Pasar Santa, Si Cinderella Kota

Semula pasar tradisional ini mati tak mau hidup enggan, sampai ia menemukan Sang Pangeran.

Author
Salah satu kios di Pasar Santa. Rela tunggu 30 menit demi dapatkan semangkuk es duren bercampur ovomaltine. (Foto: Elisa Sutanudjaja)

Menurut data dari Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), jumlah pasar tradisional Indonesia pada akhir tahun 2013 mencapai 13.450 pasar dengan jumlah pedagang mencapai 12,5 juta orang. IKAPPI bahkan berani mengklaim bahwa pasar tradisional menjadi sumber penghidupan 100 juta penduduk Indonesia.

Namun, data membanggakan ini bertolak belakang dengan nasib pasar tradisional yang semakin lama semakin menyedihkan. Sepanjang tahun 2011-2013, setidaknya ada 169 pasar terbakar. Bahkan di bulan Agustus 2014 ada 14 pasar terbakar. Sementara penetrasi pusat belanja dan ritel modern semakin meluas, terlebih setelah diterbitkan Perpres 112 tahun 2007. Selain itu, satu persatu bangunan pasar milik PD Pasar Jaya mulai dianggap tidak pantas oleh pengelola dan kemudian direnovasi. Beberapa pasar dengan karakteristik tertentu, seperti Pasar Blok M, Pasar Mayestik hingga Pasar Batu Akik Jatinegara bahkan memakai skema Public Private Partnership pada saat renovasi, yaitu dengan menggandeng developer.

Salah satu yang mengalami renovasi total adalah Pasar Santa. Resmi selesai renovasi pada tahun 2007, Gubernur Sutiyoso meresmikan Pasar Santa sambil memberikan janji akan meningkatkan kualitas 63 pasar tradisional di Jakarta. Saat itu Pasar Santa dibuat menjadi 3 lantai dengan dilengkapi kamar mandi kering hingga peralatan suara. Namun Pasar Santa pascarenovasi tersebut justru mengalami penurunan pengunjung dan satu persatu kios tutup.

Tentu saja ekspansi ritel modern berbagai skala belum tentu menjadi penyebab bagi kondisi Pasar Santa setelah tahun 2007. Bisa saja ada korelasi dengan perubahan tata ruang dan tingkat ekonomi yang terjadi di sekitar Kebayoran Baru. Namun, yang pasti Pasar Santa bak mati tak mau hidup enggan.

Pasar Santa mendadak bak Cinderella bertemu Ibu Peri ketika seorang barista dan kawan-kawannya memutuskan untuk membuka ABCD School of Coffee, tempat pelatihan bagi komunitas barista, dan ketika komunitas penggemar piringan hitam memutuskan menjadikan Pasar Santa sebagai tempat berdagang. Tentu saja dengan sewa 3-3,5 juta per kios tiap tahun, Pasar Santa merupakan tawaran yang sangat masuk akal.

Pada masa Kampanye Pilpres 2014, Pasar Santa mulai muncul di pemberitaan, berkat kunjungan dari Cawapres Hatta Rajasa, 31 Mei 2014, dan Jusuf Kalla, 1 Juni 2014. Pada waktu bersamaan, ABCD mengadakan program #ngopidipasar dan mulai mengajak orang-orang untuk datang melihat Pasar Santa dan ikut membuka usaha.

Tiba-tiba Pasar Santa yang dulu mati suri mendadak hidup. Kios-kios lantai 2 Pasar Santa yang tadinya hampir tanpa penghuni, mendadak penuh dan sisa kios lantai 1 ikut ludes dipesan; bahkan dengan calon penyewa bersedia masuk daftar tunggu, walaupun tanpa ada kejelasan kapan mereka mendapatkan tempat yang sudah ludes tersebut.

Satu persatu hadir di sana, mulai dari selebtweeps hingga para menteri, termasuk diantaranya dua Menteri Perdagangan dari periode kabinet berbeda: Mari Elka Pangestu (yang saat itu menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) dan Rachmat Gobel. Media kembali meliput, tapi kali ini tanpa ada campur tangan pesan-pesan politik dan kekuasaan. Keduanya memuji peran kaum muda dan industri kreatif sebagai motor penggerak perubahan Pasar Santa. Mari Pangestu membeli sepatu dan makan mie, sementara Rachmat Gobel dan Ngurah Puspayoga, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, bergantian mencukur rambutnya di tempat cukur gaul di Pasar Santa.

Salah satu tititk balik Pasar Santa adalah saat komunitas yang terdiri dari para pemilik toko bekerja sama dengan turut melibatkan pengelola pasar. Mereka melakukan pertemuan rutin hingga menerapkan peraturan antara mereka sendiri. Peraturan yang termasuk di antaranya adalah memastikan semua kios benar akan buka dan beroperasi. Upaya lewat musyawarah kekeluargaan ini penting dalam upaya mencegah komersialisasi kios sekaligus menjaga silaturahmi antara penghuni lama dan pendatang baru Pasar Santa.

Peran penting lain dalam perubahan Pasar Santa adalah media sosial dan penetrasi penggunaan internet ponsel pintar di kalangan kaum muda. Ketika promosi mulut ke mulut dipercepat dan diakumulasi oleh media sosial, Pasar Santa pun mendapatkan keuntungan dari akumulasi tersebut. Pengelola pun memilih media sosial yang bukan dari 2 terbesar di Indonesia—Twitter dan Facebook—melainkan Instagram sebagai corong di media sosial. Pertumbuhan popularitas Pasar Santa saat itu memang sejalan dengan pertumbuhan pengguna Instagram, walaupun keduanya belum tentu berkorelasi. Setidaknya pemilihan jenis media sosial tersebut seperti mengatakan, bahwa ‘Kami’ beda dengan arus utama.

Secara tren global, Instagram memiliki porsi pengguna dewasa cukup besar yaitu 17%, sementara Facebook 18%. Dalam porsi 17% tersebut, pengguna usia 18-29 tahun merupakan porsi terbesar, yaitu berkisar di angka 37%. Instagram sendiri mengalami pertumbuhan pesat dalam 1 tahun terakhir di kwartal yang sama, yaitu dari 130 juta menjadi 150 juta, bahkan di akhir Mei 2014, pengguna Instagram melewati angka 200 juta. Tren yang sama pun terefleksi pada pengguna Instagram di Indonesia. Instagram melengkapi Pasar Santa.

Penghuni baru Pasar Santa pun memiliki ragam motivasi saat memulai usaha ini. Ada yang iseng, ada yang sedang bosan akut, ada yang ingin melakukan perubahan, ada yang bereksperimen, ada yang punya ide kreatif, ada yang butuh penyaluran, ada yang ingin mengayomi. Ada yang merasa perlu untuk buka setiap hari, tapi banyak yang merasa puas hanya buka di Rabu hingga Minggu, atau hanya di akhir pekan saja pada jam tertentu dengan suasana hati tertentu. Tentu saja berbeda dengan penghuni lantai lainnya, penjahit, kios sandang pangan, sayur mayur, dan toko mas, yang menjadikan usahanya sebagai sumber penghidupan keluarga.

Sudut cantik di tengah pasar, bisa juga untuk mempercantik kuku kaki (Foto: Elisa Sutanudjaja)

Setiap ada perubahan, selalu ada kecurigaan dan kekhawatiran. Apakah yang baru akan menggusur yang lama? Bagaimana dengan nasib penghuni lama, akankah mereka akan tergiur menyewakan kiosnya untuk memberi tempat bagi anak muda? Atau apakah kaum kreatif akan (sekali lagi) menjadi tertuduh gentrifikasi, seperti layaknya pekerja Mountain View yang menjadi tertuduh atas perubahan distrik The Mission di San Francisco? Atau justru membayangkan sebaliknya, apakah Pasar Santa sekarang akan memberikan perubahan baik untuk kawasan Kebayoran Baru yang sejak lama tertekan oleh pembangunan masif di sekitarnya?

Komunitas yang terbentuk di Pasar Santa bukannya tidak sadar akan pertanyaan-pertanyaan di atas. Sesuai kapasitasnya, mereka berusaha menjaga dan menjalin hubungan ekonomi antara penghuni baru dengan pedagang lama. Beberapa pedagang makanan baru di Lantai 2 mengaku konon mereka kerap membeli bahan baku di lantai basemen atau lantai 1, atau para pemilik distro lantai 2 kerap memanfaatkan keahlian para penjahit penghuni lantai 1. Tentu saja ini bisa menjadi peluang bagi penghuni lama yang jeli. Keragaman kios di lantai 2, yang menyajikan kue cubit Nutella hingga taco isi bulgogi, sesungguhnya bisa membawa variasi jenis bahan baku yang bisa ditawarkan. Namun memang relasi terjadi antara pedagang lama dan baru sebagai produsen-konsumen perlu dikaji lebih jauh, terlebih mengenai keberlanjutannya (sustainability).

Reinkarnasi Pasar Santa bukannya hadir tanpa ada perubahan terhadap lingkungan. Pasar Santa yang tadinya ditujukan dan direncanakan sebagai pasar wilayah kelas kecamatan untuk kebutuhan sehari-hari, bergeser menjadi pusat gaya hidup serta menarik perhatian melebihi distrik dan kawasan Jakarta Selatan.

Pasar Santa sendiri bukan berada di jalan utama, atau dalam hal ini Jalan Wolter Mongisidi. Ia terletak di jalan selebar 6 meter, yang jika ada dua mobil lewat dan satu mobil parkir, maka harus ada yang bergantian. Bangunan tersebut terletak di sempalan Kebayoran Baru yang belum terselesaikan secara sempurna di masanya, beda dengan sisi Utara Kebayoran Baru.

Perubahan tersebut akan membawa pada isu klasik kelas menengah Jakarta sepanjang masa: parkir, parkir dan parkir. Pasar Santa akhirnya dipaksa untuk mampu mengakomodasi rombongan kunjungan keluarga dari Karawaci, Tangerang; atau rombongan millennials dari Pluit atau Kelapa Gading hingga kaum profesional nan wangi necis dari SCBD - dan belum tentu mereka akan datang dengan naik KRL turun di Stasiun Kebayoran Lama atau Sudirman dan berganti dengan Kopaja atau Transjakarta. Pasar lingkungan didesain untuk mengakomodasi warga-warga yang hidup di sekitarnya, dengan asumsi calon pengunjung akan datang dengan berjalan kaki, naik sepeda, bajaj dengan perhitungan pemakaian mobil jauh di bawah pejalan kaki.

Lorong sempit pun bisa jadi tempat pamer dan kampanye (Foto: Elisa Sutanudjaja)

Pada akhirnya parkir membludak meluberi jalan-jalan perumahan di sekitar Pasar Santa seperti Jalan Cisanggiri. Dan kondisi ini membuat jengah penghuni di sekitar Jalan Cisanggiri, yang merasa terganggu dengan kehadiran deretan mobil yang tidak mereka kenal. Rupanya gejala NIMBYISM (Not In My Backyard-ism) di Jakarta tidak hanya terjadi pada proyek infrastruktur publik yang melewati kawasan eksklusif tertentu, tapi terjadi juga untuk kasus Pasar Santa ini.

Apakah mungkin terjadi lagi kejadian penghuni lama kawasan elit Menteng sekitar stadium Menteng yang satu per satu meninggalkan rumahnya karena merasa tidak nyaman dengan perubahan stadium Menteng menjadi pusat perbelanjaan, hotel dan taman publik? Setidaknya ada 2 rumah sekitar Jalan Cisanggiri yang beralih fungsi dari rumah tinggal menjadi tempat usaha dan kantor. Tentu ini adalah hal klasik yang selalu muncul di berbagai distrik di Jakarta: ketika magnet ekonomi muncul maka terjadi upaya resistensi maupun upaya ambil untung dalam kondisi tersebut.

Ruang-ruang pascarenovasi tahun 2007 didesain secara utilitarian ala pemerintah yang kerap memikirkan kuantitas di atas kualitas: kios dengan ukuran 2x2 meter saling berdempet dengan gang-gang tanpa pengkondisian udara dengan lebar sekitar 2 meter. Ketika pendatang baru berhadapan dengan kondisi ruang tersebut, satu persatu ruang utilitarian dipaksa untuk berubah - terbebas dari imajinasi sempit ala pemerintah. Ruang-ruang di Pasar Santa juga dipaksa untuk mengakomodasi fungsi nonpasar lain, seperti pameran karya, propaganda hingga pemotretan serta shooting film nasional.

Organisasi dan dimensi ruang Pasar Santa kini dihadapkan pada pengunjung barunya, yang memiliki karakter demografis yang berbeda dan spesifik. Pasar Santa kini harus mengakomodasi perilaku pengunjung yang gemar selfie, berjalan-jalan bergerombol, datang untuk melihat dan dilihat, serta untuk terpukau oleh utilitarian yang sesungguhnya asing dalam keseharian mereka.

Namun terlepas dari berbagai tantangan di atas (dan juga tantangan klasik pasar, yaitu sampah) ada bahaya yang mengancam, yaitu keinginan dan harapan pemerintah dan pihak-pihak lain untuk bisa menduplikasi Pasar Santa di mana-mana. Gubernur DKI Jakarta, Basuki Purnama menyatakan bahwa banyak pasar-pasar tradisional di Jakarta yang belum dimaksimalkan. Pasar Santa dianggap sebagai contoh pengembangan pasar tradisional oleh generasi muda. Ujarnya lagi: “Anak-anak muda kreatif mau bangun apapun bisa, kalau ke mall suruh bayar setahun di muka dari mana modalnya, makanya kita potong harian. Siapa bisa sediakan tempat seperti itu ya Pemda.”

Sementara Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel, yang menyebut Pasar Santa sebagai pasar gaul, mengharapkan tiap kota di Indonesia memiliki 1 pasar gaul, selaras dengan upaya pemerintah Joko Widodo membangun 5000 pasar di seluruh Indonesia. Seolah-olah Pasar Santa adalah sebuah rumus yang diharapkan menjawab tantangan yang dihadapi pasar dan menjadi template kontemporer pabrikan yang wajib ada di tiap kota tanpa peduli apakah kota tersebut memang membutuhkannya atau tidak.

Secara fisik, pasar gaul bisa dibangun di mana saja, kapan saja, bahkan dengan desain yang jauh lebih menarik. Namun pada akhirnya ada hal-hal yang tidak bisa dirumuskan, yaitu komunitas, kreativitas, dan momentum. Ketiganya saling berkaitan: Ibu Peri datang di saat tepat bagi Cinderella yang sabar menanti perubahan untuk bertemu Sang Pangeran yang sedang jenuh akan rutinitas berburu.


Tawaran jasa kaki lima rasa kontemporer: usaha cuci sepatu (Foto: Elisa Sutanudjaja)

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu