Mencermati Perumahan Muslim di Yogyakarta

Membahas fenomena merebaknya perumahan muslim di Yogyakarta melalui pendekatan arsitektur Islam

Author

Fenomena menarik yang belakangan ini mencuri perhatian saya sampai akhirnya membuat saya terpaksa membuka buku-buku arsitektur dan bersabar mempelajarinya adalah perumahan-perumahan Muslim yang semakin merebak di Indonesia. Merebaknya perumahan-perumahan Muslim ini, saya kira, akan terus happening selama beberapa tahun ke depan, sehingga membahas dan mengkajinya menjadi penting dilakukan. Sebelumnya saya sudah mengupas dari sudut pandang cultural studies, meski tanpa menyentuh lebih banyak dan dalam aspek-aspek arsitekturalnya. Sebab itu saya merasa ada yang alpa dan tertinggal kalau tidak membahas dan membaca perumahan Muslim ini sebagai bagian dari persoalan-persoalan arsitektur.

Walau latar belakang keilmuan saya bukan arsitektur, dalam tulisan ini saya memberanikan diri untuk membicarakannya. Anggaplah saya ini seorang muallaf yang baru saja masuk dan belajar arsitektur kemarin sore, dengan pemahaman yang tentu masih centang-perenang. Namun setidaknya, tulisan ini bisa menjadi pancingan awal atau umpan kecil untuk membicarakan lebih jauh soal perumahan Muslim dari kacamata arsitektur, terlebih dari arsitektur Islam. Saya melihat, nampaknya, laman konteks.org, sebagai salah satu portal online terdepan dalam mewacanakan persoalan-persoalan arsitektur di tanah air, merupakan wadah yang tepat dan cocok untuk itu.

Kasus Yogya

Perumahan Muslim memang fenomena yang menasional. Di kota-kota besar nyaris ditemukan adanya perumahan-perumahan Muslim. Tapi dalam tulisan ini, penting untuk dibatasi pada kasus di Yogyakarta (lingkungan saya tinggal), sebab secara arsitektural konsep perumahan Muslim di berbagai tempat kemungkinan tidak sama. Sehingga saya lebih aman dan bisa menghindarkan dari dari cacat pikir generalisasi.

Berdasarkan pengamatan saya terdapat perumahan-perumahan Muslim pada semua kabupaten di Yogyakarta. Kabupaten Sleman, Bantul, Kulonprogo dan Gunung Kidul dijadikan lokus proyek pembangunan perumahan Muslim oleh para pengembang (developer). Jika belum percaya, cobalah blusukan sejenak ke berbagai tempat di Yogyakarta atau, berselancarlah di dunia maya dengan mengetik kata kunci perumahan Islam/Muslim. Maka, tak akan sulit untuk menemukan perumahan-perumahan Muslim yang sudah dibangun atau baru ditawarkan sebagai produk properti di berbagai iklan. Misalnya saja di Bantul, ada beberapa  perumahan Muslim seperti Pesona Kota Gede yang terletak di Singosaren, Baitus Sakinah yang terletak di Jalan Wonosari. Di Kabupaten Sleman, ada perumahan Muslim Darussalam yang terletak di Gamping, perumahan Muslim Djogja Village yang terletak di Plosokuning.Di Kulonprogo, ada perumahan Muslim Griya Nadhifa. Sementara di Gunung Kidul, perumahan Muslim De Afifa Residence yang terletak di Wonosari, perumahan Muslim Rahmani Green Resident serta masih banyak yang lainnya.

Sebelum membahas lebih jauh perumahan-perumahan Muslim di Yogyakarta , ada beberapa hal yang perlu kita pertegas: Apa yang dimaksud perumahan Muslim? Dan apa pula arsitektur Islam?

Perumahan-perumahan Muslim yang dimaksud di sini adalah proyek perumahan yang dikembangkan dan diproduksi oleh pengembang properti (dalam sebagian kasus di Yogyakarta, pengembang properti tersebut bekerja sama dengan arsitek yang sekaligus ustad). Kolaborasi antara para pengembang dan arsitek yang sekaligus ustad inilah yang kemudian memberikan dan menambahkan kata “Islam/Muslim” dalam konsep proyek perumahan yang mereka garap. Tidak hanya menjual simbol Islam/Muslim kepada konsumen semata produsen perumahan juga menjanjikan dan menawarkan lingkungan yang Islami, fasilitas yang Islami. Misalnya, para penghuni di dalam perumahan adalah Muslim semua, pembangunan musholla dan masjid diprioritaskan untuk dibangun terlebih dahulu sebelum membangun blok-blok rumah, one gate system, fasilitas pendidikan Islam (taman kanak-kanak dan rumah tahfidz), kolam renang syariah dengan pemisahan jadwal renang antara laki-laki dan perempuan dan pemisahan ruang publik dan privat sehingga memungkinkan penghuninya (terutama Muslimah) untuk menjaga aurat dan lain sebagainya.

Sementara arsitektur Islam merupakan kajian yang sangat luas dalam keilmuan Islam perihal persoalan yang menyangkut dengan bangunan. Karena keluasan kajiannya, kerap dibedakan antara arsitektur Islami dan arsitektur komunitas Islam. Meskipun tetap kesemuanya berada dalam ruang lingkup pembahasan arsitektur Islam. Secara sederhana, arsitektur Islami dipahami sebagai arsitektur yang dianggap memiliki dan mengandung nilai-nilai ke-Islaman. Beda dengan arsitektur komunitas Muslim, ia tak perlu mengandung dan memiliki nilai-nilai ke-Islaman. Dari manapun ia berasal dan siapapun yang membuat, tetapi jika dipakai dan digunakan dalam suatu komunitas Muslim, maka ia disebut sebagai arsitektur komunitas Muslim. Dengan demikian, perumahan Muslim bisa dianggap arsitektur Islami dan arsitektur komunitas Muslim sekaligus.

Yang menarik, perumahan-perumahan Muslim di Yogyakarta tidak lepas dari sejumlah kritik. Selain karena dianggap berpotensi menciptakan kantong-kantong pemukiman yang eksklusif secara agama (apalagi di Yogyakarta yang dikenal sebagai kota plural dan toleran), juga karena secara arsitektual, pengembang perumahan-perumahan Muslim di Yogyakarta dinilai tidak memiliki konsep yang sepenuhnya jelas. Salah seorang warga di perumahan Muslim Djogja Village Plosokuning misalnya, saat saya menemuinya, ia mengatakan: pengembang perumahan Muslim di kompleks yang ia tempati tidak punya konsep. Pengembang hanya sekedar menempelkan identitas Islam semata dan mewajibkan para penghuninya Muslim semua. Tidak boleh untuk non--Muslim. Sekedar itu saja. Bangunan rumah sama dengan perumahan umum yang lainnya.

Memang di perumahan Muslim Djogja Village Plosokuning ini, tidak ada trademark ke-Islaman yang bisa ditonjolkan lagi bila dibandingkan dengan perumahan Muslim lain yang masih terdapat TK Islam, rumah tahfidz dan kolam renang syar’ie-nya. Tetapi selebihnya serupa, secara bangunan, sepenuhnya tak ada beda dengan perumahan umum yang lain di Yogyakarta. Yang membedakan barangkali hanya seri-seri rumah yang menandakan kelas sosial dan kedudukan ekonomi: antara yang kaya dengan yang kelas menengah.

Guyonannya, kalau misalnya perumahan-perumahan Muslim itu dirusak papan namanya atau pintu gerbangnya yang menerakan dengan besar kata Islam/Muslim dihilangkan, maka sulit untuk membedakan perumahan-perumahan Muslim tersebut dengan perumahan-perumahan umum lainnya. Tapi, apakah memang sepenuhnya benar penilaian para pengembang perumahan Muslim tak memiliki konsep yang jelas? Apakah arsitektur semata-mata hanya memusatkan perhatiannya pada soal fisik atau objek bangunan semata? Mari kita lihat dari sejumlah pendekatan dalam arsitektur Islam yang ada selama ini.

Beberapa pendekatan

Nangkula Utaberta (2008) dalam bukunya Arsitektur Islam: Pemikiran, Diskusi dan Pencarian Bentuk, menjelaskan dan memetakan bahwa setidaknya terdapat lima pendekatan dalam arsitektur Islam. Pertama, pendekatan populis revivalisme. Pendekatan ini—seperti arti kata revivalisme dan populis—ingin membangkitkan kembali arsitektur yang pernah ada dalam masa-masa kemajuan Islam dalam masyarakat Islam di masa lampau, seperti pada masa Dinasti Abbasiyah, Turki Ustmani dan Safafid. Biasanya, bangsa yang miskin budaya dan bingung mencari bentuk arsitekturnya sendiri, akan selalu menggunakan dan menempuh pendekatan umum ini dalam membangun arsitekturnya. Kedua, pendekatan eklektik. Jika pendekatan pertama ingin mengambil bentuk-bentuk arsitektur masa lampau dalam masyarakat Islam, pendekatan kedua ini juga sama-sama meniru (baik keseluruhan ataupun sebagian) elemen-elemen dari arsitektur masa lampau dan juga masa kini dalam masyarakat Islam yang dianggap bagus dan cocok. Ketiga, pendekatan regionalisme kawasan. Pendekatan ini lebih mementingkan aspek-aspek lingkungan dan sosio-budaya di mana arsitektur akan dijalankan. Tak terlalu hirau pada yang sekedar simbolis dan pembentukan citra Islam. Keempat, pendekatan metafora dan kejujuran arsitektur. Pendekatan metafora sebenarnya berbeda dengan pendekatan kejujuran arsitektur. Tapi keduanya digabungkan karena kerap diterapkan secara bersamaan dalam sebuah bangunan. Pendekatan metafora berkaitan dengan upaya simbolisasi yang diambil dari Islam. Ia sekaligus berfungsi untuk membahasakan ide dan gagasan sang arsitek yang disampaikan melalui bangunan sebagai buah karyanya. Sementara pendekatan kejujuran berkaitan dengan ide memperlihatkan struktur dengan jujur. Dalam pendekatan ini, keindahan dianggap lahir dari struktur bangunan itu sendiri. Kelima, pendekatan melalui nilai-nilai asasi dari Al-Qur’an dan Sunnah. Pendekatan ini secara prinsip berbeda dengan keempat pendekatan sebelumnya. Jika keempat pendekatan sebelumnya fokus pada objek bangunan, pendekatan terakhir ini lebih melihat aspek-aspek nilai dasar Islam dalam sebuah bangunan dan kompleks di sekitarnya.

Di mana posisi perumahan-perumahan Muslim di Yogyakarta dalam lima pendekatan dalam arsitektur Islam di atas? Jika diperhatikan, perumahan-perumahan Muslim di Yogyakarta nampaknya ada dalam pendekatan yang terakhir, yakni pendekatan melalui nilai-nilai asasi dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Pengembang dan arsitek perumahan Muslim di Yogyakarta tidak terlalu banyak fokus pada objek bangunannya. Maka wajar muncul kritik, secara bangunan, perumahan Muslim di Yogyakarta secara umum tidak ada bedanya dengan perumahan umum yang lainnya.

Memang ketika melihat para pengembang menempelkan dan menonjolkan simbol Islam dalam perumahan-perumahan Muslim, tampak pendekatan metafornya. Tapi menurut saya, jika menilai perumahan-perumahan Muslim di Yogyakarta dengan lebih seksama, yang paling besar porsinya justru ada dalam pendekatan melalui nilai-nilai asasi dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Hal ini bisa dilihat dalam site-plan yang mereka tawarkan pada konsumen: nyaris semuanya mengarah pada bagaimana perumahan Muslim mampu menciptakan dan menghidupkan nilai-nilai Islam di dalam sebuah ruang dan bangunan. Misalnya, seperti sudah disebutkan di atas, pengembang perumahan Muslim menawarkan pembangunan musholla terlebih dahulu sebelum membangun blok rumah dalam kompleks perumahan Muslim yang akan dibangun, menawarkan one gate system, kolam renang syariah, agar antara laki-laki dan perempuan tidak bercampur baur dalam satu ruang, menawarkan fasilitas taman kanak-kanak dan rumah tahfidz, serta mewajibkan penghuninya harus Muslim dan lain sebagainya. Bagi pengembang, tidak terlalu penting-penting amat model bangunannya seperti apa, merujuk ke salah satu pendekatan dalam arsitektur Islam yang menekankan pada objek bangunan atau tidak.  

Tak heran, dari segi objek bangunan, perumahan-perumahan Muslim di Yogyakarta memang terkesan tak ada perbedaan signifikan dengan perumahan biasa pada umumnya. Perumahan-perumahan Muslim di Yogyakarta hanya bisa dipahami dari pendekatan melalui nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah itu. Meskipun sebenarnya saya lebih yakin, para pengembang tergiur dengan kapitalisasi perumahan Muslim yang kini dianggap prospek (sebab bertepatan dengan momentum semakin mengentalnya Islamisasi di tengah-tengah masyarakat dan mobilisasi vertikal kalangan masyarakat Islam yang semakin laju menjadi kelas menengah baru), sehingga tak terlalu memberikan perhatian besar pada pengembangan konsep arsitektural yang lebih baik dalam memproduksi perumahan Muslim. Yang penting laris dan mendapatkan pahala. Sebab sebagian pengembang dan arsitek memang memandang pemroduksian perumahan Muslim ini sebagai bagian dari “kerja dakwah agama”.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu