Menempati Rumah Impian

Di majalah Ruang, Dinda menuliskan kisahnya membangun rumah impiannya. Kini, ia telah menempatinya.

Author
Tampak depan rumah Dinda Jouhana di Cibubur, Kabupaten Bogor.

Apa yang terjadi jika kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan? Jika apa yang diimpikan sudah berada dalam genggaman? Ternyata, kita tidak akan puas dan berhenti begitu saja. Sebab mimpi pun bisa jadi tak begitu indah saat ia mewujud nyata. Begitulah manusia. Akan ada hal-hal baru yang muncul tak terduga, “memaksa” kita terus berubah, untuk beradaptasi. Bahkan untuk terus bermimpi.

Sudah sekitar sembilan bulan saya dan suami menempati rumah baru kami di sebuah kompleks perumahan di Cibubur, Kabupaten Bogor. Di atas tanah seluas 72m2, kami akhirnya bisa membangun rumah yang kami impikan. Perjuangannya tidak mudah. Butuh setahun untuk merampungkan desain yang dibikin oleh Yu Sing—arsitek yang terkenal dengan konsep rumah murah dan natural—dan timnya. Pembangunannya juga molor dan memakan waktu hingga setahun lebih, membuat saya stres berkepanjangan. Saya yang awalnya tidak tahu apa-apa soal membangun rumah dan menyerahkan sepenuhnya kepada kontraktor, jadi tahu segala seluk-beluknya karena harus mengawasi pekerjaan yang tak kunjung selesai.

Saat akhirnya rumah ini sudah dapat dihuni pada bulan Maret 2013, rasanya seperti ada beban berat yang terangkat. Akhirnya, selesai juga! Rumah dua setengah lantai ini adalah rumah yang kami impikan. Fasadnya cantik: dindingnya menggunakan woodplank yang memberi efek seperti rumah panggung dari kayu. Detail-detail kecil seperti lisplang di atap dan susuran balkon, menggunakan ukiran Aceh yang terinspirasi dari Rumoh Geudong warisan keluarga suami saya.

Meski lahan terbatas, pembagian dan penataan ruangan terasa pas. Lantai satu adalah ruang bersama. Ada teras kecil yang sekaligus bisa dipakai untuk menerima tamu, ruang keluarga tempat menonton TV yang bersatu dengan dapur, ruang makan mini semi outdoor menghadap taman yang juga mini, dan sebuah kamar mungil untuk tamu serta kamar mandi tepat di sebelahnya.

Lantai dua cukup privat dengan kamar utama dan kamar mandi di dalamnya. Ada sebuah kamar lagi untuk calon anak, juga ruang kerja berjendela yang membebaskan angin keluar masuk. Di lantai tiga yang sebenarnya adalah mezanin atau ruang di bawah atap, terdapat ruang serba guna tempat kami meletakkan sebagian besar koleksi buku. Jika banyak tamu, kami bisa menggelar kasur lipat sehingga bisa berfungsi sebagai ruang tidur tambahan. Di lantai ini juga ada ruang servis yang terdiri dari gudang, kamar mandi dan ruang jemur, plus sebuah balkon kecil untuk bersantai. Intinya, rumah ini bisa menampung hampir semua kebutuhan kami.

Tidak hanya itu, rumah ini dirancang dengan banyak bukaan dan ruang hijau, memberikan cahaya melimpah dan udara yang segar. Bahan-bahan yang digunakan juga ramah lingkungan. Kami menggunakan kayu bekas untuk semua kusen, jendela, pintu dan tangga. Bahkan susuran tangga terbuat dari bambu bekas yang sebelumnya digunakan sebagai steger saat membangun.

Suasana ruang keluarga.

Sebagian besar dindingnya adalah dinding simpai dengan rangka besi: dinding dari GRC atau woodplank di satu sisi, kawat ayam di tengah, dan plesteran semen di sisi lain. Dinding ini tebalnya hanya empat sentimeter sehingga bisa menghemat cukup banyak tempat. Kecuali di bawah yang menggunakan lantai semen, seluruh lantai menggunakan multipleks yang kami tutup dengan kayu pinus. Ini membuat kaki selalu hangat.

Hanya ada satu kata yang bisa menggambarkan perasaan kami: sempurna!

Tapi tak lama setelah kami menempati rumah ini, “sempurna” ternyata hanya perasaan saja. Begitu rumah ditinggali, masalah mulai bermunculan. Musim panas datang membawa debu. Lantai mezanin yang banyak ventilasi harus dibersihkan setiap hari jika tak ingin telapak kaki menghitam. Tidak hanya itu, dinding simpai yang lebih tipis dari dinding bata membuat beberapa ruangan—terutama kamar untuk calon anak—sangat panas. Belum lagi tengah hari, kamar yang paling banyak diterpa sinar matahari itu sudah seperti ruangan sauna.

Musim hujan malah lebih parah. Apalagi jika disertai angin. Lantai mezanin basah kuyup karena air berebut masuk dari ventilasi. Atap yang langsung dari genteng tanpa plafonatau lapisan apapun, membuat air menetes dari beberapa titik. Ruangan lain tak kalah heboh. Air merembes masuk ke ruang kerja, dari sela-sela dinding dan dari atap yang terbuat dari dak semen. Ternyata, pertemuan dak semen untuk balkon dan lantai multipleks tidak siap menerima cucuran air hujan.

Ketika hujan, air hujan membasahi lantai dak balkon luar yang tak memiliki kanopi ini, dan merembes ke lantai kayu di ruangan dalam. Melalui lantai kayu tersebut, air ikut merembes ke ruang kerja di lantai bawahnya. Untuk mengurangi dampaknya, Dinda memberi aquaproof di antara pertemuan material serta tambahan plastik.

Ketika hujan, air hujan membasahi lantai dak balkon luar yang tak memiliki kanopi ini, dan merembes ke lantai kayu di ruangan dalam. Melalui lantai kayu tersebut, air ikut merembes ke ruang kerja di lantai bawahnya. Untuk mengurangi dampaknya, Dinda memberi aquaproof di antara pertemuan material serta tambahan plastik untuk mencegah air masuk lewat sela pintu.

Taman kecil di dalam rumah yang terletak di samping dapur juga dahsyat. Atap kacanya yang sengaja diberi bukaan sekitar satu senti agar hujan mengalir di dinding untuk memberi efek air terjun, ternyata justru memberikan efek badai! Separuh dapur dan ruang keluarga basah! Ini membuat saya waswas untuk meninggalkan rumah di kala hujan.

Tidak hanya debu dan hujan, bukaan di berbagai tempat membuat binatang sangat mudah masuk. Saya yang awalnya takut dengan kecoa, sampai jadi berani karena harus sering berhadapan dengan serangga menyebalkan itu. Dan bahkan, tikus juga bisa masuk. Puncaknya adalah, sang tikus memakan empat pot tanaman melon yang saya pelihara dengan sepenuh hati, yang sengaja saya letakkan di ruang servis di lantai mezanin. Bahkan batangnya pun tidak tersisa.

Rumah ini memang rumah impian. Tapi kenapa lebih mirip mimpi buruk, ya?

Awalnya saya sangat kesal dengan keadaan ini. Ingin rasanya menyalahkan semua orang. Namun, setelah saya pikir-pikir lebih panjang lagi, di dunia ini memang tidak ada yang sempurna bukan? Setiap hal mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri, termasuk rumah. Rumah baru apalagi. Butuh waktu untuk beradaptasi. Pelan-pelan, saya dan suami melihat rumah ini dengan kacamata berbeda. Pikiran mulai lebih terbuka, menerima.  

Daripada kesal, sedikit demi sedikit kami memperbaiki hal-hal yang mengganggu. Atap kaca di atas taman dapur diakali dengan menambah plastik transparan yang dibuat mirip kanopi agar bukaan tidak terlalu lebar. Hasilnya, efek air terjun yang diharapkan berhasil dihadirkan. Beberapa bukaan ventilasi juga dengan terpaksa kami tutup dengan plastik tebal transparan. Toh setidaknya masih banyak jendela untuk mengalirkan udara. Beberapa dinding bagian luar yang tidak berplester juga akhirnya diplester dan dilapis aquaproof agar air hujan tidak merembes masuk. Untuk menghalau kecoa, saya meletakkan buah bintaro di sudut-sudut ruangan. Sedangkan tikus bisa dibasmi dengan perangkap dan lem tikus. Dalam jangka panjang, tentunya kami masih harus menyewa jasa pest control.

Tambahan plastik di atap kaca untuk mengurangi tampias.

Kami melakukan apa yang kami bisa untuk membuat rumah menjadi lebih nyaman. Namun, untuk hal-hal yang tidak atau belum bisa diperbaiki, kami belajar memaklumi. Percikan air yang jatuh di sana-sini kami jadikan bahan bercanda: “Kami memang suka mandi hujan!” Debu-debu yang menempel dengan cepat di lantai kayu dan railing bambu tidak lagi terlalu mengganggu. Membersihkan rumah sudah dianggap olahraga rutin. Setiap tamu atau keluarga yang datang dan bertanya, “Kenapa begini?” pada detail-detail yang dikerjakan dengan tidak rapi, kami tak lagi mendongkol dan bisa menjawab dengan ringan: “Konsepnya memang begitu,” sambil tertawa.

Dengan cepat saya dan suami belajar, bahwa dengan hati yang penuh syukur, segala sesuatu akan terlihat sempurna. Perlahan, rumah ini menampakkan “keindahannya”. Lantai mezanin menjadi tempat paling favorit untuk berkumpul jika keluarga besar sedang berkunjung. Hanya dengan karpet dan bantal-bantal, mereka betah berlama-lama disini. Rumah ini begitu hangat dan membuat semua orang akrab.

Balkon di lantai tersebut juga sering dijadikan tempat nongkrong di pagi hari. Membawa teh, roti dan buku, saya dan suami kerap berjemur menikmati sinar matahari, layaknya sunbathing di sebuah private villa di Bali. Ruang makan semi outdoor di lantai dasar juga sering saya gunakan untuk bekerja jika ingin suasana berbeda. Adik saya yang berdomisili di Medan dan sering berkunjung ke Jakarta untuk urusan bisnisnya bahkan kerap “meminjam” ruangan mungil ini untuk rapat dengan rekan-rekannya.

Ruangan-ruangan yang terbatas juga memacu kreativitas dalam mendekorasi. Saya dan suami memutuskan untuk mendesain furnitur sendiri, sesuai dengan ukuran, tata letak ruangan dan kebutuhan kami. Di toko furnitur langganan—yang sesungguhnya adalah toko perabot bekas—kami memesan hampir seluruh isi rumah. Mulai rak sepatu yang bersatu dengan tempat payung, coffee table, ambalan, lemari persediaan toiletries, bingkai cermin, sampai satu set meja dan lemari di ruangan kerja plus semua perabot kayu di kamar utama. Semuanya berbahan kayu jati bekas yang kekuatannya sudah teruji. Jauh lebih murah, ramah lingkungan, ukurannya pas dan memberikan kepuasan yang tidak bisa dibandingkan dengan membeli barang-barang baru yang sudah jadi!

Lemari pakaian hasil rancangan sendiri. Idenya menggabungkan lima lemari kecil menjadi satu lemari besar.

Dan saat ini, saya tengah mengandung. Sebuah rezeki lain yang harus disyukuri. Seperti yang bisa diduga, banyak teman dan keluarga yang mengkhawatirkan kesehatan saya karena lay-out rumah yang banyak tangga. Mereka juga mempertanyakan apakah rumah cukup aman untuk kehadiran bayi. Entah mengapa, kini saya dan suami tak terlalu menanggapi semua itu. Setiap tantangan baru akan melahirkan solusi bahkan inovasi baru. Kami yakin, jika dihadapi dengan tangan terbuka kami akan menemukan caranya. Kami percaya, bahwa kami—dan rumah ini tentunya—akan baik-baik saja.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu