Old French Meets New French, A Love Story: Ulasan Film “Mon Oncle”

Pembacaan kembali arsitektur modern dalam hubungannya dengan budaya masyarakat pengguna pada film "Mon Oncle".

Author

Perbedaan itu alamiah dan indah, tak terkecuali dalam kasus pertemuan dua budaya di satu kota dalam film “Mon Oncle” (1958). Film komedi besutan sutradara Jacques Tati ini mengangkat kisah pertemuan budaya antara Paris lama (Old French) - tempat tinggal Monsiour Hulot (diperankan oleh sang sutradara, Jacques Tati) - dengan Paris modern (New French) yang dihuni keluarga Arpel. Hulot memiliki rutinitas mengunjungi rumah adiknya, Nyonya Arpel (diperankan oleh Adrienne Servantie), untuk mengantar jemput keponakannya, Gerard Arpel (Alain Bécourt), dari dan ke sekolah setiap hari. Saat mengantar jemput Gerard, Hulot harus berhadapan dengan cara hidup di lingkungan Paris modern yang serba teratur, monoton, dan high-tech. Di rumah modern milik keluarga Arpel, Hulot berlaku canggung terhadap pola taman yang tidak natural, furnitur, dan perabotan rumah yang serba higienis dan taat order. Perabot dalam rumah keluarga Arpel diperlakukan oleh Hulot dengan cara pikir tradisionalnya yang berujung pada “kesalahan” penggunaan pada beberapa elemen arsitektur modern.

 

Keluarga Arpel dan Konteks Paris Modern

Film ini disebut sebagai bentuk kritik Jaqcues Tati terhadap arsitektur modern yang sedang marak di Perancis pada masa itu. Tati, membuka filmnya dengan menampilkan sosok Tuan Arpel (diperankan oleh Jean-Pierre Zola) di muka pintu. Ia terlihat sedang mengamati keteraturan pada taman kebanggaannya. Sedangkan, Nyonya Arpel sedang menjalankan rutinitas inspeksi debu bagi seluruh keluarga. Tuan dan Nyonya Arpel sangat anti terhadap bahaya kuman penyakit dari lingkungan di luar rumah. Pada scene berikutnya, mobil Tuan Arpel melaju ke jalan raya, bertemu dengan mobil-mobil setipe bernuansa hitam, putih, dan abu-abu dengan kecepatan seragam sebagai simbol dominasi produksi masal.

Suatu siang, seorang tetangga wanita dikisahkan berkunjung ke rumah keluarga Arpel dengan mengenakan topi caping anyaman sambil menjinjing tas dari anyaman bambu. Topi caping dan tas anyaman tersebut merepresentasikan craftmanship, sedangkan tangga berstruktur minim yang tampak melayang dan pintu dengan sensor telapak tangan milik keluarga Arpel, justru menjadi simbol kecanggihan industri. Saat Nyonya Arpel membanggakan desain sofa dan peralatan masak miliknya, sang tamu justru tak dapat duduk dengan nyaman dan terkejut dengan kompor yang serba otomatis. Nyonya Arpel membalik daging di atas pemanggang dengan remote control. Cara memasak ini menunjukkan hilangnya art of cooking sebab sentuhan pada masakan, sebagai parameter kematangan, dianggap tak lagi penting. Seluruh mesin di rumah keluarga Arpel mengeluarkan bunyi nyaring, sehingga penghuninya sulit berkomunikasi. Mesin, yang awalnya membantu pekerjaan rumah, kini sekedar menjadi representasi rumah high-tech penghasil teror suara. Adegan-adegan tersebut menunjukan kesenjangan antara teknologi dan perilaku manusia yang belum terbiasa terhadap kebaruan.

 

Monsiour Hulot dan Konteks Paris Lama

Saat plot film berlanjut ke setting yang kontras, yaitu pasar tradisional kota lama Paris, tertangkap ragam warna bernuansa hangat. Reruntuhan tembok, sampah, dan berbagai aktivitas saling tumpang tindih di satu tempat. Jauh dari impresi higienis dan keteraturan di kota Paris modern. Di kota lama, frame selalu diramaikan oleh manusia. Orang beraksi natural dan sepertinya tak ada yang kesepian. Tak seperti Gerard Arpel yang terbiasa bermain sendirian di dalam rumah saat sang ibu sibuk dengan perabotannnya dan ayahnya menghabiskan waktu di kantor. Gerard juga harus menaati aturan kehigienisan orangtuanya.

Orang-orang di kota lama tak dituntut oleh jam kerja, namun justru sibuk bersosialisasi. Saat berada di konteks kota modern, Hulot membawa sisi romantis dari budaya kesehariannya itu. Rutinitas dalam keluarga Arpel stabil dari hari ke hari, sementara rutinitas dalam kehidupan Hulot memunculkan pengalaman yang selalu baru terhadap orang-orang yang sama. Penekanan Tati terletak pada kenyataan bahwa orang-orang berubah dan bertumbuh, tetapi mesin-mesin hanyalah benda mati. Namun, Tati tak menggambarkan Hulot bersusah hati di lingkungan modern yang asing. Hulot, yang kikuk dan eksploratif seperti anak-anak, tampak selalu bahagia.

 

Jalinan Kisah Cinta Paris Lama dan Paris Modern dalam Keseharian Hulot

Dalam suatu kesempatan, Hulot asyik mencobai berbagai perlengkapan dapur keluarga Arpel tanpa sepengetahuan pemilik rumah. Hulot dengan bingung, kikuk, dan sedikit terkejut berusaha membuka lemari kabinet secara manual yang ternyata bekerja secara otomatis dengan sensor tangan. Adegan ini menunjukkan pertemuan antara budaya tradisional dan modern. Ketegangan dua kondisi hidup pada kedua budaya justru diam-diam menumbuhkan love story, sehingga kategori cara hidup yang lebih cair di antara kedua budaya tadi mulai terbentuk.

Saat mengeksplorasi arsitektur modern “secara sembunyi-sembunyi”, Hulot sedang mengakses dimensi kasih sayang dalam arsitektur, yang disebut George Baird sebagai La dimension amoureuse’ in architecture (Baird, 1969). Baird menggambarkan bahwa elemen arsitektural tak melulu bicara soal fungsi yang kaku dan dingin seperti mesin, melainkan dapat membangun interaksi yang manusiawi dengan penggunanya. Di sini Hulot menemukan kerinduan dari elemen arsitektur modern, yang sebenarnya ingin juga dieksplorasi penggunanya, bukan hanya menjadi benda yang sulit, asing, serta tak nyaman digunakan. Di sisi lain, perlakuan Hulot terhadap perabotan dapur keluarga Arpel menunjukkan terciptanya kontinuitas antara yang modern dan yang tradisional. Kontinuitas tadi dimaknai oleh sang sutradara melalui terkandungnya unsur kehidupan yang satu pada kehidupan lain, walau saling berbeda.

 

Tokoh Gerard dalam film ini digambarkan sebagai anak yang menjadikan “ancaman” dari lingkungan di luar rumah yang dianggap kotor sebagai lahan eksplorasi dan bermain, sebaliknya rumah yang penuh order menjadi sangat membosankan. Taman, kolam, dan patung ikan di rumahnya tak boleh disentuh apalagi dimainkan, sedangkan saat bermain di kota lama Paris, Gerard menemukan lingkungan yang memberinya kesempatan menjadi penjelajah. Gerard menjadi simbol sisi modernisme yang rindu akan hal-hal nakal dan menyenangkan, namun direpresi atas nama order. Budaya manusia yang lentur dan loose menjadi unsur kehidupan yang tidak banyak diperhatikan dalam arsitektur modern.

Melalui scene yang menampilkan reruntuhan dinding kota lama bersanding dengan pemandangan kota baru, Tati menghasilkan sebuah frame Old French yang membingkai New French. New French yang tak pernah baru tanpa konteks kota lama, begitu pula Old French tak dapat menjadi tempat nostalgia tanpa hadirnya pembaharuan. Kecenderungan makna terkait love story antara Old French dan New French tampak jelas saat Hulot menjemput Gerard untuk bermain di sore hari. Keduanya menggunakan jalur taman yang berkelok sebagai lintasan yang mematahkan kebosanan dengan berlarian tarik-menarik di atasnya. Hulot dan Gerard mengikuti aturan untuk menjejak jalur tersebut untuk bisa keluar dari rumah, namun mereka juga melakukan pelanggaran order modernisme dengan menjadikan jalur sirkulasi sebagai tempat bermain yang spontan.

 

Hulot tak hanya terlibat dalam roman Old French-New French dengan Gerard, melainkan juga dengan kolega keluarga Arpel dalam sebuah pesta. Hulot menghibur tamu-tamu wanita dengan leluconnya. Ia berupaya membentuk keintiman seperti saat ia berinteraksi dengan gadis di tempat tinggalnya. Namun, Hulot tiba-tiba menyebabkan kebocoran pipa air mancur karena tak sengaja menancapkan tiang glass holder ke dalam tanah dan menimbulkan kerusuhan kecil. Seorang kolega hendak membantu memperbaiki pipa dan secara refleks menyangkutkan vestnya ke moncong patung ikan. Adegan ini menggambarkan masyarakat modern pun dengan spontan menjemur pakaian pada tempat-tempat yang mendorong kondisi hanging. Begitu pula dengan Hulot, yang tercebur kolam, segera menjemur kaus kaki pada tepi jendela kamar lantai dua. Hulot mencari tempat menjemur pakaian dengan mengadaptasi kebiasaan menjemur di kota lama.

Hulot yang semakin jauh beradaptasi dengan budaya modern, dikisahkan larut dalam kisah cinta dengan elemen arsitektur modern. Suatu malam, saat Tuan dan Nyonya Arpel pergi makan malam, Hulot, yang kelelahan setibanya di rumah, segera berbaring di sofa. Barang-barang Hulot, seperti sepatu, jas, payung, topi, dan cerutu, berserakan di lantai, bergantungan di sandaran kursi, maupun pada cup lampu hias. Hulot bahkan melanggar cara penggunaan sofa dengan menemukan cara yang lebih nyaman, yakni dengan merotasi sofa 90o. Ketebalan alas duduk digunakan sebagai alas tidur. Karena sofa berbentuk meliuk dan tak mungkin digunakan untuk tidur, Hulot melakukan modifikasi lokal terhadap sofa sekaligus menunjukkan, untuk pertama kalinya, sofa tersebut tak hanya menjadi simbol kebanggaan tetapi juga dapat menjalankan fungsi primernya.

 

Sayangnya, love story yang sedang dibangun Hulot dengan elemen arsitektur modern di rumah keluarga Arpel, tak berlangsung lebih lama. Tuan Arpel segera mengirim Hulot ke tempat lain yang berjarak cukup jauh. Pada plot akhir film, Tuan Arpel justru mulai terlibat kisah cinta dengan lingkungan hidup di kota lama saat menjemput Hulot. Kehidupan Tuan Arpel sepanjang film terasa tanpa sisi romantis. Ia tak pernah menggandeng, memeluk, ataupun bermain bersama Gerard. Namun, Tuan Arpel tampak larut dalam interaksi sosial spontan dengan masyarakat di kota lama. Saat akan memarkirkan mobil, Tuan Arpel dengan sabar mengikuti aba-aba dalam gerakan lambat seorang kakek yang sukarela membantu. Ia juga berhati-hati saat melewati anak-anak perempuan yang berlarian di sekitar tempat tinggal Hulot. 

Pada adegan final bersetting bandara, Tuan Arpel hendak mengucapkan salam perpisahan dengan bersiul ke arah Hulot, seakan menyisakan perasaan kehilangan terhadap penyebab ketidakteraturan dalam hidupnya. Akibat siulan yang salah sasaran, seorang pejalan kaki kehilangan konsentrasi dan menabrak tiang lampu. Gerard tertawa renyah atas aksi tak sengaja Tuan Arpel yang membuatnya menemukan kembali sisi menyenangkan sang ayah. Pada akhirnya, Tuan Arpel melanggar manner modern yang terlalu kaku dan sebagai konsekuensinya, Gerard berupaya menggandeng tangan sang ayah untuk menunjukkan kasih sayang.   

”Mon Oncle” memberi perspektif baru untuk menginterpretasikan kembali arsitektur modern dalam hubungannya dengan budaya masyarakat pengguna. Sebuah pesan signifikan yang tertangkap dari Jacques Tati sebagai kritik bagi arsitektur modern adalah kisah cinta yang kandas sebelum bersemi. Roman yang diangkat Tati memang jenaka namun sarat makna antara dua dunia yang saling melengkapi, tetapi harus terpisah karena kategorisasi sistem budaya masyarakat yang mencegah kebersamaannya: kisah cinta antara seorang anak dan dunia eksplorasinya, ayah dan anak, modern dan tradisional, dan bahkan kisah cinta yang tampaknya absurd, antara manusia dan elemen arsitektural.

 

Bibliografi:

Baird, George. (1969). La Dimension Amoureuse’ in Architecture. In Hays, Michael K. (Ed.). Architecture Theory Since 1968 (pp 36-54). Cambridge: MIT Press.

Tati, Jacques. (Director). (1958). Mon Oncle. [Film]. France: Gaumont.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu