Fame, Fortune, Flirt—Catatan Perjalanan 7 Tahun Aboday

Di balik Fame, Fortune, Flirt, David Hutama menemukan kejujuran.

Author

Tahun 2013, konsultan arsitektur Aboday yang digawangi Rafael David, Ary Indra, dan Johansen Yap meluncurkan buku Fame, Fortune, Flirt. Buku setebal 527 halaman tersebut merupakan penanda ulang tahun mereka yang ketujuh. Buku itu diterbitkan dalam dua edisi: edisi softcover dan edisi terbatas. Sebanyak 42 proyek diceritakan dalam buku ini dari daftar 111 proyek mereka selama tujuh tahun berpraktik.

Isi buku ini terdiri dari enam bab dan dua buah wawancara. Wawancara pertama dilakukan oleh Amir Sidharta dan Miranti M. Lemmy, yang isinya berkisar pada pemikiran Aboday mengenai profesi arsitek dan arsitektur di Indonesia. Di wawancara kedua, saya dan Kumiko Homma banyak berbincang tentang pemikiran Aboday tentang kantor mereka sendiri. Selain itu, ada juga sisipan komik yang menggambarkan suasana kantor Aboday.

Tim penyusun buku ini membagi keenam bab menjadi tiga kelompok yang selaras dengan judul buku mereka. Fame untuk Bab 1 (The Ego) dan Bab 2 (The Misses); Fortune untuk Bab 3 (The Money) dan Bab 4 (The Context); Flirt untuk Bab 5 (The People) dan Bab 6 (The Process). Sebagai upaya memberikan latar narasi, pengelompokan ini patut diapreasi. Ketiga kata tersebut dianggap dapat menjadi benang merah dalam cerita-cerita yang muncul pada pembahasan masing-masing bab.

Saya merasa perlu untuk menjelaskan susunan ini, karena desain grafis dari buku tersebut sayangnya kurang selaras dan tidak memperjelas hirarki dari isi. Judul tiap proyek yang dibuat lugas dan besar seakan sumir dengan judul bab, sehingga dengan ketebalan 527 halaman, kita mudah kehilangan orientasi isi waktu membacanya. Atau mungkin, memang orientasi isi dianggap kurang penting.

Terlepas dari ternyata benang merah yang coba disusun tersebut tidak dengan lugas muncul sebagai panduan konsisten dalam bercerita, buku ini adalah monograf yang berusaha jujur. Apa yang saya maksud dengan berusaha jujur adalah Aboday, sebagai konsultan arsitektur, tidak berusaha untuk menempatkan arsitek sebagai sebuah agen yang hebat, tanpa cela, dan penuh gagasan mulia. Justru apa yang terpapar dalam buku ini adalah catatan-catatan keseharian praktik dari sebuah konsultan arsitektur. Ada kegagalan-kegagalan yang diceritakan dalam Bab 2 The Misses atau bagaimana mereka mengatasi dinamika proses sebuah praktik arsitektur dalam Bab 5 The People dan Bab 6 The Process. Walau tidak semua proyek dalam ketiga bab tersebut lugas menceritakan apa yang ditulis pada pengantar tiap bab, tetap bagi saya ketiga bab itu adalah bagian terpenting dari buku ini, sekaligus membuat buku ini sedikit banyak membawa pesan khusus. Ketiga bab tersebut berupaya memperlihatkan bahwa arsitek adalah sebuah profesi atau pekerjaan yang tidak otoritarian, banyak kompromi dengan banyak pihak walau bukan berarti tidak berpendirian.

Tidak semua dari 42 proyek tersebut diceritakan dengan panjang lebar. Umumnya hanya berupa catatan dari gagasan-gagasan yang melatari tiap proyek untuk membantu pembaca memahami ilustrasi dan foto yang cukup banyak mendampingi. Hanya enam sampai tujuh proyek yang secara cukup panjang diceritakan, antara lain: Proyek Museum Nasional Indonesia (Bab 1, hal. 57), Proyek RSIA Kemang (Bab 2, hal. 108), Proyek Morrisey (Bab 3, hal. 208), Vila Paya-Paya (Bab 4, hal. 276), dan Proyek Ekta media (Bab 6, hal. 488). Proyek-proyek yang diceritakan lebih dalam ini memang punya latar-latar yang istimewa. Proyek Museum Nasional adalah hasil kompetisi nasional yang diselenggarakan di tahun 2011. Proyek Morrisey, selain mendapatkan penghargaan arsitektur IAI Award, juga adalah proyek yang sampai saat ini dianggap sebagai pencapaian dari segi penghargaan jasa arsitek maupun kualitas arsitekturnya bagi Aboday. Vila Paya-Paya adalah salah satu proyek awal Aboday yang terpublikasikan secara luas, baik itu secara nasional dan internasional di tahun 2006.

Buku Aboday ini memang ditulis dengan gaya yang santai dan tata letak grafis yang menarik. Terkadang penyampaiannya jadi rumit karena mungkin mencoba puitis. Alasan dibalik ketiga kata yang digunakan sebagai judul buku ini juga tidak dijelaskan secara lugas. Judul terkesan hanya sebagai gimmick atau penarik perhatian saja. Walaupun disusun dengan struktur tertentu, masih terasa ketidaksinambungan antara isi dan kesan kolase yang kental. Padahal jika struktur dan susunan isi bisa dijaga, maka buku ini bisa lebih baik dan bernas.

Buku karya Aboday ini adalah buku tentang kantor arsitek dan pergulatannya dalam berkarya di Indonesia—sebuah catatan perjalanan. Bagi mahasiswa arsitektur yang hendak mendapatkan gambaran apa yang terjadi dalam praktik arsitekur, buku ini bisa menjadi sebuah pengantar yang ringan. Belum banyak sebuah buku arsitektur yang diterbitkan oleh arsiteknya sendiri mencoba untuk jujur memaparkan apa yang mereka alami dan rasakan, baik itu kebanggaan, kesuksesan, dan juga kegagalannya.

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu