Gita Hastarika: Banyak Arsitek Menulis, Sedikit Penulis Arsitektur

Mengapa kritik dan apresiasi arsitektur, menurutnya, masih sulit berkembang.

Author
Gita Hastarika (foto: dok. pribadi Gita Hastarika)

Lewat sebulan sudah DiskusiKonteks#1 dengan tema “Publikasi Online dan Perannya pada Arsitektur Kita” diadakan, namun sebagai sebuah wacana, pembahasan publikasi online masih selalu relevan untuk diperbincangkan. Apalagi saat ini perkembangan teknologi komunikasi, seperti internet, di Indonesia telah semakin cepat dan membuat pemanfaatannya semakin murah. Demi merebut perhatian pembaca, informasi kemudian tidak lagi bisa hanya sekadar sampai dan banyak, tapi juga harus mempunyai bobot tertentu. Sementara itu, pembaca juga dituntut semakin kritis untuk dapat memilah dan memilih informasi yang “baik” dan “tidak”, apalagi pada informasi-informasi arsitektural yang kaya visual.

Perbincangan via email dengan Gita Hastarika mencoba menyoroti wacana publikasi dengan menggali perspektif lebih jauh dari pelaku industri media dan jurnalisnya. Bagaimanapun juga, keberhasilan sebuah publikasi arsitektur ditentukan dari kerjasama antara media dan para arsitek. Oleh karena itu, ada baiknya para arsitek dan pemerhati arsitektur lainnya memahami bagaimana sebuah media bekerja dan berpikir ulang sebelum melakukan kritik yang kurang pas.

Gita Hastarika mulai bekerja sebagai jurnalis sejak enam tahun lalu, setelah sebelumnya menjadi peneliti sejarah kota dan arsitektur kolonial pasca kelulusannya dari jurusan arsitektur Universitas indonesia. Sempat menjadi managing editor di dua majalah arsitektur dan  penyunting buku serta buletin di beberapa tempat, kini ia mencurahkan pikirannya untuk 332lab, sebuah knowledge support untuk desain, kriya, dan arsitektur.

 

Anda pernah bekerja di media cetak dan sekarang mengasuh media digital. Apa bedanya?

Ada beberapa perbedaan antara media cetak dan digital.

Pertama, jadwal terbit. Dalam media cetak, kita terikat dengan jadwal naik cetak sehingga deadline harus tepat. Media digital bukannya tidak ada komitmen dalam hal jadwal, tapi biasanya komitmen itu datang dari kesepakatan internal, bukan dengan pihak lain seperti percetakan, pengiklan, atau distributor.

Kedua, kuota halaman atau artikel. Dalam media cetak, jumlah halaman sangat bergantung pada pendanaan. Misalnya di majalah, ada persentase antara jumlah halaman dan jumlah iklan; semakin banyak iklan, jumlah halaman bisa semakin banyak. Maka jurnalis media cetak harus siap dan rela apabila setelah menulis susah-susah lalu artikelnya ditunda dulu karena iklan tidak mencapai target. Media cetak seperti koran batasannya lebih kaku lagi. Seberapa pentingpun artikel yang kita tulis, jumlah halamannya tidak bisa lebih dari kuota yang ditetapkan.

Itu sebabnya kurasi artikel pada media cetak sangat ketat. Bukan berarti media digital tidak melakukannya, melainkan karena hubungannya langsung ke masalah jatah halaman. Ini mengapa permasalahan desain atau arsitektur sulit mendapat ruang di media umum, karena keberpihakan pemimpin media akan masalah yang penting dan genting biasanya membuat beberapa topik “dikorbankan”. Maka menjadi jurnalis atau kontributor untuk topik-topik arsitektur dan desain adalah perjuangan berat.

Media digital tidak memiliki batasan seperti ini. Batasan pada media digital hanya terasa pada saat media sudah mampu membayar tiap artikel. Misalnya dalam satu bulan, media tersebut hanya mampu membayar 6 artikel, maka sebagus apapun tulisan yang masuk akan ditolak atau ditahan sampai ada uang.

Namun hal ini tidak terlalu masalah bagi media-media digital yang artikelnya ditulis langsung oleh pengelola media tersebut. Misalnya 332lab. Jumlah konten di 332lab akan selalu bertambah selama saya punya waktu dan sanggup menulis. Tidak ada yang membayar, juga tidak ada yang menagih.

Ketiga, adalah oplah. Tidak ada istilah oplah pada media digital. Media cetak dihitung besar atau tidaknya dari jumlah oplah (dengan asumsi semakin banyak cetakan semakin banyak readership), sedangkan media digital dihitung dari dari jumlah visitor atau follower. Hal ini yang membuat media digital bisa mendistribusikan konten lebih luas dan menembus batasan wilayah dengan investasi kecil.

Media digital tidak menyasar target market/reader dengan strategi distribusi (di mana menjual majalah: di Aksara atau di loper lampu merah, diletakkan di salon atau di .Airforce One) melainkan dengan kurasi tulisan anyg ada di dalam media tersebut

Keempat, cara mengetahui readership. Keuntungan utama media digital adalah kita bisa secara langsung mengetahui jumlah readership kita. Berapa banyak visitor, apa artikel yang paling banyak diklik, dari negara mana visitor kita berasal, dan sebagainya. Di media cetak, readership hampir sama sekali tidak bisa diduga. Itu sebabnya orang iklan tidak pernah bicara readership tapi bicara oplah. Meskipun koran kita bagikan secara gratis di halte busway, yang artinya koran terdistribusi 100%, tetap saja kita tidak tahu berapa besar readership kita. Apakah koran kita betul dibaca ataukah dijadikan kipas, alas duduk, atau payung?

Perbedaan kondisi pekerjaan saya dulu saat di majalah dan saat sekarang tentu saja pada masalah penentuan keputusan dan kebijakan. Entah saya bekerja secara digital seperti sekarang, atau jika nanti saya memutuskan perlu membuat versi cetaknya, saya punya wewenang untuk mengarahkan 332lab kepada visi saya.

Yang sering dilupakan oleh pembaca saat membaca sebuah majalah atau koran adalah mereka tidak mencoba memahami medianya, hanya mengomentari tulisannya. Sementara tiap media dirancang sedemikian rupa untuk target market tertentu. Maka jika kita tidak menyukai tulisan di majalah ibu-ibu (karena kita bukan ibu-ibu), kemungkinan redaksi majalah tersebut justru telah melakukan kurasi tulisan yang benar atau sesuai kebijakan yang mereka berlakukan.

Ini mengapa dalam dunia industri media, terkadang menjadi penulis saja tidak cukup, kecuali kita didukung oleh social capital yang kuat meski didapat dari profesi selain penulis (misalnya, pakar, budayawan, seniman, dan sebagainya). Jika kita tidak sekuat itu, kita harus memiliki performance yang baik sebagai jurnalis sehingga bisa berada di posisi yang berpengaruh.

Apa isu atau masalah yang paling sering dihadapi dalam mengasuh media, terutama media arsitektur?

Sebenarnya hampir tidak ada atau tidak ada sama sekali. haha... Tapi bohong.

Yang paling jelas adalah minimnya penulis arsitektur yang baik. Tentu saja ini menjadi subjektif karena baik buruknya tulisan sangat bergantung pada tujuan tulisan. Tapi saya kesulitan sekali menemukan penulis atau jurnalis yang fokus pada arsitektur.

Sekarang memang yang lebih banyak adalah arsitek yang bisa menulis daripada penulis yang fokus pada arsitektur. Sayangnya, buat saya arsitek yang bisa menulis tidak cukup. Untuk pemilik atau pengelola media, jurnalis atau penulis mutlak harus ada karena itulah core business kami. Jadi, sekalipun banyak arsitek yang bisa menulis adalah situasi yang positif, kami membutuhkan orang-orang yang hidupnya dicurahkan untuk memproduksi pengetahuan, membagikan informasi, membangun diskusi, dan sebagainya. Sampai kapan arsitek yang senang menulis akan memberikan waktu dan pikirannya untuk menulis, bukan mengerjakan proyeknya? Jadi ini masalah komitmen dan integritas terhadap profesi. Selain itu apakah adil jika arsitek mengkritik karya temannya? Atau jangan-jangan itu menyebabkan arsitek yang menulis pun tidak mengkritik karya temannya?

Arsitek Indonesia belum mengerti pentingnya peran media. Tantangan bagi jurnalis arsitektur adalah membuat pemimpin media memahami pentingnya topik arsitektur. Di situ persistensi kami diuji. Di sisi lain, kami juga diharuskan membuat arsitek memahami bahwa best practices atau lesson learnt yang mereka alami penting untuk bisa dipelajari atau diketahui orang lain melalui media.

Seringnya yang dipermasalahkan pemimpin media adalah seberapa mendesak dan menariknya cerita tentang arsitektur ini. "Itu tulisan sekilas saja satu paragraf cukup." Sementara seringnya arsitek mempermasalahkan, "Saya dapat apa? Apa lantas proyek saya bertambah? Apa fee saya jadi lebih mahal?" Seakan kami ini PR atau marketing mereka. Lebih sedih lagi, arsitek masih menyalahkan media atas terjadinya plagiarisme.

Jurnalis arsitektur seringkali harus jalan sendirian karena hanya kami yang merasa keberadaan kami penting.     

Misalnya, tidak ada arsitek atau institusi arsitektur yang berusaha meningkatkan kapasitas dan pengetahuan kami. Akses pada hal-hal yang bersinggungan dengan arsitektur minim, sehingga wawasan jurnalis sulit berkembang, dan jurnalis tidak paham apa isu yang sedang hangat di dunia arsitektur. Hal ini sangat berbeda dengan yang terjadi di luar negeri, di mana jurnalis selalu diberikan akses selebar-lebarnya agar bisa menulis dengan baik atau setidaknya memahami permasalahan arsitektur dengan lebih baik. Di bidang desain, ajang-ajang desain di luar negeri bahkan memberikan fasilitas yang lebih baik (kepada jurnalis) daripada peserta pamerannya. Di International Furniture Fair Singapore (IFFS), lounge media adalah tempat di mana menteri, kurator, dan asosiasi mereka duduk, dan media bebas bertanya apa saja. Karena situasinya masih memprihatinkan seperti ini, maka menjadi arsitek yang menulis sebenarnya lebih menguntungkan karena memiliki dua pintu masuk ke kedua bidang.

Sepenting apa media arsitektur mengambil posisi dalam mengolah berita?

Saya tidak berani mengatakan “mengolah berita”. Namun jika media melakukan framing, itu benar.

Framing itu adanya di level kebijakan, bukan teknis. Biasanya editor sudah punya acuan media kita mau “main” di mana, mau berpihak ke mana, dan sebagainya. Ada media-media yang menyatakan keberpihakannya dengan lantang, ada yang secara subtil. Media seperti Tempo misalnya, memosisikan dirinya sebagai tukang gebuk. Jadi begitu ada maling, diteriaki supaya bisa digebuk ramai-ramai. Majalah seperti Dewi tidak berani seperti itu. Memang sejak kandungan sudah ditiupkan roh “anak baik-baik”. Tapi ini bukan berarti kami selalu memandang semua hal positif. Hanya saja kebijakan media mengatakan, kalau halaman kita terbatas, jangan berikan satu halaman pun untuk sesuatu yang tidak lolos kurasi kita. Jadi kebijakannya memang menghilangkan apa-apa yang tidak sesuai atau kurang signifikan.

Saya sendiri belum pernah menulis kritik yang tidak subtil karena saya sadar pemahaman masyarakat kita terhadap arsitektur masih minim. Banyak jurnalis arsitektur atau desain sadar jika yang paling penting dalam waktu dekat adalah meningkatkan apresiasi masyarakat. Setidaknya masyarakat sedikit tahu tentang arsitektur. Ini mengapa saya merasa mungkin kurang bijaksana jika kita menulis sebuah tulisan yang membeberkan kekurangan karya di sebuah media umum atau media yang targetnya adalah ibu-ibu atau pengusaha yang sedang mencari arsitek. Ini mengapa kebanyakan artikel selalu bernada positif meski sebenarnya kami tahu sisi negatifnya.

Media luar negeri juga banyak yang cenderung seragam dalam hal framing. Seakan-akan apapun yang sedang hits dan keren pasti bisa masuk di media. Media seperti ini memang tidak mementingkan positioning. Mereka berlomba di masalah kecepatan berita, eksklusivitas informasi, dan kelengkapan data. Media arsitektur di Indonesia, sayangnya, kebanyakan penganut aliran yang seperti ini. Siapa yang paling cepat merasa paling diakui pengaruhnya.

Masalah positioning ini penting jika media punya tujuan lebih besar daripada sekadar membuat media atau menulis arsitektur. Tapi mungkin hal ini akan lebih bisa dimengerti saat media kita berbentuk cetak daripada digital. Jadi jika memang didesain agar pembacanya sangat niche, maka hal ini disesuaikan dengan jumlah oplah, strategi distribusi, dan lain-lain. Pemilik media seperti ini biasanya sudah sadar sejak awal dia tidak akan dibaca oleh khalayak yang terlalu luas. Namun di media digital, seringnya kita diarahkan untuk mendapatkan visitor sebanyak-banyaknya, sehingga jika terlalu sempit juga tidak menguntungkan. Tapi ada juga media yang berani seperti ini, biasanya mereka mendapatkan dana dari hibah, bukan jualan iklan.

Apa peran yang bisa diambil oleh media arsitektur di Indonesia untuk perkembangan kekritisan/apresiasi masyarakat terhadap arsitektur?

Media itu penting sekali. Arsitek sering lupa jika pemikiran arsitek itu diwakili oleh kata-kata si jurnalis. Maka agak berat jika media harus berperan sedemikian besar, sementara tidak ada mekanisme agar jurnalis desain dan arsitektur terdukung kapasitasnya. Bagaimana media bisa berperan dalam perkembangan apresiasi terhadap arsitektur jika orang-orang media itu sendiri tidak kritis dan bisa mengapresiasi arsitektur?

Ini mengapa semakin ke sini media-media arsitektur menurut saya semakin membosankan. Karena level pemahamannya hanya mentok pada masalah visual. Asal foto bagus majalah sudah keren. Asal tulisan mendakik-dakik, lalu tulisan itu dipuji karena sastranya. Asal layoutnya keren maka keren. Sayangnya, arsiteknya sendiri tidak kritis. Mereka senang saat karyanya terpampang dengan indahnya di sebuah majalah atau buku. Permasalahan yang sering ditanyakan oleh arsitek bukan masalah sudut pandang penulisan tapi jumlah halaman. "Saya dikasih berapa halaman? Minimal sepuluh atau tidak usah sama sekali."

Sebenarnya masyarakat justru bukannya tidak kritis. Saya sering bicara dengan klien arsitek di mana mereka terus mengeluhkan arsiteknya. Beberapa orang awam justru memiliki pemahaman tentang arsitektur yang baik meski pengetahuannya tidak artikulatif dan komprehensif karena mereka tidak memiliki latar belakang arsitektur. Terkadang, media justru berperan sebagai penyambung lidah rakyat. Karena apa? Karena banyak sekali klien yang tidak berani jujur pada arsitek.

Namun sekali lagi, ini bukan tentang betapa tajam dan kritisnya sebuah tulisan. Saya lebih peduli tentang efeknya terhadap industri arsitektur itu sendiri. Seringnya, jika menemukan proyek yang gagal, saya tidak jadi menulisnya, tapi saya mencari cara untuk menyampaikan keluhan klien ke si arsitek. Kadang saya menyatakan kritik atas nama saya sendiri saja. Paling-paling arsiteknya ngambek.

Namun, karena banyak juga orang yang tidak paham tentang arsitektur, maka mereka cenderung menerima mentah-mentah apa yang dibilang bagus oleh media. Misalnya ada proyek diulas di suatu majalah, kemudian klien akan mencari arsitek tersebut dan minta dibuatkan rumah yang serupa. Hal ini mudah terjadi mengingat kebanyakan format artikel di media (dalam dan luar negeri) adalah ulasan tuntas satu proyek. Saya, dulu ketika lebih sering menulis tentang arsitektur, menghindari pengkultusan satu proyek dengan membawa tulisan ke arah fenomena atau wacana. Saya memilih proyek-proyek sebagai contoh kasus dari wacana yang sedang saya bicarakan.

Format tulisan seperti itu bukan format yang mudah dicerna bagi masyarakat awam. Ini mengapa sustainability dan continuity media dalam mengusung sebuah tema menjadi penting. Maka media-media, khususnya media cetak, biasanya punya editorial plan per tahun, sehingga pembaca akan mendapatkan berbagai pandangan yang utuh. Kita bisa melihat bagaimana Monocle memiliki satu bundel sisipan sendiri untuk membahas fokus topik mereka. Atau pada Majalah Tempo di mana fokus selalu terdiri dari banyak artikel dengan macam-macam angle.

Di media digital agak sulit, namun website biasanya punya bantuan program "relate article". Maka lebih baik tidak menulis satu permasalahan hanya dalam satu tulisan.

Bagamana peta media arsitektur saat ini?

Yang pasti media yang disebut media arsitektur sebenarnya masih sedikit. Lebih banyak majalah dekorasi. Tapi kalau mau dibilang buruk ya belum tentu juga. Karena majalah desain di luar juga banyak yang jadi sangat grafis karena dengan demikian majalah menjadi barang koleksi dan jadi sehat secara bisnis. Fungsinya sebagai media mungkin bergeser, tapi secara bisnis ini yang kemudian menjadi jalan keluar.

Saat ini yang dilayani kebanyakan media Indonesia masih end consumer. Sedikit sekali yang B to B. Mungkin itu kenapa arsitek banyak yang merasa tidak puas dengan media di sini. Tapi pertanyaannya, berapa besar belanja arsitek untuk membeli majalah?

Media membutuhkan investasi yang sangat besar. Yang saya lihat, perusahaan media di sini masih setengah-setengah dalam berinvestasi. Mereka tidak mau memberikan budget banyak untuk survey & networking. Mereka juga jarang mau menerbangkan jurnalisnya ke event-event penting. Makanya akhirnya proyek-proyek yang masuk majalah itu-itu terus.

Saya sendiri merasa bosan dengan media-media so called desain dan arsitektur di Indonesia. Tapi kadang saya juga bingung, ini saya bosan terhadap medianya atau terhadap karya-karyanya, ya? haha.

332lab sendiri melihat desain dari kacamata makro. Memang akhirnya jadi lebih sering bicara tentang hal di luar desain itu sendiri. Tapi ini memang karena saya merasa sedikit sekali jurnalis yang bisa melihat bahwa desain itu punya permasalahan yang lebih besar daripada bentuk bahkan konsep desain itu sendiri. Desain memiliki aspek politik ekonomi yang menurut saya perlu mulai dipahami oleh kalangan yang lebih luas.

Gagalnya media arsitektur dan desain Indonesia adalah kegagalan membuat orang paham pentingnya desain dan kaitannya dengan kehidupan, keberlanjutan budaya dan tradisi, ekonomi sosial sebuah warga, dan bahwa desain itu sangat politis.

Saat orang Indonesia masih berpikir bahwa desain dan arsitektur identik dengan orang-orang keren berpakaian serba khaki, hitam, atau putih, atau orang-orang pintar yang kebenarannya mutlak, atau suatu profesi yang hits dan edgy, saya masih berpikir media desain dan arsitektur gagal menempatkan permasalahan dengan benar.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu