkan apa pun.

Agar ide awal tak terlalu terbatasi, kami menempatkan konflik sebagai isu utama. Arsitektur yang mendorong inklusivitas dan ruang-ruang perdamaian menjadi cita-cita yang ingin kami capai.

Kami sedikit abaikan poin-poin TOR yang sifatnya estetika subjektif saja. Kami mengutamakan eksplorasi bahasa-bahasa desain dan mendorong program-program ruang yang mampu mendekati cita-cita gagasan kami.

Dialog. Kami sepakat menjadikan kata ini sebagai tema besar gagasan arsitektural masjid ini.

Dialog yang bukan hanya sebagai ruang pertukaran pendapat, gagasan dan pemahaman, melainkan juga ruang rekonsiliasi atas ketegangan-ketegangan dan konflik yang terjadi di masyarakat.

Masjid ini nantinya akan berdiri di tengah-tengah kawasan perumahanan khas developer hari ini—ruang hunian yang tersekat-sekat dalam dinding-dinding kluster yang masif. Alih-alih menghadirkan keamanan, keberadaan ruang hunian tersebut malah bisa membentuk identitas eksklusif baru yang tidak perlu—sebuah bom sosial yang siap meledak sewaktu-waktu.

Di sisi lain, di kawasan perumahan dengan luas lebih dari seribu hektar ini, ruang terbuka publik masih sangat minim. Masjid sebagai bagian dari fasilitas publik bisa didorong untuk memecahkan persoalan di atas. Dinding-dinding kluster mungkin belum bisa dirobohkan hari ini, tapi lewat masjid, masyarakat bisa mulai belajar sebuah pengalaman ruang yang bebas “sekat”. Bahwa manusia hakikatnya sama sederajat, tak mengenal batas kelas. Di saat batas dihancurkan, di sana awal sebuah dialog terjadi.

Masjid juga bisa didorong lebih jauh untuk tak menjadi eksklusif. Walaupun aktivitas yang mungkin terjadi di ruang ini bukan berarti bebas tanpa batas, ia mampu cair di ruang-ruang luarnya, menjelma jadi bagian dari pelataran publik yang lebih luas. Ia menjadi sebuah ruang luar di mana manusia menjadi wajahnya. Ruang tempat dialog dirayakan.

Di dalam masjid, manusia tak sekadar hanya membangun relasi-relasi vertikal, melainkan juga relasi-relasi sehari-hari dengan manusia lain dan juga dengan alam lingkungannya. Rahmatan lil alamin—menjadi rahmat buat yang lain.

Inilah yang akan menjadikan ritual salat tidak lagi monolog. Masjid menjadi ruang dialog yang intens dan akrab, antara manusia dan penciptanya, dan juga sesama ciptaan Tuhan.

Berwudu sebagai sebuah prosesi yang mengawali sebuah salat menjadi pengingat penting sebuah sikap utama: mempersiapkan dan memantaskan diri sebelum bertemu, berdialog menghadap-Nya.

Dari perspektif demikian, ruang wudu menjadi sentral dalam sebuah bangunan masjid. Ia menjadi refleksi tentang perlunya persiapan fisik, pikiran, dan batin utuk membangun sebuah dialog yang hangat—menghadirkan rahmat untuk semua.

Identitas bangunan masjid pun dihadirkan lewat sebuah ilustrasi alur gerak utama salat: mulai dari berdiri tegak, menunduk, sujud, dan duduk. Salat yang menjadi aktivitas utama di dalam masjid, sebuah refleksi dari sebuah dialog yang tak statis dan kaya gerak.

Itulah materi presentasi kami di hadapan sekitar kurang lebih 30 wakil umat—sejumlah orang pilihan yang dipercaya untuk mewakili hampir ribuan warga muslim yang ada di sana.

Materi presentasi ini sebelumnya dihantar oleh cuplikan video singkat yang kami buat, tentang Islam yang damai dan pembawa rahmat semesta, Islam yang mengedepankan dialog, sambil diiringi lagu indah Al I’tiraf dengan suara merdu Haddad Alwi.

Setelah presentasi selesai dan sesi tanya jawab dibuka, kami sangat tak menyangka respon spontan yang kami terima saat itu.

Subhanallah…,” Begitu seru spontan mereka.

Masing-masing wakil umat bergiliran memberi komentar. Sebagian besar memberikan pujian.

Ada satu-dua yang di tengah apresiasinya, menyelipkan pertanyaan tentang mengapa tak ada kubah seperti tercantum di TOR, atau bagaimana dengan kondisi struktur bangunan lama yang sudah terlanjur ada. Tapi pertanyaan-pertanyaan tersebut tak mampu menonjol, bahkan tenggelam di tengah apresiasi yang ada.

Beberapa poin penting TOR memang tak kami penuhi. Kami masuk lewat sebuah gagasan yang kami anggap paling penting. Jujur, bagi kami saat itu, strategi ini adalah sebuah spekulasi. Tapi yang terjadi: gagasan kami saat itu, momen itu, diterima dengan suka hati. Hampir tanpa debat. Semua seperti bisa menerima dan menikmati gagasan yang disampaikan.

Walau tak cukup lama sampai akhirnya ada satu dua orang wakil umat yang datang belakangan, dan tak sempat mengikuti proses presentasi secara utuh, mulai membangun pertanyaan-pertanyaan keras terkait kesepakatan-kesepakatan yang tercantum dalam TOR.

Terjadi tarik-menarik, satu-dua begitu gigih memperjuangkan  apa yang sudah disepakati dalam TOR, sementara yang lain masih berusaha membangun titik tengah kompromi.

“Bagaimana bila rancangan bangunan tetap seperti yang diusulkan tapi dikombinasi dengan bentuk kubah,” begitu kurang lebih kompromi mereka.Kami, saat itu seperti keluar dari diskusi, karena diskursus hebat justru terjadi di kalangan warga wakil umat.

“TOR dibuat berdasarkan sebuah kesepakatan seluruh warga  yang memakan proses panjang dan tak mudah. Menyosialisasikan sebuah ide baru di luar TOR tentu akan sangat berisiko dan akan menghabiskan banyak energi,” begitu terdengar satu komentar.

“Apa yang disebutkan dalam TOR adalah cerminan apa yang dibutuhkan warga saat ini. Menyampaikan gagasan di luarnya, sama seperti tidak menjawab soal. Mana mungkin diterima?” begitu komentar keras yang lain.

Namun tetap muncul juga jawaban-jawaban kritis lain yang membuat kami merasa cukup beruntung “terperangkap” dalam polemik panjang ini, “Kita dan sebagian besar umat yang lain, mungkin belum mampu atau sulit menerima bahwa ada alternatif lain dari sebuah rancang bangun masjid. Namun tak satu pun gagasan besar soal ‘dialog’ di usulan ini yang kita tolak. Pertanyaan berikutnya: Kita membangun masjid ini untuk siapa? Untuk kita atau anak cucu kita? Bila memang untuk anak cucu kita, usulan ini layak kita pertimbangkan.”

Dalam beberapa kesempatan, pertanyaan diajukan kepada kami, tim arsitek. Kami pun berupaya menjelaskan. Terkait kubah misalnya, memang kami mencoba menawarkan bahasa lain yang mungkin secara ekspresi kami anggap lebih mengena dengan cita-cita dialog yang kami usung. Kubah menjadi tidak relevan bila tiba-tiba diletakkan begitu saja.

Juga soal-soal terkait pelanggaran poin-poin yang tersebut di TOR. Di sebuah kesempatan jawab, kami coba sampaikan bahwa pendekatan ini perlu kami lakukan agar kami mampu memahami peran dan keterlibatan kami di proyek ini. Pelanggaran TOR bukanlah upaya pembangkangan, tapi upaya untuk menemukan apa yang tersembunyi, sebuah esensi persoalan.

Diskursus hebat yang terjadi di tengah warga membuktikan bahwa TOR yang ada bukanlah puncak soal. Masih ada esensi soal yang tersembunyi. Diterimanya garis besar gagasan kami akan masjid sebagai sebuah representasi dialog, adalah bukti lain. Bahwa, ada cita-cita yang belum tersampaikan lewat TOR.

TOR sebagai sebuah teks tidaklah absolut, tak juga sempurna, ia masih menyisakan bagian yang paling kritis: citra yang akan memberi napas pada gatra-nya. Roh yang akan menjadikan masjid ini “hidup”.

Tanpa sadar diskursus dan dialog-dialog yang ada menggerakkan semua pihak yang terlibat, untuk meninggalkan posisi awalnya masing-masing.

Warga yang semula hanya melihat persoalan dalam perspektif TOR (yang mutlak), bergerak melihat bahwa masih ada gagasan besar yang tertinggal.

Kami, tim arsitek yang sebelumnya tak melihat adanya dinamika gagasan yang bisa didorong di proyek ini, menjadi bersemangat begitu melihat sebagian warga menaruh harap bahwa gagasan yang kami ajukan mampu memberi napas lain di  bangunan masjid mereka nantinya.

Dan yang pasti, proyek ini bergerak dari sekedar proyek tampak menjadi sebuah proyek rancangan ruang bangun yang lebih utuh. Rentang batasan yang sangat jauh bergerak.

 

Epilog

Saat tulisan ini dibuat, proses desain masih terus berlanjut. Bahkan kini kami, tim arsitek bergerak meninggalkan sikap awal kami, dan mulai melihat bahwa tanpa kubah atau dengan kubah bukanlah yang terutama. Kami pun mengambil sikap untuk tak terlalu lama terjebak pada perdebatan gatra ini.

Di sisi lain, warga juga sampai di keputusan yang berani: membongkar semua struktur kolom yang ada. Selain karena penelitian tim struktur menyatakan bahwa struktur eksisting ternyata tidak layak dan berpotensi gagal struktur, bukan tidak mungkin hal ini terjadi berkat dorongan gagasan yang diajukan sebelumnya oleh kami.

Gagasan tim arsitek dan bouwheer (kelompok warga), bertemu di alternatif desain berikutnya: sebuah bangunan masjid yang menggunakan kubah, memiliki 4 minaret di sudutnya, namun tetap memiliki kualitas-kualitas ruang yang tak kalah bahkan mungkin lebih baik dari usulan rancangan pertamanya.

Proses rancang bangun di proyek masjid ini benar-benar menjadi sebuah proses dialog. Dialog yang mempertemukan, dialog yang memperpendek jarak, dialog yang memperluas spektrum pemahaman dan hubungan antar anak manusia.

Walaupun tak serevolusioner gagasan awalnya, kami tak mengaggapnya sebagai proses yang antiklimaks. Sementara itu, proses perwujudan karya ini masih panjang. Masih terbuka padang luas ruang dialog yang mungkin terjadi.

Gagasan selalu memiliki batasnya. Tak selalu mampu revolusioner di semua aspek. Dan kualitas revolusioner gagasan sangat mungkin didorong oleh sejauh mana pelaku-pelaku dialog yang terlibat di dalamnya dipengaruhi bukan oleh bayangan masa depannya tapi bayang-bayang “masa lalu”-nya. Di sinilah dialog selalu menemukan tantangan terbesarnya.

Saya jadi teringat apa yang pernah dikatakan oleh Bertrand Russell:

If a man is offered a fact which goes against his instinct, he will scrutinize it closely, and unless the evidence is overwhelming, he will refuse to believe it. If, on the other hand, he is offered something which affords a reason for acting in accordance to his instincts, he will accept it even on the slightest evidence. The origin of myths is explained in this way.

 

Goden, 20 Januari 2014.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk rekan-rekan kerja yang luar biasa, yang bekerja keras dan terlibat penuh di proyek masjid tersebut di atas: Dwi Hergiawan, Murni Khuarizmi, Aditya Nobrianto.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu