Memo

Di atas kertas kuning, kita kerap mengingat.

Author

Saya putuskan untuk tidak melakukan apa-apa. Sengaja saya biarkan tubuh ini beristirahat—duduk santai, bersandar pada kursi, memperhatikan kawan yang sedang mengerjakan proyek lain, dan sesekali melirik ke arah ruangan bos-bos. Saat-saat menyenangkan seperti demikian, biasanya, hanya bisa terjadi setelah meeting atau dokumen proyek selesai.

Ini terjadi bukan pada saya saja. Kadang saya mendapati teman sebelah berlama-lama memandangi layar monitor, memainkan peralatan apapun yang ada di mejanya, membuka telepon genggam, terhanyut dalam status-status media sosial, atau seperti yang saya lakukan sekarang: memandang satu per satu meja di ruang kantor Aboday, biro arsitektur tempat saya bekerja.

Ruangan itu berbentuk persegi panjang. Tiga sisinya berisi meja-meja desainer yang menghadap ke dinding, sementara satu sisi lagi adalah rak-rak putih yang ditumpuk sehingga menyerupai rak besar yang berisi dokumen-dokumen proyek. Di tengah ruangan terdapat meja-meja anak magang. Bila diurutkan mulai dari jalan masuk ruangan, saya duduk di kursi urutan ketiga belas. Setengah ruangan ini dapat terlihat dari ruangan bos-bos. Tapi karena urutan ketiga belas berada di setengah ruang lainnya, angka itu bukan momok buat saya.

Setelah memperhatikan kurang lebih selama lima menit, saya mendapati satu benda yang selalu ada di setiap meja desainer, yaitu memo Post-it. Kertas kuning berukuran 8cm x 12cm ini tertempel di komputer, hambalan, dan segala benda lain yang masih terlihat jelas ketika duduk.

Tak banyak hal kecil yang bisa disimpan di dalam otak. Mungkin itu alasan mengapa memo hadir di dunia ini. Isi memo di kantor arsitektur bisa bermacam-macam, mulai dari nomor telepon supplier, kode-kode bahan bangunan yang digunakan, revisi-revisi gambar, ucapan selamat tinggal, hingga gambar-gambar penyemangat. Apapun isinya, rupanya semua orang di kantor ini membutuhkan memo.

Saya mulai dari meja kawan saya yang pertama, yang letaknya tepat setelah jalan masuk ruangan. Penghuninya adalah Luke, kawan sekaligus saudara jauh saya, seorang lelaki yang rapi dan bersih. Ada satu memo menarik yang tertempel di hambalan Luke. Memo ini berisi tips mengendarai motor dari Naya, seorang anak magang yang telah menyelesaikan masa magangnya awal bulan Februari lalu. Luke selalu menggoda Naya dengan berbagai leluconnya. Keduanya mengendarai sepeda motor, sehingga ada ikatan yang terjalin di antara keduanya yang tidak bisa saya jelaskan tentang mengendarai motor. Ketika Naya keluar, memo ini diberikan kepada Luke, supaya Luke tidak mengalami hal-hal yang tak diinginkan selama berkendara. Memo ini memo termanis yang pernah saya lihat. Ada perhatian di dalamnya.

Aiya adalah perempuan mungil dan modis yang duduk di sebelah Luke. Ia seorang yang saya anggap sebagai pribadi yang bebas dan mampu mengekspresikan kata-kata dengan mimik yang biasa terlihat dalam drama-drama layar kaca. Dia mampu meledakkan tawa semua kawan yang ada di ruangan hanya dengan menggerakkan tubuh dan mengucapkan beberapa kata populer.

Aiya gemar jalan-jalan. Saya kurang tahu berapa banyak tempat yang telah dia kunjungi, tapi coba saja lihat memo yang tertempel di komputernya. Sederet tanggal liburan sudah ada di dalam khayalannya. Memo berisi tanggal liburan itu selalu mengingatkan saya akan seratus surga tersembunyi Indonesia versi Majalah Tempo yang belum saya jelajahi sama sekali, sementara beberapa di antaranya sudah pernah Aiya datangi.

Selanjutnya adalah Tata. Saya tahu Tata, tapi saya tidak terlalu mengenalnya. Setahu saya dia adalah seorang yang kerjanya teratur dan teliti dalam setiap detail. Semua memo yang tertempel berisi tentang proyek.

Dulu Wibi duduk di sebelah Tata, kini dia sudah ada di ruang lainnya. Tapi beberapa memo masih menempel di hambalannya. Wibi adalah orang paling ribut yang saya kenal di kantor ini. Ada saja bahan cerita yang dilemparkan untuk menghidupkan suasana kantor. Entah sentilan-sentilan agar dibalas lagi oleh yang lain atau hanya sekadar gumaman yang membuat kami tertawa. Di balik pribadinya yang jenaka, fantasinya lah yang membuat saya kagum. Selain referensi bentuk, ia juga punya pengetahuan yang banyak tentang detail dan bagaimana mewujudkannya. Tak heran memo-memo yang tertinggal adalah memo yang membuat saya tersenyum salut.

Meja berikutnya adalah meja milik Baja, seorang yang selalu tampil sederhana dan berusaha bijak dalam mengambil keputusan. Baja adalah kawan dekat pria pertama saya di kantor ini. Banyak hal yang membuat perbincangan kami selalu hidup. Karena pribadinya yang kebapakan, Baja dipilih menjadi Ministry of Fun Aboday. Tugasnya, mengatur waktu dan uang untuk kegiatan-kegiatan hiburan bagi segenap masyarakat di kantor ini, mulai dari makan-makan rutin bulanan kantor hingga jadwal berenang bersama.

Sisi lebar ruang ini berkulit kaca, sehingga meja yang menghadap ke kaca adalah menara pengawas bila mobil-mobil bos sudah datang. Seto dan Buyung mendapat kehormatan untuk duduk di area tersebut. Seto memiliki pendengaran yang sangat tajam. Bila ia mendengar sedikit saja suara plastik terbuka, ia pasti langsung tahu kalau ada seseorang yang sedang membuka makanan ringan.

Berbeda dengan Seto, Buyung justru adalah orang yang paling tak acuh. Konsentrasinya penuh pada proyek-proyek yang ia pegang. Bahkan ia adalah orang yang paling konstan pulang malam. Ia pernah berkata bahwa satu-satunya waktu ketika ia bisa tenang mengerjakan proyek adalah malam hari. Selama pagi hingga sore, ia merasa banyak sekali gangguan, antara lain panggilan yang tak kunjung henti dari Pak Rafael, salah seorang bos kami.

Kembali ke sisi panjang ruangan. Meja yang terletak paling ujung adalah meja kosong. Kabarnya akan ada anak baru yang mengisinya. Persis di sebelahnya terdapat meja Adinda, satu-satunya desainer interior di ruangan ini. Adinda adalah salah satu teman dekat saya. Cara berpakaiannya sangat unik, tabrak sana tabrak sini. Tapi yang membuat saya penasaran, pada akhirnya ia selalu tampak serasi. Ada percaya diri yang jauh lebih besar dari saya yang sehari-hari hanya mengenakan kemeja dan celana jins. Mejanya penuh dengan berbagai macam pernak-pernik film Despicable Me, cat kuku yang berwarna abu-abu, catatan-catatan kecil yang berisi segudang proyek interior, dan pembagian waktu kerja interior. Pernah suatu saat Dinda kelimpungan menentukan proyek interior mana yang harus ia kerjakan terlebih dulu, dan satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah memberinya semangat lewat memo. Tak disangka memo lama itu masih tertempel di komputernya dan menjadi satu-satunya memo yang ada di sana.

Lelaki yang ada di sebelah Dinda, dan selalu memiliki pendapat yang berbeda darinya, adalah Syahrir. Kami biasa memanggilnya dengan sebutan Iir. Pria yang sudah mengenyam bangku kuliah pascasarjana ini paling susah diajak berkompromi. Mungkin karena isi kepalanya sudah jauh di atas kami-kami yang masih muda. Pak Rafael sendiri memercayakan posisi Ministry of Education kepada Iir. Ada yang menarik dari sosok Iir. Selain sketsa yang menakjubkan, saya juga kagum akan tulisan tangannya. Memonya membuat beberapa diantara kami berhenti saat melewatinya dan sesaat terdiam karena tak banyak lelaki di kantor yang memiliki tulisan sebagus dan serapih dirinya.

Desainer berikutnya adalah Agie. Saya percaya suatu saat dia akan jadi arsitek. Agie tidak pernah lelah memandang layar mengulik bangunan yang dirancangnya. Hanya saja ada kebiasaan dalam dirinya sendiri yang selalu membuat dia kesal sendiri. Karena terlalu asyik dengan eksplorasi bentuk, dia sering lupa menyimpan data. Bahkan ia membuat memo yang selalu mengingatkan dia untuk menyimpan datanya.

Tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang memo di meja saya. Hanya terdapat tumpukan memo yang tetap saya simpan karena merasa pasti ada saat di mana saya membutuhkan memo itu lagi. Selain itu, ada beberapa memo peninggalan orang-orang yang sudah keluar dari kantor. Salah satunya adalah memo dari Naya.

Shinta duduk di sebelah saya. Mejanya selalu berantakan. Mungkin hanya tiga minggu sekali baru dibersihkan. Ada alasan-alasan yang membuat dia tidak mau merapikan dan membiarkan semua pada tempatnya. Benda-benda yang ada di mejanya harus terlihat dengan jelas dan mudah dicari pada saat genting. Mejanya terlalu penuh sehingga ia harus menempelkan memonya di dinding glass block belakang komputernya.

Meja terakhir adalah meja milik Mira. Mira adalah desainer paling senior di Aboday. Meskipun demikian, tingkah lakunya tidak mencerminkan umurnya. Mira sangat ceria, kadang ia bertingkah layaknya remaja, lain waktu ia bertingkah layaknya orang dewasa. Ia mampu membaca keadaan dan membuat keputusan sesuai dengan prediksinya. Banyak hal tak terduga yang ia lakukan. Mungkin bisa terlihat dari memo yang ia tulis sendiri.

Memo, pada akhirnya, hanya sekadar pengingat yang setiap saat bisa saya tempelkan di mana saja. Seketika memo-memo itu tak berguna lagi, saya bisa membuangnya sesuka hati. Namun, saya memilih untuk menyimpannya di antara lembaran kalender. Saya biarkan memo-memo itu tertempel disana karena memo membuat hari yang saya lewati akhirnya memiliki jejak. Meskipun rupanya hanya sebatas kertas kuning yang lambat laun hilang bersama ribuan kenangan di dalamnya.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu