Ekskursi UI - Sabu Raijua

Sabu-Raijua, yang terletak di Nusa Tenggara Timur, menjadi daerah tujuan mahasiswa Arsitektur Universitas Indonesia melakukan kegiatan…


Author
Ekskursi UI Sabu-Raijua

Sabu-Raijua, yang terletak di Nusa Tenggara Timur, menjadi daerah tujuan mahasiswa Arsitektur Universitas Indonesia melakukan kegiatan ekskursi dari tanggal 9 Juli 2016 hingga 7 Agustus 2016.

 

Pameran ekskursi ini tidak hanya berisikan tentang cerita perjalanan, sejarah, arsitektur daerah asli, namun juga ada berupa materi fisik asli yang berhasil diangkut, yaitu daun pohon lontar serta kerajinannya. Tentu bukanlah sesuatu yang dengan mudah ditransportasikan demi menjaga keutuhan barang tersebut.

 Bakul Lontar    Lontar    Nampan Lontar

                                                                                                                                                                               Lontar. Banyak ditemui. Banyak kegunaan.

 

Dalam pembangunan rumah, Lontar digunakan baik batang maupun daunnya. Pembangunan rumah di Sabu melibatkan perempuan dan laki-laki; pihak laki-laki mencari kayu yang digunakan sebagai tiang, sedangkan pihak perempuan mengambil daun untuk menutup rangka atap rumah. Selain sangat berguna, penggunaan bahan-bahan dari Pohon Lontar memberikan identitas terendiri bagi rumah-rumah di Sabu.

 Rumah

Adapun didapati jenis-jenis rumah yang diperkenalkan oleh Do Hawu; nama yang biasa digunakan untuk menyebut orang Sabu. Rumah pertama adalah Rumah adat induk masyarakat Sabu, yang bernama Amu Kepue. Tidak semua Ammu Kepue dapat dimasuki karena merupakan tempat sembahyang. Rumah kedua adalah rumah tinggal yang disebut Amu Hawu. Di dalam Amu Hawu tidak didapati sekat dalam ruangan. Ruangan yang tadinya merupakan tempat untuk makan malam, bersosialisasi dan lain-lain, dapat sekejap berubah menjadi tempat beristirahat hanya dengan menarik tirai, yang kemudian membagi ruangan besar tadi menjadi dua; memisahkan tempat tidur laki-laki dan perempuan. Lalu berikutnya, ada Amu Kowe yang merupakan rumah main. Di sini sering dilakukan kegiatan menenun oleh perempuan Sabu; baik dari anak-anak hingga dewasa. Pada bagian tengah rumah ini, digantung kain-kain hasil tenunan. Tidak hanya itu, Amu Kowe juga sering menjadi tempat untuk bersosialisasi bagi warga. Adapun rumah perpisahan yang disebut Amu Pemau, merupakan tempat menjalani upacara kematian menurut adat istiadat Sumba Timur. Di rumah ini tidak terdapat ruangan yang dapat ditinggali.

 sabu raijua

Sedikit-banyak dapat kita ketahui tentang Sabu Raijua melalui eksursi internal Arsitektur UI ini. Diharapkan, dengan adanya ekskursi-ekskursi seperti ini, banyak hal yang dapat dipelajari baik secara langsung maupun tidak, sehingga ekskursi yang telah dijalankan membuahkan hasil.

 

“Selama dua puluh delapan hari kami di sana, ada tiga kampung adat yang kami amati, yaitu Kampung adat Kujiratu dan Kampung adat Rae Hawu di Sabu Timur, serta Kampung Adar Mesara di Sabu Barat. Setiap kampung memiliki kebijakan adatnya masing-masing. Struktur adat dan upacara adat yang dilakukan di tiap wilayah pun beragam. Keragaman ini turut membentuk pola kampung adat masing-masing.”

 


comments powered by Disqus
 

Login dahulu