Perjalanan Meruang di Wisma Kuwera

Sebuah catatan perjalanan menyusuri Wisma Kuwera karya Romo Mangun

Author

Di balik temaram sore, aku melihatmu dari sudut langsung yang pandangannya separuh terhalang. Rumah ini menara intip yang sempurna. Aku menangkapmu, pohon besar, dan langit tempat bintang bertabur nanti malam. Semakin aku berkeliling, banyak hal terpikir. Bukan, bukan tentang bagaimana struktur itu bersambungan. Hanya hal-hal yang lebih manusiawi.   

Wisma Kuwera merupakan rumah kediaman Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Seperti kita ketahui, mendiang seorang arsitek yang merangkap sastrawan, rohaniawan, politikus, aktivis sosial, sekaligus –atau sastrawan merangkap arsitek, rohaniawan, politikus, aktivis sosial. Atau rohaniawan merangkap sastrawan, arsitek, aktivis, politikus. Sama saja.   

Sepeninggal beliau hingga kini, Wisma Kuwera lebih banyak difungsikan sebagai Kantor Yayasan Laboratorium Dinamika Edukasi Dasar.  Semakin matang ia melewati masa tumbuh dengan berbagai perubahan fisik -dan roh-nya- selama puluhan tahun di nadi gang Kuwera yang tenang. Salah satu anak jalan dari Jalan Gejayan Mrican, Yogyakarta, yang berkebalikan: tidak pernah sepi.

Di balik ruko-ruko berlantai tiga hingga empat, ia berbaur supel dengan rumah-rumah kotak beratap pelana dan limasan walau dengan profil bangun yang tidak biasa. Dua atap trapesium berwarna merah melingkupi dua masa bertingkat dua, kanan dan kiri. Terhubung oleh satu massa padat cukup panjang yang lebih menjorok ke dalam. Begitu kurang lebih yang tertangkap dari depan.

Namun setelah masuk dari pintu di sayap kanan, nyatanya peta ruang yang terbayang mengabur. Pintu justru membuka vista ke gugusan ruang terbuka yang saling tumpuk, terhubung, dan mengikat. Tidak jelas batas dua massa, begitupun tanda tingkat dua. Kecuali jika lima atau lebih variasi ketinggian itu bisa dianggap mezanin semua. Walau tetap bingung yang mana tingkat aslinya. Agar lebih mudah, coba bayangkan kidsport, dalam skala dan kebutuhan ruang rumah.

Jika sudah, mari berkeliling. Ruang pertama adalah kamar transit berisi rak-rak sepatu yang dari sini dapat menuju dua ruang, ruang tamu di kanan dan ruang rapat di depan-kanan. Dari ruang tamu, ada pintu untuk kembali ke pekarangan. Sementara dari ruang rapat tedapat akses ke empat ruang lain. Termasuk tangga naik dan lorong bawah tanah. Tangga membuka lagi jalan ke tiga arah berbeda. Kanan, serong, belakang-setengah bawah. Terus begitu.

Ruang-ruang tersebut masing-masing berbatas dinding rongga, kaca, rak buku, bahkan taman dan genteng dari kamar di bawahnya. Adanya ruang terbuka sebagai bidang batas membuat hampir semua ruang akhirnya bersentuhan dengan tanah dan langit biru. Menghadirkan ruang dengan imaji dan suara yang bergerak nyata. Beda pagi, sore, hujan, terik. Apalagi malam berjangkrik.

Bicara gerak, batas-batas ruang itu pun tidak hadir diam begitu saja. Dinding dipecah, pecahannya diukir, ukirannya diberi warna–warna yang senada dengan langit-langit berlapis tekstur, tekstur lantainya disusun, susunannya terpola variatif, semua seakan mengalir, dinamis. Lewat mata terasa, dengan renungan terdengar mereka bercerita tentang proses lahirnya.

Bagaimana tukang-tukang itu menumpuk bata dengan komposisi tidak biasa. Atau berapa lama mereka harus memotek tegel kemudian mendekonstruksi tiap serpihnya dengan tekun. Hingga hampir terbayang bagaimana interaksi antara Y.B Mangunwijaya dengan para pekerja dalam menyampaikan arahan lewat sketsa denah di atas kertas dan tanah. (Ya, Wisma Kuwera tidak punya cetak biru!).

 

Di tengah sibuk meraba jendela, tiba-tiba kaki ini kehilangan pijakan, tubuh terhuyung. Untung segera dapat pegangan sejurus kemudian. Karena terlalu terkesima, tidak sadar bahwa jalan yang kiranya lurus, ternyata harus turun. Sedikit hembus nafas lega dan, kemudian sadar, saya tersesat. Entah ini di lapis ruang ke berapa. Yang pasti sibakan gorden dan gemericik air kolam di ruang sepi ini cukup menggetarkan tengkuk.

Seketika saya teringat obrolan tengah malam dengan seorang teman beberapa waktu lalu. Tentang jalan hidup yang tidak akan terus datar. “Hidup tuh harus sadar”, katanya sambil memainkan gantungan kunci, “Agar di persimpangan jalan kita mampu memetakan semesta hingga dapat menentukan pilihan dengan yakin –dan, semoga, tepat”. Walau lingkup bahasannya berbeda, pesan itu seakan relevan lewat gema hadir tetibanya. Tak lama saya mencoba kembali berjalan, kali ini dengan lebih hati-hati.

  

 

Kompleksitas ruang Wisma Kuwera terasa lebih dari sekadar manifestasi paham spasial. Ada toleransi wujud di beberapa sudut. Dengan ricuh kejujurannya, ia justru bangga memberi contoh bahwa arsitektur bukan sesuatu yang wajib presisi dengan gambar yang lahir dalam kungkungan kamar kerja, lepas dari prosesnya terbangun nyata. Tukang pun menjadi manusia berpikir yang boleh turut serta menyumbangkan kreatifitas sesuai kemampuannya, alih-alih selalu disalahkan karena kecakapannya tidak sesuai kebutuhan desain.

Menyusuri mesin waktu ini sambil membaca sejarah yang tertoreh pada tiap sisi tubuhnya, membawa saya ke perjalanan reka dan tanya yang lebih panjang dari langkah barusan. Ketika satu sosok perancang bangun memiliki kepekaan baik terhadap cukup banyak aspek-aspek dalam hidup, rumah –dalam kasus ini, rumah- seperti inilah yang dapat ia suguhkan kepada keluarga tercinta, juga dirinya.

Ruang syahdu bertumpuknya inspirasi seorang sastrawan, kamar pembentuk khidmat beribadahnya seorang rohaniawan, tempat pendukung gairah berpikir dan belajarnya seorang politikus, wadah penuai mulia hatinya seorang aktivis sosial, yang menjadi karya arsitektur terbaiknya seorang arsitek. Lalu bagaimana jika arsitek hanya berkutat mendalami gubah bentuk dan eksotisme garis, sementara manusia yang akan hidup di dalamnya nanti memiliki latar belakang, yang sudah pasti, bukan arsitek?

Maksud saya, Wisma Kuwera eksploratif, sangat. Tapi berjalan di dalamnya tidak terasa seperti hidup di tengah trofi kebesaran sang perancang atas kemampuannya mengerjakan soal sulit yang ia adakan sendiri. Wujud-wujud itu ada di sana karena dibutuhkan, bukan karena ingin dihadirkan. Keruwetan dan tenaga yang dikerahkan untuk tiap jengkal Wisma Kuwera, bukan hasil hura-hura.

Akhirnya kita bertemu. Kau sibuk berceloteh tentang perayaan ilmu ruang yang luar biasa di rumah ini. Aku mendengarkan. Seperti halnya mereka sibuk menyelami wujud-wujud baru yang mampu dicapai oleh teknologi. Yang lain meng-iya-kan. Hingga lupa, menjadi manusia. Bagaimana dunia jadi lebih baik dengan cita-cita tanpa rasa?



comments powered by Disqus
 

Login dahulu