Enam Pemenang WAF 2014

Memilih enam dari empat ratus.

Author

Setiap tipologi arsitektur di World Architecture Festival mempunyai satu pemenang. Mulai dari masyarakat dan komunitas, mixed-use komersial, kompetisi, budaya, display, edukasi, eksperimental, kesehatan, perumahan, infrastruktur, lanskap, rekreasi, masterplan, heritage, perkantoran, energi, religius, residensial, sekolah, ruang belanja, proyek kecil, olahraga, transportasi, vila. Selain itu, ada juga kategori untuk proyek yang belum terbangun. 

Sayangnya, tak semudah itu untuk akhirnya mendapat enam pengakuan di bawah ini.  Ada satu tahap penjurian besar sehari penuh yang menentukan siapa yang terpilih dan siapa yang tidak. Dari total empat ratus presentasi, seleksi pertama menyisakan dua puluh enam karya, kemudian masih dipilih enam lagi oleh super-jury World Architecture Festival, yang karyanya kami pampangkan disini.

 

1.       The Chapel (a21studio), pemenang “World Building of the Year”.

The Chapel, sebuah bangunan yang diperuntukkan sebagai ruang komunitas yang berada di pinggir kota Ho Chi Minh, Vietnam ini berhasil menjawab permasalahan krisis kota atas kurangnya ruang publik. The Chapel menjadi sebuah tempat untuk bersosialisasi antar masyarakat, dengan anak muda sebagai target pasar utamanya. Fungsi konferensi, pernikahan, pameran, tempat ngopi, semuanya dapat diakomodasi oleh sebuah ruang kosong yang berada di atas tanah seluas 10x 20 meter ini.

The Chapel memanfaatkan material bangunan sebelumnya, misalnya baja berwarna putih dengan modul 40x80 dan 40x40 sebagai material struktur penopang yang ‘ringan’, dan lembaran baja sebagai dinding penutupnya. Struktur juga diperkuat dengan kolom-kolom baja bermodul 90x90, yang dibentuk menyerupai ranting pohon dan menjadi satu-satunya struktur yang ada di dalam ruang tunggal The Chapel ini.

Ruang yang seluruhnya dicat putih ini berhasil menciptakan daya tarik dengan adanya kain berwarna-warni digantung di setiap bukaan, sehingga mentransmisikan sinar matahari ke dalam bangunan dalam bentuk percikan warna.

Komentar juri:

Tim juri yang terdiri dari Richard Rogers, Rocco Yim, Julie Eizenberg, Enric Ruiz Geli, dan Peter Rich mengatakan bahwa proyek ini merangkul sejarah dan modernitas, menciptakan sebuah dialog diantaranya. Bangunan ini berhasil memberikan efek maksimal untuk konteks urban yang ada, hanya dengan penggunaan material yang minimal. Warna dan cahaya memberi ketenangan pada penggunanya, sebuah pemanfaatan hal-hal ‘biasa’ yang dimanfaatkan sebagai elemen estetika.

 

2. Departments of Law and Central Administration (Cook Robotham Architectural Bureau/ CRAB Studio), pemenang “Inaugural Colour Prize”.

Bangunan ini membentang sepanjang 200 meter di kawasan Vienna University of Economics and Business Project, Austria. Penggunaan warna terang mencerahkan langit abu di distrik Vienna Prater.

Bangunan ini didesain dengan landasan keyakinan bahwa kampus yang sukses dan ‘hidup’ adalah yang memiliki area-area publik sebagai koneksi antara aktivitas indoor dan outdoor. Misalnya ruang berkumpul setelah kelas, bukan hanya ruang-ruang formal tempat belajar seperti kelas dan seminar. Ruang-ruang dalam diukir membentuk void-void besar untuk area publik. Massa bangunan disubstraksi untuk balkon-balkon dan dek istirahat, menciptakan area yang terkena sinar matahari.

Selain untuk pembayangan, fasad kisi kayu yang digunakan juga merespon lingkungan hutan di sekitarnya. Keseluruhan bangunan terinspirasi dari pembentukan lanskap yang akan dipenuhi vegetasi, dan keinginan untuk mendorong adanya aktivitas di setiap area dan permukaan lantai yang ada, tanpa mengesampingkan keberadaan area privat seperti ‘capsules of quiet’ di perpustakaan.

Komentar juri:

Tim juri yang terdiri dari Dr. Charles Robert Saumarez dan Goh Cheok Weng menyatakan bahwa proyek ini mendemonstrasikan cara suatu institusi pendidikan dapat menyenangkan dan menginspirasi pelajarnya, misalnya melalui penggunaan warna dengan energik dan keyakinan akan sebuah konsep hubungan antar ruang yang menyeluruh.

 

 3. The Pinch (Olivier Ottevaere and John Lin, The University of Hong Kong), pemenang “Small Projects of the Year”.

The Pinch adalah sebuah perpustakaan dan ruang komunitas di Shuanghe Village, Yunnan, China, yang dibangun sebagai bagian dari proyek rekonstruksi pemerintah untuk gempa bumi September 2012 yang menghancurkan hampir seluruh rumah. The Pinch menjadi jembatan di antara desa Shuanghe dan sebuah plaza publik baru. Selain menyediakan ruang untuk mengaktifkan kembali komunitas publik, ia menjadi sebuah memorial fisik mengenang bencana tersebut.

Perpustakaan ini bersandar pada tembok tebal setinggi 4 meter. Desainnya merespon area tapak yang dikelilingi bukit, menawarkan pemandangan dan pengalaman ruang yang dramatis di bawah lengkungan atap.

Kolaborasi The University of HongKong dengan pabrik pengolahan kayu lokal menghasilkan pengembangan bentuk struktur kayu yang beragam melalui cara yang sederhana. Tiang-tiang penopang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk kurva landai di bagian bawah, dan kurva yang lebih tajam di bagian atas sebagai atap. Interiornya menggunakan lapisan alumunium dan dek-dek kayu, serta pintu polikarbonat yang dapat dibuka untuk menciptakan ruang terbuka ke arah alun-alun.

Komentar juri:

The Pinch berhasil mendemonstrasikan sebuah penelitian dan pemahaman akan material dan sistem membangun, yang akhirnya menjawab permasalahan kebutuhan ruang publik dalam sebuah area yang pernah dilanda bencana gempa bumi.

 

4.       Alex Monroe Studio (DSDHA), pemenang “Wood Excellence Prize”.

Studio perhiasan di ujung jalan di United Kingdom ini diharapkan menjadi pameran tersendiri untuk karya dari Alex Monroe. Sebuah pintu geser besar dapat dibuka sehingga pejalan kaki bisa melihat proses pengerjaan perhiasan di workshop. Bangunan eksistingnya terdiri dari satu lantai toko, workshop, studio, ruang rapat, ruang makan, dan sebuah teras di atap bangunan. Setiap aktivitas tersebut dihubungkan dengan tangga sempit yang digunakan sekaligus sebagai area pameran.

DSDHA menambahkan elemen kerajinan tangan dari material kayu sebagai pembungkus luar bangunan. Proposal desainnya berhasil meyakinkan perancang kota tentang ketepatan penggunaan material untuk melengkapi komposisi bangunan sekitar konteks yang menggunakan material batu. Sistem prefabrikasi menghasilkan detail-detail yang halus dan merefleksikan craftmanship yang berkualitas. Kayu-kayu yang dibiarkan terekspos tanpa finishing ini berhasil menghilangkan 27,1 ton CO2 dari atmosfer.

Kisi yang mengelilingi bangunan memberikan tone dan suasana yang berbeda pada bangunan sepanjang hari. Kisi di depan jendela mengarahkan pemandangan dari dalam bangunan dan menciptakan vista kehidupan jalanan yang dinamis. 

Komentar juri:

Secara arsitektural, proyek dinilai cocok dengan sekelilingnya, menjadi sebuah ‘furniture’ kota yang memanfaatkan material kayu secara signifikan. Keberhasilannya dinilai dari inovasi dan penerapannya di lokasi yang sulit. Material kayu dipilih karena konstruksinya yang cepat dan efisiensi prefabrikasi. Selain itu, desainer dan kontraktor berhasil memberikan solusi atas tantangan program bangunan yang ketat, kendala-kendala perencanaan konteks, dan kompleksitas detail konstruksi.

 

5.       National Arboretum Canberra (Taylor Cullity Lethlean and Tonkin Zulaikha Greer), pemenang “Landscape Project of the Year”.

Taylor Cullity Lethlean memenangkan World Landscape of the Year untuk kedua kalinya dengan The National Arboretum Canberra yang meredefinisi makna taman publik abad 21. Mereka mengubah area hijau seluas 250 hektar yang pernah terbakar, menjadi sebuah taman botanikal yang terdiri dari 100 hutan dengan spesies tumbuhan asli Australia yang dilindungi.

Ada dua bangunan di taman ini, sebuah paviliun dengan atap runcing ke atas yang dapat digunakan sebagai tempat untuk pesta dan pernikahan dan sebuah visitor centre beratap lebih rendah sebagai pintu utama taman ini. Kedua bangunan menghadap ke sebuah amphitheatre dan beberapa taman serta hutan, yang akan terus berkembang seiring waktu. Selain itu, ada beberapa fasilitas seperti area bermain anak dan tempat duduk publik tersebar di seluruh area taman.

Proyek ini menjawab isu keberlanjutan, biodiversitas, dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. The National Arboretum Canberra bukan sekadar desain estetik, tetapi sebuah strategi dan program untuk masa mendatang.

Komentar juri:

Pengaturan grid dengan kontur yang menurun sebenarnya kontras dengan pengaturan radial yang biasanya ada pada desain taman-taman Canberra. Walau demikian, proyek ini dinilai berhasil karena telah mengubah tanah abu bekas kebakaran menjadi warisan yang unik untuk generasi mendatang, dengan memasukkan beberapa program pendukung.

 

6. Art Gallery of Greater Victoria (5468796 Architecture + number TEN architectural group), pemenang “Future Project of the Year”.

Perencanaan renovasi dan pengembangan masa depan untuk Art Gallery ini membawa kehadiran dan semangat pusat kota ke area museum yang berada di pinggiran kota Canada, tanpa membebani tapak yang bernuansa Victorian dan tanpa menghilangkan pohon-pohon eksisting.

Arsitek tidak sekadar memberikan penambahan pada bangunan lama, tetapi juga menawarkan tambahan struktur baru pada fasadnya yang terinspirasi dari aliran lansekap pada tapak. Taman dan ruang-ruang publik yang tercipta dapat diakses oleh pengunjung dari segala arah sepanjang waktu. Kaca besar mengekspos bagian dalam galeri, yang kebanyakan terdiri dari material kaca, menghubungkan interior galeri dengan pengalaman eksteriornya. Kulit bangunanlah yang akhirnya melindungi karya seni dari paparan sinar matahari yang berlebihan, membuat setiap ruang terbentuk dari cahaya dan pembayangan.

Galeri pada lantai atas melayang di atas tapak, 'duduk' di antara kepadatan pohon-pohon. Program pada lantai kedua ini secara radial mengelilingi ruang terbuka yang disubstraksi dari tengah massa bangunan, membiarkan cahaya matahari masuk hingga ke lobi utama dan secara dramatis membingkai pemandangan ke arah langit.

Komentar juri:

Paul Finch, mewakili para juri, mengatakan bahwa Art Gallery of Greater Victoria berhasil merangkul masa depan dan menciptakan keintiman dengan konteks lingkungannya, walau dengan respon yang cukup radikal terhadap lingkungan Victorian di sekitarnya.

 

 

Sumber foto: press release World Architecture Festival 2014



comments powered by Disqus
 

Login dahulu