Paulus Mintarga: Bambu Punya Peluang

Bamboo Biennale, Solo, selesai diadakan. Ini obrolan kami dengan penggagasnya.

Author

Bukan urusan mudah bagi sebuah kota untuk menyelenggarakan biennale. Selain butuh tenaga dan dana besar, sedari namanya sendiri biennale memerlukan konsistensi. Itu sebabnya ketika mendengar Bamboo Biennale, acara yang diadakan di Solo, 31 Agustus-28 September 2014, saya sesungguhnya salut pada keberanian penyelenggara. Selain biennale sendiri sudah merepotkan, keberadaan kata bamboo membuat penyelenggara harus setia mengabdi pada satu material saja.

Namun, mengapa bambu perlu dirayakan dan apakah bambu memang akan terus relevan untuk dibicarakan?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya menemui Paulus Mintarga, penggagas Bamboo Biennale. Ia orang yang sangat bersemangat; sosok yang penuh cerita, gagasan, dan tindakan. Kami berbincang di Rempah Rumah Karya, bengkel kerja yang ia bangun seluruhnya dari material bekas. Di ruang kerjanya yang tenang menghadap hamparan sawah, ia menceritakan bagaimana Bamboo Biennale bermula dan mengapa ia perlu ada.

 

Bagaimana Bamboo Biennale bermula?

Sebetulnya Bamboo Biennale masih satu rangkaian dengan Merajut Bambu. Namun di Bamboo Biennale memang ada banyak kepentingan jadi satu. Solo, oleh Kemenparenkraf, diajukan sebagai salah satu calon kota kreatif dunia (UCCN) bersama dengan Bandung dan Yogyakarta. Bandung awalnya memilih gastronomi (sebelum akhirnya memilih desain). Yogyakarta memilih craft dan folk art. Solo terakhir memilih; inginnya gastronomi atau folk art, namun Kemenparenkraf membujuk untuk memilih desain.

Kami bingung, apalagi Bandung saja ketika itu tidak memilih desain. Tapi kami pikir tidak apa-apa. Ini malah kesempatan karena Solo dan Yogyakarta, sebagai kota kerajaan, sudah terlalu kuat dalam seni budaya, sudah banyak dewa-dewanya. Kalau kami berpijak di situ, malah akan ada resistensi. Tapi ketika pilihannya desain, justru asyik dan memberikan kesempatan pada anak-anak mudanya. Anak muda di Solo sulit untuk sukses berkarya karena sudah terlalu banyak dewanya.

Akhirnya kami ambil desain. Lalu untuk jadi kota kreatif dunia, kami pikir Solo harus punya acara internasional yang menarik. Kebetulan saat itu, Bambang Cahyo, staf Kemenparenkraf, dan Danang Priatmodjo, Sekretaris IAI, datang ke Solo untuk mendiskusikan niatan membuat acara arsitektur. Saat mengobrol (di Rempah Rumah Karya), Danang melihat maket menara bambu dan melontarkan ide untuk membuat acara Bamboo Biennale. Saya tertarik karena acara itu bisa menajamkan acara Merajut Bambu. Saya menyetujui. Hanya setelah itu, tidak ada kabar lagi dari mereka. Ternyata programnya batal. Saya tetap coba ajukan sendiri ke komunitas dan teman-teman. Akhirnya bisa tembus. Kami didukung beberapa dinas dan program ini kemudian masuk ke Dinas Pariwisata. Saya juga mencari teman yang bisa menghubungkan dengan Bu Mari (Elka Pangestu). Akhirnya kami mendapat dukungan Kemenparenkraf, terutama untuk pembiayaan seminar.

Apa gagasan mendasar dari rangkaian acara di Bamboo Biennale?

Karena acara ini merupakan rangkaian dari Merajut Bambu, saya mendiskusikannya dengan Eko Prawoto. Kami berpikir begini: pendukung utama acara ini adalah kota, oleh karena itu masyarakat perlu mendapat manfaat juga. Daripada bikin acara yang sementara namun tidak ada kelanjutannya, kami berpikir untuk berkolaborasi dan bersinergi untuk mengembangkan potensi daerah.

