Pameran Sejarah

Tidak mudah memamerkan sejarah. Ini cara-cara peserta pameran Venice Biennale menyiasatinya.

Author

Ada dua hal menarik pada Pameran Arsitektur Internasional ke-14, Venice Biennale, di Venesia.

Yang pertama adalah Rem Koolhaas. Saya bukan penggemar beliau, kagum pun tidak. Namun, selalu ada yang menarik dari berbagai provokasinya. Ia beserta sepasukan tim risetnya, selalu merupakan jurnalis arsitektur yang baik. Isu-isu yang ia angkat selalu aktual sehingga memicu kegentingan. Pembaca buku S, M, L, XL dan Content, dua publikasi yang ia tulis, diajak terbelalak oleh berbagai isu global terkait politik, sosial, ekonomi, budaya, dan arsitektur kontemporer di tengah keresahan masa kini. Pembaca (baca: arsitek) dibenamkan dengan keji ke dalam tajuk-tajuk berita utama yang tengah berlangsung. Namun sayang, biasanya setelah itu, karya-karya kantornya sendiri, OMA (Office of Metropolitan Architecture), akan menyelinap canggung di antara kegelisahan itu. Di tengah perasaan mual, karya-karya OMA hadir bukan sebagai penawar namun penambah kepeningan. Seperti misalnya pada salah satu edisi Content; di tengah kegelisahan mengenai hancurnya hutong-hutong di kawasan tua Beijing, gedung CCTV ditampilkan sebagai tokoh antagonis yang memperburuk suasana dan menambah tegang cerita. Hal seperti itu saya rasakan juga di Venesia.

Hal kedua adalah mengenai apa yang digagas dalam pamerannya. Pertama kalinya Venice Biennale menampilkan “sejarah arsitektur” sebagai tajuk utama kuratorialnya. Hal itu menggelitik saya karena untuk pertama kalinya juga dunia pameran arsitektur penuh gaya dilebur ke dalam seminar sejarah arsitektur yang membosankan. Saya membayangkan banyak kolega dari luar negeri akan turut serta. Saya juga membayangkan bagaimana para bintang arsitektur dunia ditempatkan dalam konstelasi kesejarahan. Biasanya para arsitek dan negara peserta selalu dapat menanggapi tema-tema kuratorialnya dengan karya yang di-pas-pas-kan. Contohnya, sampai sekarang saya tidak mengerti apa hubungan karya pemenang Golden Lion rancangan Junya Ishigami dengan tema “People Meet in Architecture” di Venice Biennale 2010. Namun di Venice Biennale 2014, hal tersebut agak sulit dilakukan (meskipun sebenarnya mau ngaco pun sah-sah saja).

Koolhaas menetapkan tema sejarah pada Venice Biennale kali ini, tepatnya mengenai bagaimana para negara peserta mengalami dan memaknai pertemuan arsitektur mereka dengan modernitas. Koolhaas juga menegaskan bahwa Venice Biennale kali ini adalah “tentang arsitektur, bukan tentang arsitek”. Otomatis, ia menyingkirkan para bintang pesaingnya dan menjadikan dirinya sendiri sebagai matahari. Berita baiknya, figur arsitek memang menghilang. Mereka tergantikan dengan wacana, peristiwa, serta relik-relik bersejarah. Venice Biennale sebagai hall of fame telah berganti menjadi museum, bahkan beberapa paviliun nampak bagaikan memorial.

Saya sendiri bersorak karena kajian yang selama ini menjadi rumah bagi profesi saya—sejarah arsitektur—ditempatkan di atas podium. Wacana yang tadinya melipir di ruang-ruang lecture theater, lengkap dengan para profesor setengah baya dan tua berpakaian kemeja rapi,  kini dihadiri oleh anak-anak muda ber-cardigan dan bercelana ngatung ala Monocle. Dengan begitu saya akan jauh lebih mudah mengajar para mahasiswa kinyis-kinyis agar suka dengan sejarah arsitektur. Saya berharap bahwa sejarah arsitektur yang tadinya dicibir akhirnya bisa mengambil tempat di tengah panggung sehingga para arsitek (Indonesia) bisa melihat relevansinya dengan praktek mereka sehari-hari.

***

Pameran Venice Biennale  tahun ini memiliki tiga pameran utama yang digarisbawahi dengan tema Fundamentals—menyiratkan keinginan Koolhaas untuk kembali memikirkan hal-hal mendasar.

Pameran pertama, yang mengambil tempat di Central Pavilion di Giardini, bertema Elements of Architecture. Pameran ini digawangi sendiri oleh Rem Koolhaas, bekerja sama dengan Harvard Graduate School of Design. Koolhaas dan tim besar yang dihimpunnya memaparkan ragam dan perkembangan elemen-elemen fisik arsitektur, antara lain: langit-langit (ceiling), lantai (floor), dinding (wall), pintu (door), jendela (window), tangga (stair), atap (roof), ram (ramp), tangga berjalan (escalator), dan lift (elevator).

Pameran Façade, di Elements of Architecture (Foto: Konteks.org)

Namun, yang paling menarik bagi saya adalah pameran kedua dan ketiga.

Pameran kedua, Absorbing Modernity: 1914-2014, diikuti oleh enam puluh enam negara. Hampir setiap negara menanggapi tema secara proporsional, bahkan banyak yang dengan serius—didukung dengan penelitian dan sumber yang mumpuni—tampil menyajikan pengalaman, pandangan, serta perayaan atas sejarah arsitektur (modern) mereka. Koolhaas memaksa kita untuk menengok sejarah sendiri dengan teliti dan mengais tumpukan lapuk catatan lawas kita mengenai praktik dan wacana arsitektur sendiri.

Banyak negara (masih) menampilkan politik sebagai wacana besar yang memberikan warna terang dalam sejarah arsitektur mereka. Politik dan meja gambar arsitek adalah dua hal yang nampak jauh dipandang dari kaca mata sehari-hari, namun—disimpulkan dari paparan berbagai paviliun–bagaikan hantu yang menghuni kertas kosong para arsitek dari masa ke masa. Kehadiran dan imajinasi politik adalah kenyataan praktik arsitektur pada setiap masa. Bagi banyak arsitek, nampaknya, politik adalah fondasi, nyata namun terkubur di bawah tanah.

Peraih Golden Lion 2014, Paviliun Korea, menampilkan sebuah "angan-angan” akan sejarah arsitektur Korea yang utuh—Selatan dan Utara. Paviliun penuh emosi namun larut dalam suasana simpatik ini menampilkan arsitektur Seoul dan Pyongyang yang bersandingan, menunjukan kontras yang dihasilkan oleh konflik era Perang Dingin yang masih berkobar hingga kini. Dengan susah payah, paviliun ini berhasil menyandingkan berbagai gagasan dan citra dua kota yang terpisahkan oleh ideologi. Beberapa proyek ditampilkan berdampingan tanpa dibandingkan, melalui gambar, maket, dan deskripsi. Selebihnya, paviliun ini menampilkan imajinasi dan deskripsi seniman mengenai kedua kota (dan arsitekturnya) dalam bentuk komik, poster propaganda, film, serta buku-buku.

Tur 360° Paviliun Korea (Foto: Jelena Prokopljevic, tres60virtual.com)

Paviliun permanen Jerman, yang dibangun dengan gaya Neo-Klasik khas zaman Nazi, ditabrakkan di bagian dalam dengan bungalow kanselir Jerman yang dibangun pada tahun 1964. Superimposisi ini didasari dengan gagasan kuratorial bahwa gaya arsitektur di Jerman adalah sebuah representasi kental dari rezim dan peristiwa politik. OfficeUS, Paviliun Amerika Serikat, memaparkan fakta aktivitas kantor-kantor arsitek Amerika sepanjang abad ke-20 dalam mengekspor karya-karya arsitektur (100 bangunan) ke seluruh penjuru dunia. Ekspor arsitektur itu berlandaskan motif ekonomi, kemanusiaan, hingga politik yang agresif dan akhirnya sedikit banyak mempengaruhi riak-riak sejarah arsitektur masing-masing negara.

Beruntunglah negara-negara yang memiliki tradisi berarsitektur yang baik (berteori serta menulis kritik dan sejarah). Mereka tinggal menggelontorkan tabungan penelitian dan penulisan dalam kemasan kuratorial dan instalasi. Namun bagi negara lain, masalah utamanya adalah bagaimana mengejar ketertinggalan ini dengan cerdik, dengan tema kuratorial yang mengena dan memanfaatkan sumber daya yang terbatas.

Beberapa negara, seperti Italia, Inggris, Jerman, Belanda, Perancis, Amerika Serikat, serta Jepang memanfaatkan posisi mereka dalam pusat sejarah arsitektur modern dengan tema yang spesifik. Mereka tidak lagi menyinggung hal-hal lazim pada sejarah arsitektur modern. Jerman, misalnya, tidak ingin repot menjelaskan konflik politik estetika rezim Nazi dan Bauhaus untuk memberikan latar pada instalasi pamerannya. Kuratornya mungkin beranggapan: dunia sudah tahu sejarah arsitektur modern Jerman. Tema spesifik yang jarang diungkap (diharapkan) memberikan sudut pandang yang segar tentang bagaimana kita melihat kembali sejarah arsitektur modern bersama dengan berbagai konteks yang menyertainya. Namun bagi negara-negara non-Eropa, senantiasa ada upaya memposisikan diri mereka dalam setiap pemaparan kuratorialnya, paling tidak mencantolkan tema mereka pada bingkai waktu tertentu atau pada sejarah sosial politik dunia.

Imposisi tema kuratorial Koolhaas juga terasa. Dalam “provokasi” awal, Koolhaas menyoroti “hilangnya karakter nasional” sebagai ciri arsitektur dewasa ini. Kekhawatiran ini dipandang sebagai sumber kegelisahan banyak orang, bahwa adalah hal yang mengerikan bilamana kota-kota dunia beserta arsitekturnya menjadi seragam dan serupa. “Karakter nasional” menjadi wacana yang akhirnya digali-gali dan dikaitkan pada dinamika sosial politik abad ke-20.

Banyak negara yang mungkin merasa tidak nyaman untuk memetakan arsitektur mereka lewat kaca mata politik. Beberapa negara menyatakan bahwa politik tidak fundamental bagi sejarah arsitektur mereka. Beberapa berusaha menyandingkan dinamika ekonomi dengan monumen-monumen mereka. Uni Emirat Arab, pada penampilan perdananya, menampilkan bagaimana sejarah industri minyak bumi mereka telah membawa kemakmuran dan modernitas, serta memberi dampak pada produksi arsitektur mereka. Menurut pengamatan saya, Kuwait dan Bahrain menampilkan kerangka kuratorial yang tidak jauh berbeda.

Beberapa negara menampilkan rasa bangga atas tradisi “modern” mereka. Belanda merayakan Jaap Bakema (arsitek dan perencana) yang berpengaruh dalam menggagas banyak infrastruktur hunian dan permukiman mereka. Brazil, dengan kuratorial sederhana dan tampilan yang biasa, ternyata mampu menyatakan gagasan bahwa mereka, meskipun bukan negara Eropa, memiliki tradisi arsitektur modernis yang kental, unik, heroik, dan berkesinambungan.

Jepang menampilkan sepenggal sejarah mereka (dekade 1970) tentang bagaimana para arsitek Jepang bertahan hidup dan berkarya di bawah bayang-bayang kebesaran gerakan Metabolisme (dekade 1960), kejayaan Expo Osaka 1970 dan pada masa krisis minyak dunia. Melalui instalasinya, yang lebih mirip gudang ketimbang sebuah museum, paviliun Jepang menyuguhkan berbagai relik orisinal dari pergulatan para arsitek jepang pada dekade yang diamati. Mereka menampilkan beberapa karya rumah tinggal dan proyek kecil dari beberapa arsitek  atau seniman Jepang dari dekade 1970. Arsitek atau sejarawan arsitektur ternama, Terunobu Fujimori, diwakilkan oleh koleksi pribadinya: elemen-elemen bangunan menarik yang diambil dari proyek-proyek pembongkaran bangunan bersejarah pada masa itu. Banyak sketsa dan gambar para arsitek dan seniman ditampilkan menunjukan fokus mereka pada hal-hal yang kecil, sehari-hari, dan biasa ketimbang hal-hal yang extravagans dan futuristik—berbeda dengan yang dipertunjukkan oleh para arsitek Jepang pada dekade 1960.

Paviliun Jepang menampilkan relik orisinal dari pergulatan para arsitek jepang  (Foto: Konteks.org)

Indonesia sendiri merayakan sebuah kualitas kerja “ketukangan”, yang senantiasa hadir pada setiap pengolahan material pada karya-karya arsitektur terpilih di Indonesia selama 100 tahun bergulat bersama dinamika sosial politik dan budaya di tengah masyarakatnya. Indonesia—sebagaimana pengalaman saya terlibat sebagai kuratornya—masih gugup dalam menentukan tema kuratorial sejak awal tema kuratorial ini disayembarakan pada bulan Agustus 2013. Selain tampil untuk pertama kali merupakan sebuah beban, tema mengenai kesejarahan menguak titik lemah perkembangan arsitektur di Indonesia: yang nir wacana, nir kritik, dan terkurung pada wacana mengenai identitas. Ketidaktegasan dalam menentukan tema kuratorial hanya mempertontonkan bahwa kita sebenarnya bersikap ambigu—tidak nyaman namun selalu merindukan—dan berjarak terhadap sejarah arsitektur kita sendiri.

Beberapa negara lain (masih) menampilkan modernitas dan kehidupan tradisional/ lokal mereka pada posisi yang berseberangan. Meski nampak gagah dengan tradisi arsitektur modernis, Meksiko masih tidak nyaman dengan modernitas dan mengusung tajuk Condemned to be modern? (terj: Dikutuk menjadi modern?) sebagai judul kuratorialnya. Paviliun Thailand meskipun nampak percaya diri menyatakan bahwa “spiritualisme” adalah yang fundamental dalam wacana arsitektur mereka, justru dengan sengaja menjauhi pertanyaan mengenai kehadiran modernitas. Paviliun Mozambik menampilkan ironi sekaligus potensi kritik yang unik. Mereka menampilkan monumen-monumen besar arsitektur dunia selama 100 tahun yang bersanding dengan “gubuk” sederhana yang relatif tidak berubah banyak sejak puluhan bahkan ratusan tahun. Bahkan Prancis, negara dengan penyandang predikat salah satu pelopor arsitektur modern, menertawakan sejarah modernisme mereka sendiri.

Paviliun Chile menampilkan sekeping dinding beton prefab yang ternyata merupakan sebuah elemen arsitektur yang begitu mendominasi kehidupan domestik rakyatnya. Berawal dari program bantuan dari Uni Soviet, sistem beton prefabrikasi telah mengambil tempat sentral dalam meletakkan tradisi bermukim baru bagi masyarakat kebanyakan.

Paviliun Chile, menampilkan sejarah beton prefabrikasi (Foto: Konteks.org)

Kekayaan pemaparan paviliun-paviliun nasional tersebut melimpah sehingga tidak akan habis dilahap dalam kunjungan satu atau dua hari. Biennale kali ini bagaikan sebuah museum, seminar, sekaligus pameran seni instalasi. Pameran seni instalasi seperti art biennale dapat kita lahap dalam beberapa hari. Seminar menyita perhatian kita dan menuntut wawasan yang cukup untuk dapat memahami setiap pembicara. Museum yang baik senantiasa membombardir kita dengan artefak dan informasi yang kaya. Kali ini, ketiganya hadir serentak dalam hingar bingar. Siapapun yang berniat menghadirinya, harus mempersiapkan diri untuk memilih pameran ini sebagai kategori yang mana.

Pameran utama ketiga bertajuk Monditalia—dengan subjudul A Scan—merupakan sebuah penggabungan berbagai penelitian yang melibatkan 41 tim arsitek/ peneliti terpisah. Pameran itu memfokuskan perhatian pada 41 titik atau lintang geografis dari bagian paling utara hingga paling selatan Italia. Sesuai judulnya, pameran ini adalah sebuah pemindaian untuk mencitrakan Italia ke dalam sederet paparan audio visual. Sepanjang galeri Corderie, selain 41 obyek/ stand arsitektur—diselipkan 82 tayangan film Italia dan panggung pertunjukan tari, musik, dan teater. Bayangkan hiruk pikuk visual yang ditimbulkan di sana.

Masing-masing tim merupakan para arsitek dan peneliti (banyak yang muda, kecuali Rem Koolhaas sendiri yang bergabung dengan salah satu tim) yang melakukan berbagai “investigasi arsitektural” terhadap berbagai hal berupa: monumen arsitektur (monumen arkeologis maupun bangunan maupun elemen fisik arsitektur sederhana), kawasan (kota maupun bentang alam), peristiwa (politik, ilmiah, gejolak sosial, bencana, fenomena populer di masyarakat, krisis ekonomi), dan wacana (peristiwa lahirnya sebuah gagasan arsitektural, penerbitan buku-buku arsitektur penting). Proyek-proyek ini menarik karena berpotensi untuk mengembangkan wawasan sejarah arsitektur kepada berbagai fenomena dan konteks, sekaligus bercermin pada perjalanan wacana arsitektur (di Italia) sendiri.

Radical Pedagogies, salah satu paviliun Monditalia yang meraih penghargaan, mencermati perkembangan wacana intelektual, arsitektur dan budaya di Italia dalam hubungannya dengan gejala-gejala sosial dan gerakan-gerakan protes mahasiswa pasca 1968. Proyek penelitian 152 Mediterania merupakan survei geografi dan arsitektural yang ekstensif menelusuri identitas sosial budaya (dan politik) 152 pulau-pulau “Italia” di laut Mediterania. Fenomena banjir besar di Venezia dan Firenze (Florence) pada tahun 1966 dijadikan sebuah refleksi mengenai sebuah krisis mengenai “dasar” (Ground Floor Crisis). Nightswimming merupakan sebuah refleksi mengenai popularitas disko sebagai budaya perkotaan sejak era 1960. Untaian pemikiran-pemikiran kritis arsitek muda ini tentunya sangat berpotensi untuk diwacanakan sebagai isu desain, lingkungan, perkotaan, hunian, identitas sosial dan politik, selain juga sebagai sebuah inspirasi estetik.

Radical Pedagogies, salah satu pameran di Monditalia yang mendapatkan penghargaan (Foto: Konteks.org)

Sebagai sebuah pameran, saya harus mengakui kesulitan untuk menikmati representasi visual dari hasil penelitian “arsitektural” ini. Saya lebih mudah memahaminya lewat penjelasan tekstualnya. Nampak setiap kelompok berupaya keras untuk menerjemahkan berbagai gagasan maupun suasana yang diwacanakan. Hal ini memang tidak mudah dan senantiasa mengandung jarak dan resiko. Pengunjung dapat mengungkap ketidakterhubungan antara tema kuratorial masing-masing peserta pameran dengan instalasi yang dibuat. Banyak gagasan yang memang abstrak dan lembut sehingga sulit untuk diungkapkan dalam bentuk instalasi pameran.

Pengunjung memang akan dibombardir di biennale kali ini. Namun bayangkan, betapa kaya informasi yang terkandung dalam upaya-upayanya. Mungkin sebuah penelitian arsitektur memang memiliki rentang media yang panjang. Ia meliputi tak hanya upaya investigatif, melainkan juga ungkapan-ungkapan ekspresi khas seniman dan arsitek—yang tidak perlu dinikmati dengan kerut di dahi.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu