Pada Dinding-dinding yang Tak Sebatas Batas

Catatan setelah mengunjungi pameran The Wall/Structure/Construction/Border/Memory di Ark Galerie.

Author

Were not division, enclosure (i.e., imprisonment), and exclusionwhich defined the wall's performance and explained its efficiencythe essential stratagems of any architecture?

– Rem Koolhaas, The Berlin Wall as Architecture (1993) –

 

Dinding itu arsitektur yang keras,” begitu batin saya.

Darinya lahir batas fisik yang tegas, yang mengawal-akhiri ruang kaos tak berujung lalu mengadakan tatanan. Batas itu lantas tidak sekadar memisahkan antara di sini dan di sana. Dengan vertikalitasnya, ia mampu membatasi relasi horizontal antara manusia yang satu dan yang lainnya.

Keras memang bukan kata yang ramah. Namun, bukankah menghadirkan tatanan adalah maksud dari berarsitektur? Kata “merancang” sendiri—sebuah tindakan arsitektur—berasal dari “rancang”, pancang berujung tajam untuk dicucukkan ke tanah demi menciptakan batas. Semakin tegas batas, tentu tatanan semakin jelas.

Mungkin itu sebabnya, dinding—bukan atap, lantai, atau elemen arsitektur lainnya—yang, dengan segala agenda politis di balik kehadirannya, tercatat dalam sejarah manusia. Berkali-kali dinding dalam skala gigantis diwujudkan oleh suatu pihak dengan ambisius, demi memisahkan ia dari yang lain. Sebutlah Tembok Cina (sejak abad ketujuh Sebelum Masehi), Tembok Berlin (tahun 1961-1989), Tembok Pemisah Israel (sejak tahun 2000), dan Tembok Perbatasan USA-Meksiko (sejak tahun 2006),  jika tak ingin menghitung tembok-tembok yang mendominasi wajah rumah-rumah di kota Jakarta pasca kerusuhan Mei 1998.

Tembok Cina. (foto: dok. pribadi)

“Sejarah dunia mencatat,” begitu tulis Alia Swastika dalam catatan kuratorial pameran The Wall/Structure/Construction/Border/Memory, “bagaimana dinding punya makna simbolis yang kuat berkaitan dengan kisah-kisah pemisahan[...] tembok yang dibangun untuk menegaskan perbedaan, ketimbang menyatukannya dalam satu ruang hidup bersama.”

Namun, adakah dinding yang cukup keras dan tinggi yang mampu memisahkan manusia?

Jawabannya mungkin bukan terletak pada seberapa keras atau tingginya dinding, melainkan pada seberapa besar keinginan manusia untuk berpisah. Pada akhirnya, dinding selalu menyisakan pintu. Di saat dinding menjadi pemisah, di saat itu ia justru memicu rindu bagi yang terpisahkan.

Apa yang terjadi setelahnya adalah peristiwa-peristiwa arsitektural yang menyentuh: perlawanan terhadap batas—pada arsitektur itu sendiri. Pada Tembok Berlin, misalnya, di mana lebih lima ribu orang berhasil dan 136 orang mati melintasinya selama 28 tahun berdiri. Tak terhitung juga peristiwa-peristiwa kecil di antaranya, seperti pemuda-pemuda yang meninggalkan pesan lewat mural atau sepasang kekasih yang hanya bisa saling menatap dari kejauhan (tindakan melihat dari jauh, saat itu, pernah menjadi cara komunikasi paling dekat). Peristiwa-peristiwa itu mengingatkan bahwa dinding, pada waktunya, tak lagi sebatas batas.

Tembok Berlin (foto: Yann Forget, Juggling on the Berlin Wall, 1983)

Itu juga yang saya tangkap ketika mengunjungi pameran The Wall/Structure/Construction/Border/Memory. Keempat peserta pameran berupaya memaknai dinding lebih dari sekadar pemisah. Mengutip lagi catatan kuratorial pameran, keempatnya mencoba “berbagai kemungkinan, baik konseptual dan artistik, pada persepsi atas dinding dan bagaimana ia didefinisikan sekarang.”

Pada karya Kembang Dayeuh (MWK dalam kenangan, 2014), Iswanto Hartono menjadikan dinding sebagai kulkas yang membekukan ingatan, yaitu obituari akan pejuang demokrasi yang juga mertuanya, Mulyana W. Kusuma. Di dinding ia menuliskan sajak-sajak tentang rumah dan perjalanan. Ia buat dinding, selain punya telinga, juga punya mulut yang bisa tersenyum dan bicara, seperti saat membicarakan sajak jenaka berikut:

“Neng, bukankah dinding itu selalu tersenyum?”

dengan bibir tersungging si Neng tersenyum kecil

Sesungguhnya di rumah itu tiada dinding

Sesungguhnya

Rumah itu adalah hatinya

Iswanto Hartono, Kembang Dayeuh (MWK dalam kenangan, 2014) (foto: indoartnow.com)

Ngaco: Solution for Nation (2014), karya Aditya Novali, menghadirkan realita pada proses membangun dinding. Jika sejatinya dinding dibangun dengan menuntut kualitas dan kepresisian, dinding pada praktiknya di Indonesia justru dibangun dengan inkonsistensi, baik disengaja ataupun tidak. Ia membuat sebuah gerai bangunan—lengkap dengan SPG-nya. Isi jualannya adalah bahan-bahan bangunan yang mencerminkan kepribadian bangsa kita. Misalnya sak-sak semen yang punya berat tak presisi seperti 49,999 kg, 49-50 kg, dan ± 50 kg; meteran yang memiliki standar panjang berbeda-beda; paint roller dengan lima pegangan yang harus dipakai dengan bergotong-royong; dan palet warna putih dengan nama-nama menjual seperti romantic white, satine white, titanium white, dan the whittest namun sesungguhnya adalah putih yang sama.

Aditya Novali, Ngaco: Solution for Nation (2014) (foto: konteks.org)

Eko Prawoto, dalam karyanya Do You Remember? (2014), membangun dinding dari batang pohon kelapa. Setiap batangnya dijalin dengan suatu tiang, lalu ditumpuk dengan batang-batang lain dalam posisi yang juga saling menjalin. Cara membangun dinding dengan material dan teknik lokal semacam itu banyak ditemukan di Indonesia bagian timur, namun sayangnya semakin jarang digunakan. Eko tidak berkreasi apa-apa, ia hanya ingin menghadirkan kembali pengetahuan itu. Dindingnya mengingatkan saya pada paparan Gottfried Semper, arsitek dan kritikus arsitektur, dalam The Four Elements of Architecture (1851). Di situ Semper menyebutkan bahwa teknik paling primitif dalam menghadirkan dinding adalah dengan menjalin atau menganyam seperti pada tikar dan karpet, bukan sesuatu yang keras seperti batu dan bata yang muncul belakangan. Uniknya, teks- (Latin), yang artinya menjalin, adalah sari kata yang mendasari kata “tektonika”.   

Eko Prawoto, Do You Remember? (2014) (foto: konteks.org)

Dinding terakhir, karya Tintin Wulia, berjudul Construction of A Hole (2010), merupakan rekaman karya performans yang ia lakukan tahun 2010 di Ark Galerie, Jakarta. Ketika itu, berbagai kolektor seni diundang datang ke acara lelang penghancuran tembok yang bagian-bagiannya mewakili berbagai cerita bersejarah. Proses itu menghadirkan kontradiksi pada laku membeli benda seni, yang biasanya untuk memiliki sesuatu, justru sekarang untuk memiliki lubang yang bukan sesuatu.

Tintin Wulia, Construction of A Hole (2010) (foto: konteks.org)

Dinding-dinding yang tak sebatas batas sebetulnya sudah seumur seni rupa itu sendiri. Dalam makalah Tatapan Jaka Tarub (2012), Goenawan Mohamad menceritakan bagaimana seni rupa pertama lahir melalui dinding. Ketika itu, seorang pria hendak pergi berperang dan terpaksa meninggalkan kekasihnya. Namun, sebelum ia pergi, kekasihnya yang berasal dari Korintus memintanya berdiri di samping sebuah lampu. Ia guratkan arang di tembok, mengikuti figur bayangan kepala si pria. Ayahnya yang seorang juru gerabah kemudian membuat relief dari tanah berdasarkan guratan tersebut, namun, menurut saya, tembok yang telah tergurat arang itu sudahlah sebuah karya seni rupa yang indah. Di situ tembok pembatas telah menjadi ruang ungkapan.

Tak heran juga jika ribuan tahun kemudian, Facebook menamai ruang untuk menampilkan konten masing-masing penggunanya sebagai dinding (wall). Di dinding Facebook sama sekali tidak ada batas. Yang ada di sana adalah ungkapan-ungkapan yang terus-menerus baru.

Saya ingin meralat kalimat pertama. Dinding itu arsitektur yang lemah.

 

Pameran The Wall/ Structure/ Construction/ Border/ Memory diadakan di Ark Galerie, Yogyakarta, 28 Maret-4 Mei 2014

(foto: konteks.org)

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu