Ruang Luar, Ruang Dalam, dan Ruang-ruang di Antaranya

Laporan selayang pandang Simposium+Seminar 6-A Atap Jakarta

Author
Dari kiri ke kanan: Kengo Hayashi, Kei Minohara, Mirzadelya Devanastya, Sou Fujimoto, Adi Purnomo, Sadao Tsuchiya

Sabtu, 15 Maret 2014, Atap Jakarta-House Vision Indonesia kembali melanjutkan seri simposium dan seminarnya. Sekitar 550 penonton memenuhi Studio 2 Blitzmegaplex Grand Indonesia tempat berlangsungnya acara, tak kalah ramai dengan film Need for Speed yang tayang di ruangan sebelah. Bagi yang tidak berkesempatan hadir, kami rangkumkan isi acara tersebut untuk Anda.

Suasana registrasi, ramai terkendali.

Upaya mencari cara alternatif berumah

Acara dibuka oleh Ahmad Djuhara, anggota komite eksekutif dari Atap Jakarta. Ia mulai dengan menceritakan kunjungannya tahun lalu ke pameran House Vision di Jepang, dan mengungkapkan rencana Atap Jakarta mengadakan acara serupa di Jakarta tahun 2016. Sebagai bagian dari persiapan acara tersebut, dua belas topik berbeda akan didiskusikan setiap bulannya, termasuk topik “eksterior/interior” yang diangkat dalam simposium kali ini.

“Usaha ini akan berupa sebuah usaha yang panjang, kurang lebih tiga tahun sampai kami bisa mewujudkan pameran yang akan ada di Jakarta. Sudah ada beberapa arsitek di Indonesia dan partner industri yang menyatakan akan terlibat dalam usaha membuahkan cara alternatif berumah di Indonesia ini,” ujar Djuhara.

Djuhara tidak mengungkapkan latar belakang dari tema simposium hari itu, tetapi ia melanjutkan ceritanya dengan mengenalkan para pembicara dan mengilas apa yang akan mereka sampaikan. Kei Minohara, pembicara pertama, adalah perencana perkotaan senior di Jepang yang pernah bekerja di berbagai institusi pemerintah, antara lain di departemen perumahan di Prefektur Ibaraki. Ia akan membicarakan eksterior dan interior dalam konteks urban. Pembicara kedua adalah Adi Purnomo, arsitek ternama di Indonesia, penulis buku Relativitas. Ia akan menceritakan bagaimana ia berhadapan dengan gagasan eksterior dan interior dalam karya-karyanya. Sementara Sou Fujimoto, pembicara ketiga, arsitek asal Jepang yang turut berpartisipasi pada House Vision di Jepang, akan mengungkapkan hubungan antara ruang dalam dan ruang luar, dan bagaimana ia bereksperimen dengannya.

 

Pengalaman masa lalu dan masa sekarang perumahan di Jepang

42 tahun yang lalu, Kei datang ke Jakarta memenuhi undangan pemerintah Indonesia untuk membuat rencana masa depan pengembangan Kota Jakarta. Ia bercerita bahwa saat itu Jalan Thamrin masih sepi dari bangunan tinggi. Melihat mal-mal yang ada di Jakarta sekarang, ia mengaku tercengang.

“Saya sepenuhnya kehilangan sense of place. Dunia begitu datar. Di manapun di dunia, lanskap menjadi serupa.” Padahal, menurutnya, sense of place bagi sebuah kota itu penting karena tempat pada kota akan mempengaruhi proses pertumbuhan kaum muda. “Kaum muda menjadi perhatian utama karena mereka berpotensi untuk mengubah interaksi sosial dan pembangunan mendatang,” katanya saat wawancara setelah acara.

Kei Minohara.

Cerita tentang pengalamannya di Jakarta mengawali presentasinya yang berjudul “Proses modernisasi perumahan Jepang: masa lalu dan masa sekarang”. Dalam presentasi tersebut, Kei menceritakan dengan runut perkembangan kawasan hunian di Jepang, khususnya di Tokyo. Ia mulai dengan menceritakan tiga tipologi hunian tradisional di Jepang saat sebelum modernisasi masuk, yaitu hunian warga biasa, hunian penguasa, dan hunian komersial. Situasi kawasan perhunian saat itu, menurutnya, begitu hidup.

Penjelasan Kei yang kronologis menunjukan perhatiannya yang besar pada peran sejarah. Kei lalu menjabarkan berbagai titik penting yang membuat pembaruan perumahan di Jepang berkali-kali terjadi, antara lain Restorasi Meiji yang dimulai sejak 1868, gempa besar tahun 1923 yang memorakporandakan Tokyo, serta kekalahan Jepang di Perang Dunia II tahun 1945. Dalam setiap pembaruan tersebut, rupanya Jepang selalu belajar dari Barat. Saat Restorasi Meiji, Tokyo belajar dari negara-negara Eropa, membangun jalan-jalan kecil yang diselingi plaza-plaza yang kemudian bisa dipakai untuk Bon Odori, tari rakyat Jepang. Struktur perkotaan itu rusak berat akibat gempa besar tahun 1923, sehingga Tokyo harus membangun ulang kotanya. Tokyo kembali belajar dari Barat, membangun rumah-rumah apartemen empat-lima lantai seperti di Inggris. Tahun 1945, Tokyo lagi-lagi hancur, kali ini akibat kalah perang. Sekali lagi Tokyo belajar dari Barat, dan saat itu, perumahan dunia sedang berkiblat pada superblok-superblok Le Corbusier yang tinggi dan padat. Apalagi, kurangnya persediaan tempat tinggal di Jepang akibat perang membuat tipe perumahan tersebut menjadi pilihan logis. Sayangnya, lanjut Kei, ketika negara-negara Barat mulai mengganti strateginya karena segala dampak buruk yang disebabkan oleh superblok, strategi pengembangan perumahan di Tokyo sampai sekarang belum berubah arah.

Kepadatan kota di Jepang.

Selain menceritakan sejarah perumahan di Jepang, Kei juga menceritakan beberapa karya contoh yang baik terkait tipologi perumahan. Salah satunya, ia memaparkan proyeknya yang bernama Makuhari Baytown. Di dalam proyek 86 hektar dengan total 26.000 penduduk dan 9.400 unit tempat tinggal tersebut, ia menghadirkan bangunan-bangunan middle-rise sebagai solusi tipologi hunian yang lebih lestari. Semua unit sukses terjual, namun menurutnya, proyek semacam demikian bisa jadi ilusif ketika para pengembang mempertimbangkan profit.

Kei tidak banyak membahas bagaimana eksterior maupun interior berperan dalam membuat kawasan hunian selama presentasinya. Namun saat wawancara, ia menceritakan bahwa cara pikir modernlah yang telah membentuk dikotomi antara interior dan eksterior—bahwa interior bernilai privat dan eksterior bernilai publik. Namun saat ini, dikotomi yang tegas antara dua kutub itu bias. Ada nilai baru di tengah privat dan publik, yaitu nilai komunal. Menurutnya, pada kota berkembang, masyarakat saat ini lebih memilih nilai komunal dibandingkan dengan nilai publik.

Dalam kesimpulannya, ia menyebutkan bahwa Jepang telah berusaha bertahan dalam proses modernisasi, dan dalam kaitannya dengan aspek industrial, Jepang terbilang berhasil. Tetapi apakah Jepang berhasil membangun lingkungan perumahan perkotaan yang lestari, ia mempertanyakannya kembali.

“Melihat Jakarta 42 tahun lalu, dan 42 tahun yang akan datang, saya jadi berpikir: hunian lestari macam apa yang kalian bisa hasilkan? Jepang bisa jadi model yang sangat baik, atau sebaliknya sangat buruk untuk diperbandingkan,” ujar Kei.

 

Menyingkap lapisan-lapisan makna ruang luar dan ruang dalam

Adi Purnomo, yang akrab disapa Mamo, memulai presentasinya dengan mengungkapkan suatu keberadaan lain di balik apa yang tampak, yang mencerminkan hubungan antara interior dan eksterior. “Eksterior adalah cara lain untuk merepresentasikan sesuatu,” kata Mamo.

Ia menyandingkan gambar gugusan bintang di langit dengan gambar diagram yang menunjukkan sistem tata surya. Ia mengatakan, pada saat yang sama kita berada di luar melihat gugusan bintang tersebut, kita sebetulnya berada di ruang dalam dari tata surya. Definisi interior dan eksterior, oleh karena itu, bisa sangat relatif.

Adi Purnomo.

Mamo lalu menceritakan berbagai permenungannya akan ruang dalam dan ruang luar dalam prosesnya berkarya, dan ia merangkumnya dalam lima pasang kata. 

Relation-reason merupakan sepasang kata pertama, yang menurutnya, mendasar dalam hidup. Ia mulai dengan menceritakan masalah ruang terbuka hijau di Jakarta yang hanya 9%, jauh dari ideal. Berangkat dari itu, ia bertanya bagaimana 69% kawasan hunian—yang saya tangkap dalam konteks ini berperan sebagai interior—lantas bisa memiliki relasi dengan kota—dalam hal ini, eksterior. Hubungan tersebut membawanya pada kata reaction-mutation, pasangan kata berikutnya. Di dalam kata itu, ia menceritakan berbagai upayanya memberi relasi langsung antara interior dan eksterior. Ia melakukannya dengan memutasi berbagai elemen arsitektur untuk berkontribusi untuk lingkungan.

“Bagaimana jika rumah dikonversi menjadi lanskap hibrid untuk membuat lingkungan kota yang lebih baik—tidak dengan cara yang radikal,” ungkapnya.

Mamo lalu melanjutkan dengan sepasang kata ketiga: separation-protection. Ia menyebutkan kebutuhan dasar manusia atas perlindungan dan ia tidak ingin memaksa batas tersebut dalam karya-karyanya. Ia memberikan contoh karya rumah tinggal untuk ORDOS 100. “Saya selalu berusaha bereaksi terhadap apa yang ada. Tetapi, saya tidak menemukan apa-apa di sana.” Dalam karya tersebut, Mamo kemudian mencoba memberi proteksi tempat tinggal tersebut terhadap iklim: menyerap salju dan hujan yang akan menjadi sumber daya air, memberi ruang untuk cahaya matahari masuk, dan melindungi rumah dari kelembapan.

Pasangan kata keempat—nature-surrender—merupakan pemikirannya untuk membuat arsitekturnya menyerah kepada alam. Salah satunya, ia aktualisasi di proyek Villa Lau Kawar, Sumatera Utara, di mana ia membuat atap transparan untuk menghadirkan alam. Melaluinya, penghuni villa bisa mengalami berbagai perubahan yang terjadi di sekitar dan merasakan kehadiran waktu. Selain itu, ia juga memasukkan karya proposal kompetisi Museum Tsunami ke dalam kategori ini. Dalam proyek tersebut, ia mempertanyakan urgensinya membuat museum dengan biaya begitu mahal, sebelum segala bentuk penanggulangan bencana tuntas terlaksana. Ketimbang membuat museum yang kokoh dan resisten terhadap alam, Mamo kemudian membuat bentuk struktur lipat berulang yang mengizinkan alam untuk masuk ke dalam ruang-ruangnya.

Villa Lau Kawar (sumber: Blog Adi Purnomo)

Immateriality-materiality adalah pasangan kata terakhir. Ada eksistensi pergerakan dan spiritual yang tak bisa dijelaskan dalam pemahaman material, yang ia sebut sebagai immaterialitas—suatu keberadaan yang sulit terungkap, tetapi ada.

Kali ini ia menceritakan karya instalasi berjudul “Semua Pintu” untuk pameran 1001 pintu, di mana ia membuat “pintu-pintu” imajiner yang keberadaannya begitu halus, dengan menggunakan bambu yang digantung menggunakan senar. Contoh karya lain yang ia ceritakan adalah Studio Cahaya. Di dalam proyek itu, ia mencoba merekam pergerakan matahari, dengan menghadirkan celah-celah diagonal yang meneruskan cahaya matahari.

“Dalam karya ini, immaterialitas dihadirkan terpisah namun kontinu,” tukas Mamo.

 

Mencari ruang-ruang di antara

Sebagai nama yang teratas di poster acara, Sou Fujimoto, sudah bisa diduga, mendapat giliran bicara terakhir. Judul presentasi Sou adalah “antara alam dan arsitektur”. Alam, menurutnya, mewakili “luar”, dan arsitektur mewakili “dalam”.

“Saya menaruh judul tersebut bukan untuk membagi keduanya,” ujarnya, “melainkan untuk memikirkan bagaimana meleburkan keduanya—mencari sesuatu yang baru di antaranya.”

Sou Fujimoto.

Sou lalu menceritakan proyek paviliun Serpentine Gallery tahun 2013. Idenya adalah membuat struktur tipis serupa awan, yang tidak hanya berfungsi sebagai naungan melainkan juga seperti lanskap di mana orang-orang bisa menjelajahinya. Ia dengan sengaja mengambil tatanan grid, yang cenderung kaku, demi menghasilkan impresi yang lembut. Sebuah paradoks.

Sou kemudian mengaitkan ketertarikannya pada ruang luar dan ruang dalam dengan latar kehidupannya. Kota Hokkaido, tempat ia dilahirkan dan dibesarkan, memiliki banyak taman dan hutan. Saat kuliah, ia kemudian pindah ke Tokyo—kota megapolitan yang begitu padat. Anehnya, walaupun suasana hiruk pikuk Tokyo sangat kontras dengan kampung halamannya, Sou tetap merasa nyaman. Ia pun bertanya-tanya: mengapa dua situasi yang begitu berbeda bisa sama-sama membuatnya nyaman? Dari situlah ia menemukan, bahwa biarpun dua situasi tersebut tampak berbeda, cara terciptanya kedua situasi tersebut sangat mirip. Keduanya, menurutnya, sama-sama dibangun dari elemen-elemen yang lebih kecil yang saling terhubung dalam menyusun teritori yang mengelilingi kita. Maka di urbanscape yang ramai seperti di Tokyo, ia kemudian merasa bahwa ruang luar tidaklah sepenuhnya ruang luar, melainkan percampuran antara ruang dalam dan ruang luar.

Berangkat dari perspektif tersebut, Sou mulai menceritakan berbagai pencariannya dalam mendefinisikan kembali hubungan antara ruang dalam dan ruang luar.

Serpentine Gallery 2013.

Contoh karya yang ia jelaskan adalah NA House, rumah kecil berukuran 54 meter persegi, yang wujudnya seperti susunan kotak-kotak transparan—disusun dengan level yang berbeda-beda tanpa ada pembatas yang solid. “Rumah dengan satu ruangan, pada saat yang bersamaan memiliki 20 ruangan berbeda,” ujar Sou.

Contoh lain, adalah N House. Rumah itu seperti Matryoshka, boneka kayu Rusia. Di dalam bentuk kotak rumah tersebut terdapat kotak lain, dan di dalam kotak lain tersebut, ada kotak lain lagi. Sou menceritakan niatnya utuk menciptakan gradasi antara ruang dalam dan ruang luar. Di satu titik kita berada di luar, di titik yang sama kita berada di dalam. Baginya, ruang yang ia ciptakan tak jauh berbeda dengan Engawa—semacam beranda di rumah-rumah Jepang tradisional, yang memiliki kualitas ruang antara ruang dalam dan ruang luar.

Beberapa proyek lainnya ia ceritakan, antara lain proyek House Vision di Jepang yang berkolaborasi dengan Honda dan proyek apartemen di Montpellier yang menyerupai nanas. Berbagai proyek tersebut sejalan dengan pencariannya meleburkan dua entitas yang berlawanan.

“Dalam arsitektur, kita selalu bertemu dengan konsep-konsep yang bertentangan. Lama-baru, luar-dalam, alam-arsitektur, perlindungan-keterbukaan, hal-hal semacam demikian. Tetapi, jika mencoba untuk meleburkannya, kita bisa menemukan ide-ide yang menakjubkan. Saya senang untuk terus menjawab tantangan tersebut dalam arsitektur,” ujar Sou, mengakhiri presentasinya.

 

Apartemen di Montpellier.

Apakah Anda datang ke acara tersebut dan ingin menceritakan pengalaman Anda? Atau Anda punya komentar setelah membaca reportase kami? Sampaikan pendapatmu di kolom komentar!

Baca juga: Sou Fujimoto: Menangkap Konteks yang Tersirat



comments powered by Disqus
 

Login dahulu