Author
Penambahan ruang pada rumah

Dalam perjalanan hidup manusia, kebutuhan tempat berteduh menjadi bagian penting dalam sejarah pembangunan rumah. Golany (1995) dalam bukunya “Ethics and Urban Design” membahas perkembangan kota berdasarkan kegiatan manusia dalam bertempat tinggal. Dimulai dari tanpa tempat tinggal yang hanya berteduh di pepohonan, kemudian nomaden dengan tinggal di gua, selanjutnya terus berkembang menjadi permanen karena adanya penemuan alat bertani dan beternak. Semenjak perdagangan menjadi dominan di suatu wilayah, muncullah kota yang memiliki dampak terhadap peningkatan kebutuhan rumah tinggal bagi warga.

 

Makna Rumah Tinggal

Frick dan Mulyani (2006) dalam bukunya yang berjudul “Arsitektur Ekologis” menjelaskan secara mendasar makna rumah sebagai tempat tinggal manusia. Rumah tinggal tidak hanya dipandang sebagai bangunan, tapi juga tempat kediaman yang memenuhi syarat-syarat kehidupan yang layak, seperti memberi perlindungan dari gangguan cuaca; dapat memenuhi kebutuhan penghuni seperti tidur, makan, mandi, memasak, belajar; serta memberi ketenangan ketika beristirahat.

Pedro Arrupe, S.J. seorang pastor Spanyol dalam Budihardjo (2006) menyatakan pendapatnya tentang definisi rumah:

“A house is much more than a building. It is the social context of family-life-the place where man loves and shares with those who are closest to him.”

Atau definisi dari Avianti Armand, seorang arsitek dan penulis dalam bukunya yang berjudul “Arsitektur yang Lain” (2011):

“Pada seorang lelaki yang mencintai saya, saya bertanya, apakah makna rumah baginya. Ia menatap ke dalam mata saya, menjawab tanpa ragu: Kamu.”

Pendapat Aruppe dan Armand merujuk kepada makna non fisik sebuah rumah tinggal. Bagaimana cinta seyogianya hadir di dalam rumah tinggal sehingga keluarga-keluarga bahagia akan lahir. Dari keluarga itu pula mereka dapat menebarkan cinta di dalam masyarakat.

Sedangkan secara fisik, menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, rumah adalah bangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya, serta aset bagi pemiliknya. Pada pasal 22 (ayat 3) ditentukan sebagai standar rumah layal huni memiliki ukuran paling sedikit 36 meter persegi. Sedangkan rujukan dari Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 403/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Sederhana Sehat, luas minimal bangunan di Indonesia untuk 3 jiwa yaitu 27 meter persegi dan untuk 4 jiwa yaitu 36 meter persegi. Luas lahan minimal yang dibutuhkan adalah 60 meter persegi. Luas bangunan sebaiknya bertambah besar sesuai dengan jumlah jiwa yang hidup di dalam rumah tersebut.

 

Contoh Kasus: Rumah Tajur Halang, Kabupaten Bogor

Setelah enam tahun menyewa rumah di Kota Depok dan tiap tahun naik 2 juta rupiah, akhirnya suami dan saya mencoba mencari rumah tinggal tapak. Akibat tidak tersedianya uang keras, kami harus mencicil rumah yang disediakan oleh pengembang melalui bank. Setelah memeriksa Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor 2005-2025 terkait rencana pola ruang dan kerawanan bencana, akhirnya terpilih kawasan Tajur Halang yang berbatasan dengan Kota Depok. Bagi kami, dua hal penting yang kami pikiran adalah akses dan harga. Akses yang kami pertimbangkan adalah pencapaian ke stasiun kereta listrik terdekat, yaitu Stasiun Citayam. Jawaban untuk mencapai pusat kota adalah dengan transportasi massal berbasis rel kami setujui dengan memilih perumahan yang dapat mencapai stasiun dalam durasi 10 menit dengan kendaraan roda dua.

Seperti kata Sullivan (2003) dalam bukunya “Urban Economics”, jika kita mau mendapat harga rumah dengan harga miring, tentu harus menjauhi pusat kota. Meski hanya dibatasi oleh jalan kolektor, namun perbedaan harga di Kota Depok dan lokasi sekitar rumah kami hampir mencapai dua kali lipat. Untuk ukuran rumah tipe 36 meter persegi dan luas tanah 60 meter persegi di Kota Depok pada 2015 berkisar 375 juta rupiah. Sedangkan di seberangnya yang termasuk Kabupaten Bogor dengan ukuran sama berkisar 200 juta rupiah.

Dalam mencari pengembang, kami berhati-hati untuk mencari yang terbaik. Sebab, tidak jarang terdengar kabar calon pemilik rumah yang dibohongi oleh pengembang perumahan. Modus biasanya si calon pemilik rumah memberikan uang muka, namun setelahnya tidak ada kejelasan dari pengembang. Akhirnya uang sirna, rumah tidak punya. Untuk menghindari kasus serupa, saya betul-betul menyusuri setiap pengembang yang sudah menjadi pilihan sementara. Berdasarkan pengalaman dari teman yang sudah membeli rumah, pemeriksaan data pengembang ini penting.

Dari beberapa pengembang yang ada, hanya satu yang tercantum di Real Estat Indonesia (REI) dan ketika menghubungi bank, pengembang tersebut terjamin. Setelah memeriksa kantor pengembang yang dekat dengan lokasi perumahan, barulah kami mulai mengikuti alur administrasi yang ada. Harga jual rumah pengembang tersebut pada 2015 untuk tipe 30 meter persegi dan luas lahan 84 meter persegi adalah 225 juta.

Persyaratan utama yang ditulis dalam brosur adalah penghasilan harus 3 kali dari cicilan. Cicilan paling kecil adalah 1.857.696 rupiah dengan jangka waktu 25 tahun dan suku bunga 9,99%. Itu berarti minimal penghasilan adalah 5,6 juta rupiah. Uang muka minimal 10 persen dari harga jual rumah. Persyaratan lainnya adalah pengaju cicilan karyawan tetap minimal dua tahun, tanda pengenal, surat nikah, kartu keluarga, slip gaji 3 tahun terakhir, dan NPWP. Setelah persyaratan lengkap, ternyata perjalanan masih panjang. Untuk memperoleh surat akad dibutuhkan waktu sekitar satu tahun dan dibutuhkan keaktifan pembeli dalam “menekan” pengembang untuk mempercepat administrasi tersebut. Pada tahun kedua kami baru dapat menerima kunci sebagai tanda penyerahan rumah kepada pemilik. Satu tahun lebih lambat dari janji pengembang.

 

Renovasi

Gunawan Tjahjono dalam kata pengantarnya untuk buku yang berjudul “Pesan dari Wae Rebo” (2010) menuliskan demikian:

“Rumah di kota, terutama di masa kini yang dibangun dan disediakan oleh pengembang, termasuk dalam kategori tersebut. Pasarnya terbentuk sendiri, dengan cara pemasaran yang tak menghadirkan benda utuhnya, tetap cetakan yang menggambarkan apa yang dijanjikan namun hampir selalu suatu gambaran yang jauh dari kenyataan. Model yang disebut mock-up lebih memenuhi ungkapan ‘what you see is what you don’t get.’

Kami hanya tersenyum kecut ketika melihat rumah tinggal telah selesai dibangun. Sejak melihat di gambar, memang saya sudah dapat membayangkan bagaimana bentuknya. Tapi, inilah konsekuensi membeli di pengembang. Persis yang dikatakan Tjahjono.

Ruang Dapur dan Halaman Belakang Rumah Tajur Halang          Ruang Tamu dan Kamar Tidur Rumah Tajur Halang

Dengan dana yang telah kami tabung dan pinjaman dari koperasi kantor suami, kegiatan kami selanjutnya adalah merenovasi rumah. Harga rumah menjadi lebih mahal? Lagi-lagi itu konsekuensi yang harus kami pikul. Dengan bantuan ayah saya yang kerap melakukan renovasi rumah tinggal, kami meluaskan besaran rumah menjadi 50 meter persegi; lebih besar dari standar Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 untuk 3 orang penghuni karena ada penambahan ruang untuk ruang keluarga, ruang makan, dan dapur. Selain itu kami juga melakukan perbaikan struktur atap, pintu, jendela, lubang angin, sumber air bersih, dan tangki septik. Kondisi mengejutkan adalah ketika mengetahui bahwa dinding yang ada tidak tegak. Oleh karena itu, penambahan semen untuk perbaikan dinding supaya tegak lurus dengan lantai menjadi bagian renovasi yang menyedot dana paling besar. Selama dua bulan renovasi dilakukan namun masih 30 persen yang harus dibenahi dalam tahap selanjutnya.

Perbaikan pada dinding yang tidak tegak lurus terhadap lantai.
 
     
Perbaikan pada dinding yang tidak tegak lurus terhadap lantai. (atas)
Penambahan ruang dapur dan perbesaran ruang tidur dibagian belakang. Ruang jemur dibiarkan terbukan untuk pertukaran udara. (tengah)
Perbaikan atap rumah dan peninggan 1 meter pada plafon menjadi 3,5 meter supaya ruang dalam tidak sempit. (bawah)
 
     
 
Pembangunan tangki septik baru di halaman rumah karena tangki yang dibangun pengembang kurang dalam. (atas)
Penambahan pagar dan perbaikan carport. (bawah) 
 
 
Ruang dalam Rumah Tanjur Halang setelah renovasi 
 
Tampak Depan Rumah Tajur Halang setelah renovasi.
Tampak Depan Rumah Tajur Halang setelah renovasi.
 

Sejak 1987, Arsitek Eko Budihardjo telah melihat kegiatan pembongkaran penghuni perumahan KPR dan dianggap sebagai pemborosan, namun saat ini saya melihatnya sebagai kebutuhan penghuni untuk memperoleh rumah yang layak menurut pemahamannya. Perluasan bagian dapur adalah satu hal utama yang harus dibangun oleh sebagian besar pemilik rumah, sebab pengembang biasanya hanya menyediakan ruang terbuka di bagian belakang. Oleh karena itu, semurah apa pun harga rumah, calon pembeli harus siap dengan tabungan untuk merenovasi bagian-bagian penting rumah. Ini merupakan cara kami untuk menciptakan kembali rumah tinggal yang menyenangkan dari pengembang. (*)




Catatan: Foto-foto adalah dokumen pribadi penulis



comments powered by Disqus
 

Login dahulu