Satu Hari Bertanya Pada Lab Tanya

Diskusi bersama LabTanya seputar inisiatif dari masalah sehari-hari.

Author

Saya sedang merampungkan pekerjaan ketika Adi, pemilik studio arsitektur Adhi Wiswakarma Desantara (AWD), menelepon. Ia bicara panjang lebar sebelum akhirnya bertanya apakah saya bisa menjadi salah satu tamu dalam diskusi LabTanya yang ia gagas.

LabTanya adalah unit kerja rintisan studio AWD yang mendorong inisiatif kegiatan berbasis riset, penelitian, dan perancangan arsitektur. Mereka berusaha bertanya kembali apapun yang sudah dianggap normal atau wajar. Dengan kritis mereka bertanya apakah praktik-praktik keseharian di masyarakat yang sudah (dianggap) wajar masih relevan sampai saat ini. Mengutip istilah mereka, seperti menyusun puzzle, jangan-jangan kompleksitas permasalahan hari ini terjadi karena ada kepingan yang disusun secara tidak tepat sehingga menyebabkan kebingungan-kebingungan lainnya.

Melalui basis pertanyaan kritis tersebut LabTanya mencoba menghadirkan alternatif-alternatif yang selama ini belum muncul ke permukaan. Alternatif-alternatif ini akan menjadi pintu masuk untuk melihat praktik-praktik yang (mungkin) tidak lagi relevan dalam keseharian. Untuk mencapai tujuan tersebut, para peserta LabTanya akan merespons isu-isu yang ada di sekitar mereka, dalam hal ini wilayah Bintaro (lokasi studio AWD) dan tak menutup kemungkinan masalah kota Jakarta. Upaya merespons ini mereka lakukan dengan melibatkan warga baik dalam riset maupun dalam proses pendampingan gagasan-gagasannya.

Tahun ini adalah kegiatan perdana LabTanya yang berbentuk residensi untuk mahasiswa maupun fresh graduate jurusan arsitektur. Total ada 9 peserta dari 6 universitas dalam kegiatan ini. Sejak Januari 2015 para peserta LabTanya melakukan beragam kegiatan dengan tiga konteks besar yang mereka namakan: membongkar, mencari alternatif, dan menyusun ulang.  Tiga konteks besar ini diturunkan dalam beragam kegiatan mulai dari melakukan pengamatan langsung ke lapangan, dialog, dan memberi masukan untuk warga, hingga mengundang beberapa narasumber untuk berdiskusi dalam kegiatan “BukaStudio”. Marco Kusumawijaya, Yudhi Soerjoatmodjo, dan beberapa narasumber pernah berbagi perspektif dalam “BukaStudio”. Bersama warga, peserta LabTanya juga berproses bersama dalam mewujudkan inisiatif-inisiatifnya. Dalam proses ini para peserta LabTanya mengusung lima inisiatif. Tiap inisiatif  kemudian digodok oleh kelompok-kelompok kecil.

Dalam obrolan melalui telepon, Adi meminta saya merespons lima inisiatif yang sedang digodok. Saya hanya punya satu pertanyaan sebelum menjawab ajakan Adi. Pertanyaan sederhana, “Saya bukan arsitek dan tidak belajar arsitektur, kenapa saya harus merespons diskusi?” Adi kemudian menjawab, “Justru di situ menariknya, agar perspektifnya datang dari mana saja, bukan melulu dari arsitek,” . Dimas Jayasrana (bergiat di IFI Jakarta) dan Cecil Mariani (Desainer) juga akan meresepon LabTanya, keduanya bukan berlatar belakang pendidikan arsitektur. Saya kemudian menyetujui ajakan Adi, dengan niat untuk memenuhi keinginan teman.

Hari itu, Rabu 1 April 2015, saya tiba di lokasi LabTanya, kawasan Bintaro, Jakarta Selatan. Diskusi dimulai dengan penjelasan Adi mengenai semangat LabTanya, satu hal yang saya ingat adalah ia ingin agar, mengutip istilahnya, arsitektur lebih lentur. Semangat itu hanya bisa terwujud dengan memperkaya beragam perspektif. Itu alasan mengapa ruang diskusi ini menjadi penting menurutnya.

Diskusi pada hari itu akan membahas lima inisiatif yang peserta LabTanya hadirkan. Ada dua hal penting dalam pembahasan inisiatif-inisiatif LabTanya di tulisan ini. Pertama, inisiatif ini harus dilihat dalam kerangka proses yang belum selesai, sehingga yang coba dibaca adalah tawaran-tawaran yang teman-teman LabTanya ajukan. Kedua, inisiatif-inisiatif ini baru akan diluncurkan pada pertengahan tahun, sehingga saya dan Adi sepakat belum bisa menyebutkan nama dan deskripsi detail inisiatifnya secara spesifik. Peserta LabTanya menjelaskan inisiatifnya dengan mempresentasikan ide dan proses yang sudah mereka jalani. Presentasi ini disampaikan dengan medium yang beragam, seperti infografis, video, juga paparan data temuan-temuan mereka di lapangan.

Inisiatif pertama diawali dengan kegelisahan klasik perkotaan, masalah sampah. Mereka mempertanyakan dengan kritis apakah kebersihan sekadar bersinonim dengan perpindahan lokasi sampah. Mereka kemudian mengategorikan dan memetakan pola konsumsi beberapa keluarga di Bintaro. Asumsinya pola konsumsi punya relasi erat dengan pengurangan sampah domestik. Fakta yang mereka temukan, lebih dari 70% sampah di Tempat Penampungan Akhir (TPA) sebenarnya dapat dikurangi. Sebab hampir seluruhnya adalah ‘sumbangan’ dari sampah domestik. Artinya pola konsumsi yang efisien akan mengurangi volume sampah lebih dari setengahnya.

Inisiatif kedua bicara soal jalan yang tak lagi bersinonim dengan ruang interaksi, mereka mengistilahkannya dengan ruang kontestasi. Inisiatif ini ingin agar jalan menjadi ruang kolektif yang bisa mendukung interaksi dan kegiatan sehari-hari, bukan malah diambil alih oleh kendaraan roda empat. Contoh konkret misalnya sedikitnya anak-anak yang menggunakan jalan di depan rumah sebagai arena permainan. Fungsi-fungsi jalan yang tergerus oleh mobil, oleh kepentingan privat, dan lupa pada fungsi utamanya sebagai penopang interaksi keseharian coba dibongkar oleh inisiatif ini.

Pertanyaan kritis juga muncul dalam inisiatif ketiga. Inisiatifnya beranjak dari sebuah label yang diterima begitu saja, “Kota Bintaro”. Bagi inisiatif ini Bintaro hanya pemukiman, belum menjadi “Kota” seperti labelnya. Sebab Bintaro masih banyak diperlakukan sekadar sebagai tempat beristirahat. Aktivitas keseharian warga banyak dilakukan di luar kawasan Bintaro. Inisiatif ini mengajak warga untuk bersama mengubah perspektif Bintaro sebagai sekadar tempat tidur menjadi tempat hidup. Wacana pada inisiatif ini seperti anggukan kepala atas pernyataan Eko Budihardjo mengenai perencanaan kota, “Segenap pihak yang terlibat dalam proses perencanaan dan pembangunan kota mesti bersepakat untuk memperlakukan kota sebagai “rumah”, bukan “hotel”. Bila rumah rusak, kita pasti berusaha memperbaikinya, sedangkan bila hotel yang rusak pasti akan kita tinggalkan.”Mungkin Bintaro adalah salah satu “hotel” itu. Upaya inisiatif ini dimaksudkan untuk mengubahnya menjadi “rumah” bagi warganya. Potensinya jelas ada, ruangnya juga tersedia, yang belum ada adalah usaha bersama, inisiatif ini adalah langkah pertama usaha tersebut.

Inisiatif keempat lahir dari sebuah refleksi atas tegangan-tegangan ruang privat dan publik di Pamulang. Bila selama ini tegangan semacam itu dianggap sebagai dikotomi, inisiatif ini justru mencoba menawarkan sebuah alternatif. Bagi inisiatif ini privat dan publik bukan kutub yang berseberangan tapi bisa jadi saling berkelindan. Di antara inisiatif lainnya, inisiatif ini punya nafas “arsitektur” yang paling kuat. Tantangannya tentu adalah kenyamanan pengguna, karena “merelakan” yang privat untuk publik tentu tak semudah sebaliknya.

Inisiatif terakhir mencoba bermain-main dengan konteks yang lebih besar yakni merespons masalah laten Jakarta, kemacetan dan hunian. Mereka berfokus pada jarak hunian dan kantor yang terlalu jauh. Bagi mereka solusinya bukan membangun apartemen murah, rusunawa, atau project ribuan menara. Inisiatif ini mencoba mengurai mobilitas warga dengan melihat alternatif ruang-ruang kota yang bisa dimanfaatkan.Bagi saya kelima inisiatif LabTanya menarik, walaupun masih menyiratkan beberapa celah yang masih bisa diperdebatkan. Karena semangat LabTanya adalah melibatkan peran publik, ia juga siap akan  beragam masukan dan kritik. Tulisan ini misalnya adalah salah satu respons pada kegiatan LabTanya. Setidaknya ada tiga hal yang menurut saya kurang diperhatikan teman-teman LabTanya. Pertama, beberapa inisiatif LabTanya kelihatan masih lemah dalam riset. Hanya inisiatif terakhir yang secara detail mampu menggambarkan secara spesifik masalah dan solusi yang mereka tawarkan pada end user-nya. Inisiatif pertama meski secara spesifik menentukan aktor-aktor sasarannya namun belum terlihat adanya tawaran gamblang atas solusi praktis dan kontekstual.

Kedua, dalam kacamata project management banyak hal yang belum rapi. Indikator kesuksesan tidak dikupas secara mendalam dan timeline yang kurang rapi hampir bisa ditemui di semua inisiatif. Tentu semangat yang baik tanpa penerjemahan manajerial yang rapi hanya akan jadi mimpi di siang bolong, bukan?

Ketiga, kita mengenal istilah “Art for art’s sake” semacam seni untuk estetika semata, yang membebaskannya dari kewajiban melayani masyarakat. LabTanya punya kecenderungan untuk menyentil itu dalam konteks arsitektur. Namun bila tidak berhati-hati dan tidak mempersiapkan amunisi konkret yang cukup, bisa jadi mimpi ini akan bubar berantakan. Mungkin kritik ini muncul karena bias presentasi yang saya ikuti. Presedennya boleh jadi baru pada konsep besar yang sedang mereka kuliti. Ketika inisiatif-inisiatif ini diluncurkan (rencananya) pada pertengahan tahun mungkin kritik ini akan bisa terjawab dengan menyeluruh.

Meski meninggalkan beberapa catatan sana-sini, LabTanya cukup mencuri perhatian. Pertama, saya ingin mengaku bahwa diskusi bersama LabTanya telah berhasil membuat “sekadar memenuhi keinginan teman” menjadi mengubah perspektif mengenai (kerja) arsitektur. Terlalu bosan rasanya melihat arsitektur hanya dipersepsi dengan gambar-gambar bangunan indah entah di negeri mana. Mata memang termanjakan, tapi membuat arsitektur seperti mie instan, bisa pas dibuat di mana saja. LabTanya bukan bagian dari mie instan tersebut.

Apa yang LabTanya lakukan justru mengingatkan saya pada wawancara Avianti Armand dengan BBC. Avianti mengatakan bahwa arsitektur tidak pernah merupakan hasil alone genius. LabTanya sepertinya mencoba keras meruntuhkan persepsi alone genius tersebut.  Persepsi alone genius rasanya seperti pedang bermata dua, di satu sisi ia menghajar publik yang memandang arsitektur sebagai kerja individual, di sisi lain ia menjewer komunitas arsitek yang menjalankannya dengan perspektif business as usual.

Juga penting, upaya LabTanya menempatkan permasalahan-permasalahan pengguna (manusianya) sebagai sentral dan mencoba menafsirkannya dengan lebih lentur. Apalagi LabTanya diikuti oleh mahasiswa residensi dan mereka yang baru lulus, para pembelajar. Romo Mangun pernah mengatakan bahwa kebebasan bukan semata-mata syarat pendidikan melainkan tujuan. Menurut Romo Mangun kebebasan itulah yang akan mendorong kesadaran politik dan kekuatan secara otonom. Di titik ini LabTanya menjadi relevan. Relevansi pertama, percobaan AWD melakukan residensi dengan teman-teman mahasiswa dan fresh graduate, mereka para pembelajar, bisa dibaca sebagai ruang belajar dan dialog bersama. Saya rasa Adi berhasil menjadikan kebebasan berpikir sebagai spirit dari semua inisiasi di LabTanya.

Kedua, lama rasanya tidak melihat publik diajak berdialog dalam upaya-upaya pembangunan. LabTanya setidaknya berupaya melakukannya, bahwa ini masalah kita dan mari kita kerjakan bersama. Mereka sebenarnya tidak sekadar menjalankan inisiatif, tapi juga mendorong kesadaran sebagai warga. Usaha yang dilakukan LabTanya berkolaborasi dengan publik membuat memori saya meloncat ketika Mantan Presiden Soeharto mengkritik Romo Mangun. Soeharto menyindir dengan mengatakan bahwa sebagai rohaniawan Romo Mangun tak perlu bicara politik. Romo Mangun menjawab kritik tersebut dengan kurang lebih mengatakan, “Politik ada dua macam. Politik dalam rangka kekuasaan yaitu bagi yang berkuasa untuk mempertahankan dan melaksanakan kekuasaan. Kedua, politik moral yang niatnya untuk kepentingan orang banyak, ini arti politik sesungguhnya.“

Upaya LabTanya mengolaborasikan kerja arsitektur dengan beragam perspektif secara tidak langsung adalah pernyataan politik moralnya. Mungkin semangat Adi dan rekan-rekan LabTanya tak secara tegas menjadikan inisiatif-inisiatif ini sebagai pernyataan politiknya. Bahkan, di akhir diskusi tidak ada perbincangan berat seputar arsitektur atau politik. Kami justru menghabiskan waktu dengan melahap nasi bakar plus telur dan ikan yang sukses membuat perut kenyang.

Sambil menyantap jamuan akhir tersebut saya memperhatikan rekan-rekan yang sedang melakukan residensi dan magang di LabTanya. Semuanya masih sangat muda. Melihat mereka tiba-tiba saya ingat ucapan Romo Mangun sebelum kepergiannya, “Di mana pun, yang memperbarui itu selalu generasi muda”.

   

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu