Karya Pemenang Lomba Desain Rumah Kayu 2014

Rumah Intaran telah mengumumkan ketiga pemenang Lomba Desain Rumah Kayu 2014

Author

Karya Pemenang Lomba Desain Rumah Kayu 2014

Rumah Intaran, studio arsitektur yang berbasis di Bali Utara, telah mengumumkan ketiga pemenang Lomba Desain Rumah Kayu 2014. Desain dari pemenang pertama akan dibangun dengan skala 1:1 selama rentang waktu 2 bulan (Agustus-Oktober 2014).Rumah Intaran mengadakan kompetisi ini untuk memasyarakatkan ilmu pertukangan dan mengenalkan cara berarsitektur dengan menggunakan material-material bekas, terutama kayu. Kayu dipilih sebagai material utama karena sesuai dengan iklim tropis Indonesia. Material kayu juga tahan gempa dan proses pengerjaannya kaya akan keterampilan tangan
dan kerja gotong-royong.

Gede Kresna, pendiri Rumah Intaran dan penggagas kompetisi ini, mengungkapkan, “Kita tidak sedang berdebat mana yang lebih ramah lingkungan antara kayu dengan seng. Namun Rumah Intaran melalui sayembara ini dengan yakin mengatakan bahwa kayu adalah material ramah lingkungan.”

156 tim dari 31 universitas di Indonesia ikut serta dalam sayembara ini. Tim juri terdiri dari Eko Prawoto (Universitas Kristen Duta Wacana), Gede Kresna (Rumah Intaran), Ida Bagus Agung (Santrian Group Bali), Kenneth Joseph Tracy (Washington University in St. Louis).

Berikut ini adalah karya para pemenang Lomba Desain Rumah Kayu 2014.

Pemenang I: Bale Ajar

Bale Ajar merupakan ruang komunal bersama yang mengakomodasi kebutuhan manusia untuk berinteraksi dengan alam dan manusia lainnya. Bangunan ini didesain oleh Hikmatyar Abdul Aziz, Amalia Devitasari, dan Aisyah—ketiganya dari Universitas Sebelas Maret—dengan menerapkan aspek sosial dari filosofi Tri Pramana untuk menciptakan ruang interaksi sosial bagi masyarakat Desa Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali.

Pembagian ruang pada Bale Ajar terbagi menjadi tiga, yaitu ruang kreatif yang memiliki fleksibilitas fungsi, selasar untuk sirkulasi, serta ruang baca untuk edukasi anak-anak usia dini.

Eko Prawoto, salah satu juri sayembara ini, menyebutkan bahwa karya ini memiliki universalitas desain.

“Walaupun menggunakan arsitektur Bali, namun masih relevan ditempatkan di Jawa atau di manapun di seluruh Indonesia. Artinya walaupun berdasar dari konsep lokal namun bangunan ini sudah mengalami perkembangan yang dalam,” ujar Eko ketika penjurian.

 

 

Pemenang II: Wooden Resto           

Sesuai namanya, Wooden Resto merupakan rumah makan sederhana dengan memanfaatkan kayu sebagai material utama. Bangunan yang didesain oleh Sulfa Heksania, Aisya Putri, dan Risalah Putriani Mirza dari Institut Teknologi Bandung ini terdiri dari dua massa, yaitu massa utama berbentuk persegi panjang dan massa kedua berupa mezanin sebagai peralihan. Mereka menerapkan facade kisi dan jendela (void) yang dominan agar massa bangunan terkesan ringan.

Bangunan ini tersusun dari 3 macam portal: 1 portal bangunan utama dan 2 portal pada mezanin. Semua portal memiliki ciri khas yang sama yaitu terdapat skur yang panjang di kedua bagian sisinya.

Ken Tracy menilai tipe struktur portal segitiga pada karya ini menarik, namun sayangnya tidak dieskpos. Sementara Putu Mahendra yang turut datang pada penjurian menyebutkan bahwa karya ini terlalu terbuka sehingga akan tampias di mana-mana.

 

Pemenang III: Galeri Rumah Intaran

Galeri yang didesain oleh Johan Tanardi dan Jati Adhi Saksana dari Universitas Parahyanganmenggunakan filosofi Kaja (Gunung) sebagai landasan transformasi dan bentuk massanya. Tampak bangunan berupa jalusi yang berasal dari kayu bekas perahu dibuat untuk mengaburkan batas visual antara ruang dalam dan luar.

Area teras bangunan serta pohon Intaran menjadi elemen pembentuk dari instalasi yang akan dipertunjukkan pada area indoor bangunan dan berfungsi sebagai ruang aktivitas masyarakat Desa Bengkala.

Meskipun memiliki tampilan facade menarik, beberapa kritik dilontarkan oleh juri dan audiens. Ken Tracy mempertanyakan ketiadaan atap untuk menjaga kayu-kayu yang membungkus bangunannya. Sementara Putu Mahendra menyebutkan bahwa karya ini sangat tampias.

“Air tidak akan mengalir mengikuti bentuk atap Anda, air akan jatuh tegak lurus kapanpun dia memiliki kesempatan. Jadi akan banyak ruangan Anda yang basah,” ujar Putu.

 

 

Ruang Pembelajaran

Lomba Desain Rumah Kayu 2014 memperkaya khazanah lomba arsitektur yang diadakan oleh biro-biro arsitektur, yang memungkinkan kerangka acuan yang lebih terarah, ideal, dan sarat pembelajaran. Beberapa kompetisi arsitektur lain yang pernah diadakan oleh biro arsitektur adalah Urbane Fellowship Program dan Kompetisi Nasional Mahasiswa oleh Aboday. (Baca juga: liputan Kompetisi Nasional Mahasiswa: Arsitektur Rimpang)

Eko Prawoto, juri Lomba Desain Rumah Kayu 2014, menyebutkan bahwa kompetisi tersebut penting sebagai ruang pembelajaran bagi para pemuda.

“Dalam setiap krisis, orang membutuhkan harapan. Dan harapan adalah tentang orang muda. Tunas, tumbuh itu selalu yang muda. Ini sudah hukum alam, alam menyerahkan harapan pada orang muda, tinggal orang muda itu mau menerima tugas penting itu atau tidak,” ujar Eko.

Ia juga menegaskan bahwa kompetisi arsitektur menarik perhatian besar dari orang-orang, sehingga jangan sampai kompetisi ini justru mengirimkan pesan yang salah dalam bagaimana seharusnya kita memandang dan memperlakukan kayu.

 

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu