Ikatan Arsitek Indonesia dan Suhartono Susilo

Tulisan ini menyertai pendirian Ikatan Arsitek Indonesia.

Author

Tulisan Menudju dunia arsitektur Indonesia jang sehat menyertai pendirian Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pada 17 September 1959 di Bandung.[i] Penulisnya adalah Suhartono Susilo (1928-1999[ii]) - seorang arsitek, pendidik, pelopor profesi dan pendidikan arsitektur di Indonesia yang pada waktu itu baru setahun lulus dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) di Bandung. Tulisan tersebut, meskipun bukan ditujukan sebagai sebuah karya tulis, merupakan dokumen penting yang digulirkan pada tahun-tahun awal karirnya sebagai lulusan baru arsitek.

Suhartono adalah salah satu lulusan pertama FTUI di Bandung. Ia lulus pada tahun 1958 sebagai salah satu arsitek lulusan lokal pertama, yang sering disebut sebagai “generasi pertama arsitek Indonesia”, untuk membedakan diri dari arsitek-arsitek asal Belanda atau yang dididik pada masa pra-Kemerdekaan.

Bersama para rekan arsitek lain, Suhartono memperjuangkan profesi arsitek dalam sebuah wadah kelembagaan yang menyatakan dengan lantang keistimewaan profesi seorang arsitek di tengah profesi keinsinyuran lainnya. Tercantum di dalam teks Menudju Dunia Arsitektur Indonesia jang Sehat beberapa gagasan utama keistimewaan arsitek yang diperjuangkan tersebut, diantaranya: mengenai bagaimana selaiknya seorang arsitek perencana tidak merangkap anemer atau pemborong atau kontraktor; mengenai hakikat praktik seorang arsitek dalam berhadapan dengan pemberi tugas/ pemesan”; pranata dan kode etik yang mengatur tindak-tanduk seorang arsitek dalam bertugas; hingga bagaimana arsitektur dan kebudayaan dihubungkan dalam kelembagaan.

Sejak awal pendiriannyasebagaimana dengan asosiasi profesi lainnyaIkatan Arsitek Indonesia memang memfokuskan diri pada kekhususan arsitek-insinyur diantara para insinyur lain dan senantiasa diarahkan untuk memperjuangkan berbagai kekhususan tersebut. Pandangan mengenai kekhususan profesi arsitek tersebut juga patut dibaca sebagai sebuah reaksi, sikap, dan proyeksi para arsitek pertama Indonesia atas perannya di tengah masyarakat pada masa itu.

Suhartono Susilo, menurut hemat saya, adalah satu dari sedikit orang yang telah mendedikasikan dirinya untuk melakukan itu,bukan hanya lewat karya-karya arsitekturnya melainkan juga lewat karya-karya pemikirannya. Beruntung bahwa Sikap dan Pemikiran Suhartono Susilo: Arsitek & Pendidiksebuah buku bunga rampai mengenai riwayat dan karya-karya Suhartono Susilotelah diterbitkan pada tahun 1998 sehingga tercatat banyak bukti gagasan beliau yang telah menjadi fondasi bagi keprofesian dan pendidikan arsitektur kita sekarang. Suhartono,selain mendudukkan arsitek dalam perannya di tengah masyarakat, juga menempatkan arsitektur sebagai disiplin di dalam tatanan keilmuan.

 

Menudju Dunia Arsitektur Indonesia jang Sehat[iii]

Ikatan Arsitek Indonesia

Institute of Architects of Indonesia[iv]

 

Sudah mendjadi umum di Indonesia seorang pemborong merangkap perentjana pula. Seorang pemesan dalam hal ini mempertjajakan seluruh pekerdjaannya kepada arsitek anemer tersebut.

Pengawasan dan djaminan mutu rentjana dan penggunaan bahan-bahan sukar diadakan dalam keadaan demikian. Ini merupakan kebiasaan jang kurang sehat.

Seorang arsitek murni ialah seorang penasehat dan orang kepertjajaan pemesan. Arsiteklah wadjib untuk mengawasi agar pelaksanaan rentjananja dilakukan sebaik-baiknya. Di samping memiliki pengetahuan vak teknis jang sempurna seorang arsitek harus memiliki pula sifat-sifat integriteit, jaitu sikap menolak segala kemungkinan penjuapan.

Aspek-aspek ideel ini merupakan bagian ang tak dapat dipisahkan dari pribadi seorang arsitek. Pemisahan antara perentjanaan dan pelaksanaan harus mendjadi sjarat mutlak apabila kita ingin mentjapai suatu korps arsitek Indonesia jang sehat dan berkewibawaan.

Pendidikan Arsitektur di Indonesia untuk pertama kali telah dimulai pada Fakultas Teknik Bandung pada tahun 1950 dan pada tahun 1958 insinjur arsitek jang pertama di Indonesia telah lulus.[v]

Pada pendidikan inilah selain aspek-aspek vak teknis, terutama aspek-aspek ideellah sangat dipertahankan guna membina seorang tjalon arsitek jang kelak dapat diharapkan mendjadi seorang tokoh pemimpin jang djudjur, jang bukan hanja akan memperoleh kepertjajaan dari pihak pemesan akan tetapi djuga dengan pihak-pihak lain dengan siapa akan mempunjai hubungan dalam mendjalankan pekerdjaannya.

Selainnja insinjur arsitek lulusan Bandung ini telah berpraktek pula arsitek-arsitek jang telah berpendidikan luar negeri atau beladjar sendiri (autodidact), jang merupakan tokoh-tokoh pelopor suatu arsitektur jang murni di Indonesia, walaupun djumlah mereka masih ketjil.

Terdorong oleh kejakinan bahwa persatuan jang erat semua arsitek murni ini dapat mempertinggi mutu arsitektur di Indonesia dan menghapuskan segala kebiasaan jang buruk jang sekarang masih berlaku dilapangan pembangunan di Indonesia, maka pada tanggal 17 September 1959 didirikanlah Ikatan Arsitek Indonesia (Institute of Architect of Indonesia) disingkat IAI, di Bandung.

Maksud tudjuan IAI antara lain ialah:

1. Mempertinggi nilai arsitektur;

2. Kerdjasama dengan badan-badan jang bersifat kulturil;

3. Kerdjasama dengan badan-badan jang ada hubungannja dengan lapangan pembangunan;

4. Berusaha ke arah hubungan-hubungan jang baik dan adil antara masjarakat seluruhnja ataupun bagian-bagian dari masjarakat tersendiri jang bertindak sebagai pemesan disatu pihak dan para arsitek dilain pihak;

5. Mempererat persatuan antara para arsitek;

6. Memperhatikan dan melindungi kepentingan-kepentingan kewadjiban-kewadjiban dan hak-hak para arsitek;

7. Memelihara rasa tanggung djawab para arsitek dalam melakukan tugasnja.

IAI akan merupakan lembaga tertinggi dalam dunia arsitektur di Indonesia. Setiap anggauta dihariskan memakai sebutan IAI di belakang namanja di dalam melakukan djabatannja sebagai arsitek.

Dalam menentukan siapakah jang dapat diterima mendjadi anggauta IAI Badan Pengurus akan didampingi oleh Dewan Arsitek.

Sebagai anggauta biasa dapat diterima jang melakukan pekerdjaan arsitek dan memenuhi sjarat-sjarat jang berikut

1. Beridjazah suatu pendidikan arsitek jang diakui oleh Dewan Arsitek

2. Tidak beridjazah pendidikan arsitek, tetapi mempunyai keahlian serta ketjakapan sebagai arsitek jang diakui oleh Dewan Arsitek.

Permintaan untuk diterima sebagai anggauta harus disampaikan kepada Pengurus dengan surat terdjatat dan diusulkan oleh sekurang-kurangnya dua orang anggauta.

Para anggauta IAI ini diwadjibkan memegang teguh sjarat-sjarat sebagai termuat dalam buku Kode Kehormatan IAI.

Maka demikianlah dengan terbentuknja IAI tersebut langkah pertama kearah penertiban dan penjehatan dunia arsitektur di Indonesia telah diadakan. Pendaftaran semua arsitek murni di Indonesia adalah suatu sjarat mutlak jang diperlukan untuk memberi djaminan kepada gelar arsitek murni.

Semoga IAI mendjadi lambang dan pengertian dari pengabdian kepada kebenaran, kedjujuran dan tjita-tjita arsitektonis jang luhur di Indonesia.

 

Badan Pengurus IAI 1959-1961:

Ketua: Ir. Soehartono, IAI

Wakil Ketua: Ir. Herman Soetrisno, IAI

Sekretaris: Ir. Goenawan, IAI

Bendahara: Ir. Tan Sioe An, IAI

Anggauta: Ir.Hidajat Natakusumah, IAI – karena harus menunaikan tugas wadjib militer kemudian diganti dengan Ir. Achmad Noe’man, IAI

 

Dewan Arsitek IAI 1959-1961:

Ars. F. Silaban, IAI

Ars. M. Soesilo, IAI

Ars. Liem Bwan Tjie, IAI

Ir. Kwee Hin Goan, IAI

Ir. Azhar, IAI

Ir. Sidharta, IAI

Ir. A.R. Dendeng, IAI

Alamat Badan Pengurus IAI: Djl. Merdeka 54, Bandung

 



[i] Sejarah singkat pendirian Ikatan Arsitek Indonesia serta keterlibatan Suhartono Susilo dan F. Silaban dapat ditelaah di situs Ikatan Arsitek Indonesia: http://www.iai.or.id/tentang-iai/sejarah

[ii] Berita duka meninggalnya Suhartono Susilo dan sedikit riwayat hidupnya yang disiarkan oleh Johannes Widodo melalui surat elektronik: https://groups.yahoo.com/neo/groups/arsitek-l/conversations/topics/1354?var=1

[iii] Teks dikutip dari buku “Sikap dan Pemikiran Suhartono Susilo, Arsitek dan Pendidik”, Yuswadi Saliya (penyunting), 1998, penerbit Jurusan Arsitektur Unpar & Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Barat.

[iv] Nama Ikatan Arsitek Indonesia dalam Bahasa Inggris sekarang tidak lagi “Institute of Architect of Indonesia” namun menggunakan “Indonesian Institute of Architects”.

[v] Pendidikan ‘arsitektur’ di Indonesia sebenarnya telah dimulai lebih awal, yaitu sejak pendirian Technische Hoogeschool Bandung pada tahun 1920. Namun tulisan ini mengambil momentum ‘nasionalis’ peneguhan lembaga tersebut menjadi Fakultas Teknik Universitas Indonesia pada tahun 1950.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu