Author
Poster Scavengers & Other Creatures in Promised Lands (sumber gambar: Instagram pu_architectureuph)

Selasa (07/01/2020) – Universitas Pelita Harapan Jurusan Arsitektur kedatangan tamu dari mahasiswa-mahasiswi AA School, London bersama dengan Ricardo de Ostos, pendiri dari NaJa & deOstos – sebuah studio desain di London yang berkecimpung dalam pengembangan desain arsitektur yang bersifat eksperimental. Dalam kunjungannya kali ini, Ricardo de Ostos memberikan kuliah tamu kepada mahasiswa-mahasiswi arsitektur Universitas Pelita Harapan dengan tema, ‘Scavengers & Other Creatures in Promised Lands’. Topik ini juga pernah beliau bahas dan bawakan bersama dengan rekannya, Nannette Jackowski, dalam perkuliahan di AA School.

 Gambar utama dari topik ‘Scavengers & Other Creatures in Promised Land” Oleh Naja & deOstos

Gambar utama dari topik ‘Scavengers & Other Creatures in Promised Lands”

Oleh Naja & deOstos

(Sumber gambar: Website NaJa & deOstos)

            Beliau memulai topik pembahasan dengan sebuah pertanyaan, “What are the challenges of our generations?” (Apa saja tantangan generasi kita sekarang ini?). Kemudian beliau menjelaskan bahwa sebagai makhluk yang diciptakan, kita memiliki peran dan tanggung jawab dalam menciptakan kembali dan mengisi dunia ini dengan karya ciptaan. Spesifiknya, apa yang diciptakan itu adalah bentuk urban atau dikenal juga dengan perancangan kota, yaitu tentang arsitektur serta hubungannya dengan konteks dan manusia.

 Suasana saat Ricardo de Ostos mempresentasikan hasil karyanya.

Suasana saat Ricardo de Ostos mempresentasikan hasil karyanya.

(Foto oleh Farisya Yunandira Putri) 

            Menurut de Ostos, arsitektur tidak hanya mengenai ruang, melainkan juga mengenai waktu. Dalam presentasi yang berlangsung selama kurang lebih satu jam ini, de Ostos menunjukkan beberapa hasil karya yang telah dilakukan bersama dengan rekan dan murid-muridnya. Karya-karya yang ditunjukkan berupa hasil renderan dan kolase konsep eksperimentasi desain arsitektur, yang juga dapat ditemukan dalam buku yang diterbitkan NaJa & deOstos dengan judul topik yang sama. Beliau menjelaskan bahwa hasil-hasil karya ini berupa penggabungan antara imajinasi dengan bahasa arsitektur, menghasilkan sebuah konsep karya yang tidak pernah dilihat sebelumnya. De Ostos membenarkan bahwa penting untuk menggunakan imajinasi dan tahu di mana imajinasi tersebut harus diimplementasikan dalam karya kita.

 Salah satu contoh kolase yang dibuat oleh de Ostos yang menjelaskan tentang Mythical Land (kiri) dan Jural Land (kanan)

Salah satu contoh kolase yang dibuat oleh de Ostos

yang menjelaskan tentang Mythical Land (kiri) dan Jural Land (kanan)

(Sumber gambar: Youtube AA School of Architecture) 

 

“This was the order of human institutions: first the forests, after that the huts, then the villages, next the cities and finally the academies”. – Giambattista Vico 

            Mengutip Giambattista Vico, Ricardo de Ostos menjelaskan konsep Mythical Land dan Jural Land melalui sebuah diagram. Mythical Land (diagram kiri) seperti yang dijelaskan oleh de Ostos adalah tempat-tempat yang penuh akan memori, di mana ikatan batin leluhur dan kegiatan sosial serta agama mengikat suatu komunitas dengan erat. Orang-orang yang tinggal di dalam lingkungan tanpa batasan wilayah yang tegas seperti ini tergolong masih mempercayai mitos dan upacara-upacara kepercayaan. Mythical Land digambarkan memiliki bentuk melingkar, menandakan apapun yang terjadi di dalamnya akan bersifat berulang secara terus-menerus. Waktu sifatnya tidak berlanjut, melainkan berulang setiap harinya, setiap tahunnya akan sama dan tidak berubah. Hanya perang yang dapat mengubah dan menata ulang struktur urban dalam daerah-daerah seperti ini. Contoh daerah-daerah yang dikategorikan ke dalam Mythical Land ini masih bisa kita temukan prakteknya hingga sekarang di belahan dunia bagian Timur.

            Berbeda dengan Mythical Land, Jural Land (diagram kanan) seperti yang dijelaskan oleh de Ostos merupakan tempat-tempat yang sudah dipengaruhi oleh kehadiran teknologi, sehingga penduduknya tidak lagi dipengaruhi oleh mitos, tetapi mereka belajar untuk berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya (migrasi dan transmigrasi) dengan adanya bantuan teknologi. Jural Land tidak lagi digambarkan melingkar karena yang terjadi di dalamnya tidak lagi bersifat berulang, melainkan dapat terpecah menjadi beberapa kemungkinan di masa depan. Area yang sifatnya seperti ini memperkenalkan hak kepemilikan atas tanah kepada penduduknya, adanya batasan wilayah yang jelas, serta berlakunya hukum yang adil bagi semua penduduknya. Di sini, waktu sifatnya menjadi linear, berbeda dari hari ke hari, tahun ke tahun. Contoh daerah-daerah yang dikategorikan ke dalam Jural Land ini dapat kita jumpai di belahan dunia bagian Barat.

 Ricardo de Ostos saat sedang mempresentasikan salah satu karyanya.

Ricardo de Ostos saat sedang mempresentasikan salah satu karyanya.

(Foto oleh Farisya Yunandira Putri)

            ‘Scavengers & Other Creatures in Promised Lands’ adalah topik riset yang telah dilakukan oleh Ricardo de Ostos dan timnya selama sepuluh tahun lebih, dan bahkan masih berlanjut hingga sekarang ini. Ide utama dari riset ini adalah untuk mempelajari bagaimana arsitektur bekerja dengan skala dan konteks yang tentunya berbeda di setiap tempat di belahan dunia manapun. Sebagai penutup presentasinya, deOstos mengatakan bahwa penting untuk menanamkan sikap bereksperimentasi dalam segala pekerjaan yang kita lakukan. Akan tetapi, setiap eksperimen tersebut belum tentu berbuah manis, terkadang hasilnya tidak memuaskan. Namun, di saat kita bisa mengerti dengan baik kesalahan-kesalahan yang kita lakukan dalam bereksperimen, maka kesalahan tersebut akan menuntun kita ke solusi yang lebih baik di masa yang akan datang.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu