Interview: Sammaria Simanjuntak, Filmmaker

Obrolan santai bersama Sammaria Simanjuntak tentang bagaimana ia bertransformasi dari arsitek menjadi filmmaker.

Author

“Makanya Allah menciptakan cinta, biar yang beda-beda bisa nyatu,” ucap Cina kepada Annisa pada film cin(T)a.

Saya menonton film itu pada tahun 2009, saat saya masih berstatus sebagai mahasiswa arsitek. Dua tokoh utama dalam film itu juga mahasiswa arsitek. Saya menyukai film itu sebelum mengenal produser dan sutradaranya, Sammaria Simanjuntak (Atid), yang ternyata juga lulusan arsitek.

Saya senang berbincang dengan Atid. Ia adalah contoh sosok yang berani beralih profesi. Mungkin saya senang karena pada saat itu saya tidak ingin menjadi arsitek. Tapi saya tidak berani untuk beralih.

Suatu saat saya bertanya, “Apa yang kamu lakukan sebelum yakin menjadi filmmaker?” Atid menjawab, “Kamu harus berani menyelesaikan apa yang kamu kerjakan. Bila kamu ingin menjadi penulis, selesaikanlah satu novel atau kumpulan cerpen. Setelah kamu menyelesaikan satu hal, kamu bisa mengerjakan hal lain dengan penuh keyakinan.”

Pada pertengahan 2011, saya akan pindah ke Jakarta untuk bekerja sebagai arsitek. Karena itu saya harus meninggalkan Bandung dan pekerjaan saya sebagai pustakawan di Kineruku. Beberapa hari sebelum saya pergi, Atid bertanya, “Kamu yakin mau menjadi arsitek? kamu menjadi arsitek karena cinta atau takut?” Saya belum mengerti apa maksudnya. Ia melanjutkan, “Kalau kamu menjadi arsitek karena kamu takut tidak dapat pekerjaan atau uang, berarti kamu tidak bekerja berdasarkan cinta. Di dunia ini hanya ada dua alasan orang bekerja, karena takut atau cinta. Kalau kamu cinta, kamu tidak akan pernah takut akan apapun.”

Dua percakapan itu bersarang dalam ingatan saya. Dan saya bisa mengerti apa yang ia maksud melalui dua filmnya Cin(T)a (2009) dan Demi Ucok (2013).

Pada awal tahun ini, saya kembali berbincang dengannya. Ia menceritakan kisahnya sejak mengalami pertukaran pelajar di Amerika dan Jerman. Karena itu ia bisa menonton film-film yang tak diputarkan di Indonesia sehingga wawasanya akan film berkembang. Ia juga bercerita bagaimana ia mendapatkan nilai-nilai yang ia yakini, yang tercermin pada film yang naskahnya ia tulis sendiri.  

Bagaimana Sammaria Simanjuntak bertransformasi dari mahasiswa arsitek, arsitek, lalu filmmaker dapat dibaca pada obrolan santai kami. Mulai dari pertanyaan basa-basi yang membahas arsitek, apa yang ia yakini pada setiap filmnya sampai membahas film terbarunya, Selamat Pagi, Malam yang tayang perdana pada 19 Juni 2014. Film yang menurut saya begitu berani menggambarkan realita Jakarta melalui kelembutan malamnya.

Salah satu adegan antara Annisa dan Cina pada film Cin(T)a (sumber:kepomponggendut.com)

Siapa arsitek idola kamu?

Zaha hadid sama Frank Lloyd Wright. Saya suka Zaha Hadid karena dia bitchy.

Bitchy?

Iya. Dia seperti director, “I know what I want. Saya mau bikin ini, terserah lo mau bikin apa. ”Very strong habit. She knows what she really wants, and she really pushes the boundaries.

Egonya kelihatan ya?

Egonya kelihatan. Masa orang yang egonya kecil bikin kaya gitu. Stands out gitu bangunannya. Beda banget sama Frank Lloyd Wright.

Apakah kamu bisa menyandingkan arsitek dengan sutradara tertentu? Misalnya yang jiwanya sama dengan Zaha Hadid?

Marjane Satrapi, yang buat film Persepolis itu.

Kenapa?

Zaha Hadid tuh Iran ya? Marjane Satrapi juga dari Iran. Mungkin karena feeling-nya mereka, cewe-cewe tough, dari dunia yang sangat tough.

Kalau menyandingkan arsitektur dan film?

Tadao Ando dan film-film Jepang. Tadao Ando sangat syahdu dan ilahi. Banyak film Jepang seperti itu. Saya tidak pernah bosan nonton film kolosal seperti itu.

Film-film yang alurnya lambat?

Iya lebih lambat tapi sangat detail. Dari jauh seperti tidak detail tapi dari dekat detail. Sepertinya Tadao Ando juga seperti itu, detail.

Ketika kamu mendatangi karya arsitek terkenal, seperti Le Corbusier, apakah kamu berusaha mengalami ruangnya?

Tidak saya alami, hanya melihat, “Eh keren ya.” Memang sense ruang saya tidak seperti arsitek.

Kapan kamu menyadari itu?

Sejak saya kerja sebagai arsitek. Soalnya kalau di sekolah kita hanya membuat konsep, tidak membangun. Nah kalau konsep, saya bisa. Tapi sebenarnya, saya gak sesabar itu untuk membangun dan merasakan ruang. Pada proyek arsitektur, 1 bangunan bisa diselesaikan 1 sampai 13 tahun. Terlalu lama bagi saya.


Film cin(T)a (2009) (sumber:kepomponggendut.com)

Jadi itu salah satu alasan kamu tidak menjadi arsitek lagi?

Well, alasan utamanya karena saya tidak punya visi di arsitektur. Kalau saya ditanya mau bikin bangunan apa, ya apa saja, ikutin orang, ikutin bos mau bikin apa. And I do it well, sebenarnya. Saya staff yang baik. Sebaliknya, kalau ditanya mau bikin film apa, saya bisa jawab.

Apa peran pendidikan arsitektur dalam kesenangan kamu akan film?

Pendidikan arsitektur membawa saya “keluar”. Saya lahir tahun 1983, itu zamannya CBSA: Cara Belajar Siswa Aktif. Jadi saya termasuk generasi yang take everything for granted, tidak kritis. Bacanya hanya yang dikasih sekolah. Waktu tingkat satu saya sempat ke Amerika. Nah itulah pertama kalinya saya menonton The Year of Living Dangerously, film yang tidak boleh ditayangkan di sini. Sejak itu saya baru sadar, "Oh ternyata Indonesia tuh gitu ya.” Benar-benar baru tahu. Apalagi saya anak tentara. Benar-benar culture shock di sana.

Setelah itu kamu mulai mendalami film?

Iya. Ketika kuliah saya juga sempet pertukaran pelajar ke Jerman. Di sana, asrama saya bersebelahan dengan perpustakaan. Sangat sempurna untuk tinggal selama enam bulan. Di sana saya banyak menonton film karena semua film ada dan gratis. Ruang nontonnya juga nyaman. Saya jadi banyak menonton film, lalu, ya jadi ingin bikin film.

Dan sudah ada keinginan untuk buat film sendiri?

Iya. Di Jerman itu saya merasa, “Oh bisa nih jadi sutradara.” Saya yakin sekali. Tapi ketika pulang ke Indonesia saya takut. Akhirnya jadi arsitek lagi.

Lalu kamu kerja menjadi arsitek di Singapura. Kenapa pilih kerja di Singapura? Karena banyak uangnya?

Tidak juga. Waktu itu gaji saya hanya 2000-an dollar. Waktu itu lumayan besar, karena Singapura masih murah rumahnya. Dengan  500 dollar saya bisa menyewa condo. Enaknya kalau kerja jadi arsitek adalah bisa nyaman berpergian, “Ah bulan ini mau ke Cina, bulan depan mau ke India”. Apalagi di Singapura semuanya gampang, semuanya affordable.

Apakah kamu masih bisa menikmati film ketika bekerja di Singapura?

Sangat bisa. Di sana, perpustakaannya bagus. Saya banyak membaca buku dan meminjam film. Di sana saya ikut Singapura Film Society yang setiap minggu memutarkan film-film bagus. Saya banyak berbicara tentang film dengan bos saya. Dia malah bilang, “Lo resign aja deh, ngomonginnya film melulu.” Lalu ketika saya resign, dia kaget.

Jadi kamu meninggalkan profesi arsitek bukan karena trauma atau tidak mau kerja lagi?

No, makanya bos saya kaget waktu saya resign karena saya terlihat senang disana.Ya memang saya senang.

Setelah itu langsung berniat untuk membuat film?

Waktu itu tidak langsung berani .Setelah keluar, saya mau pindah ke advertising dulu di Singapura juga. Jadi one step closer to movie making. Saya pikir duitnya masih bulanan jadi masih aman. Eh ternyata visa saya ditolak. Jadi ya terpaksa langsung bikin film.

Kalau di film berarti ada visi?

Iya, saya tau mau bikin apa.

Selain kamu tahu mau buat apa, apakah ada visi tertentu? Misalnya, memajukan dunia perfilman Indonesia?

Tidak ada. Saya tidak punya idealisme seperti itu, saya hanya mau membuat film.

Apakah kamu menelusuri kisah hidup dari sutradara yang kamu kagumi?

Banyak. Salah satunya Yasmin Ahmad, sutradara Malaysia. Film pertama dan kedua saya, sepertinya, banyak dipengaruhi dia. Kenapa saya bikin “Demi Ucok” karena saya baca blognya Yasmin Ahmad. Dia bilang, “Apa kunci sukses? Kalo kunci sukses saya live by passion.  Kalau Yasmin Ahmad, “be nice to your parents”. Pertama mendengarnya saya tidak tertarik.“Be nice to your parent” itu seperti buku CBSA. Tapi setelah saya pikir-pikir melakukan itu susah. Karena orang tua itu someone you really take for granted.

Jadi, dia juga baik sama orang tuanya?

Iya. Dia sangat baik sama orangtuanya. Dia hanya membuat enam film selama hidupnya. Keenam filmnya itu untuk ditonton oleh Ibu dan Bapaknya. Hasilnya jadi bagus karena target marketnya jelas.

Jadi film-filmnya memang selalu tentang keluarga?

Tidak juga, lebih tentang diversity tapi memang selalu mengandung family value. Jadi tokohnya ada yang Cina, Melayu, India, ada yang gendut, bego, atau nyebelin. Tapi semuanya dihargai karena dia sendiri juga outcast. Awalnya dia adalah pria lalu ia memutuskan untuk merubah dirinya menjadi wanita (transgender).

Setelah memutuskan untuk beralih profesi, bagaimana mencari lingkungan atau orang yang bisa mendukung kamu?

Saya percaya the whole world will conspire to help us. Karenanya saya mulai mengikuti kegiatan bikin film dan menemukan kru-kru untuk film pertama, Cin(T)a.

Ketika kamu selesai syuting film pertama, kamu menghampiri beberapa senior dalam bidangnya seperti Ayu Utami dan Joko Anwar untuk memberikan komentar tentang karyamu. Apakah itu strategi belajar di dunia baru yang kamu geluti?

Sebenarnya baru mendekati mereka setelah karyanya selesai. Saat itu tidak terpikir untuk strategi apapun. Benar-benar clueless. Tapi memang dari orang-orangyang saya datangi, sepeti Mbak Ayu dan Bang Joko, saya dapat banyak sekali ide untuk lebih berkembang.

Pada saat mematangkan film pertama (Cin(T)a), siapa saja yang kamu hampiri dan apa saja yang kamu pelajari dari mereka?

Sally Anom Sari, partner menulis. Saya banyak belajar cara menulis dan juga tentang Islam yang tidak galak dari Sally.

Apa tanggapan orang terdekat, seperti keluarga, ketika kamu bilang padanya untuk beralih profesi. Apakah itu menjadi sebuah masalah bagi mereka?

Tentunya. Mereka tidak melarang tapi juga tidak mendukung karena filmmaker dianggap bukan pekerjaan yang stabil dibandingkan arstek. Dan memang mereka benar. Tapi kan hidup tak harus stabil.

Ridwan Kamil pernah dua kali menjadi mentor di studio kamu. Apa saja pengaruh yang ia berikan dalam proses kreatif kamu? Dan bagaimana pengaruh itu masih terbawa saat menjadi sutradara?

Ridwan Kamil banyak perannya dalam mengajarkan saya bagaimana pentingnya presentasi dan mengemas karya kita agar dipahami orang banyak. Dia selalu mencari 1 keyword dalam desainnya. Ini mungkin bukan pendekatan desain satu-satunya tapi memang lebih mudah dipahami orang.

Jadi kamu bisa menemukan keuntungan dari belajar arsitek lalu pindah ke film?

Persamaan paling besar dari arsitektur sama perfilman,dua-duanya sama-sama it is all about structure. Maksudnya harus bisa dibangun.

Kalau di film, apa yang menjadi struktur?

Babak-babak. Sama seperti kamu mendesain struktur bangunan. Menurut saya backbone story harus sangat kuat, kalau tidak penontonnya bingung, tidak tahu sequence.

Jadi kamu selalu membuat struktur dalam setiap film kamu?

Iya saat film kedua. Waktu film pertama tidak .Makanya saya tahu kalau struktur itu penting karena film pertama ancur. Film kedua itu caranya tradisional sekali, maksudnya terdiri 3 babak. Walaupun pada prosesnya tidak selinear itu. Tetap aja berantakan juga.

Film Demi Ucok (2013) (sumber:kepomponggendut.com)

Proses yang tidak linear, apakah itu warisan dari cara berpikir arsitektural?

Iya itu dari arsitek. Maksudnya pada satu kaki harus bisa manajemen, tidak bisa murni seperti seniman, tapi di satu kaki lainnya harus mengandalkan intuisi. Itu kalau mau jadi arsitek atau filmmaker. Karena kerjanya sangat kolaboratif, pertama harus nge-lead orang, maintain orang. Dan kalau tidak punya direction yang benar, orang tidak mau dipimpin sama.

Pada film selanjutnya, Dongeng Bawah Angin, kamu menggunakan cara berpikir menggunakan diagram (alat pikir yang biasa digunakan saat merancang), apakah itu membantumu dengan efektif dalam menstrukturkan cerita?

Tentunya. Film is all about structure. Just like architecture. Terutama film panjang ya. Kalau pada film pendek strukturnya berantakan mungkin perhatian orang tak terlalu tercuri. Tapi semakin lama pemahaman akan struktur itu bisa mendarah daging sehingga desain atau film kita menjadi lebih cair dan organik, tidak lagi rigid. Makanya banyak-banyaklah mendesain.

Saat saya menonton film Cin(T)a dan Demi Ucok, saya tidak bisa melepaskan imajinasi saya dari sosok sang sutradara karena ada beberapa hal yang mirip dengan kehidupan sehari-hari. Apakah kamu selalu menciptakan film dari apa yang ada di dekatmu?

Semoga ke depannya lebih imajinatif ya seiring bertambahnya budget yang dipercayakan kepada saya. Kalau dua film itu kan memang harus memanfaatkan sekitar agar menekan biaya.

Pada tahun 2012 kamu mendirikan Kepompong Gendut sebagai wadah kreasi para pembuat film. Bisa ceritakan sedikit latar belakang dan apa yang kamu harapkan dari Kepompong Gendut itu?

Bikinnya kecelakaan. Sebenarnya saya gak pernah punya cita-cita bikinPT. Hanya ternyatamengedarkan film di Indonesia harus menggunakan badan hukum PT. Ya dibuatlah PT Kepompong Gendut. Untuk rencana selanjutnya, saya ingin terus membuat karya yang bisa membahagiakan saya. Tidak harus film.

Karena belajar arsitektur, kamu jadi bisa mengalami pertukaran pelajar dan menjelajah ke luar negeri. Karena itu pula kamu jadi tahu banyak film bagus. Setelah menekuni dunia perfilman, keuntungan apa yang paling kamu syukuri?

Jalan-jalannya lebih banyak dan manusia yang ditemui lebih beragam. Mulai penyanyi dangdut, pedagang kaki lima, PSK, dan sebagainya.

Ada pengalaman berharga dari orang yang tidak terduga?

Ada sewaktu di Jerman.Waktu itu saya ketemu orang Slovakia. Dia teman asrama saya. Namanya Monica. Waktu saya sedang bernyanyi lagunya Nelly Furtado , “I'm like a bird/I'll only fly away/I don't know where my soul is (soul is)/I don't know where my home is/And baby all I need for you to know is/I'm like a bird.”  Mendengar saya bernyanyi, tiba-tiba dia berkata,“You have to know what your roots are,” seperti itu,“otherwise you’ll fall down.”

Apa yang dia maksud tentang roots?

Asal usul. Sekarang, 10 tahun kemudian, saya merasa bahwa harus tahu asal-usul itu penting. Kamu harus tau kamu siapa. Seperti sekarang saya mulai menyelidiki, siapa ibu saya, siapa kakeknya ibu saya. Saya baru tahu kalau saya adalah generasi keempat yang tidak makan orang.

Jangan-jangan, kata-kata itu meresap ke alam bawah sadar sehingga kamu membuat film-film yang“dekat” sama kamu?

Mungkin. Karena akhirnya saya jadi berpikir, roots saya apa.

Tentang film Selamat Pagi, Malam

 

Film Selamat Pagi, Malam (sumber:kepomponggendut.com)

Dalam film ini, kamu menjadi produser dan bekerja sama dengan Lucky Kuswandi sebagai sutradaranya. Karena kalian berdua juga sutradara, bisa ceritakan bagaimana proses penggalian dan pematangan ide serta bagaimana proses kolaborasi kalian?

Ide film ini datang dari Lucky. Saya lebih banyak memfasilitasi agar ide Lucky ini bisa lahir tanpa pengusik yang mengganggu pertumbuhannya. Saya percaya 100% pada Lucky atas semua keputusan kreatif. Jadi memang sepertinya saya tidak bisa memproduseri sembarang sutradara. Harus sutradara yang bakat dan kepribadiannya benar-benar saya hormati, barulah saya bisa mengikuti keputusan kreatif dia tanpa friksi-friksi berarti.

Sebagai produser, perbedaan tantangan apa yang paling terasa dibandingkan dengan sutradara?

Saya belum pernah menjadi sutradara saja, selalu produser dan sutradara. Senangnya jadi produser saja, beban pekerjaan bisa dibagi. Pengen nyobain ke depannya jadi sutradara saja,tapi belum menemukanproduser yang cocok.

Melalui film Selamat Pagi Malam, pesan apa yang ingin kamu sampaikan pada para penonton yang sehari-hari menghadapi Jakarta?

There's beauty in the ugly.

Saat ini kamu sehari-hari tinggal di Jakarta dan pulang ke Bandung saat akhir pekan, mana kota yang paling nyaman untukmu di malam hari?

Malam hari saya tidurnya cepat, jadi gak tahu juga ya. Hahaha. Setelah Selamat Pagi, Malam rencananya saya mau pulang ke Bandung. Kota ini terlalu berisik dan mahal untuk berkarya dengan lega.

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu