Fernando Menis Suka Menggunakan Plastisin?!

“Saya sangat menyukai plastisin” ujar Fernando Menis dengan bahagia

Author
Holy Redeemer Church

“Saya sangat menyukai plastisin” ujar Fernando Menis dengan bahagia.

Fernando Menis

Fernando Menis. (Sumber: Wikipedia)

Pria kelahiran tahun 1951 ini adalah seorang arsitek yang datang dari sebuah pulau kecil bernama Pulau Canary, Spanyol. Pulau indah, yang juga diklaim oleh Maroko, telah membentuk karakter karya seorang Fernando Martin Menis. Salah satu hal yang membuat pulau ini menarik adalah banyaknya gunung berapi. Ini mengakibatkan Menis tumbuh menjadi seorang yang selalu melihat kondisi alam dan kehidupan di sekitarnya sebelum merealisasikan ide-idenya.

Kehidupan masa kecil Menis telah memantapkan dirinya untuk menjalankan profesi seperti sekarang ini. Ibunya adalah seorang pemimpi dan ayahnya adalah seorang usahawan yang memiliki hobi sebagai tukang kayu. Ketika ayahnya melakukan hobinya, Menis kecil juga sering kali ikut untuk membuat mainannya sendiri. Inilah kebolehan sejak kecil yang mampu menjadi pondasi utama alasan ia memilih untuk menjadi seorang arsitek.

Fernando Menis tidak hanya menampakkan bakatnya dengan menciptakan mainannya sendiri melainkan sejak remaja dia juga memiliki minat terhadap salah satu material unik yaitu plastisin. Adonan lunak berwarna-warni ini menjadi salah satu hal terpenting dalam proses peluncuran karya-karyanya. Ia menggunakan plastisin sebagai material maket studi sebab plastisin mudah dibentuk. Pasalnya, penggunaan material seperti papan atau kayu balsa akan sulit untuk mengkreasikan bentuk, terutama bulat. Memang bentuk tersebut dapat tercapai dengan menggunakan komputer dan 3D printing namun pria ini lebih bahagia ketika ia dapat bekerja dengan tangan kosongnya sendiri.

Arsitek yang murah senyum ini juga gembira ketika ia dapat menciptakan sebuah bangunan yang fleksibel. Terdapat dua macam fleksibelitas di dalam karyanya. Pertama, fleksibel terhadap fungsi yang artinya salah satu aspek bangunan memiliki banyak kegunaannya. Kedua, fleksibel terhadap material yang artinya salah satu material bangunan dapat berubah kinerja sesuai kegunaan. 

gambar tampak bangunan CKK “Jordanki” dari depan dan dalam bangunan     gambar tampak bangunan CKK “Jordanki” dari depan dan dalam bangunan

gambar tampak bangunan CKK “Jordanki” dari depan dan dalam bangunan (Sumber: Fernando Menis' portfolio)

Salah satu karya tekenal Menis yang fleksibel terhadap fungsi adalah Centrum Kulturalno-Kongresowe Jordanki atau yang kerap dipanggil CKK “Jordanki”. CKK “Jordanki” adalah satu diantara banyak bangunan Menis yang mendapatkan total 12 penghargaan hingga saat ini. Bangunan yang bahan utamanya adalah beton dan picado (campuran beton dan batu bata merah daur ulang) ini memiliki efisiensi terbaik yang mampu beradaptasi dengan berbagai kegiatan misalnya konser, teater, pertunjukan opera, pemutaran film atau bioskop, pertunjukan musikal, dan lain-lain. Selain fleksibel terhadap fungsi, Gedung CKK “Jordanki” ini tidak luput dari fleksibilitasnya terhadap material sehingga dapat mendukung fleksibilitas fungsinya. Letak fleksibilitas material diperoleh dari ceiling salah satu ruangan utamanya, dimana pergerakannya dapat diubah-ubah. Pergerakan tersebut dapat berguna untuk mengatur frekuensi bunyi dari ruangan tersebut sesuai dengan persyaratan akustik yang diperlukan saat acara berlangsung. Selain ceiling yang bergerak dinamis, dinding dan jumlah bangku juga dapat dibongkar pasang sesuai dengan kapasitas yang diinginkan.

gambar tampak bangunan Magma Arts & Congress dari depan dan dalam bangunan     gambar tampak bangunan Magma Arts & Congress dari depan dan dalam bangunan

gambar tampak bangunan Magma Arts & Congress dari depan dan dalam bangunan (Sumber: Fernando Menis' portfolio)

Selain CKK “Jordanki”, ada pula Magma Arts & Congres. Bangunan yang terletak di Santa Cruz de Tenerife, Spanyol ini sangat mudah untuk diakses oleh turis-turis karena letaknya yang berdekatan dengan bandara, jalan tol, dan beberapa kompleks hotel. Bangunan yang mempunyai 13 kolom berbentuk geometris ini juga memiliki fleksibilitas terhadap fungsi dan material. Fleksibilitas fungsinya tidak jauh berbeda dengan yang dimiliki oleh CKK “Jordanki”, yaitu konser, konferensi, pameran, pertunjukan musikal, dan lainnya. Fleksibilitas fungsi pada bangunan ini tidak bisa lepas dari pengaturan fleksibilitas materialnya, dimana ruang utamanya dapat diubah menjadi beberapa ruangan kecil sesuai dengan kapasitas yang dibutuhkan. Dinding fleksibel yang dapat di tarik inilah yang menjadi pembatas antar ruangannya.

gambar tampak bangunan Holy Redeemer Church dari luar dan dalam gereja      gambar tampak bangunan Holy Redeemer Church dari luar dan dalam gereja

gambar tampak bangunan Holy Redeemer Church dari luar dan dalam gereja (Sumber: Fernando Menis' portfolio)

Holy Redeemer Church, bangunan berbahan utama beton ini juga memiliki fleksibilitas fungsi dan material. Fleksibilitas fungsi yang dimilikinya tidak jauh berbeda dengan gereja-gereja pada umumnya, yaitu ibadat harian, ibadat kematian, pernikahan, dan lain-lain. Namun, gereja ini memiliki keunikan pada fleksibilitas material. Ketika ada pernikahan, cahaya yang timbul dari celah berbentuk salib akan berwarna kekuningan seperti cahaya matahari, namun ketika dijadikan sebagai tempat ibadat kematian, cahaya akan berubah menjadi warna merah terang. Dan masih banyak lagi karya-karyanya yang mengandung kedua fleksibilitas tersebut.

Kesuksesan yang dimiliki Menis bukanlah hal yang mudah untuk dicapai. Banyak pula kesulitan yang ia dapatkan dari setiap karya-karyanya. Menurutnya, menjadi seorang arsitek adalah pekerjaan yang sangat sulit dan lambat. Kita sulit memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan karena manusia, wilayah, lingkungan hidup selalu berubah setiap harinya. Tidak seperti seorang dokter yang lebih mudah memprediksi masa depan pasiennya.  Namun ia punya trik untuk mengatasi hal tersebut. Trik inilah yang menjadi karakteristik dari karya-karyanya. Kenali wilayah, sosial, budaya, dan geografis sebelum berkarya adalah cara jitu yang dimiliki seorang Menis.

Trik jitunya tersebut ia terapkan pada salah satu karyanya CKK “Jordanki” yang berlokasi di Torun, Polandia yang situasi pulaunya terlampau berbeda dengan pulau tempat kelahirannya, Canary, Spanyol. Butuh 4 jam 15 menit dengan kecepatan penerbangan 500 km/jam, menempuh jarak 2159 km untuk berkunjung dari Spanyol ke Polandia. Begitu jauhnya jarak yang membentang mengakibatkan kebudayaan, aktivitas, lingkungan, geografis antara Spanyol dan Polandia sangatlah berbeda. Sehingga ketika Menis datang ke negara republik di Eropa Tengah ini, ia harus mengkaji ulang kembali struktur dan ide-ide bangunan yang ingin ia bangun.“ Ketika saya membuat auditorium itu, saya harus melihat sekelilingnya dulu, lingkungan, geografis, budaya, aktivitas, dan sebagainya. Karena bangunan yang saya rancang itu perlu ada fungsinya dan harus disesuaikan dengan jumlah penduduk yang ada, jangan pula kelebihan kapasitas pada bangunan tersebut yang akhirnya bisa berdampak kehilangan fungsi pada bangunan ini” begitulah cerita Menis kepada kami, tim Konteks.

Dengan trik-trik tersebut, Menis berharap dapat memberikan dampak yang baik bagi karya arsitek-arsitek lainnya. Lelaki berambut keriting ini juga mengizinkan mahasiswa arsitektur menggunakan trik yang dimilikinya dan pesannya terhadap mahasiswa arsitektur, calon arsitek berbakat, “carilah sebanyak-banyaknya informasi mengenai dunia arsitektur, cintailah pekerjaanmu, temukan jalan hidupmu, dan ketahuilah ketika kamu mengerti maka kamu akan berhasil”. Memang seorang arsitek tidak dapat mengkontrol masa depan namun menurutnya dengan belajar dan terus belajar, mencari tahu tentang banyak hal, dan menggunakan trik yang ia gunakan sebagai karakteristiknya adalah kunci kesuksesan sebuah karya.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu