Gemerlap Festival Arsitektur Dunia

Ada yang menyebutnya Piala Oscar Arsitektur. Namun, World Architecture Festival bukan cuma perkara piala.

Author

Dalam sebuah proyek arsitektur yang bisa makan waktu bertahun-tahun, tiga hari barangkali tak seberapa berarti. Namun, dalam World Architecture Festival (WAF), dalam tiga hari-lah segalanya terjadi. Setidaknya sekitar 400 presentasi dan 50 seminar disajikan di 15 ruangan berbeda selama WAF berlangsung.

Sejarah penyelenggaraan WAF sebetulnya belum terhitung panjang, namun antusiasme para pelaku arsitektur pada acara ini memang tidak bisa disepelekan. Setelah sukses diadakan pertama kali di Barcelona tahun 2008—dengan total 722 entri dan 224 proyek lolos dan mempresentasikan karya mereka—WAF lanjut diadakan setiap tahun. WAF 2014, yang diadakan 1-3 Oktober 2014 di Marina Bay Sands, Singapura, adalah WAF ketujuh, dengan total 2000 arsitek dari 55 negara yang terlibat di dalamnya.

Jika Pritzker Prize adalah ibarat Penghargaan Nobel-nya Arsitektur, maka WAF kerap diibaratkan Piala Oscar. Ratusan karya arsitektur mencoba berebut piala di 28 kategori. Cakupan kategorinya beragam: masyarakat dan komunitas, mixed-use komersial, kompetisi, budaya, display, edukasi, eksperimental, kesehatan, perumahan, infrastruktur, lanskap, rekreasi, masterplan, heritage, perkantoran, energi, religius, residensial, sekolah, ruang belanja, proyek kecil, olahraga, transportasi, vila. Selain proyek yang sudah terbangun, ada juga kategori berbeda untuk proyek yang belum terbangun.

WAF, seperti Oscar juga, punya satu penghargaan puncak. Satu bangunan akan mendapatkan penghargaan paling prestisius di WAF, yaitu World Building of The Year. Tahun 2008, Universita Luigi Bocconi, Italia, karya Grafton Architects, mendapatkan penghargaan tersebut. Tahun 2010, MAXXI, National Museum of XXI Century Arts karya Zaha Hadid Architects yang mendapatkannya. Tahun lalu, yang dapat adalah Auckland Art Gallery di New Zealand, karya Francis-Jones Morehen Thorp.

Salah satu hal yang menarik dari WAF adalah proses penjurian penghargaan, yang mereka nyatakan sebagai live award critiques. Setelah arsitek seluruh dunia memasukkan karya mereka, juri-juri memilih finalis—tahun ini terdapat 288 finalis. Seluruh finalis tersebut harus mempresentasikan karya mereka di depan juri selama 20 menit, di acara WAF. Itu sebabnya ada belasan ruangan kecil, dengan kapasitas masing-masing ruang sekitar 70 orang, tersebar di satu hall besar. Ada belasan presentasi terbuka yang dilaksanaan pada waktu bersamaan dan dalam satu hari saja, ada 17 karya yang dipresentasikan dalam satu ruangan. Ruang-ruang kecil itu mereka namakan crit room.

Pun di luar semaraknya proses penjurian, WAF itu sendiri bukan hanya soal tentang mengejar piala saja. Dengan menyandang nama festival, WAF, tentu, perlu lebih dari itu.

Puluhan seminar yang diisi sederet nama beken—tahun ini sebutlah Ole Scheeren, Rocco Yim, Peter Cook dan Richard Rogers—diadakan di tiga tempat terpisah. Seminar-seminar itu membahas tren dan isu terkini dari dunia arsitektur, yang sesuai dengan tema WAF. Ada juga seri yang bertujuan untuk mempertemukan klien dan arsitek, seperti seri Client Briefing, seri yang memperkenalkan biro-biro yang baru pertama kali masuk shortlist di WAF, yaitu seri Pleased to meet you, dan seri yang bertujuan untuk membahas berbagai strategi dalam praktik bisnis arsitektur, yaitu seri Game-changers.

Galeri festival, selain menampilkan karya-karya finalis, juga menghadirkan booth-booth sponsor, media, dan exhibitor. Beberapa booth sungguh loyal melayani pengunjungnya.Grohe, misalnya, selain menampilkan produk-produk andalan mereka, juga menyediakan freeflow minuman dan makanan. Akzonobel, juga salah satu sponsor utama, menyediakan merchandise-merchandise gratis. Media-media arsitektur memberikan kopi majalahnya gratis. Pecinta barang gratisan tidak akan pernah berkekurangan.

Ada biaya yang relatif besar untuk mendaftar sebagai pengunjung WAF. Namun, bagi pecinta sejati arsitektur, dengan gemerlap ratusan arsitek dan karya arsitektur di seluruh dunia, harga tersebut barangkali masuk akal. Seandainya Anda memang berniat datang tahun depan, jangan lupa bawa kartu nama. Ingat, Piala Oscar Arsitektur bukan sekadar urusan piala.

 

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu