Kartinstalasi: Surat, Perempuan, dan Bambu

Pesan dari lima karya instalasi bambu di Kartinstalasi 2015.

Author

21 April 2015 adalah momentum indah bagi para arsitek perempuan dari Indonesia dan India untuk berkarya di tanah perjuangan Ibu Kartini, Rembang. Melalui Kartinstalasi 2015, yang bertepatan dengan hari Kartini, lima tim arsitek perempuan merefleksikan pemikiran Kartini dengan membuat karya instalasi. Perempuan menembus ruang-ruang pikirnya, menyelami renungan sunyi dalam benaknya hingga mampu berdialog dan menghadirkan pengalaman rasa yang berbeda. Begitu pula dengan tulisan ini, hasil dari rekaman pemikiran dan perasaan para perempuan selama berkaryasurat bagi semua orang yang mau membacanya.

Lima karya instalasi itu dibangun di Desa Punjulharjo. Meskipun masuk Kecamatan Rembang, secara kultural desa ini merupakan bagian dari Peradaban Lasem. Pada periode Arkeologi Klasik, wilayah pantai Desa Punjulharjo merupakan bagian dari Pelabuhan Kaeringan, yang merupakan pelabuhan besar ketika Lasem menjadi bagian dari Majapahit. Pada 2008, di desa ini ditemukan Perahu Kuno yang sudah diteliti oleh arkeolog dan dipastikan berasal dari abad 7-8 Masehi. 

Instalasi-instalasi tersebut menggunakan bambu sebagai material utama. Bambu merupakan bagian dari kekayaan alam Indonesia dan juga bagian dari kehidupan budaya masyarakat kita. Dunia pada saat ini melihat potensi besar bambu. Indonesia dikenal sebagai negara penghasil bambu terbesar ke-3 setelah Cina dan India. Namun apalah artinya predikat itu jika sebenarnya yang terjadi adalah kita sedang “melupakan” budaya bambu itu. Ketika hidup di Jepara, Kartini mengingat kembali pusaka-pusaka warisan leluhurnya dan telah banyak melakukan pelestarian pusaka dengan berbagai macam cara. Mengangkat bambu dari belenggu material industri adalah langkah emansipasi pada masa sekarang. Di Kartinstalasi, Bambu pun menyatakan dirinya dengan tegas dan jujur, kokoh sekaligus lentur, lewat tangan-hati perempuan.

Surat dari Gladak Lipat

Gladak Lipat adalah instalasi bambu karya Yenny Gunawan, arsitek dan dosen Arsitektur di Universitas Parahyangan Bandung. Yenny datang bersama dengan rekan sesama dosen di UNPAR yaitu Irma Subagio dan dua mahasiswinya Bernadette Sudira dan Michellina Septiana. Para pembangun adalah tukang asli Punjulharjo yaitu Pak Gustam, Pak Mulyadi, Pak Sarmudan, Pak Madhar, Pak Maftuh, dan dibantu teman-teman Karang Taruna.

Bentuk instalasi Gladak Lipat ini mengadopsi bentuk dari dua objek khas yang ada di daerah Rembang, yaitu Rumah Gladak yang ada di daerah permukiman Punjulharjo, Rembang, dan geladak perahu yang merupakan peninggalan abad ke-7. Kata gladak konon berasal dari kata “geladak” kapal. Masyarakat dapat bersila atau bersimpuh, atau duduk untuk membaca, berinteraksi, berkumpul dan berdiskusi pada lengkung kursi yang menyatu dengan dinding dan atap. Bentuk segitiga atap rumah gladak digunakan sebagai dasar struktur rangka yang dapat dilipat, dipindahkan, dan diperbanyak sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya.

“Pada saat pertama kali survei lokasi, kesan saat itu adalah ini tapak yang powerful. Suatu tempat yang mempunyai daya tarik yang khas dan kuat; mulai dari permukimannya, tambak garamnya dan pantainya. Namun setelah berakhirnya pembangunan, yang kami ingat tidak hanya tempatnya, melainkan juga langit senjanya yang luar biasa indah dan warganya yang dengan tangan terbuka menerima kami semua,” ucap Yenny.

“Kami belajar dari para tukang dan Karang Taruna; mengikat, memaku, mengukur, dan memotong, diselingi dengan istirahat kopi di bawah bayang-bayang cemara dan diiringi sayup-sayup suara ombak. Dari dialog dan suasana itulah, timbul saran dan masukan, yang pada akhirnya menyebabkan perubahan-perubahan detail rancangan. Kami paham bahwa proses membangun yang penuh dengan dialog akan melahirkan arsitektur yang lebih berjiwa daripada gambar rancangan awal di atas kertas,” lanjutnya.

Surat dari Kapal Layar

Instalasi Kapal Layar adalah karya Susanti Endah Kusumaningrum, arsitek asli Rembang. Ia menempuh studi arsitektur di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang dan Universitas Diponegoro Semarang. Saat ini, ia bekerja di bagian Fisik dan Prasarana di Bappeda Kabupaten Rembang sebagai Tenaga Teknis Perencanaan Wilayah.

Instalasi bambu yang mengambil bentuk dek depan kapal layar ini menjadi bentuk yang memikat di pinggir pantai. Dek bambunya digunakan warga untuk duduk lesehan sembari makan. Instalasi ini terinspirasi dari Kapal Kuno, peninggalan yang berasal dari abad 7-8 dan merupakan bagian penting sejarah lokal Punjulharjo dan nasional karena saat ini merupakan temuan kapal kuno terutuh yang pernah ada.

“Semangat masyarakat setempat untuk mengelola potensi desanya sungguh luar biasa. Kesungguhan yang jarang ditemui di beberapa program yang dibangun di desa-desa tempat saya pernah terlibat,” ucap Susanti.

“Desa Punjulharjo pernah memenangkan sebuah lomba penataan permukiman karena greenbelt bambunya. Artinya, material bambu sudah akrab dengan keseharian masyarakat desa. Keindahan alami bambu dan kelenturannya sangat pas untuk menghadirkan nuansa alami dan konteks kelokalan. Kehadiran instalasi-instalasi bambu dari lima arsitek perempuan ini menjadi salah satu bentuk memaknai perjuangan Kartini, karya-karya perempuan yang diharapkan memberi inspirasi bagaimana memaknai sebuah kekayaaan lokal,” lanjutnya.

Surat dari Naung Kasih Kembang Cita

Paviliun bambu semi-permanen ini diberi nama Naung Kasih Kembang Cita, dibangun di tengah pemukiman warga. Instalasi ini mengangkat tema peran wanita di masyarakat sebagai perajut kasih, pengarah pendidikan, dan pembawa damai.

Tim terdiri dari 2 arsitek: Priscilla Epifania dan Rachel Febrina, yang berkolaborasi dengan Caroline Rika Winata (seniman tekstil) untuk memberdayakan potensi lokal dari wanita pembatik lokal untuk membuat Batik Punjul dan Lisa Virgiano (penggiat budaya pangan) untuk memberdayakan potensi kuliner lokal Punjulharjo. Mereka menghadirkan ekspresi anyam dan ikat Batik Punjul pada dinding instalasi, yang dibuat melalui workshop bersama warga, dan memasukkan program yang mendukung pemberdayaan warga di dalamnya.

“Desain paviliun dirancang supaya mampu mengakomodasi kondisi lokal: iklim, maupun sosial budaya, sehingga juga memiliki ruang negosiasi selama konstruksi, yang tak hanya mempertimbangkan faktor keterampilan tukang lokal, namun juga melihat peluang  partisipasi warga secara aktif.”

“Bersama ibu-ibu PKK, kami berhasil menampilkan menu-menu tradisional khas Punjulharjo dengan referensi yang disepakati: tidak adanya penggunaan plastik, air kemasan dalam gelas, bahan pengawet makanan dan penguat rasa, menggunakan bahan pangan lokal, dan menggali resep-resep lokal yang sudah hampir luput dari ingatan. Air kendi, walur dari tambak bandeng Punjulharjo, jagung lokal, garam tambak, gerang ikan, terasi, serta gula aren asli alami sudah seharusnya menjadi ciri khas pembangun identitas Punjulharjo,” ucap tim arsitek Naung Kasih Kembang Cita.

Surat dari Sirat Juwita

Para arsitek perempuan Arkom Jogja (Arsitek Komunitas) yang terdiri dari Lintang Rembulan, Mayang Joan Nayoan, Sriana Delf dan Amalia Nur Indah Sari, membuat instalasi bernama Sirat Juwita. Mereka dibantu oleh para tukang bambu dari Bangunjiwo Yogya yaitu Pak Bakir dan Pak Daliman, serta tukang asli Punjulharjo Pak Sarmudan.

Awalnya, mereka mencoba mengisi ruang di daerah pertambakan dengan memikirkan bentuk dan fungsi instalasi terlebih dahulu. Merasa tidak lengkap karena ada rasa ruang yang belum ditemukan, mereka mencoba sekali lagi mendesain tidak dari bentuk fisik melainkan dari upaya menghadirkan refleksi tentang perjalanan hidup mengenang seorang ibu dan kasihnya dalam kehidupan. Sirat Juwita yang dalam Bahasa Jawa artinya “cahaya perempuan”, merefleksi makna ibu sebagai bahasa universal seorang perempuan. Bagaimana seorang ibu, ada hingga tiada, menjadi berkas-berkas cahaya dalam relung anak-anaknya. Sirat Juwita memiliki beberapa segmen ruang yaitu instalasi suara berupa kincir atau kolecer, instalasi cerita berupa batik imajinasi karya anak-anak Punjulharjo, dan instalasi cahaya sebagai ruang refleksi.

“Keindahan adalah pancaran kebenaran. Proses berkarya dan karyanya bukan hanya milik artisan sang pemilik ide dan gagasan. Ia hadir atas perpaduan alam, warga, material, dan tangan-tangan tukang ahli bambu. Dialog dengan para tukang yang terjadi, begitu cair dan menyenangkan. Tak ada batas, kita semua berkarya bersama-sama. Tak ada yang salah ketika kita saling percaya satu sama lain. Jika kita mencari salah dan benar, pastilah kita sudah berpisah jalan. Sirat Juwita tak mungkin akan berdiri dan menemui latar langit birunya,” ucap tim Arkom Jogja.

Instalasi ini sempat roboh terkena angin dan hujan besar pada subuh hari, 22 April 2015. Seluruh tim Arkom sudah kembali ke Yogya. Saat siang, warga gotong royong untuk memberdirikan dan membetulkan beberapa sambungan yang lepas dan terjepit. Konstruksi kurva dan lingkaran bambu bisa menjadi bukti bahwa sifat bambu yang ringan,lentur dan dinamis mampu saling mengikat dan menjaga kekuatan. Sirat Juwita berhasil berdiri kembali.

“Apabila ia hanya milik sang artisan, Sirat Juwita tidak akan dibangunkan kembali oleh para pemuda Karang Taruna Desa Punjulharjo saat ia jatuh diterpa angin pesisir yang kencang. Kejadian ini menjadi indah karena menunjukkan proses membangun bersama warga adalah benar dan seharusnya dilakukan. Kami belajar, warga juga belajar bersama-sama.. Pelajaran tentang alam yang datangnya tak pernah kita duga. Alam turut berkarya serta membuat lebih banyak tangan bekerja,” kata tim Arkom Jogja.

Surat dari Elusion

Elusion merupakan instalasi karya Akshaya Narsimhan, arsitek dan seniman instalasi dari New Delhi, India. Ia menyelesaikan studi sarjananya di School of Architecture and Planning New Delhi, 2011, dan menempuh studi masternya di program Art, Space, and Nature, Edinburgh College of Art.

Elusion berarti pelarian, sebuah distraksi. Melalui Elusion, Akshaya membuat komposisi struktural di atas danau air asin di Punjulharjo. Melaluinya, ia berupaya menghadirkan ambiguitas. “Salty water glides underneath, as you step towards a vaulted deck. You read verses in Bahasa Indonesia, some familiar others vague, perhaps by Kartini? You look up, you find a cagey composition of tampah baskets; an everydayness exists here. Yes, the installation is stationary, yet transient,” kata Akshaya.

Akshaya amat menikmati proses pembuatan instalasi ini. Meskipun baru datang ke desa ini pertama kali, dua minggu sebelum pembukaan acara, Punjulharjo dalam waktu singkat mampu memberikannya intimasi dan rasa memiliki—sesuatu yang melampaui segala rasa yang mungkin didapatkan ketika mendengar kata tempatIa juga melihat proses pembuatan instalasi sebagai unsur yang signifikan. “The process of designing the installation insitu, followed by the process of the passage of empirical knowledge from Pak Mirin and Pak Sujiyo, my two bamboo godfathers and the process through which the installation is finally experienced. The process is imperative, and here is a bit of it,” ucapnya.

Surat untuk semua orang

Eko Prawoto, inisiator sekaligus kurator Kartinstalasi, mengungkapkan bahwa ia merasa begitu tersentuh dengan karya-karya yang terbangun. Lokasi yang berkarakter dan berbeda-beda untuk tiap instalasi membuat setiap artisan merespons alam dan menghasilkan karya yang spesifik. Karya-karya tersebut tidak hanya indah, melainkan juga memiliki perasaan yang sangat feminin. Budi Dharmawan, penanggung jawab acara Kartinstalasi, menambahkan bahwa karya-karya para arsitek perempuan ini bukanlah karya tangan seorang teknisi atau insinyur, namun karya yang datang dari dalam hati. Mulai hari itu, pesan-pesan perempuan bergema dari Punjulharjo menuju benak pikiran semua orang yang menerimanya.

“It’s like you put a letter in a bottle, then you throw the bottle to the ocean.

Someday, somehow, somebody will read that.

That’s a hope, the spirit of hope.”

- Eko Prawoto -



comments powered by Disqus
 

Login dahulu