Maka kami batasi wilayahnya menjadi Solo dan sekitarnya saja. Saya lalu bertemu Kusuma Rully, dosen UNS, yang memiliki kegiatan pemetaan. Saya tanya kepadanya apakah bisa melakukan pemetaan bambu, sehingga bisa jadi bagian dari Bamboo Biennale. Dia tertarik. Akhirnya ada tiga tempat yang ia petakan. Hasil dari pemetaan itu kemudian mengerucut. Hasilnya kami berikan ke seniman dan arsitek yang residensi. Mereka lalu mengunjungi sentra pengrajin yang telah dipetakan. Kami membuat kerangka acuan agar karya-karya yang dihasilkan punya tujuan sama, yaitu untuk mendiversifikasi produk, memberikan nilai tambah. Di luar itu, peserta boleh tidak membuat produk terapan asalkan menggunakan sampah, misalnya seperti yang dilakukan oleh Adi Purnomo (Cocoon, karyanya, menggunakan ampas bambu yang tidak digunakan pengrajin). Kami berharap kami tidak nyampah, tetapi boleh nyampah asal ada sesuatu yang diperjuangkan. Setelah kunjungan ke pengrajin, mereka membuat desain, residensi, dan membuat produk rancangan mereka.

Mengapa bambu?

Ada kesempatan di material bambu. Selama ini, menurut saya, kita masih terjebak dengan bambu berpenampang bulat. Saya, misalnya, ingin mencoba bambu belah untuk rekayasa struktur. Selama ini aplikasi bambu sifatnya preventif, yaitu pengawetan. Kita belum mencoba untuk ofensif. Tadi (di seminar) ada yang presentasi memasukkan partikel besi ke pori-pori bambu. Itu lompatan menarik karena bisa mengubah perilaku struktur.

Bambu punya peluang untuk dikembangkan lebih jauh lagi. Andry Widyowijatnoko sudah bikin sistem konektor. Tapi sebetulnya kesempatan masih banyak. Selama ini orang membuat konektor bambu dari besi, baja, dan macam-macam. Saya berpikir untuk membuat konektor dari bambu itu sendiri. Saya tidak tahu mengapa belum ada yang tertarik. Dengan memakai bambu belah, misalnya, bambu yang masih utuh pun tinggal dimasukkan seperti lidi: dibelah, dilem, diikat, dipen, dan sebagainya; itu bisa sangat kuat. Dan kalau kecil-kecil, mau bikin sudut berapa pun bisa. Enaknya lagi, kalau sama-sama material organik, kohesinya bagus.

Bambu jika dikombinasikan dengan kayu juga menarik. Unik sekali. Masih bisa kohesi, dan pada saat bersamaan mengubah perilaku struktur. Seperti beton bertulang, campuran beton dan tulangan. Bambu dan kayu agak serupa dengan itu. Kendalanya untuk riset masih susah, jarang, dan universitas belum tertarik.

Cung (Setiadi Sopandi) pernah menulis bahwa seksinya penggunaan bambu di Indonesia bisa berdampak pada lonjakan harga dan kelangkaan, sehingga bambu menjadi tidak terjangkau dan menjadi senasib dengan kayu jati.

Sebetulnya begini: sama-sama menghabiskan, lebih mending menghabiskan bambu daripada kayu karena pertumbuhannya jauh lebih cepat. Saya punya ide untuk membuat akademi bambu. Fokus awalnya adalah pada produksi materialnya dulu. Di desa, umumnya setiap rumah punya tanaman bambu. Kita bisa membuat tempat pengawetan bambu. Kita beli bambu dari mereka, namun harus tebang pilih dan meyakinkan mereka agar tanamannya jangan dibakar. Ketika dibeli untuk konstruksi perancah, pola praktik sekarang ini adalah rumpun bambu dipotong semua lalu dibakar sehingga tidak bisa tumbuh lagi. Kalau polanya bisa diubah, dengan sistem tebang pilih, itu menarik. Setahun bisa ambil dua-tiga kali. Kalau mereka dapat penghasilan rutin, mereka pasti tertarik. Dan kalau tebang pilih kita juga bisa kasih harga lebih tinggi.

Dengan begitu kekhawatiran Cung bisa dijawab?

Sangat bisa. Kekhawatiran Cung salah satunya adalah ketika bambu dipakai (dengan masif) untuk perancah. Namun sebetulnya hampir semua kontraktor sekarang sudah tidak mau pakai bambu. Mereka cenderung pakai perancah besi karena lebih efisien dan lebih murah serta bisa dipakai terus-menerus. Hukum alamnya, kalau kita bisa memberikan nilai tambahpada bambu, mereka tentu tidak mau jual untuk perancah.

Pemetaan adalah salah satu agenda penting selama di Biennale ini. Apa misi dari pemetaan tersebut?

Pemetaan yang dilakukan Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) UNS itu seperti sensus. Misalnya mendata ada berapa sentra bambu di Solo.

Pemetaan ini berguna karena kita ingin memanfaatkan database tersebut. Database yang ada adalah data basic yang bisa digunakan desainer. Dari situ desainer perlu melihat sendiri. Kalau tidak mengunjungi langsung tidak mungkin bisa, karena perspektifnya beda antara orang yang memetakan dan seniman.

Misalnya ketika saya datang ke pengrajin tampah, saya melihat potensi rangka tampah untuk dijadikan cermin. Terjadi diskusi dengan pengrajin. Ternyata dengan bambu jenis yang sama di tempat berbeda, naturnya beda. Misalnya bambu apus yang digunakan untuk Sangkar Burung (karya Oky Kusprianto dan Paulus), para pengrajin muda cenderung ingin menggunakan bambu apus Karangpandan. Alasannya adalah karena bambu apus Karangpandan lebih lunak jika dibandingkan bambu apus Salatiga. Waktu saya datang ke satu pengrajin tua, saya celetuk sok tahu apakah bambu yang ia gunakan adalah bambu Karangpandan. Ia jawab, “Belum tentu. Memang banyak orang tidak suka dengan bambu apus Salatiga. Kalau saya tidak. Bambu apus Salatiga ini memang keras, pengerjaannya susah. Namun begitu dilengkungkan dan jadi, ia lebih kuat.”

Ini kan menarik, sama-sama bambu apus, karena satu lahir di Salatiga satu di Karangpandan, karakternya berbeda dan konsekuensi penggunaannya juga berbeda.

Ketika saya datang ke pengrajin furnitur, saya menanyakan salah satu jenis bambu yang ia gunakan. Ia menyebutnya bambu legi. Saya heran mengapa bambu legi tersebut kecil dan tebal. Biasanya Legi sekitar 10-15 cm, namun yang ini 6-7 cm. Dia bilang bambu legi ini hanya ada di Gemolong. Ia juga ceritakan bambu wulung hitam yang ia gunakan hanya dari Gunungkidul. Alasannya, warnanya akan bertahan warna hitam. Bambu wulung dari tempat lain, katanya, seiring waktu akan memudar jadi coklat muda. Gila, pikir saya, padahal ini hanya Solo dan sekitarnya.

Mapping PWK memang tidak sampai sedetail itu. Saya juga teringat buku yang ditulis Elizabeth Anita Widjaja, ahli taksonomi bambu. Di buku taksonominya, ia tidak menyebutkan lokasi spesifik bambu dan sifat-sifat teknisnya. Andaikata riset itu dibarengi dengan sifat-sifat bambu dan bekerjasama dengan laboratorium sipil di kota terdekat, pasti akan asyik.

Itu yang saya usulkan. Itu database paling penting dan mendasar. Kalau sudah dapat, sudah tinggal dipikirkan mau bikin apa. Hanya, ketika kita ingin membuat acara ini menjadi bagian dari para pihak yang selama ini sudah berkecimpung, kita harus melibatkan pengrajin. Pola pikirnya adalah bagaimana supaya mereka bisa lebih diberdayakan. Ini acara publik; tujuannya bukan hanya untuk membuat sesuatu yang enak dilihat, melainkan bisa memberikan manfaat untuk pihak yang terlibat.

Apakah sumber daya bambu di Solo memang besar?

Lumayan. Elizabeth mengatakan bambu petung dari Karangpandan termasuk yang terbaik di Indonesia. Kemudian ada Boyolali. Sekeliling Solo punya banyak material bambu.

Itu membuat Bamboo Biennale jadi tepat untuk dilaksanakan di Solo.

Sebetulnya ide kami malah tidak terbatas pada Solo. Ke depan, saya mengajak teman untuk membuat biennale paralel di beberapa kota. Ini kesempatan yang bagus.

Kemarin saya ketemu Heri Pemad. Dia sempat menawarkan untuk mengadakan Bamboo Biennale ini di Yogyakarta, namun saya bilang yang kali ini biar berjalan dulu di Solo. Berikutnya, baru kita jalankan paralel. Kami ingin menjaring rekan-rekan untuk bersinergi. Kalau berpikir untuk kepentingan orang banyak, ya harus dengan cara itu. Lagipula tidak ada ruginya. Apalagi polanya adalah pengembangan kesetempatan dan keunikan, ketika kita melihat karakter bambu seperti itu, respons masing-masing kota akan berbeda-beda. Teori kesetempatan, tektonika, dan sebagainya jadi kelihatan.

Saya usulkan ke Heri untuk membuat pameran function art. Selama ini artisan yang berkarya inginnya menyampaikan sesuatu melalui itu. Begitupun arsitek, masih banyak yang terjebak di seni instalasi. Saya kagum dengan Pak Ahadiyat, pembicara seminar tadi. Kesimpulan yang ia sampaikan jelas: mengembangkan satu-dua pilot project untuk jadi produk. Ia berkata pada saya bahwa kita harus berpikir, meskipun kita membuat karya seni, sebaiknya tetap ada fungsinya. Ini seperti orang sudah terkenal lalu menjatuhkan dirinya. Seniman-seniman ini kan, merasa lebih unggul ketika membuat karya seni, ketimbang saat membuat produk. Pak Ahadiyat dengan sadar sendiri mau seperti itu, tanpa juga merendahkan karyanya. Ia membuat produk namun tetap kental seninya. Ini function art.

Termasuk Bamboo Biennale ini, saya senang sekali ketika pembukaan karena karena respons antusias dari masyarakat. Warga berfoto, masuk ke sangkar burung, main di ayunan.

Santai, casual. Jauh lebih menyenangkan melihat karya ayunan bambu yang dimainkan banyak orang ketimbang melihat instalasi cantik yang disentuh saja tidak boleh.

Kalau kita bukan seniman, ya sebaiknya fungsional. Walau tetap saja banyak arsitek ingin membuat instalasi. Sementara usul saya ke Heri Pemad terbalik, justru seniman membuat function art—sesuatu yang berfungsi. Dia tertarik.

Anda puas dengan karya-karya instalasi bambu di Biennale?

Saya sangat puas. Secara pribadi, saya belajar banyak hal. Dari Cakcak (Andrea Fitrianto) saya melihat struktur yang sangat simpel, sederhana, dan cerdas—hanya dari sekian batang bambu. Intervensi teknologinya juga sederhana. Mudah dipahami awam dan terjangkau.

Saya dan Oky kebetulan sama persis. Bedanya, saya tujuannya untuk ruang makan, sedangkan Oky untuk retail di bandara. Kami akhirnya bareng. Ketika saya cerita ini ke Pak Yulianto di Bali, dia bertanya apakah bisa dibuat dengan diameter 4 meter. Kalau bisa, ia mau pesan lima belas. Itu respons yang diharapkan. Kalau sampai ada yang mau lihat, dan pesan, maka tujuan biennale ini tercapai. Meski dari TOR nya ada 2-3 alternatif pendekatan, mayoritas tepat sasaran.

Contoh menarik lainnya adalah karya mahasiswa UNS yang membuat cangkang melengkung. Ketika rapat teknis, kami lihat instalasi itu terlalu kecil. Kami usul jadikan 8mx8m atau 10mx10m saja. Mereka setuju untuk jadikan 8mx8m. Lalu ketika saya lihat ada perancah, saya usul untuk hilangkan itu supaya orang bisa duduk di bawahnya. Akhirnya mereka coba. Mereka pikir sudah selesai. Waktu saya tanya bagaimana cara membuatnya, saya tanya tutupnya pakai apa. Mereka bilang mereka pesan anyaman dari pengrajin. Saya bilang tidak bisa, ini tiga dimensi dan iregular, kamu harus anyam di tempat. Pak Eko setuju juga. Mereka persuasi ke pengrajinnya dan ternyata mau. Mereka siapkan bahan dan anyam di tempat. Prosesnya menarik sekali. Pengrajinnya berkarya di tempat sekitar 4-5 hari. Sabtu malam, begitu mereka kirim foto hasil akhirnya, saya komentar bahwa karya mereka bagus sekali dan paling spektakuler di antara yang lain. Kita kenal struktur cangkang, tapi kita tidak pernah membayangkan struktur cangkang bambu. Anyaman kita banyak yang menggunakan struktur cangkang, tetapi kita tidak pernah berpikir skala besar. Ini satu kesempatan baru lagi.

Karya yang muncul berbeda-beda. Masing-masing ada nilainya. Ada hal yang bisa ditangkap dan itu cukup kuat dan bermanfaat.

Dengan misi Bamboo Biennale yang lebih ke arah internal, apakah sudah ada dampak nyata?

Ini tentu belum selesai. Namun yang saya senang, respons-responsnya berlanjut di luar dugaan.

Saya tetap berprinsip akademi bambu harus ada untuk jadi inkubator. Kita bisa datangkan tenaga ahli dari berbagai kota. Kita bisa kembalikan lagi ke pengrajin dan lain-lainnya. Acara Bamboo Biennale bisa jadi think tank atau penggerak utama kegiatannya sendiri.

Melihat proses dan perkembangannya, acara ini sudah berhasil namun belum selesai sampai di situ saja.

 

 

 

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu