Manusia dan Mal

Mal mengubah manusia sebagai homo socius menjadi homo eoconomicus, menghilangkan interaksi sosial menjadi sekedar untung/rugi dalam berbelanja.

Author
(sumber ilustrasi: http://wallpaperswide.com)

Seiring dengan kapitalisme industri, arsitektur pun mengalami perubahan.[1] Agenda kepentingan ekonomi, secara spesifik, kepentingan mencari laba diam-diam menyusup ke dalam desain arsitektur. Sebelum Revolusi Industri, manusia belum membutuhkan sekaligus memikirkan perlunya bangunan baru (termasuk desain arsitekturalnya), berupa pabrik. Ketika Revolusi Industri terjadi, kebutuhan itu muncul. Di kemudian hari, kemunculan pabrik memicu munculnya kebutuhan akan areal-pasar (marketplace) modern, yaitu mal (selanjutnya, di masa gini hari, ketika Informasi & Teknologi menyatu dengan Kapitalisme, maka muncullah areal-pasar [post-]modern, yaitu situs belanja).  Hal ini memperlihatkan bahwa tuntutan ekonomi diam-diam bekerja dalam desain arsitektur, utamanya: mal!

Dari konteks yang demikian, muncul pertanyaan: jika dalam desain arsitektur menyelinap kepentingan ekonomi, lantas di manakah tepatnya kita dapat mengidentifikasi kepentingan itu terjadi? Cukup pasti jawabannya ada pada aktivitas jual-beli, transaksi ekonomi. Namun bukankah transaksi ekonomi juga terjadi di luar mal, misalnya di pasar-pasar tradisional? Jika demikian, lantas kepentingan ekonomi yang bagaimanakah yang menjadi khas di dalam mal—dan tentunya itulah yang menjadi raison d'être mal? Di sinilah kerumitan mulai tampak.

Jika kepentingan ekonomis yang mewujud konkret dalam aktivitas jual-beli yang ada di pasar-pasar tradisional dan mal, lantas apa yang membedakan aktivitas jual-beli di pasar-pasar tradisional dan mal? Terhadap pertanyaan ini, saya mengajukan jawaban: pembeda dari aktivitas jual-beli di pasar-pasar tradisional dan mal terletak pada aspek manusia yang terlibat dalam kegiatan ekonomi itu. Manusia yang terlibat dalam kegiatan ekonomi di pasar-pasar tradisional adalah manusia dalam arti homo socius; ada pun manusia yang terlibat dalam kegiatan ekonomi di mal adalah manusia dalam arti homo oeconomicus. Dengan demikian, raison d'être dari mal adalah ada-nya homo oeconomicus.

 

Kegiatan Ekonomi

Frase kunci dalam tulisan ini adalah aktivitas jual-beli. Akar dari aktivitas jual-beli (transaction) adalah pertukaran (exchange). Bertolak dari pemahaman demikian, maka kegiatan ekonomi—entah mewujud sebagai aktivitas jual-beli entah pertukaran—sama tuanya dengan manusia itu sendiri. Manusia tidak dapat mengelak dari upaya memenuhi kebutuhannya. Alasannya: ia memiliki tubuh!

Manusia memenuhi kebutuhan—dalam hal ini kebutuhan rumah tangganya; bukankah istilah ”ekonomi” dibentuk oleh dua kata ”oikos” yang berarti rumah tangga dan ”nomos” yang berarti ”hukum” (?)—dengan beragam cara. Dapat dengan cara berkebun, beternak, berburu, atau menjala ikan. Kecuali itu, manusia juga dapat bertukar hasil kerjanya—entah hasil kebun, ternak, dan lain—dengan orang lain untuk mendapatkan barang-barang yang dapat memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Di sini ada dua hal yang penting: manusia memenuhi kebutuhannya dengan cara mengolah alam sekaligus menjalin relasi dengan orang lain.[2] Alam dan orang lain menjamin manusia dapat memenuhi kebutuhan rumah tangganya—dalam kata lain, alam dan orang lain adalah sama pentingnya dengan kebutuhan yang melekat atau tertanam dalam tubuh manusia itu sendiri.

Ketika manusia hidup di dunia, ia sudah dengan sendirinya sadar bahwa ia harus memenuhi kebutuhannya dengan cara mengolah alam sekaligus menjalin relasi dengan orang lain. Dalam kata lain, manusia tidak dapat mengelak dari kegiatan ekonomi sebagai kegiatan memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Kegiatan ekonomi, dalam hal ini, dapat berarti mengolah alam dan juga menjalin relasi dengan orang lain. Kegiatan ekonomi mengolah alam dapat berupa bertani, beternak, atau berburu. Kegiatan ekonomi yang bertolak dari relasi dengan orang lain dapat berupa aktivitas pertukaran/barter atau aktivitas jual-beli yang diperantarai oleh adanya uang.

Khusus kegiatan ekonomi yang bertolak dari relasi dengan orang lain, setidaknya, secara sederhana, ada dua kemungkinan yang dapat terjadi, yaitu melalui pertukaran/barter atau melalui aktivitas jual-beli yang diperantarai oleh adanya uang. Adanya dua kemungkinan ini memperlihatkan bahwa uang bukanlah faktor konstitutif dalam kegiatan ekonomi yang bertolak dari relasi dengan orang lain. Alasannya, kecuali aktivitas jual-beli yang diperantarai uang, manusia dapat juga melakukan barter—dan secara historis telah terbukti bahwa manusia pernah melakukan kegiatan ekonomi berupa barter demi memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Pertanyaannya kemudian: bagaimana barter itu terjadi? Tentunya ketika ada dua pihak yang saling membutuhkan bertemu. Ini adalah faktor konstitutif, faktor yang menentukan. Lantas, setelah kedua belah pihak barter, apakah mereka langsung pulang ke rumah masing-masing? Saya pikir tidak. Pada awalnya, dalam imajinasi saya,[3] barter adalah peristiwa yang kebetulan (contingency). Sekiranya saya terlibat dalam barter, maka hal-hal demikian akan saya lakukan. Jika tempat terjadinya barter dekat dengan tempat tinggal saya, saya akan mengajak orang tersebut untuk mampir dan melepaskan lelah di rumah saya. Barangkali saja ia telah menempuh perjalanan jauh dan membutuhkan tempat istirahat sejenak—dan saya tidak perlu ragu memberi pesanggarahan saya sebagai tempat istirah; bukankah dengan melakukan barter saya juga telah percaya kepada dia bahwa ia tidak akan berbuat jahat atau menipu saya? Lalu saya juga akan bertanya di mana ia tinggal, apa-apa saja barang-barang yang dibutuhkannya, dan membuat janji pertemuan berikutnya, katakanlah setiap bulan Agustus kami akan bertemu di tempat tertentu. Dalam situasi imajinatif ini, pokok perhatian saya tidak semata-mata kepada benda yang saya butuhkan dari orang itu, melainkan lebih dari itu: saya peduli pada orang itu. Saya perlu mengetahui namanya, tinggalnya, kebutuhannya, keluarganya, kesulitan-kesulitan yang dialaminya. Segala interaksi antara saya dan dia di dalam rumah saya itu adalah perwujudan konkret dari apa yang diistilahkan kemudian sebagai relasi sosial.

 

Homo Eoconomicus[4]

Dalam perjalanan sejarah manusia, Revolusi Industri mengubah manusia memahami dunia dan dirinya sendiri. Aktivitas produksi yang dahulu hanya dapat dilakukan demi memenuhi kebutuhan rumah tangga mengalami perubahan menjadi massal—dalam arti, tidak hanya memenuhi kebutuhan rumah tangga, melainkan memenuhi kebutuhan kota, negara, hingga global. Implikasinya, orientasi produksi mengalami perubahan: dari yang sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi penumpukan modal atau komoditi. Hal ini tentu saja dimungkinkan oleh adanya uang; uang memungkinkan (1) aktivitas barter beralih menjadi aktivitas jual-beli yang lebih efisien—karena transaksi ekonomi tidak mensyaratkan kedua belah pihak memiliki komoditi yang dikehendaki oleh pihak lainnya, melainkan hanya mensyaratkan salah satu pihak memiliki uang dan pihak lainnya memiliki komoditi yang hendak dibeli—dan (2) memungkinkan proses akumulasi modal—terhadap uang ini, filsuf John Locke sudah menyatakan pendapatnya bahwa uang adalah sumber keserakahan manusia. Demikianlah kapitalisme merasuk dalam sejarah peradaban manusia—dan ”menjadi kaya itu baik” (jika memang slogan ini memang ada dan dapat diterima) adalah orientasi etis yang sahih.   

Dalam tilikan filsuf Karl Polanyi, secara mendasar, kapitalisme atau sistem pasar bebas yang mengidealkan pasar swa-tata (self-regulated market)—yang mengalami peradikalan menjadi fundamentalisme pasar yang berarti penataan seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari sosial, politik, hingga religius, hanya semata-mata berdasarkan hukum pasar, yaitu harga yang ditentukan oleh adanya mekanisme permintaan dan penawaran—mengubah pola relasi antar-manusia yang mewujud dalam aktivitas jual-beli.

Karena kegiatan ekonomi adalah hal yang mendasar dalam kehidupan manusia, maka dalam masa pra-kapitalisme juga manusia melakukan kegiatan ekonomi. Namun wujud konkret dari kegiatan ekonomi itu adalah aktivitas pertukaran/barter, yang tidak adalah adalah aktivitas sosial. Artinya, aktivitas  ekonomi sebagai upaya memenuhi kebutuhan rumah tangga “tertanam” (embbeded) dalam aktivitas sosial; relasi ekonomi berakar pada relasi sosial. Dengan demikian, kegiatan ekonomi bukan semata-mata demi memenuhi kebutuhan ekonomi, namun adalah modus mengada manusia yang utama, yang melaluinya manusia mengaktualisasikan diri sepenuhnya sekaligus memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Artinya, jika kebutuhan ekonomi terpenuhi, maka kebutuhan sosial pun terpenuhi. Ketika saya sudah mendapatkan barang yang saya butuhkan dari orang lain melalui barter, maka hal berikutnya yang terjadi adalah saya mengajak orang lain itu ke rumah saya untuk berteduh dan bertukar cerita.

Setelah kapitalisme muncul, kegiatan ekonomi yang awalnya barter beralih menjadi aktivitas jual-beli yang diperantarai oleh adanya uang. Pada tahapan ini, aktivitas jual-beli bukan lagi sebagai aktivitas sosial, melainkan semata-mata aktivitas ekonomi yang sudah tercerabut (disembbeded) dari aktivitas sosial. Dengan demikian, terpenuhinya kebutuhan ekonomi tidak berarti telah terpenuhinya kebutuhan sosial; relasi ekonomi telah tercabut dari relasi sosial. Bukankah sewaktu kita berbelanja di mal, kita hanya peduli pada komoditi yang kita hasrati. Barangkali juga demikian adanya dengan pramuniaga juga kasir yang berjaga di mana mereka tidak peduli siapa Anda; mereka hanya peduli Anda berniat dan mampu membeli, lalu dengan sedikit keramahan mereka menawarkan produk-produk tertentu yang sudah mendapat potongan harga.

Adanya perbedaan pola interaksi dan interelasi dalam masyarakat pra-kapitalisme dan kapitalisme, secara antropologi filosofis, mengisyaratkan adanya perbedaan konseptual dari pelaku-pelaku yang terlibat dalam relasi tersebut. Mengadaptasi paparan Prastowo[5], pelaku aktivitas jual-beli di masa pra-kapitalisme adalah manusia sebagai homo socius; manusia sebagai mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial, kodrat manusia adalah menjalin relasi dengan sesama, yang melalui relasi itulah manusia memenuhi kebutuhan hidupnya dan pemenuhan itu tidak semata-mata ditentukan oleh motif ekonomi.[6] Pada masa kapitalisme, pelaku aktivitas jual-beli adalah manusia sebagai homo eoconimus; manusia sebagai mahluk ekonomi. Kodrat dari manusia sebagai mahluk ekonomis adalah berdagang atau jual-beli dan kalkulasi matematis akan untung/rugi menjadi dasar bagi aktivitas tersebut—sebagai mahluk ekonomis, tindakan manusia semata-mata dilakukan berdasarkan pertimbangan untung/rugi. Dari sudut pandang Polanyi, kita sadar horor kapitalisme terletak pada pengingkaran kodrat manusia sebagai mahluk sosial dengan cara mengidentifikasi kodrat manusia sebagai mahluk ekonomis.

 

(sumber ilustrasi: http://commons.wikimedia.org)

Mal dan Homo Eoconomicus

Mal dan pabrik adalah gejala khas kapitalisme. Secara historis, kemunculan mal tidak dapat dipisahkan dari kemunculan pabrik. Kamus Oxford mencatat bahwa istilah ’mal’ dalam pengertian tempat belanja yang luas dan tertutup mulai dipergunakan sejak 1960-an.

Di masa pra-kapitalisme[7], manusia belum mengenal bangunan pabrik sebagaimana industri yang kita kenal pada masa sekarang, apa lagi mal. Meski demikian, entah pada masa pra-kapitalisme atau masa kapitalisme, perabadan manusia sudah mengenal istilah areal-pasar (marketplace) sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli.[8]Mal adalah salah satu jenis areal-pasar; areal-pasar lainnya yang berada dalam posisi oposisional dengan mal adalah pasar-pasar tradisional. Mal adalah representasi areal-pasar pada masa kapitalisme; ada pun pasar-pasar tradisional adalah representasi dari areal-pasar pada masa para-kapitalisme, yang juga masih ada juga di masa kapitalisme.

Jika di masa lalu kita belum mengenal mal dan di masa kini kita mengenal mal, maka tentulah ada raison d'être dari keberadaan mal itu sendiri. Dari sudut aktivitas yang berlangsung di dalam mal, sesungguhnya kita pun dapat menemukan aktivitas yang sama di pasar tradisional. Kalau begitu, raison d'être dari keberadaan mal bukanlah aktivitas jual-beli; sebagai aktivitas jual-beli juga dapat ditemukan di pasar tradisional. Di sinilah pemikiran Polanyi menjadi relevan untuk mengidentifikasi raison d'être dari mal dan pasar tradisional.

Raison d'être dari mal dan pasar tradisional adalah status ontologis dari pelaku aktivitas jual-beli. Status ontologis manusia di mal adalah homo eoconomicus. Artinya, kodrat manusia sebagai mahluk ekonomis itulah yang menentukan keberadaan mal. Ada pun status ontologis manusia di pasar tradisional adalah homo socius, yang berarti: kodrat manusia sebagai mahluk ekonomis itulah yang menentukan keberadaan pasar tradisional.

 

Arsitektur Tanpa Rasa Sakit

Arsitektur adalah semata instrumen, sarana. Kurang lebih demikianlah Colin Wilson menyimpulkan esensi arsitektur.[9] Arsitektur menjadi berharga sekaligus bermakna ketika arsitektur hadir sebagai instrumen atau sarana (means) demi mencapai tujuan (ends) tertentu. Maka, secara tak terelakkan, di masa kapitalisme arsitektur ditempatkan untuk menghamba pada kepentingan ekonomi, yaitu mengoptimalkan laba.

Lantas bagaimana arsitektur mencapai tujuan tersebut? Menurut saya, tentu pandangan homo eoconomicus yang menjadi raison d'être bagi keberadaan mal memandu arsitek dalam mendesain mal. Karakteristik atau sifat mendasar dari homo eoconomicus adalah segala tindakannya semata-mata ditujukan untuk menghindari rasa sakit (atau kelaparan) dan mendapatkan kenikmatan. Inilah logika utilitarian atau kalkulasi matematis akan untung/rugi.

Arsitektur mal adalah arsitektur tanpa rasa sakit. Arsitektur mal senantiasa mengupayakan kenyamanan dan kenyamanan dapat diidentikkan dengan kenikmatan. Kenyamanan di mal bahkan sudah mulai dihadirkan dari tampilan visual facade mal, lalu ketersediaan tempat parkir; kemudian di pintu masuk, pengunjung sudah mulai merasakan adanya perbedaan antara cuaca yang panas (jika saat itu musim kemarau) di halaman mal dan cuaca yang sejuk di pintu mal; di dalam mal, pengunjung diperhadapkan pada keleluasaan bergerak, di sudut-sudut tertentu disediakan tempat beristirahat yang tidak banyak (karena memang orientasinya adalah mengoptimalisasi laba dari para penyewa toko yang ada di dalamnya);  dan lainnya.

 

Penutup

Di dalam mal, tanpa sadar, setiap orang menjadi homo eoconomicus. Orientasi utama dari berdirinya mal adalah penyediaan ruang luas yang ditujukan demi mengisolasi transaksi ekonomi dalam skala besar. Demikianlah, mal pun menjadi sarana eksibisi beragam komoditi, yang tentunya sudah dilengkapi label harga yang berimplikasi pada peniadaan proses tawar-menawar, suatu aktivitas yang wajar terjadi dan ditemukan di pasar-pasar tradisional; di pasar tradisional, proses tawar-menawar berlangsung dalam suasana yang tidak nyaman; entah karena orang yang berdesakan atau karena gerah kepanasan. Diam-diam, ketika proses tawar-menawar hilang, setiap orang yang melakukan aktivitas jual-beli beralih dari homo socius menjadi homo eoconomicus. Bukankah kita tidak pernah mengenali (atau bahkan mencatat nama) kasir atau pramuniaga yang melayani kita? Bukankah, dalam aktivitas jual-beli di mal, kita lebih mudah mengingat berapa besar diskon yang diberikan atau komoditi itu punya brand atau tidak?

Dalam situasi demikian, tentunya setiap pribadi, termasuk saya, dihadapkan pada pilihan untuk bertanya: apakah kondisi pada masa sekarang, dengan kehadiran mal, menjadi kehidupan lebih baik? Dalam pertanyaan yang lebih lugas: apakah manusia adalah homo socius atau homo eoconomicus?

 


[1] Habermas, Jürgen, "The Challenge of the Nineteenth Century To Architecture" dalam Rethinking Architecture: Reader in Cultural Theory (ed.) Neil Leach, London: Routledge, 1997, p.216-18

[2] Prastowo, Justinus, Ekonomi Insani: Kritik Polanyi terhadap Sistem Pasar Bebas, Tangerang: Marjin Kiri, 2014, h. 40

[3] Catatan: situasi imajinatif ini merupakan metode saya demi menyederhanakan persoalan. Tentunya saya sadar bahwa proses terjadinya barter itu adalah sesuatu yang kompleks. Ada proses sosial yang kompleks yang memungkinkan terjadinya interaksi antara kedua belah pihak. Proses sosial itu menyertai kedua belah pihak, mulai dari rumah mereka masing-masing hingga ke tempat pertemuan—yang awalnya terjadi secara tak terduga dan seiring dengan perjalanan waktu, pertemuan yang tak terduga serta tempat terjadinya pertemuan tak terduga itu terlembaga menjadi pasar.

[4] Gagasan utama dalam tulisan ini bertolak dari pemikiran Karl Polanyi sebagaimana yang diuraikan Prastowo. Lebih lanjut silakan baca: Prastowo, Justinus, Ekonomi Insani: Kritik Polanyi terhadap Sistem Pasar Bebas, Tangerang: Marjin Kiri, 2014.

[5] Prastowo, Justinus, Ekonomi Insani: Kritik Polanyi terhadap Sistem Pasar Bebas, Tangerang: Marjin Kiri, 2014.

[6] Ibid., h. 156

[7] Dalam tulisan ini, istilah ‘pra-kapitalisme’ mengacu kepada kegiatan ekonomi barter.

[8] Istilah pasar (market) mengacu kepada aktivitas belanja, aktivitas jual-beli, aktivitas penawaran-permintaan; ada pun istilah areal-pasar (marketplace) mengacu kepada ruang fisikal, juga virtual, tempat bertemunya penjual dan pembeli.  

[9] Wilson, Colin St. John, Architectural Reflections: Studies in the philosophy and practice of architecture, Oxford: Butterworth-Heinemann Ltd., 1992, h. ix



comments powered by Disqus
 

Login dahulu