Paviliun Indonesia Venice Biennale 2014: Video Teaser

Untuk pertama kalinya, Indonesia akan ikut serta dalam Pameran Arsitektur Internasional Venice Biennale 2014.

Author

Tahun ini, pertama kalinya Indonesia akan ikut serta dalam Pameran Arsitektur Internasional Venice Biennale 2014 yang akan diadakan di Venesia, Italia. Pameran itu akan berlangsung sejak bulan Juni 2014 selama 6 bulan. Tim kurator terpilih: Avianti Armand, Setiadi Sopandi, David Hutama, Achmad Tardiyana, dan Robin Hartanto, mengangkat tema "ketukangan", dengan menggunakan material sebagai pintu masuk dalam menceritakan sejarah 100 tahun arsitektur Indonesia. Keenam material tersebut adalah kayu, batu, bata, beton, metal, bambu.

“Kami menulis material seperti menulis riwayat seseorang. Masing-masing material: kayu, bata, dan lain sebagainya, memiliki riwayat bagaimana dipakai orang dan dinilai,” ujar Setiadi Sopandi, dalam Konferensi Pers, 7 Februari 2014, di Galeri Seni Kunstkring, Jakarta.

Untuk menampilkan keenam cerita material tersebut, tim kurator menggunakan pendekatan yang justru immaterial. Seluruh penyajian isinya menggunakan video sebagai medium dan kaca sebagai bidang proyeksi. Davy Linggar dipilih sebagai art director.

Berikut adalah video teaser oleh Davy Linggar dan penjabaran tema "ketukangan" oleh tim kurator.

 

PAVILIUN INDONESIA

KETUKANGAN: KESADARAN MATERIAL

Venice Architecture Biennale adalah satu ajang pameran arsitektur garda depan dunia  yang telah diselenggarakan sejak 1980. Keikutsertaan Indonesia di Venice Architecture Biennale 2014 adalah untuk yang pertama kalinya. Kegiatan pameran ini diinisiasi oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Ikatan Arsitek Indonesia, dan didukung pula oleh Kemetrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Tema yang diusung Pameran Arsitektur Internasional Venice Biennale tahun ini adalah:

Fundamentals. Absorbing Modernity: 1914 -2014.

Tema ini memaksa kita untuk melihat seratus tahun sejarah arsitektur “kita” dalam “persinggungan”nya dengan modernitas. Pada pengantarnya, Rem Koolhaas – kurator utama Biennale – meminta tiap negara peserta pameran untuk menunjukkan, dengan caranya masing-masing, proses terkikisnya “karakter nasional” karena diadopsinya sebuah bahasa arsitektur modern yang universal.

Indonesia memahami modernitas sebagai sesuatu yang kasual, terjadi secara berangsur-angsur dan terus menerus. Meski begitu, kita semua paham bahwa ada “modernitas” lain yang didesakkan pada kita. Modernitas yang datang dengan segala sesuatu yang “baru”: tatanan sosial-ekonomi-politik yang baru yang membawa dan membutuhkan kelengkapan baru, barang-barang baru, moda produksi baru – yang semuanya menuntut untuk diakomodasi dan diadaptasi. Hal ini berpengaruh bukan cuma pada pola konsumsi kita, melainkan pada keseluruhan moda produksi kita. Termasuk arsitektur.

Dalam imbasan modernitas, semua sumber daya – baik itu alam maupun manusia – menjadi instrumen dalam lini produksi. Dalam hal ini: kapital. Sehingga, kerja menjadi sebuah komoditas.

Sebagai arsitek, kita bekerja untuk menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik. Tapi metoda produksi modern membagi proses ini ke dalam 2 wilayah besar: Desain – yang merepresentasikan ide, dan Konstruksi – yang merepresentasikan kerja lapangan.

Seperti ban berjalan yang rapi, spesialisasi ini mengkondisikan arsitek untuk bekerja hanya di satu aspek tertentu yang memfokuskan perhatian mereka pada hal-hal tertentu saja. Dalam proses itulah, kita seringkali kehilangan kontak dengan keseluruhan proses. Seringkali para arsitek tidak lagi merancang berdasarkan pemahaman yang cukup terhadap tapak, lokasi, iklim, topografi, sumber daya alam, tenaga, teknologi, dan ketrampilan membangun serta material. Seringkali arsitek tidak lagi memiliki kepekaan dan kesadaran materialitas arsitektur.

Kehilangan kesadaran akan materialitas dalam moda produksi, khususnya arsitektur, menyebabkan kita abai pada akibat yang bisa terjadi pada alam, juga manusia. “Kita telah menjadi alat dari alat-alat kita”, ujar Henry David Thoreau. Maka dari itu, kita kini dihadapkan pada sederet bencana yang mengancam pelan-pelan: penggundulan hutan, kota-kota yang mati, urbanisasi tak terkendali, banjir, sampah yang menggunung, dan lain-lain.

Dalam menghadapi gulungan jaman, ada 3 hal yang terjadi bersamaan:

Kita bertahan dengan (1) cara-cara tradisional, (2) kita melampaui jaman dengan mengikuti arus modernitas, dan/ atau (3) kita bekerja berdasarkan kesadaran empirik untuk menghasilkan sesuatu yang berkualitas disertai kepekaan kepada tenaga manusia, bahan, lingkungan alam, dan semua yang konkrit, berubah, dan majemuk – saat ini. Inilah yang disebut “ketukangan”.

“Ketukangan” ditandai oleh komitmen untuk mengerjakan sesuatu sebaik-baiknya. Hasil dari “ketukangan” belum tentu sesuatu yang mendekati kesempurnaan. Seringkali ia adalah upaya “coba-coba”; menurut seniman Fausto Melotti, proses berkesenian senantiasa adalah situasi “percobaan”. Di sini, “ketukangan” mencobai sifat-sifat material dengan teknologi dan ketrampilan yang ada hingga ke batas-batas terakhirnya.

Karena itu, kita bisa berkata bahwa “ketukangan” merupakan jalan alternatif ke arah memanusiakan kembali kerja yang menjadi terasing karena kapitalisme. Kita tahu, dalam kapitalisme, kerja bukanlah kesenangan, melainkan komoditi. Di sinilah “ketukangan” merupakan jawaban ekonomis, estetis, bahkan etis terhadap materialitas.

“Ketukangan” bukan saja hal yang fundamental dalam wacana modernitas dan arsitektur saat ini tapi juga adalah masa depan kita. Hanya melalui keterlibatan yang mendalam terhadap budaya material (material culture), sebuah pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana kita menproduksi sesuatu, kita dapat menjadi lebih sadar akan dampak dan pengaruh dari apa yang kita hasilkan – terhadap manusia, lingkungan hidup dan kehidupan kita secara menyeluruh.

Dari sekian banyak pintu masuk menuju sejarah 100 tahun arsitektur di Indonesia, kami mendekati “ketukangan” lewat sesuatu yang begitu erat dengannya: material atau bahan. Kami menggunakan bahan/material sebagai pintu masuk. Ke 6 bahan/material tersebut secara terus menerus mempengaruhi bagaimana perkakas, ketrampilan tukang, langgam, dan teknologi membangun bergerak dan berubah di seputar mereka. Ke 6 material tersebut adalah: kayu, batu, bata, beton, metal, bambu.

Dengan keberagaman material tersebut, kami memilih media dan cara penyampaian yang immaterial: kaca dan film untuk membuat “suara” atau “voice” dari apa yang ingin kami sampaikan terdengar. Bukan sekedar “bising” atau “noise”.

Selain itu, ada satu isu menarik terkait dengan penggunaan kaca. Dalam 100 tahun sejarah arsitektur di Indonesia, kami tidak menganggap kaca punya andil besar. Padahal, dalam wacana sejarah arsitektur modern di dunia, kaca dan besi perannya sangat sentral. Meski demikian, bahan bangunan ini justru kami tampilkan hanya sebagai material instalasi, bukan dalam bahasan.

Ini jadi proposisi yang menarik dan membuat sejarah arsitektur Indonesia jadi khas. Secara singkat penjelasan kami adalah: kaca memang tidak pernah cocok sebagai material yang dominan di iklim tropis. Maka, kami menampilkan kaca sebagai sesuatu “yang lain”, yang “tidak material”.

 

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu