Diana Ang: Kota Tua untuk Ruang Bersama

Dari bagaimana Kota Tua Creative Festival bermula hingga rencananya ke depan. Cerita dari salah seorang inisiatornya.

Author

Satu setengah tahun yang lalu, di kantor SHAU, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, saya melihat Diana Ang untuk pertama kali. Ia ketika itu sedang membuat gambar untuk sebuah proyek instalasi publik di Taman Fatahillah. Saya tak pernah berpikir bahwa desain instalasinya yang romantis dan ambisius—sebuah atap besar yang dibentuk dari ribuan layang-layang warna-warni yang berisikan tulisan harapan-harapan warga Jakarta—betul-betul akan dibangun, sampai seminggu yang lalu saya bertemu lagi dengannya di Taman Fatahillah, di bawah ribuan layang-layang itu.

Diana Ang, bersama dengan Daliana Suryawinata (SHAU) dan Windi Salomo, adalah inisiator dari Kota Tua Creative Festival (KTCF)—sebuah festival dengan sejuta acara yang memanfaatkan ruang publik dan bangunan-bangunan lama yang ada di Kota Tua. Festival yang telah berlangsung 21-22 Juni 2014 itu mendapat banyak respons positif.

Di luar kesibukannya mengurus festival tersebut, Diana bekerja sebagai arsitek di OMA Hong Kong. Masa kuliahnya juga ia habiskan di luar negeri, di Rice University, Houston. Saya bertemu dengannya sekali lagi untuk bercakap-cakap tentang festival yang ia gagas.

Instalasi layang-layang di Taman Fatahillah (Foto: Paskalis Khrisno)

Bagaimana inisiasi Kota Tua Creative Festival bermula?

Saat Congress of Indonesian Diaspora (2012) di Los Angeles, ada panel berjudul “Creative Economy and The Future of Indonesia”. Daliana Suryawinata (SHAU) adalah salah satu pembicaranya. Saya terinspirasi olehnya. Ia memiliki perspektif yang berasal dari edukasi Barat, tapi bisa mengaplikasikannya untuk isu-isu nyata di Indonesia. Setelah acara, saya menemuinya dan kami banyak mengobrol tentang karya-karya arsitektur yang bisa dikunjungi di LA, salah satunya adalah sebuah proyek Case Study House pasca perang. 

Obrolannya serius betul.

*Hahaha* Iya. Karena proyek itu, kami jadi berpikir untuk bikin Case Study Houses di Jakarta. Setelah itu, idenya berubah jadi Case Study Public Space karena kami pikir itu yang relevan di Indonesia. Setelah melihat konteksnya, kami kira itu lebih masuk akal.

Jadi, kalian seperti membuat proyek iseng-iseng sendiri?

Ya. Sebetulnya proposalnya sangat sederhana. Hanya delapan halaman. Hanya menjelaskan apa itu Case Study Public Space dan apa idenya, lalu dikirimkan ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Proposalnya disusun spesifik untuk itu [Kemenparenkraf]: bagaimana ruang publik di Jakarta bisa menjadi brand image dan meningkatkan kualitas hidup, dan turut mempromosikan turisme di Jakarta.

Ini memang sepenuhnya proyek independen. Ini isu nyata, bukan? Saya pikir, siapa pun bisa melakukannya. Kamu tidak perlu menunggu. Kamu bisa mengamati dan mengetahui bahwa ada kebutuhan yang bisa kamu perjuangkan.

Bagaimana akhirnya jadi ke Kota Tua?

Case Study Public Space ada tiga lokasi: Kota Tua, Blok M, dan Salemba. Kota Tua karena situs warisan budaya, Blok M karena tempat transit yang besar, sedangkan Salemba karena ada kampus di sana. Ketiga tempat tersebut memang sudah ada ruang publiknya, namun tidak efektif. Kami ingin melakukan intervensi dengan memanfaatkan konteks yang sudah ada lalu menambahkan sesuatu agar lebih baik.

Setelah dikirimkan, Kementerian menyatakan dukungannya pada proposal tersebut. Mereka meneruskan juga proposalnya ke Jokowi. Saat itu Jokowi baru saja jadi Gubernur. Ia menyukai idenya. Lalu namanya berubah, dari Case Study Public Space menjadi Creative Public Space. Proyeknya juga berubah. Salemba tidak jadi, digantikan social mall [di Grand Indonesia dan Plaza Indonesia].

Kami inginnya tiga-tiganya direalisasikan, tapi pertama-tama di Kota Tua karena proyeknya mencakup instalasi/event, sehingga paling murah dan relatif mudah dilakukan. Semacam pilot project.

Case Study Public Space (Dok: Diana Ang)

Apa hubungan KTCF dengan pemerintah?

Bekerja sama. Sebagian kecil pendanaan dari pemerintah. Beberapa penampil dan karya-karya seni direkomendasikan oleh Kementerian. Dana dari Kementerian memang harus ditujukan spesifik. Awalnya, kami ingin KTCF jadi proyek pemerintah DKI Jakarta, namun Dinas Pariwisata tidak menganjurkan karena, ketika jadi proyek pemerintah, semua hal harus ditender ulang, dan kami tidak lagi memiliki hak cipta atau properti intelektual. Proyek tersebut tidak lagi milik kami, termasuk ide-idenya.

Dari situ, kami cari sponsor swasta. Pemerintah DKI sangat membantu dalam memperkenalkan orang-orang dan institusi yang berkaitan. Salah satunya adalah menguhubungkan dengan Museum Sejarah Jakarta, karena mereka yang keluarkan izin dan menghubungkan kami dengan pihak-pihak yang berkaitan di Kota Tua.

Apa hubungan KTCF dengan JOTR (Jakarta Old Town Reborn)?

Sebetulnya keduanya acara yang berbeda pada mulanya, walaupun idenya muncul pada waktu yang hampir bersamaan. Karena yang bekerja di kedua acara memang satu tim, akhirnya sekalian dipertemukan. Tadinya, festival hanya diadakan di Taman Fatahillah saja. Kami ingin menghargai ruang publik.  Setelah masuk Kota Tua, kami jadi tahu banyak tentang konflik dan politiknya yang sudah berdekade lamanya. Ketika Daliana berbincang dengan Yori [Antar], arsitek yang tahu betul tentang Kota Tua, muncul lah ide untuk bikin archipuncture. Jadi, dua ide berbeda yang muncul pada waktu hampir bersamaan itu kami gabungkan sehingga membuat pengalaman pengunjung jadi lebih beragam.

Video Jakarta Old Town Reborn (Dok: Rumah Asuh)

Bagaimana kamu berbagi tugas dengan Daliana?

Dana memikirkan ide-ide besarnya dari segi urbanisme, lalu kami bersama mengerjakan pengembangan konsep: programnya apa saja, bangunan yang dipih apa saja, dan sebagainya. Saat itu, saya banyak melakukan riset tentang Kota Tua, berdasarkan dokumen yang dimiliki JOK [Jakarta Oldtown Kotaku], sehingga saya tahu banyak tentang bangunan-bangunan di sana.

Apa idealismemu tentang preservasi?

Kami melihat preservasi dari sisi program. Tentu saja, preservasi adalah topik yang sangat luas. Hanya, saya pikir, jika bicara tentang preservasi fisik, akan makan waktu yang panjang untuk merealisasikannya. Yang perlu dilihat terutama adalah program. Program akan mengubah cara ruang itu digunakan.

Jadi, program, untuk kamu, adalah heart of the preservation?

Ya. Setelah melakukan observasi, kami mendiskusikan apa yang perlu dijaga dalam hal preservasi. Uniknya, di Kota Tua, keragaman sudah ada di sana. Ada turis, orang-orang yang kerja, orang-orang yang suka foto, dan lain-lain. Itu yang ingin kami jaga. Lalu spontanitasnya, sejarahnya, dan ruang informalnya, hal-hal yang berhubungan dengan program.

Ada banyak program. Bagaimana kamu tahu program mana yang pas?

Ini pertanyaan tentang festival atau JOTR?

Tentang apa yang ideal.

Kami mengangkat industri kreatif karena bisa membawa orang-orang berkumpul bersama. Tujuannya adalah membuat orang bersama-sama merasakan ruang yang sama, terlepas apapun latar belakangnya. Melalui industri kreatif seperti seni dan desain, kamu tidak dinilai dari latar belakangmu. Kamu, apakah miskin atau kaya, tetap bisa datang. Industri kreatif adalah sesuatu yang bisa menyatukan orang-orang, sama seperti seni. Seni punya kapasitas untuk mengubah cara orang berpikir. Itu sebabnya salah satu ide kami adalah meletakkan seni kontemporer dalam bangunan tua.

Pameran seni kontemporer di Tjipta Niaga, bagian dari KTCF 2014 (Foto: Paskalis Khrisno)

Tidakkah berbahaya ketika memasukkan industri kreatif ke satu tempat jika tidak berasal dari tempat itu sendiri?

Tapi tidak ada hal inheren yang ada di sana saat ini yang bisa berjalan dengan lestari (sustainable).

Jadi lebih baik daripada tidak ada?

Soalnya ketika kamu berkata “tidakkah berbahaya memasukkan sesuatu yang bukan bagian dari tempat tersebut”, pertanyaannya adalah apa yang merupakan bagian dari tempat itu.

Apakah memang tidak ada sesuatu yang adalah bagian dari Kota Tua?

Saya pikir ada, namun pertanyaan lanjutannya lagi adalah apakah akan lestari untuk masa depan tempat itu. Kota Tua adalah tempat warisan budaya, dan apa yang jadi bagian dari tempat itu saat ini adalah PKL, yang tentu saja tidak apa-apa, tidak ada yang salah dengan itu. Namun, masalahnya, PKL tidak lestari untuk tempat itu karena uang yang masuk tidak bisa dikenakan pajak untuk membangun daerah itu sendiri. Jika dibiarkan, bangunan-bangunannya tidak bisa bertahan lama karena tidak ada yang menjaganya. Itu sebabnya, perlu memasukkan sesuatu yang bisa memberikan pendapatan bagi tempat itu sendiri. Saya pikir ini adalah dimensi lainnya. *Makin sulit ya pertanyaannya.*

Program—apakah ada kaitannya dengan OMA, tempat kamu bekerja? Jangan-jangan kamu memang sudah OMA-minded?

*Hahaha* Iya nih, saya sudah bias. Saya pikir itu tidak terhindarkan. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, bukankah betul? Program itu adalah aksi. Dan sebetulnya bukan hanya OMA. Bernard Tschumi, misalnya, dengan event-space-action-nya, hal-hal yang di luar fisik [Bernard Tschumi: “There is no architecture without action, no architecture without event, no architecture without program”]. Fisik hanyalah wadah dari apa yang terjadi di dalamnya, dan masalah Kota Tua adalah: wadahnya ada, programnya tidak ada.

Salah satu program yang kamu bikin adalah instalasi layang-layang. Dari mana idenya bermula?

Itu karya kolaborasi. Waktu pertama kali riset Kota Tua, saya kaget sekali karena ada banyak aktivitas di sana. “Lantas perlu apa lagi? Ruang publiknya berjalan baik!” Waktu itu saya berpikir untuk menambahkan atap, karena panas sekali di sana. Sudah ada banyak hal yang terjadi di sana, mengapa kita tidak menambahkan atap saja? Lalu ide berkembang. Struktur atap tersebut berubah menjadi simbol ruang publik yang dilengkapi dengan furnitur publik. Saya pikir banyak sekali yang lupa apa sejatinya ruang publik—tempat siapa saja bisa datang dan mengekspresikan dirinya tanpa ada tekanan apapun. Kalau ke mall kan harus rapi; pakai sendal jepit ke Pacific Place bakal dilihat orang. Di ruang publik, tekanan semacam itu tidak ada. Di Kota Tua kemarin, mau pakai sendal jepit atau hak tinggi, siapa yang peduli. Jadi, kami hanya ingin menyadarkan dengan membuat atap yang mewadahi berbagai aktivitas dan juga aspirasi, suara, dan ekspresi dari kelompok yang beragam, dan membawa kebersamaan itu sebagai satu kesatuan.

Instalasi layang-layang di Taman Fatahillah (Foto: Paskalis Khrisno)

Instalasi itu cukup menarik, dan saya pikir cukup berhasil jadi ikonnya KTCF.

Layang-layangnya berhubungan. Warnanya tiga: merah, kuning, biru; didesain untuk jadi signage. Dari Stasiun Kota akan kelihatan layang-layang biru, dari Transjakarta kelihatan warna merah. Tadinya ada warna ungu dan pink untuk Tjipta Niaga dan gang sebelahnya.

Jadi berfungsi untuk identitas tempat juga, ya.

Ya, dan seharusnya menghubungkan poin-poin destinasinya. Tapi, pada akhirnya, ada beberapa faktor yang menghalangi: budget, penataan PKL, dan lokasi bangunan-bangunan yang terpilih [untuk tempat penyelenggaraan KTCF 2014]. Ada juga realisasi yang tidak sesuai desain. Misalnya, tiang-tiang untuk layang-layang yang biru harusnya sampai ujung dan makin lama makin tinggi membentuk semacam gerbang. Tiang yang merah juga seharusnya sampai ujung Bank Mandiri, tapi karena situasi ruang publiknya selalu ramai di sana, kami kesulitan memasang perancah di sana.

Rendering awal instalasi layang-layang di Taman Fatahillah (Dok: Diana Ang)

Di kedua tulisanmu, baik di Ruang maupun Jakarta Post, kamu menyebut Venesia sebagai model.

Wah baca juga ya.

Baca dong, biar bertanyanya tidak kelihatan bego. Ketika ke Venesia, saya merasa kota itu sangat turistik. Apakah kamu merasakan hal yang sama?

Ya, saya setuju.

Tentu selalu ada plus-minus, tapi saya tidak merasakan itu sebagai sesuatu yang positif. Kota itu jadi agak tidak nyaman, terutama malah bagi penduduk kota itu sendiri. Apakah tidak ada ketakutan Kota Tua, dengan cara yang sama, akan jadi seperti itu?

Saya pikir rujukan ke Venesia adalah dalam konteks mengambil ide menciptakan event, tapi tujuannya berbeda. Di Venesia, segala sesuatunya ditujukan untuk turisme, tetapi tidak ada hal inheren yang dihasilkan untuk dirinya sendiri.

Bedanya dengan Kota Tua?

Jika Kota Tua menjadi wadah industri kreatif yang independen, itu hanyalah sebagian darinya. Ada bisnis, hospitality, dan lain-lain yang membuatnya inheren, tidak hanya demi turisme. Saya pikir konteks keduanya berbeda. Kamu bisa mengambil strategi yang sama, namun menghasilkan sesuatu yang berbeda.

Bicara soal festival, apakah kamu melihat perbedaan antara KTCF dengan Fiesta Fatahillah?

Sebenarnya saya tidak pergi ke sana [Fiesta Fatahillah], jadi saya tidak bisa benar-benar menilai. Namun, dari beberapa sumber yang saya baca, saya melihat perbedaan pada keduanya. KTCF ingin menyertakan ruang fisiknya. Pengunjung bisa masuk ke bangunan-bangunannya, melihat dan merasakan ruang-ruangnya, berinteraksi dengan objek-objek di sana, dan beraktivitas. Saya pikir reason of being-nya berbeda. Fiesta Fatahillah lebih tentang perayaan inaugurasi Jakarta Contemporary Arts Museum (Gedung Kantor Pos), jadi pusatnya di Taman Fatahillah, sedangkan KTCF adalah tentang eksplorasi potensi keragaman ruang, jadi mencoba mengikutsertakan tidak hanya plaza, melainkan juga yang lainnya.

Pameran JOTR di Tjipta Niaga (Foto: Paskalis Khrisno)

Kamu melihat perbedaan itu sebagai “melengkapi” atau “sesuatu yang lebih baik”?

*Hahaha* Pertanyaannya menjerumuskan. Well, menambahkan sesuatu yang baru. Banyak yang berpikir Kota Tua hanya Taman Fatahillah dan Museum Sejarah. Padahal tidak, kota Tua luasannya 1.3 kilometer persegi, dan terbentang dari Sunda Kelapa sampai Glodok, dan banyak ruang yang secara inheren beragam dan kaya. Misalnya Kerta Niaga yang lebih bersifat warehouse, Rumah Akar yang lebih kecil dan intim, atau Samudera yang berfungsi sebagai kantor sejak dari dulu.

Ada satu hal yang saya rasa janggal dari tulisanmu di Jakarta Post. Di bagian akhir kamu menyebutkan, jika di Kota Tua ada festival setiap hari, niscaya Kota Tua akan hidup kembali. Apakah bukan sesuatu yang mengerikan jika ada festival setiap hari, dan bukankah itu membuat festival tidak lagi festive?

Mungkin lebih ke event. Tidak harus sesuatu yang heboh seperti biennale, bisa hal-hal yang sederhana seperti pasar petani atau acara sepeda setiap Minggu. Festival yang grandiose tidak lebih penting dari aktivitas sehari-hari. Kegiatan-kegiatan yang lebih dekat dengan keseharian, seperti bersepeda, jogging—hal-hal yang memang urusan semua orang—ketimbang menonton pertunjukkan tradisional—sesuatu yang belum tentu semua orang bisa menikmati. Jadi, event yang terus-menerus. Itu tidak menakutkan, itu menyenangkan dan sehari-hari. Dengan begitu, ia [Kota Tua] menjadi penting untuk masyarakat.

Pertanyaan yang lebih praktis. Apa kendala terbesar dalam menyelenggarakan KTCF?

Pendanaan. Itu hal yang terbesar. Di luar itu, saya pikir kendalanya adalah bagaimana mengintegrasikan apa yang kami bayangkan dengan para aktor di Kota Tua. Ada banyak sekali aktor di Kota Tua. Petugas keamanan saja ada banyak pihak. Badan-badannya juga macam-macam. Banyak juga yang punya ide serupa, namun setiap pihak begitu independen. Saya pikir, hal tersulit adalah mengonsolidasi ide. Tapi sudah mulai ada titik terang. Waktu di festival, Lin Che Wei, eksekutif direktur Jeforah, datang.  Lalu ketemu dengan perwakilan Samudera juga, yang sangat bersemangat untuk merestorasi bangunannya. Tujuan dari workshop JOTR juga adalah mempertemukan pemilik dengan arsitek. Kalau memang cocok, ya sila lanjutkan.  Bangunan yang kami pilih memang yang hanya kami ketahui pemiliknya. Itulah, mengintegrasikan semuanya. Saya pikir tidak apa jika masing-masing melakukan hal yang berbeda dan berjalan secara independen, tapi seharusnya tidak ada yang tumpang tindih. Kalau sudah ada yang bikin, mengapa harus bikin yang sama.

Archipuncture di KTCF 2014 (Dok: SHAU)

Dalam hal ini, kalian mewakili siapa?

Mungkin sebagai Indonesia Diaspora Network.

Apakah kalian, mewakili Indonesia Diaspora Network, memang ingin terlibat jangka panjang untuk revitalisasi Kota Tua, atau hanya pada festival saja?

Festival kan bukan hanya hura-hura.

Festival kan buat hura-hura. *Hehe*

Hura-hura, tapi tujuan akhirnya bukan demi hura-huranya. Ada yang lebih penting di luar itu.

Acara yang kami adakan itu untuk merevitalisasi spirit of the place, sesuatu yang, tentunya, festival itu sendiri saja tidak mungkin bisa lakukan. Saya pikir menarik jika seiring revitalisasi, festivalnya juga berkembang. Misalnya tahun depan festivalnya di tempat lain. Seperti di Sunda Kelapa atau di Glodok, sehingga membawa perhatian ke ruang-ruang lain.

Sudah terpikirkan what’s next?

Kami ingin sekali ada KTCF 2015, dan ingin lebih terbuka. Karena kemarin responsnya bagus. Misalnya berikutnya melibatkan arsitek-arsitek muda. Lalu tadinya hanya seni kontemporer, nantinya bisa ada film. Melibatkan industri kreatif yang lebih beragam.

Secara keseluruhan, puas dengan festivalnya?

Ya. Banyak kekurangan tapi banyak juga yang mengharukan. Saat lihat tagar KTCF di instagram, ada yang bilang, “Finally we can have public arts.” Ada juga yang berkata, “Saya sudah lama tidak ke Kota Tua lho, tapi karena ada event ini jadi pergi lagi.” Kalau diperhatikan, yang datang juga beragam sekali. Jadi tujuannya tercapai, membuat Kota Tua sebagai tempat di mana orang-orang menyatu bersama.

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu