Rumahku

Bercermin pada kebersahajaan rumah Neneng di tahun 1979

Author
Photo: Keane Wajong

Beberapa hari yang lalu, ketika sedang melakukan riset kepustakaan di Pusat Dokumentasi Arsitektur, saya tersentuh oleh sebuah artikel di dalam jurnal Masalah Bangunan, Volume 24 Nomor 1, Maret 1979. Jurnal Masalah Bangunan merupakan jurnal ber-Bahasa Inggris yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Masalah Bangunan (LPMB), sebuah badan yang aktif melakukan penelitian dan pengembangan mengenai rancangan, teknik, dan berbagai persoalan mengenai bangunan dan permukiman. Lembaga ini memainkan peran penting di Indonesia karena memasyarakatkan berbagai teknik membangun dan berbagai permasalahan yang khas dijumpai di Indonesia.  Lembaga ini juga melakukan berbagai pemetaan atas berbagai potensi dan isu yang berhubungan dengan tradisi dan seni membangun.

Pada jurnal Masalah Bangunan volume 24 itu terdapat sebuah artikel berjudul My House.  Artikel tersebut menarik perhatian karena bukan ditulis oleh seorang peneliti – dan juga tidak menceritakan tentang penelitian atau isu teknis bangunan -  namun oleh seorang anak berusia 11 tahun bernama Neneng. Artikel yang ditulis Neneng merupakan bagian dari tulisan T.P. Mualim, salah seorang editor jurnal Masalah Bangunan. Mualim menulis artikel dalam rangka memperingati tahun 1979 sebagai tahun Kanak-Kanak Internasional. Ia mendedikasikan artikelnya untuk membicarakan berbagai hal yang berhubungan dengan kebutuhan hunian serta fasilitas bagi anak-anak, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia.

Teks pada photo ini terlampir pada bagian bawah artikel ini.

Photo: Setiadi Sopandi

Tulisan Neneng memenangkan lomba menulis yang diadakan oleh program Siaran Pedesaan milik Radio Republik Indonesia. Lomba ini mengajak anak-anak Indonesia untuk menuliskan karangan seputar pengalaman dan imajinasi mereka terhadap rumah dan lingkungan mereka. Karena berhasil menjadi juara pertama,  Neneng mendapatkan hadiah berupa sertifikat, jam tangan, beberapa buku, dua ayam, sepasang kelinci, dua bibit pohon cengkeh, dua tunas kelapa, dan liburan ke Bandung selama 3 hari untuk 3 orang. Hadiah bersahaja ini sebanding dengan tulisan Neneng yang polos, sederhana namun luar biasa ketika kita membacanya saat ini.

Artikel Neneng dapat menggambarkan bagaimana kondisi permukiman di desa-desa Indonesia pada umumnya. Neneng dapat dianggap mewakili bagaimana warga pedesaan hidup tanpa fasilitas modern, tanpa sistem sanitasi yang kita anggap layak, maupun standar kebersihan yang kita nikmati saat ini. Kita dapat menduga nuansa  masyarakat Indonesia di penghujung dekade 1970 melalui artikel tersebut.

Saat membaca tulisan Neneng, kita dapat menemukan nuansa yang berbeda dari keseharian kita sekarang. Indonesia pada tahun 2016 tidak lagi sepolos dan senaif empat dekade lampau. Jamban leher angsa dan lantai keramik adalah keniscayaan sehari-hari. Kita jarang melihat sumur yang ditimba. Sungai kita telah menjadi kotor. Dinding anyaman bambu hampir sirna kiprahnya sebagai dinding bangunan. Tetangga telah menjadi lebih jauh meskipun tinggal berhimpitan dengan kita. Cat warna-warni dan tempelan dinding produksi pabrik telah menghiasi rumah-rumah di desa yang kini makin gemar bersolek.

Membaca tulisan Neneng membuat saya berkaca mengenai betapa sulitnya kita – manusia Indonesia pada dekade ini – menghadirkan kembali sedikit antusiasme Neneng terhadap rumah dan lingkungannya. Di satu sisi kita telah mengupayakan rumah kita menjadi ‘lebih bersih’, ‘lebih praktis’, ‘lebih terang’, ‘lebih kokoh’. Arsitek di Indonesia juga turut andil dalam menghadirkan beberapa gagasan baru di sana. Dalam mewujudkan hal-hal yang ‘lebih’ itu tadi ternyata kita juga telah menyingkirkan banyak hal, salah satunya adalah kebersahajaan. Kita juga nampaknya kehilangan banyak aspek dalam hubungan psikis kita dengan rumah dan ruang-ruang tinggal kita, yang perlahan-lahan digeser oleh dominasi arsitektur dan berbagai aparatus modern.

Namun kita juga tidak boleh jatuh dalam kecenderungan menganggap masa lalu selalu lebih baik. Kita cenderung lemah dan mudah diperdaya oleh suasana yang ditampilkan dalam penggambaran masa lalu (maupun masa kini dan masa depan) semacam ini. Jake Amberson, tokoh utama penjelajah waktu  dalam serial televisi 11.22.63 (2016) karya Stephen King dan J.J. Abrams, bahkan digambarkan begitu yakin bahwa makanan pada dekade 1960 jauh lebih enak daripada makanan yang sama saat ini. Di kisah tersebut juga digambarkan betapa masa kini sebenarnya adalah akibat dari kecelakaan sejarah.

Perlu juga kita ketahui bahwa kebanyakan tulisan di masa Orde Baru, baik di surat kabar maupun media cetak lain cenderung menekankan nada positif dan optimis. Pelajaran Bahasa Indonesia dan tugas mengarang di sekolah – maupun artikel-artikel surat kabar dan majalah - seringkali dikemas dalam suasana ‘konstruktif’. Sensor terhadap media sangat kuat dan kebebasan berbicara sangat berbeda dengan saat ini. Kritik dianggap kontraproduktif dan seringkali dianggap mengancam stabilitas.

Terlepas dari jujur atau tidak ekspresi Neneng dalam tulisannya, masyarakat Indonesia pada saat itu mungkin memang berada dalam suasana yang optimis dan penuh harap di tengah berbagai kekurangan dan keterbatasan. Tulisan Neneng menyiratkan harap dan semangat bahwa keadaan akan berangsur membaik bila diupayakan.

Neneng menggambarkan dengan baik bagaimana makna rumahnya bagi dirinya. Keluarga Neneng tidak punya kamar mandi, mereka mandi di pinggir sumur. Saudara laki-laki Neneng lebih memilih mandi di sungai. Mereka juga harus berbagi pekarangan dengan banyak binatang peliharaan mereka. Dinding rumah mereka terbuat dari anyaman bambu. Beralas tanah, lantai rumah mereka harus diangkat. Semua itu dinarasikan dengan riang dan alamiah, tidak dengan prihatin.

Dalam banyak hal, hari ini kita tentu iri dengan Neneng yang nampak mencintai rumahnya. Baik kehangatannya maupun kesederhanaannya.

 


 

 

My House

 

I am shy of talking about my house because it is so simple. But I like it very much. God has given my parents and my brothers and sisters His blessing so that we do not live in a shack as I sometimes see in the newspaper. I do not dream of a luxurious house like I see in the colour pages of the magazines which I sometimes see in the village-chief’s house. The village-chief’s daughter is my school-mate. Her name is Siti and we often do together to the Qur’an reading lessons. Her house is of course larger than mine, especially their living room which was always seems fill of guests. But as I said, I like my house although our living room is only small. It’s 2 x 3 m and an open veranda and we have no chairs or table in it, because our guests are received sitting on a mat. 

 

Except for the kitchen, our house is a “raised-floor” house like most of the houses in the village. My father says he built our house himself with the help of many “uncles” from the village. The boys helped too. Althus my brother, who is now 18 years old and going steady with “Ceu” Anah. He said he helped by cutting bamboo and even painting the mats. I believe him, because last week he indeed help “Ceu Anah’s” mother to improve the wall of her house. I know they are preparing for Ceu anah’s wedding with my brother.

 

 Their house is smaller than ours since “bibi” Emeh is a widows. Their house consists only of one veranda, one bedroom, one inner room and a kitchen. Our house has two verandas a front one and a back one where we girls like to chat and cleaning our hair (= looking for hair lice Ed.) Than we have 2 small bedrooms. One for my parents and one for us girls. My eldest brother sleeps in the inner-room with “Kang” tata my other brother who is two years older than me. The inner-room has only 3 walls made of bamboo mats. These walls are painted white. The lower part is lined with old newspapers by my eldest brother, and he has painted it light green. The open wall borders onto the kitchen which is on the ground. Every morning after my father and the boys do the morning prayer, mother lights the stove and the heat of the fire and its glow is so comforting in the cold still dark morning. And then we take a cold shower with water from the well behind the house. As soon I finish dressing, I join then for hot tea or coffee and we have hot steamed or barbecued cassava. Sometimes we have sticky rice with salted fish. That is our breakfast. Then it is time for me and Kang Tatang to get ready for school. We have to walk about 3 km to the new Inpres school. At 10 o clock we finish school and there is homework for me and Kang Tata. Not homework from the teacher but helping our parents. Kang Tata has to clean the stables of our 2 goats, see that dicks are fed or take them to the rice field where father is working. They will come home with leaves or grass for the goats. We do not have a water buffalo any linger but the stable is still there. Who knows we may have one again in the near futures. I help mother who by the time I return from school is for the midday meal. If there is a lot of work in the field, father will not come for the meal and then tale it to him. I like to walk in the rice-field with the vast open view hills, mountains looming up on the horizon. I always recognize my house even from a distance and I long to return quickly. My house is a part of my life. Finally, I’ll try to describe the construction of my house.

 

 As I said, it is a raised floor type. My father says the total floor area is about 60 sqm. The walls are all bamboo mats. The floor frames and windows (yes in our house all the rooms have a window) are made of wood. The roof is covered with burnt clay tiles, but the roofs of the animal stables are still from thatch and we no longer keep the ducks under the house. Some years ago separate stables were made for our 43 ducks. We do not have a special bathroom; we the girls take our bath at the well which we share with our neighbours. Often my brothers prefer to go to the river which is a bit further than the well. I am sure they have more fun there, but the water is not as clean as the well.

 

 I am not able to tell much about technical thins but one thing is dure, the structure of our house is strong. The roof does not leak when it rains, and I do not find insects eating the wood parts of our house. We will keep it that way, because however simple the house is, it is part of my life.

 

(by:  Neneng, age 11)

 

 

 

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu