Kineforum Misbar oleh Csutoras & Liando

Ini ruang menonton film yang tak biasa bagi yang tak pernah mengalami asyiknya menonton layar tancap.

Author

Pertengahan Desember 2013, sebuah bangunan mentereng muncul di lapangan futsal Monumen Nasional, Jakarta. Sosoknya berupa balok memanjang, dengan tirai transparan setinggi 6 meter. Samar-samar terlihat rangka-rangka besi yang menopangnya.

Siapa menyangka di dalam bangunan itu terdapat fasilitas setara bioskop modern: tempat duduk bertangga, layar proyeksi profesional, proyektor digital, surround sound system, dan ruang serambi besar untuk penjualan tiket serta duduk-duduk santai. Bangunan itu, rupanya, merupakan bagian dari acara Kineforum Misbar yang diadakan selama 10-16 Desember 2013, hasil kolaborasi antara Kineforum dan biro arsitektur Csutoras & Liando. Idenya terinspirasi dari layar tancap tradisional yang kerap disebut misbar, alias gerimis bubar.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang proyek ini, saya berbincang dengan Lsazlo Csutoras, salah seorang arsiteknya.

Siapakah Anda?

Kami adalah tim yang terdiri dari sepasang suami istri. Kami memulai biro arsitektur kami sendiri setelah bekerja di Sydney dan Budapest dan kemudian, selama lima-enam tahun terakhir di London. Melissa Liando, istri saya, bekerja di Grimshaw  dan Cottrell and Vermuelen Architecture; saya bekerja di Tony Fretton Architects.

Setelah keputusan besar untuk mendirikan kantor sendiri, kami menghabiskan tahun pertama untuk bolak-balik ke tempat di mana kami memiliki ikatan keluarga: Indonesia, Australia, dan Hungaria. Tujuannya untuk menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarga dan untuk memikirkan di mana kami sebaiknya menetap. Setelah mendapatkan proyek pertama di Jakarta, sebuah proyek renovasi, kami mulai menghabiskan banyak waktu di kota ini.

Bagaimana Anda terlibat dalam proyek Misbar?

Tinggal di Jakarta, kami merasa frustasi karena hampir semua bioskop berada di pusat perbelanjaan dan mereka tidak menayangkan apapun selain film-film Hollywood. Kami mulai mencari beberapa alternatif, lalu menemukan Kineforum, satu-satunya organisasi yang menayangkan film independen dengan rutin. Kami menyukai misi mereka dan kami mulai memikirkan kemungkinan berkolaborasi. Kami menghubungi Sugar Nadia, manajer Kineforum, dan menanyakan apakah dia tertarik untuk membuat bioskop temporer di ruang terbuka, yang bisa mempromosikan film independen kepada audiens yang lebih luas. Ia sangat antusias dengan ide tersebut. Kami membuat rancangan konsepnya, yang kemudian ia tunjukkan ke beberapa orang, termasuk Ade Darmawan dan Hafiz Rancajale, Direktur Eksekutif dan Direktur Artistik Jakarta Biennale 2013. Mereka menilai proyek ini sejalan dengan tema Jakarta Biennale, yaitu “SIASAT”, dan menawarkan untuk merealisasikannya sebagai bagian dari Jakarta Biennale.

Apa TOR (Term of Reference) yang Kineforum berikan?

Tidak ada TOR perancangan. Kami hanya membuat skema yang kami pikir cocok dengan mereka. Satu-satunya hal yang kami sepakati sejak awal adalah kapasitasnya. Mereka meminta 150 tempat duduk. Itu saja, selebihnya terserah kami.

Saya melihat gambar-gambar rendering proyek ini di situs Anda. Di sana, tampak bahwa elevasi lantainya diangkat. Ini berbeda dengan realisasinya. Apa yang terjadi?

Dana yang berhasil Kineforum dapatkan tidak cukup untuk rancangan awalnya. Kami berharap bisa merealisasikannya di kesempatan berikutnya.

 

Mengapa Anda memilih untuk membuat batas dari pipa besi ketimbang membiarkannya cair tanpa batasan antara ruang luar dan ruang dalam, seperti layar tancap yang biasanya?

Dari dalam, kami ingin membuat sensasi berada di suatu ruang, sehingga struktur dan tirai dibuat untuk mendefinisikan batas spasial. Dari luar, kami ingin memberikan volume pada Misbar. Monas adalah tempat yang besar sekali, sehingga kami merasa bahwa konstruksi kami bisa saja gagal menangkap perhatian orang-orang. Fasad bangunan ini memberikan kehadirannya.

Apa intensi dari dinding semi-transparan yang dibuat dari jaring agronet? Sifat material tersebut memungkinkan orang luar untuk ikut menonton film, tetapi mereka tidak bisa menonton dengan nyaman karena sifatnya semi-transparan.

Intensi utamanya adalah untuk mendefinisikan ruang internal. Selain itu untuk menguatkan kehadiran bangunan dengan memberikan volume pada siang hari dan membiarkannya tampak seperti menyala pada malam hari. Kami memilih material semi-transparan yang berlubang-lubang karena kami ingin mengundang angin, suara, dan cahaya masuk melaluinya. Kami ingin orang-orang dari luar melihat sekilas apa yang terjadi di dalam dan, pada saat yang bersamaan, memungkinkan orang yang di dalam melihat ke dan menjadi bagian dari sekitarnya. Itu adalah bagian dari strategi kami untuk mengundang orang masuk ke dalam. Beberapa mungkin memilih untuk menonton dari luar tetapi kami pikir mereka hanyalah orang-orang yang lewat saja, berhenti untuk beberapa saat.

 

Tampaknya klem dan pipa besi yang Anda gunakan adalah sistem perancah (scaffolding) yang tidak biasa digunakan di Indonesia. Apakah mereka dipesan dan dibuat khusus untuk Misbar? Mengapa tidak menggunakan sistem perancah yang biasa ada di sini?

Sistem perancah yang kami gunakan sebetulnya sistem yang sangat umum digunakan di Eropa dan mungkin di seluruh dunia, sehingga buat kami itu adalah pilihan yang nyata. Ia  lebih fleksibel ketimbang sistem rangka yang kita biasa lihat di Indonesia dan, ternyata, tersedia juga di sini. Ia biasanya digunakan untuk platform temporer dan struktur lain di industri perminyakan dan pertambangan. Kami menghubungi salah satu perusahaan yang menjual dan menyewakan sistem perancah ini. Mereka sangat tertarik dengan proyek kami. Mereka melihatnya sebagai aplikasi unik dari produk mereka. Komponen-komponennya tidak dibuat khusus untuk Misbar. Kami menggunakan stok standar mereka. Pipa dan klem besi disewa untuk sepanjang acara saja dan sekarang mungkin sedang digunakan entah di mana.

Rancangan tempat duduk Misbar seperti dimaksudkan untuk duduk tegak. Menariknya, banyak penonton yang melakukan improvisasi, seperti duduk lesehan atau menggunakan bantalan duduk sebagai senderan. Bagaimana Anda menanggapi fenomena tersebut?

Itu sangat menarik. Ketika kami membuat rancangannya, kami menimbang berbagai opsi duduk termasuk penggunaan kursi dengan rebahan punggung, tetapi akhirnya kami memilih solusi yang paling sederhana dan paling hemat biaya, yaitu dengan memberikan bantalan pada pijakan. Untuk mengkompensasi kurangnya kenyamanan duduk, kami menjadikan lebar dudukannya 1,5 meter ketimbang mengikuti standar kebutuhan 1,2 meter, sehingga orang-orang bisa duduk dengan beragam cara, bisa meregangkan kaki tanpa takut menendang punggung orang yang ada di depannya atau duduk dengan posisi yang Anda sebutkan.

Mengapa Anda menggunakan penataan area duduk yang tatanannya tegak lurus ketimbang semi-sirkular yang dapat mengakomodasi lebih banyak orang?

Untuk kapasitas 150 orang, kami bersepakat dengan Kineforum bahwa konfigurasi tersebut adalah yang paling tepat. Jika untuk bioskop yang lebih besar, kami akan mempertimbangkan penataan semi-sirkular, tetapi untuk ukuran yang lebih kecil seperti Misbar, penataan tersebut hanya akan membuat konstruksinya lebih rumit tanpa ada keuntungan yang signifikan.

 

Apa yang membuatmu tertarik dengan fenomena layar tancap di Indonesia? Bagaimana ia menginsipirasi dan mempengaruhi rancangan Anda?

Melissa, yang tumbuh besar di Indonesia, pernah mengalami langsung misbar tradisional dan kami berdua telah beberapa kali datang ke acara bioskop terbuka sejenis di beberapa negara lain. Apa yang kami rasakan dalam berbagai pengalaman tersebut, bioskop-bioskop terbuka, tidak seperti bioskop tertutup sekarang ini, lebih terjangkau untuk semua. Bioskop-bioskop terbuka juga bukan hanya perkara menonton film, melainkan juga soal komunitas, tentang menawarkan tempat untuk bertemu, bersosialisasi sebelum dan setelah film ditayangkan. Itu sebabnya kami membuat serambi dengan kanopi berlampu, yang membuat ruang itu punya atmosfer yang memikat.

Apa tanggapan Anda tentang rencana membawa Misbar ke kota-kota lain di Indonesia?

Kami akan sangat senang jika Misbar bisa pergi ke kota-kota lain juga. Rencana itu pernah kami bicarakan juga dengan Kineforum sebelumnya.

 

 

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu