Reportase: Ketukangan Tradisional

Presentasi Yori Antar dan Eko Prawoto di Seminar Paviliun Indonesia, Venice Biennale 2014.

Author

Sehari setelah Paviliun Indonesia diresmikan, diskusi dengan tema Ketukangan Tradisional, diadakan di Hotel Gabrielli, Venesia, 7 Juni 2014. Yori Antar dan Eko Prawoto, dua arsitek ternama Indonesia, menyampaikan pandangan dan karya mereka berkaitan dengan ketukangan tradisional. Selain itu, hadir juga Benno Albrecht, profesor arsitektur dari Università Iuav di Venezia, sebagai penanggap dan Achmad Tardiyana, kurator Paviliun Indonesia, sebagai pemandu diskusi.

Pada paparannya, kedua arsitek tampak memiliki persamaan dalam melestarikan ketukangan tradisional, namun memiliki perbedaan kentara dalam melihat dan menyikapi hubungannya dengan modernitas. Kehadiran Ahmad Djuhara, dengan sejumlah pertanyaan kritisnya, memanaskan jalannya diskusi. Berikut reportasenya.

Yori Antar: Melestarikan warisan arsitektur Indonesia lewat Rumah Asuh

Yori Antar, bicara warisan arsitektur Indonesia (Foto: Konteks.org)

Yori membuka presentasinya dengan memaparkan dikotomi antara arsitektur modern, yang datang dari Barat, dan arsitektur Nusantara, yang lahir dari Indonesia. Keduanya hadir dalam budaya membangun di Indonesia, namun dengan sikap yang menurutnya berlawanan. Arsitektur modern dibangun di atas fondasi budaya industrial, dikerjakan oleh kontraktor dengan material pabrik, sedangkan arsitektur Nusantara dibangun di atas fondasi ketukangan tradisional, dikerjakan oleh masyarakat setempat dengan material lokal.

Ia menyebutkan bahwa kehadiran arsitektur modern tersebut mengancam keberadaan arsitektur Nusantara. Hal itu ia pertegas dengan menyajikan foto-foto rumah tradisional Indonesia—antara lain rumah dari Nias, Sumba, dan Padang—sambil menegaskan bahaya kepunahan yang dihadapi rumah-rumah tersebut.

Perjalanannya ke Wae Rebo, desa adat di Flores yang masih memiliki rumah adat Manggarai berbentuk kerucut, menggerakkan niatnya untuk melakukan preservasi. Ketika ia bersama rombongannya sampai di Wae Rebo, mereka adalah kelompok turis Indonesia pertama yang datang ke sana, sementara pada saat yang sama sedang ada 15 pelajar dari Taiwan dan turis-turis dari Eropa. Sepulangnya dari sana, ia putuskan untuk mendirikan Rumah Asuh.

Wae Rebo, setelah preservasi. (Foto: Rumah Asuh)

“Sebuah gerakan alternatif untuk menyelamatkan warisan arsitektur Indonesia,” begitu tutur Yori tentang Rumah Asuh. Dalam setiap preservasinya, Rumah Asuh memberikan empat syarat: pertama, dibangun sebagai proyek masyarakat; kedua, memprioritaskan arsitektur Indonesia yang terancam punah; ketiga, dibangun oleh masyarakat setempat sebagai metode pembelajaran untuk warga yang lebih muda maupun juga bagi kalangan akademis; dan terakhir, mendukung eco-tourism.

Di Wae Rebo, ia berhasil mewujudkannya. Setelah berdiskusi dengan warga setempat dan menemukan donatur, Yori memulai preservasi Wae Rebo dengan sepenuhnya melibatkan masyarakat setempat. Desa Wae Rebo, yang tadinya hanya memiliki empat rumah adat, dikembalikan menjadi tujuh rumah adat sesuai dengan cerita leluhur. Ia juga mengirim mahasiswa-mahasiswa untuk tinggal, bekerja, dan mendokumentasikan proses pembangunan rumah. Preservasi Wae Rebo berlanjut hingga pembuatan buku dan pembuatan prototipe baru rumah Wae Rebo yang digunakan untuk perpustakaan.

Ilustrasi rumah adat Wae Rebo beserta nama-nama komponennya, karya Faiz Suprahman (Gambar: Rumah Asuh)

Berbagai penghargaan didapat oleh Wae Rebo, antara lain Award of Excellence dari UNESCO Asia-Pacific Heritage Award dan nominasi shortlist Aga Khan Award. Selain itu, Wae Rebo berkembang menjadi tujuan wisata dengan total pengunjung1200 orang—enam kali lipat dari tahun sebelumnya; setengahnya merupakan pengunjung asal Indonesia.

Selain Wae Rebo, Yori juga menceritakan sejumlah proyek Rumah Asuh antara lain di Nias, Sumba, Padang, dan yang terkini di Papua. Menutup presentasinya, Yori menyatakan impiannya, “Ini mimpi kita bersama. Sudah saatnya arsitektur Nusantara menginspirasi dunia.”

Eko Prawoto: Menempatkan arsitektur pada konteks yang lebih besar

Eko Prawoto (Foto: Konteks.org)

Eko mengangkat topik “mempertahankan kemampuan lokal”. Ia mulai dengan menceritakan ketidaknyamanannya setiap kali ada orang yang mengatakan, “Selamat, bangunanmu telah selesai dibangun!” Sebagai seorang arsitek, ia merasa berutang dengan banyak orang yang membantunya dalam proses membangun. Tanpa tangan-tangan mereka, bangunan yang ia rancang tak akan pernah terwujud.

Ia lalu menjelaskan beragamnya pengetahuan membangun di Indonesia, dari yang membutuhkan kemampuan tinggi seperti yang bisa kita jejaki pada candi-candi, hingga kemampuan yang biasa dan sehari-hari. Namun, ketika justru kemampuan yang canggih tak mampu bertahan, pengetahuan membangun yang biasa dan sehari-hari terus berkembang. Dan dalam pengetahuan biasa itu, ia justru melihat keindahan.

“Saya menyebutnya indah, tetapi mungkin suatu keindahan yang lain. Jujur, apa adanya, sederhana. Keindahan yang ada pada jiwa, bukan keindahan seperti sebuah formula matematika; tidak dimaksudkan, namun ada,” ujar Eko.

"Honest, straightforward, Simple," tulis Eko dalam presentasinya (Foto: Eko Prawoto)

Pengetahuan semacam itu, menurutnya, terus berkembang, menyebar, dan diteruskan dari generasi ke generasi dengan karakteristik yang terus bercampur dan bertumbuh dengan menambahkan material dan teknik baru, tanpa takut dengan perubahan. Semangat seperti itu baginya sangat penting: semangat untuk dapat membuat—menciptakan.Hal itulah yang ia upayakan dalam arsitektur yang ia kerjakan.

Ada tiga aspek yang menurut Eko berkaitan ketika membicarakan arsitektur: material, kemampuan, dan kearifan. Tekanan pada masa sekarang memberikan dampak yang besar bagi hubungan ketiganya. Material-material baru datang mengubah cara dan perangkat membangun; sementara kemampuan membangun lokal terus terancam.

“Semakin mudah menjadi arsitek sekarang ini. Jika terlalu panas, taruh pendingin ruangan; jika terlalu gelap, taruh lampu,” ujarnya. “Apakah ada jalan lain?”

Untuk menjawab itu, ia banyak belajar dari Mangunwijaya yang tidak hanya menyerah pada dorongan industrial, tapi mencoba kreatif mengolah material dan menemukan kemungkinan-kemungkinan lain. “Material baru tidak terhindarkan. Masalahnya adalah bagaimana menciptakan ruang kreatif pada penggunaannya dan bermain di ruang antara.”

Karya Romo Mangunwijaya (foto: Eko Prawoto)

Eko lalu menceritakan proyek-proyek komunitas yang ia kerjakan, antara lain Community Learning Center di Saba Biak, di Ujung Alang, dan di Bucoli, di mana ia membawa tukang dari Yogyakarta untuk menyalurkan pengetahuan dalam penggunaan material. Ia juga menceritakan proyek Rekonstruksi Ngibikan pasca gempa Yogyakarta 2006 yang menggunakan sistem struktur sederhana dan material industrial untuk menjawab situasi genting saat itu.

Dalam proyek-proyek praktiknya sebagai arsitek, ia berupaya mengakomodasi kemampuan yang dimiliki oleh klien, yang membuatnya juga belajar.Kesempatan untuk bereksplorasi juga ia berikan kepada para pekerja agar mereka bisa memahami kapasitas material dan mengembangkan kemampuan mereka.

Eko meyimpulkan presentasinya dengan menempatkan arsitektur sebagai bagian dari konteks lingkungan, sosial, dan budaya yang lebih besar. Desain, oleh karena itu, ia tempatkan sebagai strategi, yang diupayakan untuk mengintensifkan pekerja, memanfaatkan material lokal, dan memberdayakan tradisi.

Tanya Jawab

Setelah presentasi kedua arsitek, acara dilanjutkan dengan tanggapan dan tanya jawab. Benno Albrecht menanggapi presentasi keduanya dengan memuji karya-karya Yori dan Eko sebagai strategi pelestarian yang indah.

Ia melihat fokus yang jelas pada keduanya dalam melestarikan warisan dan memberdayakan material lokal, terutama kayu dan bambu. Menurutnya, hal tersebut adalah poin yang menarik, yang tidak dimiliki kotanya, Venesia, yang tahu bagaimana membuat bangunan dengan bahan berat tetapi tidak dengan kayu dan bambu.

“Di Eropa, kita telah kehilangan semua bangunan dari kayu dan bambu,” sebutnya.

Mendengar Benno memuji karya Yori dan Eko, Djuhara lantas merespons pernyataan Benno, “Apakah Anda tidak sedang bersopan santun saja ketika menyebutkan karya-karya Indonesia sebagai sesuatu yang indah? Apalagi, sebagai tuan rumah Venice Biennale, Anda telah melihat begitu banyak karya negara-negara lain.”

“Apa yang terjadi di Indonesia juga sebetulnya hal serupa dengan yang terjadi di negara-negara lain. Apa yang membuat Indonesia spesial bagi Anda?” lanjut Djuhara.

Benno lalu menekankan bahwa Venesia baginya selalu mempunyai relasi yang unik dengan Indonesia. Venesia dibangun dengan uang hasil penjualan rempah-rempah dari Indonesia. Tetapi tidak banyak yang mereka ketahui tentang Indonesia. Benno menyetujui bahwa ada begitu banyak ide bertebaran melalui la Biennale dan mereka mengetahui begitu banyak negara, tetapi mereka selalu tertarik dengan negara yang tidak mereka ketahui.

Ia juga menyebutkan bahwa tidak banyak negara yang pada saat bersamaan sangat tradisional sekaligus sangat modern. Saat yang sama Anda membangun dengan bambu, saat yang sama Anda memiliki pencakar langit. Baginya, hal tersebut tidak dimiliki banyak negara lain.

Pertanyaan menarik lainnya dilontarkan oleh Charles, mahasiswa doktoral dari Università Iuav. Ia menyandingkan karya-karya Yori dan Eko, yang banyak melibatkan komunitas, dengan situasi urbanisasi yang sangat pesat, seakan seperti dua hal yang berjalan sendiri-sendiri. “Bagaimana lantas kita bisa melestarikan ketukangan tradisional di era urbanisasi global?”

Eko menjawab, “Saya tidak percaya ada satu obat untuk semua penyakit, apa yang saya kerjakan sejauh ini adalah mencari alternatif; memikirkan kemungkinan; mendefinisikan ulang pengetahuan global.” Dengan segala perubahan yang serba dinamis sekarang ini, ia mencoba fokus untuk melakukan sesuatu. Baginya, apa yang ia kerjakan baru awal dari eksperimentasi.

Sementara Yori menekankan peran media publikasi untuk menyuarakan arsitektur lokal. “Kebanyakan mahasiswa kita mengetahui arsitek Barat, tapi tidak mengetahui arsitek lokal.” Itu sebabnya, ia, dalam setiap proyek Rumah Asuh, selalu mengundang mahasiswa dan menerbitkan buku.

Sesi tanya jawab berlangsung tanggap. Setiap pertanyaan selalu ditanggapi dengan cerat oleh ketiga pembicara. Sampai setengah jam kemudian waktu habis, dan Achmad Tardiyana menutup jalannya diskusi.

 

Suasana ruang seminar di Hotel Gabrielli, Venesia (Foto: Konteks.org)

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu