Masih Relevankah Gambar Tangan?

Semakin banyak perangkat gambar digital, semakin pertanyaan klasik ini aktual.

Author

Pada 11 April 2015, Archdaily menerbitkan artikel bertajuk Hand vs. Computer Drawing: A Student’s Opinion. Artikel itu memperdebatkan relevansi menggambar tangan pada konteks praktik arsitektur masa sekarang. 

Pertanyaan itu sebetulnya sudah mengganggu saya saat mendengar kuliah David Hutama berjudul “Understanding Tools of Design and Production in Architecture”di OMAH, 6 Desember 2014. Ketika itu, ia menjelaskan mengenai perkembangan perangkat yang dipakai oleh arsitek dan bagaimana hal tersebut berpengaruh pada peran arsitek sampai sekarang. Salah satu poinnya adalah bahwa semenjak adanya spesialisasi industri dan seiring berjalannya waktu, profesi arsitek semakin dinilai berdasarkan informasi pada gambar yang ia buat. Gambar kerja yang presisi lebih dihargai daripada gambar sketsa. Dan dalam hiruk-pikuk kemajuan teknologi dan pembangunan, relevansi gambar tangan semakin memudar. Tapi ini tidak menghentikan banyaknya arsitek senior menyuarakan pentingnya gambar tangan. Lantas apakah menggambar adalah hal mendasar dalam berarsitektur: ia arsitek maka ia menggambar? Apabila ia lalu tidak menggambar, apakah ia bukan arsitek?

Pertanyaan itu menggugah saya juga ketika memikirkan pekerjaan arsitektural yang sekarang ini bisa dilakukan dengan perangkat digital. Malah dengan perangkat digital, kita bisa menghasilkan bentuk-bentuk arsitektur yang sebelumnya tak terbayangkan. Bentuk-bentuk parametrik, misalnya, atau arsitektur “blob” dengan plastisitasnya. Belum lagi menimbang teknologi BIM (Building Information Modelling) yang bisa menghasilkan informasi spesifik untuk setiap keperluan pembacanya. Gambar-gambar dari perangkat digital ini yang kini kita konsumsi sehari-hari melalui media-media arsitektur. Maka terbesit dalam pikiran saya: apabila fenomena ini adalah sebuah bentuk kemajuan zaman, mengapa kita harus menggambar tangan lagi?

Untuk menjawab pertanyaan ini saya melakukan sebuah riset kecil tentang menggambar. 

Peran gambar #1: sebagai impuls

 

The Inferno Canto 10, Gustave Dore

Lebbeus Woods, arsitek Amerika Serikat yang terkenal karena gambar-gambarnya, pernah menulis mengenai alasannya menjadi arsitek. Ketika ia muda, ia sangat tertarik dengan ilustrasi Gustave Dore pada buku The Divine Comedy oleh Dante Alighieri. Ia kagum pada bagaimana sang ilustrator bisa menghasilkan efek cahaya yang begitu kompleks dan sublim. Ia pun mencobanya sendiri. Ia menyalin gambar-gambar yang lebih sederhana dan mencari cara untuk memproduksi ekspresi cahaya seperti yang ia kagumi itu.

Gambar, menurutnya, dengan segala keterbatasannya dalam menghasilkan cahaya seindah aslinya, membuatnya merasakan cahaya dengan cara yang sangat berbeda. Perasaan yang sama ia alami pada saat ia mempelajari gambar teknik di sekolahnya. Menggunakan jangka, penggaris segitiga dan busur, ia merasa presisi geometri sungguh bisa dicapai oleh siapapun yang mau menggunakan alat-alat tersebut dan ia bisa menghasilkan tatanan dari dunia asli yang organik dan berantakan. Dengan gambar teknik tersebut, Lebbeus Woods ingin menciptakan pengalaman ruang layaknya cahaya yang berbeda dari yang ditemuinya di dunia asli.

Pada cerita lain, di buku Mastery oleh Robert Greene, diceritakan mengenai bagaimana Santiago Calatrava memutuskan untuk menjadi arsitek. Ketika muda, Calatrava mempunyai hobi menggambar. Suatu hari ketika menggambar di tamannya, ia sadar bahwa bayangan yang ia lihat terus bergerak. Ia menemukan paradoks bahwa yang ia lihat di dunia ini semuanya dalam pergerakan, atau perubahan. Namun yang ia gambar tidak dapat menggambarkan itu. Bagaimana ia bisa menggambarkan pergerakan itu pada media yang statis seperti gambar? Ia lalu menemukan sebuah buku tentang Le Corbusier dan terpana melihat gambar-gambarnya. Ia terpana karena melihat objek-objek yang dibuat Le Corbusier sedemikian rupa sehingga terlihat dinamis dan bergerak.

Kalau Calatrava tidak suka menggambar, mungkin ia hanya melihat satu pemandangan yang indah ketika melihat tamannya, mengaguminya, lalu selesai. Namun, penemuan dan apresiasinya terhadap sesuatu yang lebih besar dari pemandangan indah tersebut muncul karena ia mencoba menggambar pemandangan itu. Dengan pandangan mata seorang penggambar, ia menyadari paradoks gerakan tersebut yang kemudian ia cari dan kembangkan dalam arsitekturnya. Sensitivitasnya sebagai penggambar membuatnya menemukan apa yang menjadi intensinya dalam berarsitektur: menghasilkan kualitas pergerakan.

Kesukaan Lebbeus Woods pada arsitektur juga muncul dari gambar. Pertama ia tertarik pada kualitas cahaya dan geometri yang surreal pada gambar. Bagi Woods, gambar adalah tempatnya berarsitektur. Ia mengaku menjadi arsitek ketika ia mulai menggambarkan apa yang ia pikirkan tentang arsitektur dalam gambar-gambarnya, berdasarkan kekagumannya yang lama tentang cahaya dan arsitektur. Seperti halnya Calatrava dengan penemuan paradoksnya, Lebbeus Woods menemukan intensinya dalam berarsitektur melalui menggambar.

Sketsa Grand Tour oleh H.P. Berlage

Peran gambar #2: sebagai fanatisme

Saya menyebutkan kisah-kisah berikut sebagai fanatisme karena para tokohnya memilih untuk berpihak pada cara “lama” di tengah kemungkinan-kemungkinan yang disediakan teknologi baru.

Kisah tentang fanatisme menggambar yang saya temukan justru bukan dari seorang arsitek. John Ruskin, seorang patron seni dari Inggris yang hidup pada saat terbitnya fotografi, sangat membenci teknologi tersebut sehingga ia mendedikasikan beberapa tahun hidupnya mempromosikan seni menggambar. Dia mengatakan bahwa menggambar mengajari orang untuk melihat, melatih kita melihat detail yang tidak dapat kita sadari jika kita hanya melepaskan pandangan tanpa benar-benar memperhatikan. Ini, menurutnya, sulit didapatkan lewat foto. Ia berpendapat, ketika kita bergantung pada kamera kita menjadi tidak terlatih dalam mengamati apa yang ingin kita tangkap.

Ruskin menunjukkan kritiknya terhadap kamera bukan untuk arsitek, melainkan untuk turis-turis yang pada perjalanannya mengandalkan kamera. Mungkin Ruskin berbicara tentang para pemuda Eropa abad ke-19 yang pada saat itu marak melakukan Grand Tour keliling Eropa. Para arsitek muda pada masa itu (salah satunya yang masih bisa diakses hasil catatannya adalah Henrik Petrus Berlage) yang melakukan Grand Tour mempelajari bangunan-bangunan penting dan memproduksi berbagai macam gambar sketsa sebagai rekaman perjalanannya.

Pada 1960, arsitek Michael Graves juga melakukan Grand Tour-nya sendiri. Sebagai pemenang Prix de Rome, Graves melakukan perjalanan dari Italia, Yunani, Turki, Spanyol, Inggris, Jerman, dan Spanyol, dan merekamnya, seperti peserta Grand Tour umumnya, dalam gambar. Sekarang, dengan beberapa bangunan pencakar langit dibangun atas namanya, Graves masih mengakui pentingnya gambar untuk arsitek. Dalam artikel "Architecture and the Lost Art of Drawing" di New York Times, ia menyebutkan bahwa arsitektur tidak bisa terpisah dari gambar tangan, bagaimanapun canggihnya teknologi yang dipakai.

Menurutnya gambar bukan hanya produk akhir, namun juga proses dan pemikiran dalam merancang. Ia mengakui menggunakan gambar sebagai perangkatnya untuk mengingat atau mempelajari sesuatu (ide). Pada akhirnya, Graves mengatakan bahwa pada esensinya sketsa mengandung intonasi, bekas-bekas intensi, dan spekulasi yang masih dibiarkan terbuka. Menurutnya, ini berbeda dengan presisi yang ada pada gambar komputer, yang tidak memberikan ruang cukup untuk spekulasi.

Gambar pada Konteks Sekarang

Sekarang, gambar, baik digital ataupun analog, telah menjadi perangkat utama arsitek. Gambar arsitek adalah manual untuk menghasilkan arsitektur yang terbangun, dan hanya itulah yang penting dalam berarsitektur, bukan?

Adegan awal pada film 2001: Space Oddyssey

Pada kuliahnya, David Hutama menunjukkan gambar awal film 2001: Space Odyssey, adegan saat kemanusiaan menemukan perangkat pertamanya. Ini adalah alat-alat primitif yang pertama dipakai oleh manusiatulang belulang dan batu tajam. Sekarang alat-alat yang kita pakai sudah berevolusi menjadi mesin dan robot, dan kita semakin bergantung pada alat-alat tersebut. Pada titik ekstrimnya, seperti pada cerita film 2001: Space Odyssey, manusia semakin dikontrol oleh mesin yang semakin pintar karena ketergantungan tersebut. Dari gambar ini kita bisa mempertanyakan: apakah perangkat yang telah kita buat ini, perangkat yang mengutamakan presisi informasi gambar, telah menguasai kita? Apakah kita menjadi terlalu sibuk menghasilkan informasi dengan gambar kita sehingga kita melupakan “kemanusiaan” kita dalam berarsitektur? 

Lantas apakah resolusi untuk ketakutan ini? Pada kuliahnya, David menyebutkan BIM sebagai alat yang bisa membantu kita. Menurutnya, BIM yang secara parametrik menghasilkan gambar kerja untuk kita bisa membuat arsitek lebih leluasa mengeksplorasi dan menguji ide, meminimalkan usaha arsitek membuat gambar kerja dan mengembalikan peran arsitek sebagai “master builder” dan bukan “drafter”. Namun, BIM adalah perangkat yang kita gunakan untuk melawan “perangkat” arsitektur yang telah kita buat sendiri. BIM dibuat untuk membantu arsitek dalam melawan rumitnya sistem gambar kerja bangunan yang dalam konteks sekarang semakin terasa berat (sedikit banyak karena kecepatan, skala dan jumlah proyek yang bertambah banyak). Dengan alat baru ini arsitek ditanggalkan dari pekerjaan drafting, sehingga yang tertinggal adalah ide atau intensinya dalam berarsitektur.

Lebbeus Woods dan Santiago Calatrava menemukan intensinya dalam berarsitektur dengan menggambar. Michael Graves, di sisi lain, menemukan gambar sebagai perangkat desain untuk merekam intensi pembuatnya di dalam gambar tersebut. Gambar dan sketsa memungkinkan koordinasi antara mata, otak, dan tangan kita, yang mungkin membuatnya menjadi perangkat terdekat dalam mewujudkan intensi kita. Ketika perangkat-perangkat digital yang tersedia untuk membantu kita kini begitu banyak, kita mudah terjebak untuk terus menanyakan "apa yang bisa dilakukan perangkat ini?" alih-alih memikirkan hal yang lebih mendasar, yaitu soal "apa intensi kita? Untuk hal ini, menggambar bisa membantu kita untuk tidak melupakan intensi kita.

Intensi menjadi penting di sini. "Bagi orang yang memiliki palu, semua masalah adalah paku", begitulah kata-kata Abraham Kaplan, seorang filsuf Amerika. Artinya kita akan cenderung menyerang masalah sesuai perangkat yang kita punya, bahkan ketika solusinya menjadi tidak tepat. Pada sisi lain, apabila kita mengandalkan intensi kita dengan menggambar, kita akan bekerja di antara perangkat dengan lebih baik, bahkan kita bisa "membuat" komputer-komputer tersebut bekerja sama untuk kita.

Saya akan mengakhiri tulisan ini dengan kata-kata dari Frank Gehry, arsitek yang merupakan teman dari teknologi digital dan penggambar setia: “Bilbao terlihat seperti gambar saya; ketika saya melihatnya, saya tidak percaya.”

 

 Sketsa Frank Gehry dan Foto bangunan Walt Disney Concert Hall, LA

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu