Bamboo Biennale 2016

Catatan Pameran Bamboo Biennale 2016

Author
Bamboo Biennale 2016

Pelataran barat Benteng Vastenberg Surakarta bertransformasi menjadi lokasi eksperimen tektonika dan estetika batang-batang bambu sepanjang bulan Oktober 2016 lalu. Aneka rupa shelter dan instalasi karya perancang dari berbagai daerah di Indonesia menduduki seluruh arena. Keriuhan ini merupakan kelanjutan perhelatan Bamboo Biennale dua tahun lalu yang diadakan di venue yang sama. Bamboo Biennale 2016 kali ini masih diprakarsai oleh Paulus Mintarga dari Rempah Rumah Karya dan didukung oleh Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF). Setelah sukses mengusung tema “Born” dengan simbol tunas pada pameran dua tahun lalu, kali ini Bamboo Biennale membawa semangat keberlanjutan melalui tema “Hope” sebagai sebuah awal gerakan pemberdayaan bambu yang semakin luas dengan simbol rebung. Rebung dipahami sebagai fase pertumbuhan yang merepresentasikan manfaat awal tanaman bambu bagi kehidupan manusia. Konsep ini menjadi semangat pemberdayaan bambu sebagai material kehidupan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai elemen pendukung kehidupan, mulai dari perlengkapan rumah tangga, arsitektur, serta karya seni.

 

Selain 22 karya shelter dan instalasi yang dipamerkan di pelataran Benteng Vastenberg, sejumlah karya furniture dan kriya bambu juga ditampilkan di Pasar Gede Surakarta. Event pameran didahului oleh beberapa workshop yang bertujuan menggali potensi tektonika bambu dan memahami unsur-unsur estetika bambu yang dapat diterapkan dalam desain arsitektur maupun kriya. Workshop ini diselenggarakan di tiga tempat dan memiliki program masing-masing, keseluruhan workshop berlangsung mulai tanggal 8 hingga 26 Agustus 2016. Tawangmangu dipilih menjadi lokasi workshop ketukangan karena kualitas bambu di area ini sangat baik untuk eksplorasi tektonika. Peserta terlibat dalam proses panen bambu, preservasi konvensional bambu, konservasi, serta konstruksi shelter bambu. Yoyo Budiman, Indra Setyadarma, dan Syarifah Sadiyah menjadi mentor sepanjang proses workshop di Tawangmangu. Workshop lainnya diselenggarakan di Taman Parkir Mayor Kusmanto dan menghasilkan sebuah jembatan bambu yang menghubungkan taman parkir dengan Pasar Gede. Sementara itu, di Banjarsari para peserta workshop bersama-sama merancang fasilitas taman baca yang dilatarbelakangi oleh misi menyediakan area edukasi dan meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat setempat sebagai pengelola taman baca.

 Instalasi Hasil Workshop Tawangmangu

Gambar 1: “Instalasi Hasil Workshop Tawangmangu”
Sumber: Panitia Bamboo Biennale 2016
 

Beberapa karya shelter dan instalasi yang dipamerkan sepanjang bulan Oktober berasal dari arsitek profesional nasional dan internasional serta komunitas yang diundang oleh penyelenggara, namun sebagian besar karya merupakan pilihan tim kurator yang merupakan pengajar maupun arsitek. Kurator untuk shelter dan instalasi yang dipamerkan selama Bamboo Biennale 2016 merupakan para akademisi maupun arsitek yang telah lama melakukan eksplorasi terhadap potensi bambu sebagai material berkelanjutan, mereka adalah Eko Prawoto, Andry Widyowijatnoko, Yulianto Prihatmaji, Anastasia Maurina, dan Effan Adhiwira melalui proses sayembara.

 

Menjelang akhir September 2016, artisan dan perancang tampak mulai mendirikan shelter dan instalasinya di pelataran Benteng Vastenberg. Yoka Sara dari Bali merefleksikan gelora kehidupan melalui fleksibilitas bilah bambu yang menerus dan bertingkah lentur dalam karya “Mingle”. Widhi Nugroho dan BambuBos dari Bali mengangkat pepatah Jawa tentang kehidupan yang singkat dan kaya akan pengalaman melalui fase-fase ruang dinamis dalam karya “Urip Iku Mung Mampir Ngombe”. Selain itu ada karya “Monkeyboo”, dari sekelompok mahasiswa UI berupaya menyediakan ruang interaksi anak dan orang tua pada konteks pemukiman padat. Instalasi lainnya dengan tema “Hope” diartikan oleh Jajang Agus Sonjaya dan Rony Arsyad dari Yogyakarta sebagai sebuah ambisi untuk menyampaikan pesan sustainability melalui pemanfaatan material bambu yang “kampungan” tapi juga mampu menjadi solusi material masa depan bagi dunia. Sementara itu, Tri Putra, Emilia Yustiana, dan Edrawd Bryan yang mewakili Untar merancang sebuah instalasi bambu yang interaktif di mana pengunjung dapat ikut menggerakkan beberapa bagian instalasi dengan memutar potongan batang bambu.

Mingle

Gambar 2: “Mingle”
Sumber: Panitia Bamboo Biennale 2016
 

Perayaan kelenturan bambu ditampilkan oleh tim Antonius Tan, Klara Puspa, dan Edmund Santos dalam karya shelter “Rite of Passage” atau diartikan sebagai ambang peralihan menuju kondisi yang lebih baik. Karya ini berfungsi sebagai open frame yang multifungsi dan modular untuk berbagai keperluan sepanjang pameran dengan memanfaatkan bambu utuh dan anyaman sebagai komponen arsitekturalnya. Sementara itu, Ketut Aribawa, Sora Annisa, dan Ilham Fahmi dari Bandung mengadopsi bentuk wadah jinjing dari bambu untuk membawa ayam-ayam aduan atau dikenal dengan istilah kiso. Dengan meminjam mitologi Bali di balik tradisi sabung ayam, tim perancang ingin memperkenalkan sabung ayam sebagai ritual harmonisasi antara Tuhan, alam, dan manusia melalui karya “Kiso”. Eksplorasi bambu oleh Theodorus Alvin, Sharon Julya, dan Sherly Tirza dari Universitas Parahyangan meminjam tipologi atap rumah Jawa dan menghasilkan sebuah shelter modular bertajuk “Pendopo Cilik”. Fleksibilitas bambu juga tidak lupa dimanfaatkan oleh Eky Septian dari Kalimantan Tengah untuk merancang shelternya yang berbentuk seperti topi sebagai lambang perlindungan dan dinamai “A New Dawn”.

 Rite of Passage

Gambar 3: “Rite of Passage”
Sumber: Panitia Bamboo Biennale 2016
 

Ajakan bagi manusia modern untuk menjalin rekonsiliasi dengan bumi disampaikan melalui rancangan berbagai bidang lantai pada instalasi “Pidjak Boemi” karya Micahel Sunders, William Indraputra, dan Vinson Tjioe dari Untar. Shelter lainnya dirancang oleh Raynaldo Timothy, Seulgi Yoon, dan Yudi Andrean dari UPH yang mengusung konsep form follows motion dalam instalasi “MERAK-YAT”. Karya berikutnya dirancang oleh Rifky Candra, Marselinus David, dan Fitra Imanda dari UNS dengan menghadirkan instalasi kubus “Anemuka” yang bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat awam tentang enam macam pemanfaatan bambu yang sederhana. Lain lagi dengan karya berskala monumental rancangan Eko Prawoto dan Linda Octavia berjudul “Menggapai Asa” yang tampak melekat pada dinding Benteng Vastenberg. Karya ini memang tak hanya sekedar mengeksplorasi material bambu, melainkan juga tergoda untuk membangun hubungan spasial dengan bangunan benteng yang misterius.

 Merak-yat

Gambar 4: “Merak-yat”
Sumber: Panitia Bamboo Biennale 2016
 
Menggapai Asa
Gambar 6: “Menggapai Asa”
Sumber: Panitia Bamboo Biennale 2016
 

Melalui karya “Meditation Space” berupa sekumpulan kandang burung, Budi Pradono melayangkan kritik terhadap pola hidup masyarakat kota yang dinilainya tak lagi sempurna akibat hilangnya ruang hening di tengah kesibukan sehari-hari. Instalasi lainnya yang dinamai “Bubu Banyu” juga menaruh perhatian pada isu lingkungan, terutama soal kelangkaan air. Instalasi ini dirancang oleh Arte Architects dari Bali berfungsi sebagai instalasi penangkap embun. Rancangan yang meminjam morfologi rebung ini bertujuan menyalakan harapan baru dalam menghasilkan sumber air di daerah-daerah yang sulit air. Rasa rindu untuk menghayati hal yang hilang pada konteks kehidupan modern juga direnungkan oleh Ary Indra melalui karya “Penjaga Musim Kemarau”. Instalasi yang menampilkan sosok serangga garengpung ini merupakan hasil penghayatan tim perancang terhadap suara serangga yang menjadi simbol alam datangnya musim kemarau. Kehadiran garengpung menandakan suatu habitat yang masih jauh dari polusi.

 Garangpung: Penjaga Musim Kemarau

Gambar 7: “Garangpung: Penjaga Musim Kemarau"
Sumber: Panitia Bamboo Biennale 2016
 
Bubu Banyu
Gambar 8: “Bubu Banyu"
Sumber: Panitia Bamboo Biennale 2016
 

Morfologi rebung juga dieksplorasi oleh perancang asal Bandung, Andry Widyowijatnoko dan Rakhmat Aditra, dalam karya “Tensegrity Tower” yang bertujuan melakukan eksperimen struktural dengan mengandalkan gaya tarik dari sling baja dan gaya tekan dari batang bambu, serta menggunakan prinsip radial comprehension pada sambungan. Isu sosial budaya dari perkembangan pariwisata menjadi latar belakang Akanoma merancang sebuah penginapan kecil yang dinamai “Bbulet (Bambu Ulet)”. Shelter ini terinspirasi dari Omah Kelingan di Temanggung yang mudah dan dapat dibangun dengan dana terbatas, sehingga setiap warga dapat membangun penginapan ini dan turut terlibat dalam usaha pariwisata di daerahnya. Seorang perancang asal Thailand, Mark Emery juga turut berpartisipasi melalui karya berjudul “Bambooroo” yang mengeksplorasi kekuatan struktural batang-batang bambu utuh yang saling sanggah dan menghasilkan ruang. Selain para arsitek, terdapat pula komunitas Akademi Bambu Nusantara dari Tangerang yang mengadaptasi struktur dan façade bambu untuk diterapkan pada konteks rumah di perkotaan. Olahan material bambu sebagai material konstruksi dan menjadi pengisi muka bangunan tampak diperkenalkan kepada masyarakat kota yang pada umumnya sudah menggunakan bahan-bahan industrial untuk rumah mereka. Sementara itu, dengan memanfaatkan berbagai material recycle, komunitas usaha mikro di Jakarta, Bogor, Cilacap, Yogyakarta, Karawang, dan Wonogiri di bawah koordinasi Titik Endahyani menghasilkan rancangan shelter untuk pedagang informal.

 Bambooroo

Gambar 5: “Bambooroo”
Sumber: Panitia Bamboo Biennale 2016
 

Bamboo Biennale yang kedua ini tampak lebih melibatkan berbagai pihak selain arsitek selama penyelenggaraannya. Selain itu, kesempatan untuk berpartisipasi juga terbuka bagi publik, seperti sayembara kategori instalasi, shelter, furniture, dan kriya yang digelar beberapa bulan sebelum pameran dibuka. Untuk menjangkau semakin banyak massa di Surakarta, lokasi pameran pun diperbanyak dengan mulai melirik ruang publik aktif seperti pasar dan area pinggir sungai. Hal menarik lain dari rangkaian acara Bamboo Biennale 2016 ini adalah dua acara penting pada momen pembukaan dan penutupan yang mengokohkan komitmen pelestarian dan pemberdayaan bambu.

 

Pada tanggal 8-9 Oktober 2016 telah dilaksanakan konferensi di Bank Indonesia yang berperan memberi ruang bagi pertukaran informasi dan pengetahuan tentang material bambu dan pemanfaatannya di antara berbagai profesi dan masyarakat awam untuk mengembangkan industri bambu Indonesia di masa depan. Selanjutnya, pada 27 Oktober lalu acara ditutup oleh sebuah deklarasi dari para penggiat bambu untuk membentuk Asosiasi Bambu Indonesia yang akan memperjuangkan peningkatan peran bambu dalam setiap sektor kehidupan, sekaligus memelihara kelestarian bambu di Indonesia. Event pameran raya bambu yang dikemas dalam bentuk Biennale sejak tahun 2014 ini telah menjadi sebuah gerakan berkelanjutan yang berpusat di Surakarta dalam mengagendakan dan memperkenalkan pemberdayaan bambu sebagai material masa depan kepada masyarkat nasional maupun internasional.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu