Go Hasegawa: Proporsi Baru Menghasikan Narasi Baru

Siasat Go Hasegawa dalam merancang hunian bagi manusia kota

Author
(Foto oleh: Anabata)

 “Saya membenci ide-ide saya sehingga ingin cepat-cepat mengeluarkannya dari pikiran saya lalu mengubahnya sebagai maket sebanyak mungkin. Dari maket-maket itu saya bisa belajar dan mendapatkan ide yang baik.” Ucap Go Hasegawa di tengah presentasi pada Anabata Talk 0.5-City Dwellers Beyond House,  di Art Space: 1, 5 Desember 2015 yang lalu.

Pada acara tersebut, Go Hasegawa, arsitek muda Jepang kelahiran 1977, memberikan pandangannya tentang bagaimana ia menyiasati  permasalahan hunian di kota, khususnya Tokyo. Seperti kota maju lainnya di dunia, Tokyo memiliki masalah serupa yaitu kepadatan hunian dan kenyamanan tinggal. Untuk menjawab permasalahan ini, Go Hasegawa menawarkan sebuah pendekatan yang ia sebut sebagai new proportion, new narrative.

Go Hasegawa mendirikan sebuah biro arsitek Go Hasegawa and Associates (GHAA) pada tahun 2005 setelah meyelesaikan studi masternya di Tokyo Institute of Technology pada tahun 2002 dan bergabung pada Taira Nishizawa Architects  sampai tahun  2004. Pada tahun ini, ia telah menyelesaikan gelar doktoralnya pada universitas yang sama di bawah bimbingan Kazunari Sakamoto dengan judul doktoralnya The Scalar Rhetoric of Spatial Dimensioning. Sakamoto banyak menginspirasi Hasegawa dalam pendekatannya melaui skala dan proporsi pada arsitektur. Pemikiran dan karya Hasegawa tertuang dalam beberapa bukunya berdujul Go Hasegawa – WorksMelalui buku itu, kita dapat mengetahui bagaimana Hasegawa sampai pada pemikiran tetang skala dan proporsi pada 11 karyanya.

Pengolahan proporsi pada arsitektur, bagi Hasegawa, bukan untuk mengejar sebuah keteraturan atau keindahan geometri seperti yang dilakukan pada masa Renaissance. Baginya, mengubah proporsi dalam arsitektur memberikan peluang untuk menciptakan pandangan baru tentang cara hidup dalam keseharian. Hasegawa bereksperimen dengan proporsi dari berbagai elemen arsitektural seperti, balkon, teras, pintu, courtyard, meja dan elemen lain. Baginya, elemen arsitektur adalah hal yang paling akrab dengan pengguna. Dengan mengubah proporsinya, maka tanpa disadari, keseharian pengguna juga berubah.

Menurutnya, mengubah elemen arsitektur merupakan wahana untuk meningkatkan pengalaman bertubuh dan juga pengalaman berinteraksi. Sebagai contoh, dengan memperbesar skala meja (House in Sakuradai-2006) sehingga proporsi meja terhadap rumah tinggal menjadi besar, ia dapat berfungsi sebagai courtyard sekaligus sebagai ruang komunikasi antar anggota keluarga. Contoh lain dengan mengubah proporsi balkon pada setiap unit apartemen di Nerima (2010), pengguna dapat mengalami pergerakan yang berbeda dibandingkan dengan tipe apartemen pada umumnya, di mana balkon ada di setiap ujung unit.

Hasegawa berusaha mengotak-atik elemen arsitektur demi mendapatkan makna dan relasi baru. Usaha-usaha itu selalu diawali dengan mencari kebutuhan klien dan potensi tapaknya. Dalam Anabata Talk 0.5, kita dapat melihat contoh tersebut pada delapan karya arsitekturnya. Elemen apa yang ia ubah dan bagaimana perubahan tersebut membentuk makna dan relasi baru dalam sebuah bangunan?

 

1. House in Sakuradai (2006) – Proporsi meja terhadap bangunan rumah tinggal.

Saudara perempuan Hasegawa memintanya untuk merancang rumah tinggal. Ia dan suaminya adalah seorang guru sekolah dasar dengan dua orang anak. Pekerjaannya di sekolah membuatnya harus selalu bugar sehingga ia membutuhkan ruang untuk olahraga ringan, sekadar berjalan kaki. Selain itu ia juga membutuhkan meja untuk menyiapkan bahan-bahan ajarnya dan memeriksa tugas para murid. Sebuah coutyard dapat menyelesaikan kebutuhan yang pertama, tapi tidak untuk kebutuhan kedua, juga tidak untuk kebutuhan anggota keluarga lainnya. Untuk itu, Hasegawa tetap menciptakan sebuah meja berukuran sangat besar yang juga berfungsi sebagai courtyard. Meja itu berdimensi 4m x 4m.

Meja besar itu terletak tepat di pusat rumah, menyatukan ruang-ruang personal milik anggota keluarga tersebut. Sisi dinding yang bersebelahan dengan meja dibolongi, sehingga dari ruang personal mereka dapat menggunakan meja tersebut. Dengan begitu setiap ruang dapat memiliki akses terhadap meja sehingga melalui meja tersebut mereka dapat saling berkomunikasi. Skylight yang ada di atas meja membuat area ini selalu terang dan seolah berada di luar bangunan. Hasegawa mengatur letak lubang di dinding agar privasi tetap terjaga. Bila penghuni menjauhi lubang tersebut anggota keluarga di ruang lain tidak dapat melihatnya. Masing-masing anggota keluarga tetap mendapatkan pojok lamunan di ruangannya.

Dengan proporsi meja yang besar ini, courtyard dapat memiliki beberapa fungsi sekaligus, ia dapat menjadi meja, area bersantai, area olahraga ringan dan yang paling penting dapat menjadi tempat untuk saling berkomunikasi dari ruang manapun.

(Sumber: http://ghaa.co.jp)

 

2. House Gotanda (2006)- Proporsi pintu terhadap 2 proporsi massa bangunan.

Dalam proyek rumah tinggal ini, Hasegawa mendapat tapak dengan panjang 9,25 meter dan lebar 3,6 meter. Alih-alih menggunakan seluruh lahan sebagai satu massa bangunan, ia justru membuat dua massa dengan jarak antar massa selebar 1,2 meter. Pada celah antar massa tersebut terdapat pintu dengan tinggi 10 meter. Proporsi pintu yang sangat tinggi ini menyatukan kedua massa saat ia tertutup sekaligus menjadi ambang bagi ruang dalam dan ruang kota.

Hasegawa membuat dua massa dengan lebar dan jumlah lantai yang berbeda. Massa yang lebih langsing memiliki empat lantai dengan tinggi antar lantai 2,4 meter sedangkan massa lainnya memiliki 3 lantai dengan jarak antar lantai 3,2 meter. Untuk berpindah dari satu massa ke massa, Hasegawa menempatkan tangga spiral yang menerus dari bawah hingga atas. Tangga spiral ini memiliki fungsi yang penting dalam pengalaman ruang di rumah tersebut. Di tangga ini, penghuni selalu bisa dapat merasakan pengalaman kota, karena ia merasa keluar dari satu massa bangunan dan masuk ke massa bangunan lainnya. Saat pintu-jangkung terbuka, dari tangga ini penghuni dapat memandang kontur kota sejauh-jauhnya.

Dengan perbedaan proporsi dua massa bangunan, jarak yang tercipta di antaranya dan proporsi pintu yang sangat tinggi, penghuni merasa seperti tinggal pada dua bangunan yang berbeda dalam satu jalinan cerita yang tak terpisahkan.

(Sumber: http://ghaa.co.jp)

 

 3. House in Komae (2009) – Proporsi basement terhadap lantai 1.

Permasalahan awal pada rumah tinggal ini adalah peraturan yang mewajibkan setiap rumah mesti menggunakan  50% dari lahannya sebagai taman. Hal tersebut sulit dilakukan karena lahan yang tersedia sempit, sekitar 100m2. Bila Hasegawa hanya mendirikan bangunan seluas 50% dari tanah yang ada maka luasannya tak mencukupi bagi sepasang suami istri dengan seorang anak. Maka yang dilakukan Hasegawa adalah membenamkan setengah bangunan sehingga ketinggiannya hanya 1 meter dari jalan.

Rumah tinggal ini akhirnya memiliki dua bagian. Bagian pertama adalah semi-basement yang di dalamnya terdapat kamar tidur, kamar anak, kamar mandi dan tempat menyuci baju. Dari lantai ini penghuni dapat menuju ke lantai dua yang beratap atau menuju ruang luar yang tak beratap. Lantai dua yang beratap, dengan tinggi plafon 3,6 meter, merupakan ruang keluarga. Di sampingnya adalah ruang luar yang lantainya merupakan atap semi-basement.  Atap yang terbuat dari beton inilah yang kemudian diperuntukkan sebagai taman. Hasegawa meletakan beberapa jendela pada pada area ini sehingga kamar tidur yang terletak di bawahnya menjadi terang. Ruang semi-basement ini kemudian juga menjadi ruang yang tenang, tempat bermain piano tanpa takut mengganggu sekitar.

Permainan proporsi antara bagian ruang dua lantai dan satu lantai membuat rumah ini tetap dapat berhubungan dengan ruang luar dengan nyaman dengan luasan yang minim.

(Sumber: Go Hasegawa Works, 2014, TOTO Publishing)

 

4. Pilotis in Forrest (2010) – Proporsi  teras lantai dasar terhadap lantai 2 (proporsi pilotis)

Rumah akhir pekan rancangan Go Hasegawa ini terletak di Gunma, 3 jam dari Tokyo jika ditempuh dengan mobil. Letaknya ada di tengah hutan. Hampir seluruh rumah akhir pekan dalam area ini selalu memiliki area kolong setinggi 1 sampai 1,5 meter untuk menghindari tanah yang lembab. Bagi Hasegawa, area kolong dengan ketinggian seperti itu membosankan. Di lain pihak, sang klien menginginkan agar ia dapat melihat ke arah gunung Asama saat musim dingin. Untuk mengatasi masalah yang umum di wilayah ini dan mewadahi keinginan klien, Hasegawa merancang sebuah bangunan dengan proporsi kolong yang sangat tinggi dibanding ketinggian hunian.

Rumah akhir pekan ini terdiri dari dua bagian. Bagian kolong bangunan memiliki tinggi 6,5 meter, setara dengan bangunan 2,5 lantai dengan kolom baja berdimensi 10cm x 10cm dan struktur silang 3 cm. Sementara, bagian atas yang merupakan area hunian hanya memiliki tinggi 1,9 meter dengan struktur kayu. Proporsi ini membuat area hunian seperti sebuah loteng. Di lantai atas, terdapat ruang tidur, ruang keluarga, kamar tidur dan teras. Hasegawa merancang area tersebut dengan jendela yang sangat besar agar penghuni dapat menikmati hutan pinus dari ketinggian yang tepat. Di area ruang keluarga, Hasegawa merancang lantai dan meja makan dari kaca sehingga penghuni dapat melihat langsung ke bawah.

Perbedaan proporsi antara kolong dan rumah membuat bangunan ini menyatu dengan alam. Hasegawa melakukan beberapa percobaan dengan ketinggian yang berbeda. Jika tinggi kolong 7 meter, ruang tersebut tidak terasa, sedangkan bila ia memiliki tinggi 6 meter, ia akan terasa seperti ruang dalam. Hasegawa menganggap ketinggian 6,5 meter cocok untuk membuat ruang di bawah hunian yang menyatu dengan alam.

(Sumber: http://ghaa.co.jp)

 

5. Apartmen in Nerima (2010)- Proporsi balkon terhadap unit apartmen.

Apartemen Nerima terletak di pusat Tokyo, dekat dengan Shinjuku. Banyak pengusaha muda dan para pelajar tinggal di apartemen, sehingga daerah ini memiliki banyak apartemen, dengan bentuk yang hampir sama. Klien Hasegawa memintanya merancang sebuah apartemen yang berbeda bagi para penghuni.

Hasegawa memulai proyeknya dengan memperhatikan letak balkon pada apartemen-apartemen di Tokyo, yaitu balkon dengan ukuran minim di depan setiap unit. Ukuran tersebut membuat balkon tidak lagi berfungsi baik untuk manusia, melainkan hanya untuk memenuhi syarat sebagai akses evakuasi. Kadang balkon-balkon tersebut digunakan untuk meletakkan sampah. Hasegawa ingin mengembalikan fungsi balkon untuk manusia dengan menciptakan empat proporsi balkon yang berbeda.

Tipe pertama adalah balkon dengan bentuk L. Pada tipe ini, balkon berbentuk L mengitari unit ruang tidur dan ruang makan. Penghuni dapat langsung mengakses unitnya dari ujung sisi L ini dan langsung mengarah ke kamar mandi di sisi lainnya. Dari balkon tersebut mereka juga dapat mengakses ruang tidur dan ruang makan. Balkon tipe kedua merupakan balkon yang menerus sepanjang sisi kamar tidur, ruang makan dan kamar mandi.  Jenis ketiga merupakan tipe courtyard, balkon terletak di antara ruang makan dan kamar tidur. Penghuni akan merasa berada di ruang luar saat berpindah dari dua ruang tersebut. Dari balkon ini penghuni juga dapat mengakses kamar mandi. Jenis balkon terakhir adalah balkon yang sangat tinggi, yaitu 8 meter. Unit tipe ini tidak sejajar, melainkan vertikal dengan 3 lantai. Lantai pertama, yang bersebelahan dengan balkon, adalah ruang makan dan dapur, lantai kedua adalah kamar mandi dan lantai teratas adalah kamar tidur. 

Dengan empat balkon tersebut, penghuni dapat mengalami variasi gerak, sebuah keuntungan yang tidak didapat oleh apartemen lain di kota Tokyo.

(Sumber: Go Hasegawa Works, 2014, TOTO Publishing)

 

6. House in Komazawa (2011) – Proporsi lantai 1 dan loteng.

Rumah ini terletak dekat dengan taman Komazawa, dimana banyak orang lalu lalang dengan membawa binatang peliharaanya. Rumah ini tidak strategis karena jalanan yang ramai dilewati orang, namun memiliki keuntungan adanya pemandangan ke arah hutan kecil. Untuk mengatasi hal ini, Hasegawa membuat rumah dengan proporsi lantai 1 yang tinggi dengan jendela besar di bagian atas dinding dan lantai 2 yang rendah. 

Lantai 1 dirancang Hasegawa dengan sifat semi publik. Hal ini dicapai dengan menyebar batu kerikil sebagai penutup lantai dan membuat plafon yang tinggi. Hasegawa juga meletakkan jendela yang sangat besar dengan ambang bawah setinggi 1,65 meter. Keberadaan jendela ini penting untuk menciptakan ketegangan antara keterbukaan dan keamanan. Dari luar, pejalan tidak dapat melihat penghuni yang sedang duduk bersantai namun penghuni dapat melihat pejalan dan hutan di baliknya. Sedangkan di lantai 2 terdapat kamar tidur dan ruang inti lainnya. Lantai 1 dan 2 dibatasi oleh lantai dari balok kayu dengan jarak antara  3cm. Jarak ini membuat penghuni mudah melihat ke lantai 1 dan sebaliknya.

Perbedaan proporsi pada rumah ini menghadirkan 2 sifat ruang yang berbeda dalam 1 rumah. Lantai 1 menjadi publik namun lantai 2 menjadi intim.  Itu yang dialami jika kita berada di dalam rumah. Bila kita berada di luar, rumah ini nampak seperti rumah berlantai 1.

 (Sumber: Go Hasegawa Works, 2014, TOTO Publishing)

 

7. House in Kyodo (2011) – Proporsi lantai 1 terhadap lantai 2.

Sepasang suami-istri meminta Hasegawa merancang rumah tinggalnya. Sang istri bekerja sebagai editor surat kabar dan sang suami sebagai editor manga. Mereka sama-sama suka membaca, tapi kesenangan itu juga yang menjadi masalah utama dalam perancangan: koleksi buku mereka yang melimpah. Lima puluh persen luasan rumah sudah diperuntukan untuk buku. Di sisi lain, tapak memiliki potensi untuk memperlihatkan pemandangan di sampingnya. Dua keadaan itulah yang menjadi latar perancangan ini. Hasegawa berusaha memikirkan bagaimana menyimpan buku dan mencuri pemandangan milik tetangga.

Hasegawa menyelesaikan masalah ini dengan konsep ‘tinggal bersama buku’. Lantai satu dirancang sebagai rak-rak penyimpanan buku. Rak-rak itu juga berfungsi sebagai struktur. Proporsi tinggi lantai 1 dibuat lebih rendah dari lantai 2, hanya 1,8 meter. Dengan ketinggian tersebut Hasegawa membuat proporsi tangga yang pendek, hanya 10 pijakan (hal ini sesuai dengan keadaan sang istri yang memiliki masalah di kakinya sehingga ia khawatir kalau harus naik turun tangga).  Jarak antar rak buku 1,5 meter. Di antara rak-rak buku itu terletak kamar tidur, ruang bekerja, tempat mencuci tangan dan kamar mandi. Lantai 2 dibuat dengan proporsi lebih tinggi tanpa plafon. Atap dibuat tipis dengan tebal 6cm.  Di lantai ini kegiatan bersantai dan berkumpul terjadi. Di lantai ini pula Hasegawa membuat bukaan yang lebar sehingga penghuni dapat memiliki pemandangan yang bagus.

Di lantai 1 dengan plafon yang rendah terdapat grid-grid rak buku dan perabot sehingga pergerakan penghuni terbatas, namun di lantai dua dengan plafon yang lebih tinggi terdapat sedikit perabot sehingga memungkinkan pergerakan yang lebih bebas. Dengan perbedaan proporsi tersebut, lantai 1 memiliki sifat yang lebih statis dibanding dengan lantai 2.

(Sumber: Go Hasegawa Works, 2014, TOTO Publishing)

 

8. Apartemen in Okachimachi (2014) –Proporsi beragam unit apartemen

Bila pada Apartement in Nerima Hasegawa menciptakan pengalaman menghuni yang berbeda-beda dengan membuat 4 tipe unit, pada apartemen di Okachimachi ia melakukannya dengan lebih mengesankan: membuat apartemen setinggi 10 lantai dengan denah yang semuanya berbeda. Dalam proyek ini, ia tidak lagi bermain pada proporsi karena tidak ada yang bisa dibandingkan dengan setara. Setiap lantai berbeda. Yang sama hanyalah, setiap lantai memiliki void (walau bentuk voidnya juga tidak seragam) dan setiap lantai dapat memiliki pemandangan ke arah langit di atas.

Ada dua permasalahan awal pada apartemen ini. Pertama, peraturan di Jepang mengharuskan antar bangunan memiliki jarak minimal 40 cm dari batas tapak. Maka jarak antar bangunan rata-rata 80-100cm. Hasegawa tidak menjadikan hal ini sebagai batasan, justru sebuah peluang. Hasegawa bermain dengan celah. Intensi yang ingin ia capai adalah membuat celah antar unit apartemen di lantai yang sama dan membuat kontinuitas antar celah. Akibatnya, setiap unit apartemen memiliki bagian yang tidak terhalang oleh unit lain.

Masalah kedua adalah stereotipe bahwa unit apartemen paling atas adalah unit yang paling mewah karena memiliki akses vertikal langsung ke langit di atas. Sementara unit apartemen di lantai bawahnya hanya memiliki akses secara horisontal. Hasegawa ingin setiap unit di setiap lantai memiliki akses penglihatan ke langit, dengan mengatur denah setiap lantai sedemikian rupa. Hal ini dicapai dengan void yang menerus dari lobi sampai ke lantai paling atas.

Perlakuan Hasegawa ini sepertinya bertentangan dengan efektifitas ruang pada unit apartemen. Tapi ternyata bukan itu yang terjadi. Dengan tinggi maksimal 26 m, unit apartmen biasa hanya dapat memiliki 8 lapis lantai. Pada apartemen ini, Hasegawa dapat menghasilkan 10 lapis lantai dengan jarak lantai ke plafon setinggi 2,2 meter.

Dengan proporsi unit apartmen yang berbeda-beda pada setiap unit di setiap lantainya, Hasegawa tidak hanya memberikan pengalaman menghuni yang berbeda tapi juga memberikan kesempatan bagi penghuni untuk dapat berhubungan dengan lingkungan luar ketika berada di dalam unit. Privat dan publik dapat bersinergi dengan baik.

(Sumber: http://ghaa.co.jp)

Siasat Hasegawa

Dari delapan karya yang ia presentasikan terlihat beberapa siasat. Selain bermain dengan komposisi elemen arsitektur, ia juga bermain dengan komposisi proporsi lantai dalam sebuah bangunan dan komposisi proporsi ruangan dalam sebuah bangunan. Siasat mengkomposisikan proporsi lantai dalam bangunan yang berbeda dapat kita lihat pada karyanya House in Komae (2009), Pilotis in Forrest (2010)House in Komazawa (2010) dan House in Kyodo (2011). Sedangkan siasat mengkomposisikan proporsi ruang yang berbeda dapat kita lihat pada House in Gotanda (2006) dan Apartment in Okachimachi (2014).

Tidak seperti Sou Fujimoto yang ingin menghadirkan ruang ambigu antara eksterior dan interior, siasat Hasegawa justru  menyebabkan beberapa sifat ruang yang kontras. Pada House in Komazawa (2010) sifat ruang di lantai satu menjadi publik karena tinggi ruang dan bukaan besar di dinding. Sementara lantai duanya menjadi privat karena rendahnya plafon dan cahaya yang redup. Hal itu berlaku sebaliknya pada House in Kyodo (2011) dengan lantai 1 bersifat privat dan statis, dengan rak-rak buku dan cahaya temaram. Sementara lantai dua bersifat publik dengan bukaan besar dan ruang yang lebih dinamis. Contoh lain yang paling terasa adalah pada karyanya Pilotis in Forrest  di mana lantai dasar benar-benar merupakan ruang luar yang menyatu dengan pohon-pohon di sekitar sementara lantai dua adalah hunian yang intim walau memiliki bukaan yang besar.

Selain menciptakan sifat ruang yang kontras, siasat-siasat Hasegawa berpengaruh terhadap relasi antar penghuni dan juga relasi bangunan terhadap lingkungan sekitar. Beragam dampak dari siasat yang dilakukan Hasegawa tersebutlah yang akhirnya menciptakan narasi baru dalam keseharian menghuni pada sebuah kota.

 

 

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu