Junya

Bakatnya ibarat selembar kertas, terlihat lembut dan ringkih, tapi cukup tajam untuk mengiris kulit jari.

Author
Sumber foto : www.dailytonic.com

Junya Ishigami akan datang ke Jakarta dan memberikan seminar pada acara Triennale UPH 2015: Waktu adalah Ruang, acara pameran dan rangkaian diskusi yang diadakan oleh mahasiswa Arsitektur UPH, pada tanggal 25 Juli- 8 Agustus 2015, di Gedung Tjipta Niaga, kawasan Kota Tua Jakarta. Seminar yang menghadirkan Junya Ishigami akan diadakan tanggal 8 Agustus 2015, pukul 10.00-17.00, bekerja sama dengan Anabata.

Tulisan ini dibuat oleh Avianti Armand sekitar lima tahun yang lalu, di-posting pada laman Facebooknya tanggal 3 Mei 2010.


 

Ia menolak aturan baku, ia menolak batas. Lebih gila lagi: ia menolak gravitasi. Untung ia tak cukup sinting untuk mendesain sesuatu yang tak bisa dibangun. Maka kini kita hanya bisa dengan hormat mengangkat topi dan ibu jari. Mungkin juga dengan mulut yang sedikit menganga.

Junya Ishigami. 35 tahun. Dengan rambut sebahu, jenggot kambing, dan jeans sobeknya, ia kelihatan sebagai pemuda Jepang biasa. Penampilannya memang tidak senyentrik Toyo Ito yang selalu ingin terlihat imut. Atau duet SANAA, Kazuyo Sejima dan Ryue Nishizawa, yang tak pernah absen berbaju senada. Tapi namanya disebut dengan penuh hormat sebagai ‘the next big thing in Japanese Architecture’. Seorang pengagumnya mengatakan, “Bakatnya ibarat selembar kertas, terlihat lembut dan ringkih, tapi cukup tajam untuk mengiris kulit jari.”

Mungkin kita memang harus percaya bahwa bakat memang ada. Apalagi yang seperti kertas. Di sini, di semi yang masih baru, burung-burung berceriap tanpa canggung terhadap hutan putih di latar kelabu yang terbentang dalam kehadiran yang ragu-ragu. Sakura belum berkembang penuh. Cabangnya yang hitam berselang-seling dengan batang-batang putih kurus yang menjulang setinggi lima meter. Sesekali, jika awan lewat, kita bisa melihat bayangannya pada kaca bening – yang kadang ada kadang hilang. Junya mungkin memang menghendaki begitu. Di hari yang cerah, bangunan ini terlihat sedikit ‘berteriak’. Mengejutkan, tapi ada saat-saat tertentu, di mana dia benar-benar jadi bagian dari alam. Semacam paduan dari realitas dan kejutan yang dihasilkan dari perubahan sederhana pada cuaca.

Cuaca. Topik percakapan yang sepertinya tidak penting ini buat si arsitek muda ternyata telah menjadi reservoir bagi pemikiran-pemikiran yang mendalam. Lewat bangunan ini kita bisa membaca betapa cuaca dapat menunjukkan bagaimana kompleksitas dapat muncul dari prinsip-prinsip dasar yang sederhana. Ia adalah bagian yang wajar dari kehidupan sehari-hari, namun mengandung misteri. Sebuah contoh dari keseimbangan yang dinamis dan ambiguitas.

Bangunan pertamanya ini adalah sebuah fasilitas bengkel kerja di Kanagawa Institiute of Technology (KAIT), yang dibuka Maret 2007. Sebuah bengkel kerja informal di mana para siswa terlibat dalam proyek-proyek kreatif dengan masyarakat setempat. Fasilitas ini adalah sebuah ruang yang luas dan transparan, di mana kualitas ruangnya mengingatkan kita pada hutan bambu yang tak rapat. Dari landasan kotak beton, 47 kali 46 meter persegi, yang sedikit melayang di atas alas bitumen, ‘tumbuh’ 305 kolom baja kurus-kurus, masing-masing setingi 5 meter, dengan bentuk dan orientasi yang berbeda, tersebar secara acak ke seluruh ruang. Sebentang atap baja sederhana diletakkan di atasnya. Satu selubung kaca bening mengelilinginya. Arsitektur berhenti di situ – tak ada partisi lain yang menutup atau membagi ruang. Gugusan meja dan kursi, tanaman-tanaman dalam pot, dan orang-oranglah yang menentukan ruang dan bergerak di dalamnya. Sobekan-sobekan linear pada atap memasukkan cahaya matahari ke dalam ruang, membuatnya seketika terlihat nyata, juga sureal.

Ambigu adalah kata kuncinya. Ishigami seolah ingin menciptakan sejenis ruang baru dengan garis-garis batas yang tak jelas. Karenanya ia meniadakan dinding. Tapi, berbeda dengan bangunan-bangunan modern ala Mies, bangunannya tidak kosong atau seperti tak berpenghuni. Kita masih dapat merasakan kehadiran dan adanya perubahan jarak yang terus menerus karena perbadaan kepadatan dan orientasi dari kolom-kolom.

Menghadirkan ambigu pada pengalaman ruang membutuhkan cara baru dalam menyusun elemen-elemen dari satu bangunan. Aturan-aturan geometris yang terdefinisi dengan jelas, juga hirarki konseptual, seperti grid atau diagram, secara halus akan mendominasi hubungan-hubungan ruang. Mungkin dengan alasan ini, Ishigami menolak komposisi geometris dan diagram ruang.

Ia terlihat menghindari abstraksi yang menjadi karakter dari diagram. Sebuah diagram memang memadatkan dan menyingkat informasi. Daripada menyuling informasi, ia menghadirkan semuanya. Satu sama lain akan saling bersinggungan, melahirkan abstraksi yang sama sekali baru. Berada di bangunan ini, menjadi jelas mengapa Junya Ishigami tiba-tiba muncul di percaturan arsitektur dunia.

Sedikit latar belakang mungkin akan membantu menjelaskan sosok ini. Setelah lulus, Ishigami menghabiskan 4 tahun untuk magang di Sanaa sebelum akhirnya membuka kantornya sendiri di tahun 2004. Karya-karyanya sering dilihat sebagai ekstrapolasi dari kesubtilan minimalism mentornya ke level yang ekstrim yaitu abstraksi dan ketiadaan gaya berat. Semacam ‘SANAA degree-zero’. Tapi jika diamati lebih dekat, kita bisa melihat sapuan kuat surealisme teranyam dalam karya-karyanya.

| foto: http://rea-disappearance.wikispaces.com

Seperti ‘Table’, sebuah perabot yang meletakkan Junya jadi perhatian dunia. Meja adalah satu obyek biasa dengan proporsi yang tidak biasa. Terdiri dari selembar plat baja pre-stressed sepanjang 9, 5 meter selebar 2,6 meter setebal 3 milimeter, di mana di atasnya diletakkan benda-benda dari kehidupan rumah tangga sehari-hari, 1,1 meter di atas lantai. Proporsi yang luar biasa ini menghadirkan imaji yang aneh. Lembar meja seolah satu kondisi cair yang dinamis yang memisahkan dua entitas – seperti minyak dengan air. Persepsi ketiadaan beban ini menguat jika equilibriumnya terganggu. Satu gelas anggur yang terambil akan mengakibatkan getaran yang teresonansi ke seluruh permukaan. Yang kita lihat adalah penolakan terhadap gravitasi, tapi sekaligus kepasrahan yang menakjubkan.

 

|foto : Bobby Solomon, http://thefoxisblack.com/ 

Seperti ‘Balloon’, karyanya yang lain. Balloon adalah kubus berukuran setara bangunan lima lantai, yang melayang di atrium Museum of Contemporary Art Tokyo. Terbuat dari rangka baja yang dibungkus kertas alumunium, karyanya seperti lahir dari sebuah mimpi, sebuah massa tanpa beban yang tertelan oleh refleksinya sendiri: sebuah abstraksi dengan kehadiran yang tak jelas. Lagi-lagi: ambigu.

Dua karya tersebut menunjukkan bagaimana realitas mampu melampaui hal-hal yang biasa kita cerna. Minimalisme Ishigami berakar bukan pada reduksi hal-hal hingga ke yang paling esensial, juga tidak pada penghilangan kebisingan estetika, melainkan pada ketertarikannya yang hampir scientific untuk memetakan batas-batas baru pada realitas.

Di sini, di bengkel kerja KAIT, saya benar-benar terkait. Karya Ishigami menjawab kegelisahan pada masa depan minimalism. Ia seperti seorang ilusionis dengan kemampuan menjaga keseimbangan yang halus antara realism dan surrealism, yang telah membuka pintu kejutan baru dari kubus putih yang sama. Kita cuma takkan pernah tahu, kemana pintu itu menuju.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu