Quebec, Kehangatan Kota Tua Perancis di Kanada

Kehangatan saudara Toronto bernama Quebec telah berhasil menggodanya terbang 800 kilometer ke arah Timur Laut.

Author

Selama lima belas tahun Toronto seperti kekasih yang memaksa saya harus jatuh cinta tanpa pernah bertemu. Ia terus merayu saya untuk datang menghampirinya di Kanada, sekalipun saya tidak tahu di mana letak Kanada. Sesampainya di sana, saya mengakui bahwa Toronto memang pandai merayu, tapi saya gagal jatuh cinta seperti yang dibayangkan. Tak diduga, kehangatan saudara Toronto bernama Quebec telah berhasil menggoda saya terbang 800 kilometer ke arah Timur Laut untuk merasakan kehangatannya sebagai kota tua Perancis. Kehangatan yang banyak dibicarakan di seluruh Kanada.

Walau terpisah cukup jauh, banyak orang membandingkan Toronto dan Quebec. Mereka membicarakan kedua kota itu seperti saudara yang dibesarkan oleh orang tua yang berbeda. Akibatnya karakter mereka pun berbeda. Toronto bertumbuh pesat menjadi kota yang modern, sedangkan Quebec tumbuh lebih perlahan dan menjaga nilai historisnya. Dua kota itu juga berbicara dengan bahasa yang berbeda, Toronto dengan Bahasa Inggris dan Quebec dengan Bahasa Perancis.

Sampai sekarang Provinsi Quebec masih disebut sebagai New-France di Amerika Utara. Bukan karena penggunaan bahasa saja. Benteng dan banyak bangunan peninggalan Perancis turut membentuk suasana kota tua. Semua itu akan membuat para pendatang merasa sedang berada di Perancis, bukan Kanada. Perbedaan suasana yang kental menjadikan Quebec seperti mengasingkan diri dari Toronto dan saudara lainnya yang lebih modern.

Akhirnya dengan berbekal rasa malu karena telah tergoda oleh pembicaraan banyak orang, saya mengunjungi Kota Quebec, kota yang berperan sebagai ibu kota sekaligus primadona Provinsi Quebec.

Kesan pertama saya akan Quebec: Dingin. Terlalu dingin untuk saya yang terlahir sebagai manusia tropis. Pada pertengahan bulan Oktober, suhu siang hari sekitar 10 derajat Celcius, ditambah dengan angin yang bertiup kencang, menjadikan suhu terasa seperti di 5 derajat celcius. Penduduk kota ini lebih takut akan serangan badai salju daripada serangan kriminal. Saya menjadi kecut. Kota dingin inikah yang ramai dibicarakan "kehangatannya"?

***

Perjalanan saya diawali dari Porte St. Jean (Gerbang St. Jean). Saya menyusuri Jalan St. Jean yang merupakan salah satu jalan utama di Old Quebec-Upper Town. Old Quebec sendiri terbagi menjadi dua bagian, yaitu Upper Town (Haute-ville) dan Lower Town (Basse-ville). Kedua bagian tersebut dibatasi oleh tebing yang mengelilingi Upper Town. Lower Town mengilustrasikan awal mula terbentuknya Kota Quebec. Upper Town merupakan pendukung jejak sejarah yang akhirnya berkembang melebihi Lower Town itu sendiri. Ia terlihat sebagai tokoh utama dari Kota Quebec.

Di Jalan St. Jean bangunan-bangunan antik berderet membentuk rangkaian visual seperti barisan petugas hotel berseragam indah yang siap menyambut tamu. Saya pikir salah satu pembentuk keindahan itu adalah keseragaman fasad bangunan. Mayoritas bangunan di Kota Quebec memiliki fasad dari bebatuan, padahal, berdasarkan keterangan yang saya baca di Museum of Civilization, pada abad ke-17 mayoritas bangunan terbuat dari kayu.

Rue Saint Jean

Pada awal pendudukan Perancis di Quebec, pembangunan mengikuti metode membangun seperti di Perancis. Mereka banyak menggunakan material kayu sebagai material utama bangunan. Namun, pemilihan material tersebut ternyata kurang cocok dengan kondisi alam setempat. Iklim dingin Quebec yang lebih ekstrem dibanding Perancis menimbulkan masalah baru. Kebakaran besar terjadi beberapa kali sebagai risiko dari kebutuhan penghangat ruangan. Akhirnya pemerintah mengeluarkan peraturan bangunan pertama yang melarang penggunaan kayu sebagai material dominan, khususnya pada eksterior bangunan. Selain lebih aman, tahan cuaca dan banyak tersedia, batu-batuan di Quebec membentuk gaya arsitektur baru yang bernama Nouvelle France, sebagai hasil adaptasi lingkungan dari model arsitektur di Perancis pada zamannya.

Saya melewati deret massa serupa di Cote de la Fabrique, rue de Buade, hingga rue Du Tresor yang mengarahkan pandangan pada satu dataran yang lebih tinggi dari yang lainnya. Di sana terletak Fairmont Le Chateau Frontenac, sebuah hotel mewah yang berdiri dengan kokoh dan elegan. Ia merupakan landmark terpenting Kota Quebec. Seluruh kota terkagum-kagum memandangnya sebagai "mahkota" dari Quebec. Sekilas saya berpikir kalau dulu Chateau Frontenac adalah sebuah istana yang berubah fungsi menjadi hotel. Saking eksklusifnya hotel tersebut, bahkan ada tur berbayar selama kurang lebih setengah jam untuk masuk dan melihat-lihat ke dalam bangunan. Namun ternyata dugaan saya salah, Chateau Frontenac adalah sebuah hotel yang memang sengaja dibangun menyerupai bentuk istana (Chateau style).

Bruce Price sebagai arsiteknya, tidak menggunakan tatanan klasik yang simetris seperti model istana di Perancis kebanyakan. Ia mendefinisikan Chateau Frontenac sebagai picturesque eclectic, yaitu variasi tatanan asimetris yang memadukan berbagai bentuk geometri agar harmonis secara visual dengan sekitarnya. Tujuan pembangunan Chateau Frontenac oleh Canadian Pacific Railway untuk mempromosikan pariwisata terutama kepada pelancong kelas atas untuk berkunjung ke Kota Quebec. Hotel yang pertama beroperasi pada tahun 1893 ini sukses memikat orang-orang untuk berkunjung ke Quebec. Hingga kini, konferensi internasional rutin diadakan di Chateau Frontenac.

Chateau Frontenac, Pohon Kehidupan Quebec

Saat ini Chateau Frontenac berperan sebagai "pohon kehidupan" Quebec. Bukan saja karena massa bangunannya yang besar atau karena atapnya yang berwarna hijau, tetapi karena segalanya berkembang lebih subur di sekitar dia, baik konsentrasi aktivitas manusia maupun pertumbuhan berbagai tanaman. Seperti artis idola, penduduk setempat dan turis ramai berkumpul di tempat publik yang berada di sekitarnya. Mereka menghabiskan waktu dengan duduk santai seharian di Terrasse Dufferin yang berlimpah sinar matahari untuk sekadar memandangi kemegahan karya tersebut sekaligus menikmati kerendahan hati Sungai Saint Lawrence yang berada di bawahnya. Hati saya terhenyak menyaksikan pemandangan banyak orang melambaikan tangan dari kejauhan kepada orang-orang di atas kapal pesiar yang sedang bermanuver untuk meninggalkan pelabuhan Quebec. Betapa hangatnya lambaian orang-orang yang tidak saling mengenal itu. Saya seperti sedang berada di negeri dongeng. Bahkan lebih indah daripada negeri dongeng karena saya tahu ini nyata tanpa harus mencubit diri sendiri.

Dari Terrasse Dufferin saya menaiki Funiculaire du Vieux-Quebec (The Old Quebec Funicular-lift dengan sudut kemiringan rel 45 derajat) sebagai jalan pintas dari Upper Town menuju ke Lower Town. Stasiun perberhentian Funiculaire tepat berada di Quartier Petit Champlain. Area ini merupakan tempat perdagangan pertama di Kota Quebec; namanya sendiri pun diambil dari nama penemu Quebec, yaitu Samuel de Champlain. Bangunan di Petit Champlain didominasi dengan deret bangunan berlantai dua dan tiga dan berfasad bebatuan. Jalanan di Petit Champlain relatif sempit, dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan. Di kiri-kanan jalan dipenuhi dengan toko-toko pengrajin dan restoran.

Quartier Petit Champlain

Menjelang malam, lampu-lampu kota berwarna kuning mulai dinyalakan. Cahaya lampu berpendar hangat di dalam rangka lampu berwarna hitam. Dari kejauhan saya mendengar bunyi sepatu tapal kuda beradu dengan paving batu jalanan. Kereta-kereta kuda sibuk mengantarkan tamu-tamu ke restoran yang ada di sekitar Petit Champlain. Udara di Petit Champlain dipenuhi dengan aroma manis crepes dan sirup maple, ramai suara pejalan kaki bercengkerama, dan tepuk tangan meriah penonton menyaksikan pemusik jalanan yang mahir bermain biola sambil bernyanyi. Orang-orang seperti tersihir oleh Petit Champlain yang romantis. Atmosfer Petit Champlain yang intim dan intens menambah kehangatan Kota Quebec malam itu.

Hari terakhir di Quebec, saya habiskan beberapa jam untuk duduk di tepian plaza Place D’Youville yang telah diubah menjadi arena seluncur non-permanen selama musim gugur hingga musim dingin. Menjelang malam, suhu udara di sekitar arena seluncur semakin dingin, tapi saya masih enggan untuk beranjak dari tempat duduk. Semakin malam, penduduk lokal semakin ramai mendatangi arena. Mereka meluncur, berputar, berkejar-kejaran, bercumbu, dan melakukan berbagai aksi lain. Bahkan saya menyaksikan seorang pria yang tiba-tiba berlutut di hadapan wanitanya di tengah arena. Entah apa yang pria itu ucapkan ke wanitanya. Kemudian saya menyaksikan mereka berpelukan diiringi dengan tepuk tangan dari orang-orang di arena. Di satu sisi, saya seperti berada di dalam mesin es yang membekukan tubuh dan waktu, di sisi lainnya saya seperti berada di dalam cangkir berisi coklat yang hangat, manis, dan menenangkan.

Quebec mempunyai cara yang unik untuk menyentuh manusia dengan kehangatannya. Keindahan tata kota, warna daun yang berguguran di jalan, tawa ceria setiap pejalan kaki dan suara cengkerama orang-orang di bangku taman yang saya jumpai, seperti kesatuan orkestra yang membuat saya tidak berhenti untuk tersenyum setiap mengingatnya. Quebec sukses mengambil sebagian hati yang saya dedikasikan untuk Toronto. Dari Quebec, saya mendapati bahwa esensi suatu tempat bukan hanya harmoni visual semata, tetapi juga perasaan yang ditimbulkan dari proses mengalami keadaan seutuhnya, lengkap dengan interaksi masyarakatnya. Sekarang, saya tidak lagi bertanya-tanya mengapa kota yang dingin ini begitu diminati banyak orang. Pesona Quebec akan selalu berhasil menyihir semua orang yang mengunjunginya maupun orang-orang yang berimajinasi tentangnya.

C’est ça, Québec!

 

Place D'Youville

 

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu