Massimiliano Fuksas

Performa arsitektur dalam skala kota dan manusia

Author
Fuksas dengan latar belakang karyanya, Admirant Entrance Building (2010)

Setelah moderator Alvar Mensana (dosen arsitektur Universitas Pelita Harapan) membacakan sederet prestasi yang dimiliki oleh Massimiliano Fuksas, pria bertubuh tegap itu naik ke atas panggung, menjabat tangannya dan dengan ramah menyentuh pipinya sebagai tanda keramahan bagi orang Italia, tempat ia lahir 73 tahun lalu. Sesampainya di mimbar ia melepas jas hitamnya seolah ingin melepaskan formalitas. Dengan senyum yang bersahabat ia membuka presentasi pagi itu dengan sebuah optimisme: kreativitas dan komunitas akan menyelamatkan sebuah kota di masa depan.

Pada hari Kamis (30/11/2017), Fuksas yang merupakan arsitek pendiri Studio Fuksas hadir di Balai Sarbini, Jakarta untuk berbicara pada seminar berjudul Human Scale vs Urban Scale. Seminar ini merupakan seminar ketiga dari seri seminar Transforming Lives Human & Cities yang sebelumnya telah mengundang Winy Maas (MVRDV) dan Ame Engelheart (SOM Hongkong). Seminar kali ini digagas oleh tiga jurusan arsitektur dari Universitas Pelita Harapan, Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung serta bekerja sama dengan Kedutaan Besar Italia.

Human Scale vs Urban Scale mengangkat isu bagaimana seharusnya hubungan yang baik antara manusia sebagai pengguna kota dan arsitektur sebagai wadah dari aktivitas tersebut. Seminar ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama oleh Fuksas dan sesi kedua oleh Prof. Gunawan Tjahjono dan Prof. Moch Danisworo. Pada sesi pertama Fuksas menjawab persoalan tersebut melalui 20 karya arsitekturnya.

Arsitektur sebagai seni di ruang publik

Sebelum lulus dari jurusan arsitektur University of Rome “La Sapienza” di tahun 1969, Fuksas ingin menjadi seorang seniman. Walaupun impiannya tak terjadi, ia tetap bersyukur, “Tapi saya adalah orang beruntung yang tetap dapat bergaul dengan para seniman dan penyair, membicarakan tentang kebudayaan dan hal-hal lain yang dapat mengubah dunia menjadi lebih baik,” ucap Fuksas. Jiwa seni yang ada di dalam dirinya kini tersalurkan melalui arsitektur dengan menghadirkan bentuk-bentuk sculptural. Salah satu karyanya Graffiti Museum (1993) di kota Niaux, Prancis menunjukkan kecenderungannya tersebut. Berbentuk seperti sebuah dermaga dengan tiga bidang vertikal besar dengan material corten steel, Fuksas menghadirkan bentuk yang seolah keluar dari mulut goa. Karya ini merupakan gerbang dan area penerima dari goa prahistoris dengan lukisan purba dari era Magdalenian (11.000 SM). Dengan bentuk dan material tersebut, Fuksas ingin menghadirkan sosok yang mirip dengan penemuan arkeologis, sesuai dengan konteks tempatnya.

 

 

Graffiti Museum (Sumber: Fuksas.it)

Kecenderungan menciptakan karya yang sculptural itu tercermin pada karya-karyanya yang lain dengan ciri: pertama, bentuk tegas tanpa ada ornamen dan memperlihatkan struktur yang kompleks. MyZeil Shopping Mall (2009), Frankfurt, Jerman adalah salah satu contohnya. Di tengah fasad bangunan yang lurus, Fuksas menciptakan lubang yang menembus sampai ke bagian dalam bangunan. Bentuk seperti ini membutuhkan perhitungan yang berbeda untuk setiap rangka pemegang kaca.

 

 MyZeil Shopping Mall (Sumber: Fuksas.it)

Kedua, Fuksas menghadirkan bentuk yang masif namun memiliki kesan ringan. Nardini Research Centre and Auditorium (2004), Vicenza, Italia dan Admirant Entrance Building (2010), Eindhoven, Belanda adalah dua contoh karyanya yang berhasil menciptakan kesan ringan karena penggunaan kaca sebagai material utama selubungnya.

 

Nardini Research Centre and Auditorium (Sumber: Fuksas.it)

 

Admirant Entrance Building (Sumber: Fuksas.it)

Fuksas juga banyak bereksperimen dengan performa dari sebuah material. Pada karya berjudul New Rome-Eur Convention Centre and Hotel (2016), Roma, Italia, Fuksas membuat sebuah awan dengan fungsi auditorium untuk 1800 orang dengan cara melapisi bentuk menyerupai awan dengan fiber seluas 15.000 meter persegi. Material ini menyebabkan seolah-olah ada awan yang melayang di dalam kotak kaca.

 

New Rome-Eur Convention Centre and Hotel (Sumber: Fuksas.it)

Terakhir, Fuksas banyak bermain dengan skala bangunan terhadap manusia. Pada karya New Milan Trade Fair (2005), Milan, Italia, Fuksas mendesain sebuah kanopi kaca dengan panjang 1500 meter dan lebar 32 meter. Selain bermain dengan proporsi panjang dan lebar, ia juga bermain dengan ketinggian ruang. Pada karya berjudul Tbilisi Public Service Hall – Government Offices (2012), Tblisi, Georgia, Fuksas menciptakan 11 kelopak besar sebagai kanopi dengan tinggi 35 meter atau setara dengan  21 kali tinggi manusia.

 

New Milan Trade Fair (Sumber: Fuksas.it)

 

Tbilisi Public Service Hall – Government Offices (Sumber: Fuksas.it)

 Glenn Hartanto (arsitek pendiri biro Morphasia) memberikan tanggapan bahwa karya-karya arsitektur Fuksas tersebut menciptakan ingatan yang kuat dalam benaknya. 

Arsitektur sebagai wadah interaksi

Fuksas berpendapat bahwa arsitektur harus fleksibel agar dapat berperan sebagai wahana untuk mempertemukan masyarakat dan mewadahi berbagai aktivitas publik. Sebagai contoh, fasad dari karya Admirant Entrance Building (2010), Eindhoven, Belanda, pada saat tertentu dapat digunakan sebagai latar dari atraksi video. Atraksi ini dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan.

Melalui karya-karya yang dipresentasikan oleh Fuksas, Prof. Paramita Atmodiwirjo sebagai penanggap dari Jurusan Arsitektur Universitas Indonesia menyatakan bahwa arsitektur dapat menjadi medium bagi interaksi masyarakat. Skala manusia dan skala urban bukanlah sebuah perlawanan namun sebuah kelanjutan. Variasi proyek yang dimiliki oleh Fuksas merupakan sebuah keuntungan bagaimana ia dapat berkontribusi bagi pembentukan kota dalam skala yang berbeda-beda. 

Manusia sebagai pembentuk ruang kota

Prof. Gunawan Tjahjono menjadi pembicara kedua dalam seminar Transforming Lives Human & Cities. Beliau adalah ketua Tim Penasehat Arsitektur Kota (TPAK) dan Adjunct Professor of Architecture di Universitas Indonesia. Beliau memulai presentasinya dengan menunjukkan skala lingkungan tinggal manusia dengan gradasi yang bertingkat, mulai dari skala rumah tangga, komunitas, kota/urban sampai nasional/global. Gradasi ini menunjukkan adanya ketinggian, kedalaman tertentu yang berbeda satu dengan lainnya. Pada seluruh tingkatan tersebut manusia perlu dijadikan sebagai titik tolak perancangan sebab perancangan ada demi memanusiakan manusia. Manusia sebagai titik tolak, apakah itu badannya, kebutuhan ragawi dan rohani atau kepentingan lain. Kota adalah salah satu ciptaan manusia yang hadir demi memperadabkan manusia. Saat ini kota menjadi tumpuan hidup sebagian besar manusia, maka perancangan kota perlu lebih manusiawi sesuai asa hidup manusia.

Sebelum masuk mengenai hubungan antara manusia dan urban, kita perlu memahami skala manusia (pembanding antara manusia dan benda pembanding) dan skala urban (hal ini lebih sulit karena urban adalah kata sifat). Jika melihat hubungan pengalaman hidup di kota, kita tiba pada isu seberapa cepat kita menyerap lingkungan untuk skala lokal dan mikro. Pengalaman tersebut dirasakan dalam kecepatan kita berpindah di dalam kota. Pergerakan biologis dan pergerakan dengan kendaraan mekanik menentukan hal tersebut. Batas kecepatan yang masih dalam kategori ini bisa dirasakan dengan berjalan kaki, bersepeda, jogging, kereta. Untuk merasakan kehidupan kota yang lebih intim,pergerakan mekanik harus lebih kecil daripada biologis. Untuk mewujudkannya pedestrian harus diutamakan karena dengan pergerakan biologis ini tabrakan tidak masalah, tidak ada kecelakaan jiwa.

Prof. Gunawan kemudian menajamkan kembali tentang ruang kota dengan pertanyaan: Cukupkah memanusiakan manusia dalam ruang kota melalui skala manusia? Beliau menegaskan bahwa sebagai perancang, kita harus memiliki pengetahuan pengendalian skala untuk membuat ruang kota yang baik untuk dialami. Ruang kota yang baik adalah usaha kolektif, perhatian bersama dari perancang yang mengajak berbagai pihak terlibat dalam merumuskannya. Kata kunci lain yang harus dipegang adalah 'merancang dengan' bukan 'merancang untuk', sebab hasil rancangannya  akan didukung oleh pihak-pihak yang terlibat dan dalam proses yang berkelanjutan. Oleh karena itu, proses perancangan memerlukan waktu, tak mungkin dikerjakan terburu-buru.

Prof. Gunawan Tjahjono

Konektivitas dan interaksi sebagai elemen utama kota yang baik

Prof. M. Danisworo seorang arsitek, urban designer dan Emiritus Professor of Architecture and Urban Design di ITB menjadi pembicara terakhir. Beliau membicarakan topik konektivitas dari skala manusia hingga skala urban. Berbeda dari Prof. Gunawan yang lebih banyak memberikan mengenai pemikiran akan kota, Prof. Danisworo dalam kesempatan ini memberikan beberapa contoh kondisi lapangan lewat implementasi yang pernah ia lakukan dalam perancangan kota. Prof. Danisworo memulai dengan berbagai permasalahan yang ia lihat di dalam kota, khususnya Jakarta.

Permasalahan tersebut seperti perilaku manusia masih buruk, konektivitas buruk antara level makro dan mikro, peta sosial yang tidak terorganisir, Jakarta sebagai kota dengan sistem multilinear sehingga mahal dan sudah tidak ada lagi lahan di dalam kota. Dia menambahkan, Jakarta dikenal dengan dualisme di bidang sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan fisiknya. Beliau juga menunjukkan gejala tersebut dengan foto beberapa sudut kota Jakarta, seperti gambar tepi rel kereta api yang dijadikan pemukiman, pedagang kaki lima yang mengambil ruas jalan sisi lain jakarta.

Dualisme lain di sektor sosial dan ekonomi dalam kota terbagi menjadi formal dan informal. Kedua tipe itu sering muncul sebagai konflik tetapi keduanya saling membutuhkan untuk menopang kehidupan kota. Ini menjadi dilema bagi perancang. Perancang perlu menciptakan ruang interaksi dalam kondisi tersebut untuk menghubungkan dua sektor berbeda dan mencapai keuntungan bersama. Prof Danisworo percaya konektivitas yang didesain dengan baik akan menjadi katalis untuk mempercepat laju transformasi di lingkungan terbangun kita.

Beberapa hambatan lain yang perlu disebut adalah ruang publik yang tersedia menyusut secara jumlah, ukuran dan kualitas setiap tahunnya. Menyikapi rentetan permasalahan tersebut strategi perancangan kota yang diusulkan Prof. Danisworo yaitu: penerapan prinsip TOrD (Transit Oriented reDevelopment), memecah tren pembangunan linear yang tidak memikirkan konektivitas dengan area belakangnya, mempromosikan pembangunan berbentuk cluster yang menggunakan noda transportasi sebagai inti, menciptakan kantung pedestrian di antara setiap cluster untuk memudahkan mobilitas orang di dalam TOD, menciptakan lingkungan antara untuk meningkatkan interaksi sosial.

Beliau menunjukkan implementasi proyek yang mencoba membongkar tren pembangunan linear di proyek TOD Bundaran HI dan Superblok Kuningan Persada. Skema penataan kawasan Bundaran HI dibukakan akses ke belakang melalui lahan privat sehingga area perkantoran di belakang jalan MH Thamrin bisa mendapatkan akses langsung ke moda transportasi umum, seperti TransJakarta maupun MRT. Penataan kawasan ini bernegosiasi dengan sektor swasta untuk mendapatkan pedestrian yang lebar dan tidak berpagar terhadap gedung. Jeleknya, pada saat operasional pihak swasta memilih menutup kembali areanya dengan pagar untuk mencapai kepentingannya. Pada Superblok Kuningan Persada yang merupakan masterplan gedung perkantoran dengan akses mobil dan manusia. Superblok ini dirancang dengan menghubungkan seluruh halaman belakang gedung perkantoran sehingga mendapatkan akses pejalan kaki yang aman dan lintas kantor. Ruang yang dirancang untuk memunculkan interaksi antara pengguna ruang kota dan menertibkan orang.

Prof. M. Danisworo

 

 

  



comments powered by Disqus
 

Login dahulu