Author
Anthology Festival 2020 (sumber foto: Anthology Festival)

Berlangsung dari 7 hingga 9 Februari 2020 di Manila, Filipina, acara bertajuk “Anthology Festival 2020” merupakan festival arsitektur tahunan yang telah diadakan selama empat tahun berturut-turut. Menginjak tahun kelima, Anthology Festival 2020 diadakan di Fort Santiago yang mana merupakan salah satu tempat paling bersejarah di Filipina. Festival yang didirikan oleh William Ti, ketua WTA Architecture & Design Studio bertujuan untuk menyatukan orang-orang yang memiliki dorongan dan pengaruh mulai dari faktor keahlian, profesi, serta usia dari mancanegara demi membuat sebuah perubahan positif. Anthology Festival 2020 turut menghadirkan tujuh belas narasumber mancanegara yang andal dalam bidang arsitektur untuk berbagi dalam seminar serta talks yang diadakan selama tiga hari. Selain talks dan seminar, festival ini juga mengadakan berbagai kegiatan seperti lomba, instalasi, booth arsitektur, serta workshop yang menarik. 

Acara Shelter Dialogues dengan para narasumber

Acara Shelter Dialogues dengan para narasumber

(sumber foto: Anthology Festival)

Arsitektur Universitas Pelita Harapan angkatan 2018 berkesempatan datang ke Anthology Festival 2020 ketika berkunjung ke Manila tanggal 6 hingga 10 Februari 2020. Selama festival berlangsung, seluruh mahasiswa tampak antusias berkeliling melihat karya-karya arsitektur serta instalasi yang dipamerkan. Para mahasiswa juga memiliki kesempatan untuk duduk mendengarkan pengajaran serta talks dari narasumber dalam acara Shelter Dialogues. Shelter Dialogues adalah sebuah platform bertukar serta berbagi ide yang relevan dengan komunitas desain dan arsitektur. Tahun ini, setidaknya terdapat sembilan tema yang dibahas selama tiga hari acara festival. Sembilan tema tersebut di antaranya: Time and Motion, Technology in Architecture, Beautiful Forms, Perception and Sensibility, Millennial Drivers, The Architecture of Change, The Craft in Architecture, Human narratives, dan Future Cities. Hari pertama membahas pemikiran arsitektur serta konsep-konsep yang dapat dikembangkan. Hari kedua mengangkat tema yang lebih luas, yakni arsitektur dan hubungannya dengan berbagai bidang industri dan kota. Hari terakhir membahas serta menampilkan panel-panel yang relevan dengan seni dan praktik arsitektur itu sendiri. 

Mahasiswa Arsitektur UPH angkatan 2018

Mahasiswa Arsitektur UPH angkatan 2018

(sumber foto: Caroline Abigail)

Selama festival berlangsung, Arsitektur UPH angkatan 2018 juga diberikan sebuah booth untuk mempertunjukkan serta mempresentasikan karya-karya mahasiswa yang selama dua tahun telah belajar di bidang arsitektur. Booth ini merupakan representasi proses belajar mahasiswa angkatan 2018, di mana tidak hanya mahasiswa UPH saja yang belajar melainkan pembelajaran tersebut juga dibagi kepada para pengunjung yang berkunjung ke booth. Selama tiga hari, booth UPH Arsitektur 2018 dipenuhi kunjungan dari beberapa arsitek maupun mahasiswa asal Filipina yang tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai arsitektur di Indonesia. Beberapa di antara pengunjung booth juga mengagumi hasil portofolio mahasiswa arsitektur angkatan 2018. Seperti yang diketahui, portofolio merupakan salah satu hal penting bagi arsitek untuk mendokumentasikan karya-karya yang relevan selama proses belajar hingga menjejaki pekerjaan nantinya.

 Booth Universitas Pelita Harapan

Booth Universitas Pelita Harapan

(sumber foto: Caroline Abigail)

Selain kedua acara yang telah disebutkan, beberapa mahasiswa juga turut berpartisipasi dalam lomba Live Design. Live Design merupakan lomba desain langsung tahunan dalam acara Anthology Festival yang dilangsungkan selama tiga hari (selama festival berlangsung) dan diperuntukkan bagi mahasiswa arsitektur. Selama tiga hari, setiap tim yang berpartisipasi wajib menghasilkan sebuah board per hari yang tidak dapat diubah di hari berikutnya. Tahun ini, lomba Live Design mengambil isu mengenai bangunan Aduana. Bagaimana bangunan Aduana (yang kini telah menjadi reruntuhan) dapat diadaptasi kembali menjadi bangunan dengan fungsi atau perspektif yang baru di masa yang akan datang tanpa mengubah fasad yang sudah ada. 

Suasana Lomba Live Design

Suasana Lomba Live Design

(sumber foto: Anthology Festival)

Berlokasi di antara Kota Binondo dan Kota Intramuros, bangunan Aduana merupakan sebuah bangunan masif yang telah terbengkalai dan tidak lagi dipedulikan penduduk sekitar pada konteks urbannya. Bangunan sarat sejarah ini telah berulang kali mengalami pergantian fungsi dan pembangunannya karena bencana yang terus menimpa seperti gempa bumi dan kebakaran. Bangunan ini menempati satu blok penuh, di mana bangunan-bangunan lain dalam skala urban berdiri secara mandiri dan berdampingan satu dengan yang lain. Oleh sebab Aduana menjadi titik pertemuan dari empat jalan berbeda, bangunan ini seharusnya memberi respon terhadap empat sisi fasad bangunannya. 

Block Plan & Site Plan

Block Plan & Site Plan

(sumber gambar: Tim Live Design UPH)

Hal ini yang kemudian tim arsitektur UPH angkat sebagai masalah yang hendak dicari solusinya, yakni bagaimana bangunan Aduana yang terlihat begitu masif dan seolah-olah berdiri sendiri tanpa melihat konteksnya dapat berespons terhadap lingkungan. Akan tetapi, bagaimana jika adaptasi bangunan Aduana direspons dengan cara menjadikan Aduana sebagai konteks itu sendiri?

Site Plan

Site Plan

(sumber gambar: Tim Live Design UPH)

Norman Foster pernah menyatakan dalam TED Talk 2007, “As an architect you design for the present with an awareness of the past for a future which is essentially unknown.” Tim arsitektur UPH mendasari konsep desain dengan membiarkan bangunan reruntuhan Aduana secara apa adanya, tanpa menambah dan mengurangi. Bangunan Aduana sarat akan sejarah dan makna kota Intramuros, sehingga mengambil bagian dari existing artinya mengambil sebagian memori yang telah dibawa bersamanya dan juga membuang cerita daripada kota itu sendiri. Oleh sebab itu, kami mengusulkan penambahan material cermin pada fasad bangunan dan kaca pada bagian interior untuk mengembalikan bangunan Aduana yang utuh seperti sedia kala. Penambahan cermin pada bagian fasad yang hilang berfungsi untuk memantulkan konteks yang ada di sekitarnya sehingga Aduana dapat menjadi konteks itu sendiri.

Existing with new material mirror to restore the building and reflect the surroundings

Existing with new material mirror to restore the building and reflect the surroundings

(sumber gambar: Tim Live Design UPH)

Di sisi lain, penambahan kaca pada interior berfungsi untuk melengkapi bagian dalam bangunan dan mengembalikan Aduana ke bentuk semula tanpa merusak reruntuhan yang ada.

Existing with new material mirror to restore the building and reflect the surroundings

Existing with new material mirror to restore the building and reflect the surroundings

(sumber gambar: Tim Live Design UPH)

Kedua material ini dipilih agar pengguna dapat merasakan bangunan Aduana secara keseluruhan tanpa menghilangkan unsur sejarah dan kebaruan dari bangunan itu sendiri. Terkhusus pada lantai dua yang menggunakan kaca, hal ini dibuat supaya pengguna ruang pada lantai satu dan lantai dua saling terkoneksi dan dapat melihat aktivitas satu dengan yang lain. Hal ini seperti meleburkan dua fungsi ruang menjadi satu. 

Materiality, space, and occupants

Materiality, space, and occupants

(sumber gambar: Tim Live Design UPH)

Aduana Building with new Interpretations

Aduana Building with new Interpretations

(sumber gambar: Tim Live Design UPH)

Existing with new material mirror to restore the building and reflect the surroundings

Existing with new material mirror to restore the building and reflect the surroundings

(sumber gambar: Tim Live Design UPH)

Desain inilah yang kemudian membawa penulis dan tim menerima piala pada acara penutupan di hari terakhir. Konsep desain ini mengingatkan penulis pada ungkapan John Sawhill, “In the end, our society will be defined not only by what we create, but by what we refuse to destroy.”

Tim UPH memenangkan lomba Live Design

Tim UPH memenangkan lomba Live Design

(sumber gambar: Owen Kendro)

Akhir kata, Anthology Festival 2020 memberikan sebuah pengalaman yang berkesan dan menyenangkan bagi mahasiswa Arsitektur 2018. Instalasi, pameran, serta booth yang dihadirkan juga menarik perhatian para mahasiswa untuk melihat arsitektur dari perspektif yang baru, terutama melalui karya-karya arsitek mancanegara. Mahasiswa dapat lebih mengenal dan belajar bagaimana arsitek berkembang dalam lokasi, waktu, teknologi, dan bahkan kemungkinan perkembangan arsitektur di masa mendatang. Demikian pula Live Design Competition menjadi pengalaman yang tak terlupakan untuk berkompetisi secara internasional. Meskipun selama pelaksanaannya, para peserta menghadapi berbagai tantangan seperti penggunaan bahasa, batas waktu pengumpulan karya, serta lingkungan yang baru, tim Live Design UPH tetap mengerjakan proyeknya dengan gigih dan penuh semangat. Kenangan serta pembelajaran selama berada di Manila biarlah menjadi sebuah pengalaman serta wawasan baru yang dapat dibawa kembali ke Indonesia.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu