Melampaui Batasan, Arsitektur Berdiri Bersama Alam

“Menemukan sebuah bidang spasial indah yang terhubung dekat dengan alam, tetapi aman.”

Author
Andrew Maynard ketika menjadi pembicara dalam Anabata Talk (sumber foto: Caroline Abigail)

Ruang spasial, keindahan, dan rasa aman. Ketiga kata tersebut mungkin sekali memberikan perspektif berbeda pada setiap dari kita. Tetapi bukankah rumah cocok sekali dengan deskripsi tersebut? Andrew Maynard, Founding Director daripada Andrew Maynard Architects, menceritakan mengenai salah satu ungkapan lektor yang mengajarnya ketika beliau duduk di bangku kuliah, yakni lokasi paling sukses di rumah adalah lokasi di mana kucing terlelap. Hal yang dimaksudkan bukanlah mengenai hewan peliharaannya, tetapi ruang spasial di dekat jendela, yang mana kucing senang sekali berada di sana hanya untuk berlama-lama memandangi apa yang ada di luar ruangan melalui jendela. Ia mungkin hanya sekadar melihat burung-burung yang terbang atau mungkin terlelap di tempat yang sama. Hal inilah yang terlintas di benak Maynard kala ditanya perihal perspektif dirinya terhadap interaksi antara bangunan dan alam sekitarnya.

 kucing dengan pemandangan di luar

Kucing dengan pemandangan di luar (sumber foto : HGTV)

Maynard memberikan contoh dari tempat di mana beliau tinggal, Melbourne, bahwa terkadang orang-orang hanya suka berbaring di lokasi yang cerah di mana mereka bisa memandangi langit dengan bebas. Dari observasinya tersebut, timbul sebuah pertanyaan baru, apa yang sebenarnya diinginkan kucing tersebut? Bagaimana jika kita menempatkan sudut pandang kita kepada kucing yang sedang memandangi pemandangan di luar tersebut? Maynard menyebutkan bahwa kita selalu berusaha menemukan sebuah bidang spasial (tempat) yang indah yang terhubung dekat dengan alam, tetapi aman. Sebuah tempat di mana seseorang masih bisa mengendalikannya ketika ia memandangi langit atau alam secara bebas. Maynard kemudian menambahkan bahwa hal yang paling mendasar dalam arsitektur adalah memiliki sebuah ruang spasial dengan kualitas yang sangat baik. Akan tetapi, ruang dengan kualitas seperti itu tidak mungkin terbentuk begitu saja. Maynard menyatakan bahwa arsitek yang baik adalah seorang problem solver, di mana seseorang selalu menemukan kesempatan dan peluang dari masalah yang ada. Arsitektur tidak berbicara mengenai sebuah lahan luas dengan bangunan berdiri di atasnya, yang kemudian diruntuhkan dengan cepat, dan dibangun kembali menjadi menara atau gedung-gedung pencakar langit, kemudian meruntuhkan yang lain dan tanpa pikir panjang membangun bangunan megah lainnya. Arsitektur berbicara mengenai batasan, masalah, kompleksitas ruang, dan berbagai kesulitan. Dan melalui hal-hal seperti inilah tercipta “rasa” akan kualitas desain yang terbentuk.

 Ketika berbicara mengenai masalah dan batasan, manusia cenderung ingin melampauinya menuju kebebasan. Uniknya, Maynard memilih untuk bergumul dalam kompleksitas ruang dibandingkan dengan ruang yang berdiri tanpa batasan. Dengan demikianlah Maynard memberikan cita rasa kepada karya-karyanya. Seperti studio milik beliau yang menggunakan pencahayaan alamiah sebagai kata kunci yang paling esensial. Beliau menerangkan bahwa sebenarnya pencahayaan alamiah ini sangat ditentukan oleh iklim yang ada pada suatu daerah. Melbourne, pada contohnya, memiliki musim panas yang kering dan musim dingin dengan suhu yang sangat rendah. Untuk itu, Maynard menerapkan beberapa cara kerja yang sama pada proyek-proyeknya, yakni meletakkan bukaan yang menghadap ke arah utara.

 

Tattoo House (2006), salah satu karya Andrew Maynard yang menggunakan bukaan pada arah utara

Tattoo House (2006), salah satu karya Andrew Maynard yang menggunakan bukaan pada arah utara (sumber foto : Austin Maynard Architects)

Beliau memastikan bahwa bangunan yang ia bangun mendapatkan sebanyak-banyaknya cahaya dan panas matahari ketika musim dingin, tetapi bukan panas terik matahari musim panas. Beliau menempatkan bukaan sedemikian rupa untuk menciptakan sebuah ruang yang mampu menerima banyak sinar matahari tanpa membuat para penghuninya menggigil. Hal yang dimaksudkan adalah jendela-jendela harus tetap tertutup sepanjang musim dingin karena tidak mungkin seseorang membiarkan suhu udara yang sangat rendah beserta angin yang bertiup untuk masuk ke dalam rumahnya. Maynard dan timnya kemudian menghitung dengan teliti penempatan bukaan-bukaan serta kemiringan yang secara pasti mampu membiarkan panas matahari di musim dingin masuk untuk menghangatkan ruang, tetapi tidak membuat suhu ruangan melesat naik ketika musim panas mulai datangPada contohnya adalah karya arsitektur Maynard di tahun 2017, Charles House.

Charles House

Charles House (sumber foto : Austin Maynard Architects)

Pada dasarnya, Maynard ingin membuat seluruh ruang tinggal mendapatkan akses panas matahari dari arah utara.Beliau menggunakan konsep double glazed windows dengan berbagai sistem proteksi untuk meminimalisir panas matahari di musim panas dan memaksimalkannya di musim dingin. Proteksi yang dimaksudkan adalah adalah adjustable louvres, external blinds, dan kanopi-kanopi di sekitar bukaan.

Openings in Charles House

Openings in Charles House (sumber foto : Archdaily)

Tetapi seperti pepatah mengatakan, lain lubuk, lain ikannya. Perlu selalu diingat bahwa tiap lokasi memiliki keunikan iklimnya sendiri, seperti Indonesia yang hanya memiliki dua iklim dan Jakarta yang memiliki tingkat dan suhu udara yang cukup panas, yang berarti penyelesaian daripada batasan atau masalah ini mungkin sekali berbeda dengan cara yang digunakan Maynard ketika beliau ada di Melbourne.

Pemandangan Kota Jakarta

Pemandangan Kota Jakarta (sumber foto : dezeen)

Perihal batasan. Bukan berarti ia tanpa solusi. Tetapi bukan pula berarti bahwa seorang arsitek lepas daripada masalah. Maynard mengungkapkan bahwa sustainability adalah isu yang selalu diangkatnya pada tiap proyek yang ia kerjakan. Isu ini kian membesar dan semakin kritis diperbincangkan hari-hari ini. Manusia menjadi penyebab terbesar global warming dan masalah ini semakin berat diangkut dan diturunkan untuk dihadapi para generasi penerus. Terutama dengan fakta yang mengikat bahwa industri bangunan menghasilkan sekitar 40% gas karbon atau sering disebut sebagai efek rumah kaca yang mana manusia menaruh pengaruh buruk yang sangat besar terhadap lingkungan, bahkan dunia. Maynard mengatakan bahwa sebuah bangunan tidak berbicara mengenai seberapa banyak atau cepat ia terbangun. Jika proyek tersebut dibangun tanpa memikirkan lingkungannya, maka proyek itu sia-sia. Sebab kembali lagi bahwa kita saat ini sedang menghadapi sebuah kenyataan yakni kita tengah berada dalam iklim darurat, di mana iklim terus berubah dan menjadi tidak tetap. Di sinilah arsitektur berbicara, bahwa bangunan yang mampu beradaptasi dan tahan terhadap lingkungannya akan menjadi pokok dalam mendesain. Bukan hanya bertahan, melainkan menjadi bagian dari lingkungan. Untuk itu, Maynard selalu berfokus untuk mengembangkan sustainability di dalam arsitektur dan proyek-proyeknya.

Mills, the toy management house

Mills, the toy management house (sumber foto : Austin Maynard Architects)

Sebut saja salah satu karya Maynard yang lain,The toy management house. Dibangun di tahun 2016 untuk seorang client perempuan dengan bayinya yang baru saja lahir, rumah ini menekankan pada kekuatan sustainability-nya sebagaimana yang dinyatakan oleh sang arsitek, Andrew Maynard. Rumah ini dibangun dalam sebuah site kecil tetapi didesain untuk menerima cahaya dan udara pada setiap ruangnya. Seluruh bukaan menggunakan kaca berlapis ganda dengan desain yang mampu mengoptimalkannya penerimaan panas matahari. Maynard melakukan ini untuk kembali pada tujuan awalnya, dengan masalah global warming, yakni mengurangi penggunaan AC dan pemanas. Demikian pula pada atap yang difungsikan tidak hanya sebagai pelindung tetapi juga ketahan terhadap bangunan. Atap berwarna putih sangat mengurangi panas yang masuk ke dalam bangunan dan seluruh air yang ke atas atap ditampung untuk digunakan dalam kamar mandi dan untuk menyiram kebun.

 Tidak hanya mengenai kemampuan sustainability bangunan, rasanya tidak lengkap bila tidak menyebutkan sisi keindahan atau estetika. Menurut founder Andrew Maynard Architects, kedua hal tersebut ada di urutan paling terakhir ketika mendesain sebuah ruang. Kedua hal ini tidak menjadi prioritas melainkan dengan sendirinya datang seiring proses desain. Meskipun secara visual, kedua hal ini seolah menjadi wajah daripada suatu bangunan, haruslah dipastikan bahwa kedua hal ini tidak menjadi penghambat bagi ketahanan sebuah bangunan. Menilik kembali kepada isu terbesar hari ini mengenai global warming, tugas yang wajib diemban oleh setiap manusia adalah bagaimana cara untuk memberikan dampak positif dalam isu ini. Cukup menyedihkan untuk selalu melihat bangunan yang malah menghancurkan lingkungan dibandingkan sama-sama bertumbuh dan terbangun dari satu sama lain, bukan?

Wawancara dengan Andrew Maynard selaku Founding Director Andrew Maynard Architects

Wawancara dengan Andrew Maynard selaku Founding Director Andrew Maynard Architects (sumber foto : Caroline Abigail)

Arsitektur bagi seorang Andrew Maynard pada akhirnya menyisakan dua poin terpenting selama ia bekerja sebagai arsitek: Manusia dan Lingkungan. Dalam setiap pekerjaannya, Maynard selalu memusatkan pikirannya untuk melihat skala 1:1, di mana manusia saling berinteraksi satu dengan yang lainnya dan di mana sebuah komunitas terbentuk. Tidak peduli sebesar apa pun proyek atau pekerjaan yang diambil, ketika seseorang mendesain tanpa memperhatikan cara orang-orang berinteraksi, menempati sebuah ruang, atau bagaimana hubungan antara bangunan, lahan, dan lingkungan di sekitarnya, ia tidak membangun sebuah komunitas. Meskipun pada akhirnya semua akan mengerucut pada estetika, Maynard terlebih dahulu memastikan bahwa ia mendesain pada skala yang benar; skala komunitas. Dan beliau tahu pasti, arsitektur tidak hanya berbicara mengenai desain bangunan dan keindahan, tetapi bagaimana seseorang mampu membangun sebuah komunitas.

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu