Proses atau Hasil, Manakah yang Lebih Penting?

Pandangan Paulus Setyabudi terhadap proses dan hasil suatu proyek arsitektur

Author
Paulus Setyabudi pada saat media interview di acara Anabata Talk Series #1 (foto oleh : Caroline Abigail)

Sabtu (24/08/19), awal berlangsungnya acara Anabata Talk Series #1 di Titan Center, Bintaro. Acara dengan tema Beyondaries (Beyond Boundaries) ini memberikan sebuah wawasan baru tentang bagaimana cara arsitek melampaui batasan-batasan yang ada.  Anabata Talk Series #1 mengundang 3 arsitek, salah satunya adalah Paulus Setyabudi dari Paulus Setyabudi Architecture and Planning di Surabaya.

 

Paulus Setyabudi, seorang arsitek dari Kota Pahlawan mengawali karirnya dengan proyek-proyek komersial. Pengontrolan dari orang lain membuatnya ingin melepaskan diri dari proyek tersebut dan beralih mencoba tantangan baru untuk merenovasi sebuah rumah lama di Surabaya tahun 2005. Karya pertamanya inilah yang menjadi batu lompatan untuk memulai karir perarsitekturannya.

 

Rumah Kampoeng karya Paulus Setyabudi

Rumah Kampoeng karya Paulus Setyabudi (sumber oleh : Archdaily)

Salah satu karya Paulus yang banyak dikenal orang adalah Rumah Kampoeng. Proyek dengan konsep tradisional rumah Jawa ini tebagi menjadi 3 area yaitu pendopo, peringitan, dan omah. Pendopo dan peringitan merupakan ruang publik seperti ruang keluarga, ruang belajar, dan ruang makan sedangkan omah merupakan area privat dimana terdapat kamar tidur. Rumah Kampoeng ini memiliki atmosfer yang menenangkan karena menggunakan banyak material transparan sehingga cahaya matahari dan angin mudah masuk ke dalam ruangan. Selain Rumah Kampoeng, masih banyak dari karya beliau yang terkenal dan menginspirasi banyak orang, diantaranya Urban Villa Surabaya, Culture Villa Bali, Family Home, dan sebagainya.

 

Untuk menyelesaikan semua project tersebut ia selalu berpegang pada 4 prinsip yaitu; different is beauty, idealism is a best, ego is crime, dan satisfy is a target. Pertama, Different is Beauty menjelaskan tentang adanya perbedaan antara satu klien dengan klien lainnya baik dari segi pendidikan, latar belakang, pengalaman, pengetahuan, dan lain-lain. Namun menurutnya, perbedaan tersebut adalah suatu keindahan bahkan hal tersebut terlihat dari konsep yang berbeda-beda di setiap karya-karyanya. Kedua, Idealism is a Best menjelaskan tentang perbedaan idealisme antara arsitek dan klien. Terkadang, ada beberapa klien yang beranggapan bahwa ia mempunyai hak untuk mengatur segalanya karena merekalah yang membayar. Namun, seorang arsitek juga harus mengerti bahwa bagus tidaknya proyek tersebut merupakan tanggungjawab dia. Untuk mengatasi kurang tepatnya idealisme tersebut, diperlukan pendekatan antara klien dan arsitek melalui gambar, proyek, komunikasi, dan sebagainya. Ketiga, Ego is crime, seorang arsitek harus menyadari bahwa setiap ego harus memiliki batasannya karena apabila berlebihan maka akan menyebabkan ‘perceraian’. Perceraian ini dimaksudkan dengan hilangnya kerjasama antara arsitek dengan klien. Terakhir, Satisfy is a Target, kepuasan merupakan tujuan akhir dari proyek yang dijalani. Adanya kepuasan antar kedua belah pihak dapat memberikan hal baik dimasa depan bagi arsitek. Menurutnya, klien adalah marketing bagi arsitek karena dengan klien, seorang arsitek bisa mendapatkan proyek-proyek selanjutnya. Oleh karena itu sangat penting untuk membangun reputasi yang baik di setiap karya.

Selain itu, ada satu tips yang diberikan oleh Paulus agar sebuah karya bisa dikenal oleh banyak orang, yaitu proses yang maksimal. “Beauty itu bukan dilihat dari fisik bangunannya tapi bagaimana proses dari project itu berlangsung”, tuturnya. Hal ini ia umpamakan seperti kehidupan berpacaran dimana yang seharusnya dilihat adalah proses perjalannya bukan fisik pasangannya. Sehingga menurut Paulus, proses lebih penting daripada hasil karena dengan proses yang indah dan dikerjakan secara maksimal, ia jamin project tersebut akan membuahkan hasil yang baik.

 

Kegiatan kunjungan studio Paulus Setyabudi

Kegiatan kunjungan studio Paulus Setyabudi (sumber foto : Instagram smarch_sby)

Paulus juga berani menyatakan bahwa tujuan karirnya bukanlah popularitas namun bagaimana ia dapat berkarya dengan membagikan pengetahuannya pada orang lain. Pernyataannya tersebut dibuktikan baru-baru ini ketika ia mengizinkan anak didik dari salah satu kursus di Surabaya untuk mengunjungi studionya (Paulus Setyabudi Architecture & Planning). Bukan hanya izin yang diberikan, namun ia juga membagikan pembelajaran kepada mereka tentang bagaimana terbentuknya ide desain bangunan dan juga cara kerjasama tim dalam kehidupan perarsitekturan.

Ayah dari 2 anak ini melayangkan satu kritik kepada calon mahasiswa arsitektur.  Menurutnya, mereka masih terlalu dini untuk belajar mengenai denah, tampak, dan potongan pada bangunan. Ada baiknya apabila pembelajaran yang mendalam ini digantikan dengan pengarahan potensi mereka agar dapat lebih diperkuat. Potensi-potensi ini dapat dilihat dari kegiatan menggambar ataupun berkreasi. Selain itu juga dapat terlihat dari hal-hal sederhana seperti senang melipat-lipat kertas, imajinasi yang tinggi ketika membaca cerita, ataupun teliti terhadap detail-detail. Terakhir, Paulus berpesan agar generasi mendatang bisa membawa hal positif bagi dunia perarsitekturan.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu