Sindrom Columbus Melanda Arsitek

Tulisan Eko Budiharjo pada Kongres IAI tahun 1985.

Author

Dalam tulisan-tulisannya, tampak hasrat dan kepeduliannya pada arsitektur Indonesia. Di sisi lain, wawasannya yang luas, yang tidak terbatas pada arsitektur melulu, membuat narasi tulisannya menari lincah. Dia Eko Budiharjo (1944-2014).

Eko menempuh studi sarjananya di jurusan Arsitektur Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, dan melanjutkan studi masternya di bidang Perencanaan  Kota di University of Wales Institute of Science and Technology, Inggris. Ia mengajar di Universitas Diponegoro, Semarang, dan pernah menjabat sebagai Rektor selama tahun 1998-2006.

Ia menaruh perhatian pada publikasi arsitektur. Selain banyak menulis buku arsitektur, ia juga banyak menyunting buku kumpulan tulisan hasil pemikiran para arsitek Indonesia. “Begitu banyak karya arsitektur yang muncul di persada bumi Indonesia, tetapi begitu sedikit yang menularkan konsep-konsep pemikiran dan proses terjadinya karya tersebut,” tulisnya ketika mengantarkan salah satu bukunya.

Sindrom Columbus Melanda Arsitek adalah tulisannya untuk Kongres Nasional III Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Jakarta 14-16 Maret 1985. Tulisan tersebut juga dimuat di harian Kompas, 16 Maret 1985. Dalam tulisan itu, ia menyebutkan bahwa perancangan arsitektur saat itu seperti terjangkit Sindrom Columbus. Christopher Columbus, kita tahu, adalah orang yang ambisius, namun tidak betul-betul tahu ia di mana—sampai ajalnya, ia masih mengira Benua Amerika adalah Asia. Eko berkata, “Banyak arsitek yang bergulat dan main cinta dengan dirinya sendiri.”

Di tulisan ini juga, tampak pandangannya bahwa arsitektur bukan hanya urusan programatis ataupun kenikmatan visual, melainkan juga perkara persentuhan dengan jiwa. Ia juga menempatkan arsitektur secara proporsional, tidak semata-mata sebagai ilmu yang eksklusif hanya untuk kaum borjuis, melainkan juga untuk rakyat kecil. Di akhir tulisan, ia menyampaikan betapa pentingnya mengembangkan apresiasi dan kritik arsitektur, secara terbuka, untuk menghindari kemandekan wacana, juga sebagai jawaban atas sindrom yang ia sebutkan.

Membaca tulisannya, kita sadar kita belum bergerak jauh.

 

Sindrom Columbus Melanda Arsitek

Eko Budiharjo

Dewasa ini perancangan arsitektur merupakan contoh (jelek) yang paling baik dari Sindrom Columbus: penuh ledakan ambisi untuk setiap kali menemukan Amerika, atau, menciptakan kembali roda bulat bundar. Begitu siratan tuduhan Prof. Amos Rapoport dalam tulisannya tentang pendidikan arsitektur.

Kabar buruk yang slentang-slenting sampai ke rongga telinga dari Eropa, hampir senada juga. Dikisahkan, banyak bangunan baru, modern, dan purna-modern, yang tidak bisa ditangkap atau dibaca pesannya oleh mayoritas masyarakat awam.

Masyarakat lantas menjadi begitu muak dan mualnya dengan kehadiran arsitektur baru, sampai-sampai benak kepala mereka dijejali dengan purbasangka: apapun yang dibangun sekarang pastilah lebih jelek daripada apa yang sudah berdiri sebelumnya.

Old is Best” menjadi epithet yang merupakan tongkat wasiat buat mereka.

Yang sangat menarik, tapi sekaligus juga mencekam, adalah bahwa ucapan-ucapan tersebut tidak berhenti sekadar sebagai slogan hampa, tetapi mengejawantah dalam tindakan nyata. Masyarakat Prancis misalnya, beramai-ramai melancarkan protes keras tatkala Presiden François Mitterrand, yang ingin ikut memberikan cap pribadi dalam perkembangan arsitektur Prancis, menandatangani persetujuan atas rencana dibangunnya piramida kaca ultra modern karya I. M. Pei sebagai gerbang baru masuk Louvre, dan gedung Opera dari besi kaca di Place de la Bastile.

Gelombang protes ini didukung oleh Le Figaro, media massa yang sangat berpengaruh.

Di Inggris, usulan pembangunan gedung kantor 25 lantai dari kaca dan tembaga yang dirancang oleh arsitek beken Mies Van der Rohe, juga sampai dua kali ditolak oleh pihak yang berwajib (Grester London Council), dengan alasan kehadiran pencakar awan itu akan mengakibatkan tergusurnya 9 bangunan kuno yang terdaftar sebagai bangunan bersejarah.

Pada suatu saat memang pernah disepakati bahwa perancangan arsitektur yang “baik” selalu mengandung konotasi “modern”: bentuk yang sucihama bersih, polos, apa adanya, yang muncul dari pewadahan yang lugas terhadap fungsi.

Persetan dengan kesinambungan historis, kehausan manusia akan seni ornamental, atau keserasian dengan lingkungan sekitarnya.

Dekrit arsitek adalah bahwa bentuk-bentuk fungsional dan modern itulah cerminan masa kini yang absah. Padahal pada kenyataannya bentuk-bentuk tersebut sering terasing dari masyarakat pemakai dan penikmatnya, terasa abstrak dan angkuh, karena hanya memandang sebelah mata pada manusia, martabatnya, sejarah dan masa depannya.

Sebetulnya memang sudah sejak lama disinyalir antara lain oleh Dante Alighieri, bahwa apa yang disebut “modern” sering berarti sesuatu yang tidak cukup berharga untuk dibiarkan menjadi tua.

Karena itu, dalam setiap kongres arsitektur, kapan dan di mana saja, topik kontroversial yang klasik semacam ini selalu muncul kembali. Keberagaman ekspresi lokal diakui dan bahkan dituntut keberadaannya dari setiap karya arsitektur. Itu adalah pusparagam kisah-kisah dari mancanegara yang saya pikir cukup gayut juga dengan masalah arsitektur di negara kita tercinta.

Budaya Massa

Karena arsitektur merupakan suatu bentuk budaya massa, konsekuensinya ia harus bisa menjalin komunikasi dengan masyarakat pemakainya, wajib memiliki mass appeal, dan seyogyanyalah merasuki wilayah kehidupan sehari-hari.

Kalau bak sampah dirancang agak terlalu bagus sehingga dimanfaatkan sebagai tempat tinggal atau MCK digunakan sebagai gudang beras karena sayang bila “hanya” untuk buang kotoran (tidak usah kecil hati, karena di Italia pun flush toilet didayagunakan sebagai tempat pencuci buah anggur), berarti komunikasi timbal-balik tidak berlangsung dengan sewajarnya.

Mies Van der Rohe merancang kursinya yang terkenal itu sedemikian rupa sehingga terasa berat dan sulit digeser karena konon menurut etika Jerman, menggeser kursi agar lebih dekat pada yang punya rumah dinilai sebagai tindakan yang kasar alias tidak berbudaya.

Akan tetapi, biarpun dari segi kekuatan, fungsi dan kenyamanan serta keindahan (“Firmitas, Utilitas, dan Venustas”, menurut versi Vitruvius) kursi Mies memenuhi segenap persyaratan, namun karya itu toh tidak bisa diterapkandi sembarang tempat dan waktu dengan begitu saja.

Kekhasan dan keunikan pemakai harus menjadi batu pijakan utama untuk melangkah dalam proses perancangan. Kalau masyarakat Occidental menyukai hal-hal yang serba formal, definitif, tugas (pakaian saja dipilah-pilah menjadi pakaian santai, sport, pijama, evening dress, pakaian kantor, dan lain-lain), masyarakat kita yang tergolong oriental lebih mendambakan keluwesan dan kekenyalan alias fleksibilitas (sarung bisa dipakai untuk bertandang ke tetangga, sembahyang di masjid, main silat, ronda malam, ke kamar mandi atau tidur; dan yang disebut batik bisa digunakan untuk kain, baju, taplak, tirai, pembalut kursi, gambar pajangan, menggendong bayi, atau penutup keranda).

Jadi tidak usah heran kalau kita jumpai rumah yang sekaligus jadi bengkel, warung, salon, praktik dokter atau dukun dan bahkan bordil gelap. Atau ruang tunggu suatu kantor yang diisi meja pingpong atau bilyard. Yang kita sebut pencak silat itu, adalah juga seni tari, olahraga, dan musik campur jadi satu. Nah, tanpa adanya rasa tanggap dan pencerapan tuntas atas hal-hal spesifik semacam itu, akibatnya adalah seperti yang menimpa kebanyakan perumahan yang dibangun melalui KPR-BTN: langsung dirombak begitu ditempati oleh pemakainya. Sebab rumah-rumah tersebut dirancang secara massal dalam bentuk paket mati artifisial yang terima jadi, sehingga kurang memberikan peluang bagi pemakai/penghuni/pemilik untuk memancangkan cap pribadi atau menampilkan jati diri masing-masing.

Secara jujur harus pula diakui bahwa banyak karya arsitektur yang betul secara programatis dan prima dari kacamata utilitarian, tetapi kurang menyentuh jiwa sehingga tidak menghasilkan kenikmatan, kalau toh ada paling hanya kenikmatan visual yang sesaat saja.

Padahal justru sentuhan pada getaran jiwa inilah yang secara esensial membedakan karya arsitek dengan karya builders dan engineers. Begitu kurang lebih gumam R. M. Beckley. Dan dalam hal ini upaya dan gebrakanArsindo dirasakan masih kurang. Kalau mau dibuat ibarat dari kenyataan sehari-hari, suara muazin yang sensitif, melodious, penuh perasaan, menggetarkan jiwa dan menegakkan bulu roma itulah yang semestinya lebih dibudidayakan daripada teriakan yang keluar dari pengeras suara di masjid yang terlalu lantang melantunkan adzan bersumber dari pita rekaman.

Simfoni, bukan Cacophony

Banyak arsitek yang bergulat dan main cinta dengan dirinya sendiri, seperti dikeluhkan oleh Rapoport: pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan selera suka dan tidak suka yang subjektif, personal, tan-logis dan tidak kumulatif. Dengan kata lain, tidak didasarkan pada informasi objektif yang terandalkan, studi kepustakaan yang lengkap dan gayut, penelitian mendalam mengenai interaksi manusia dan lingkungan, atau pada teori-teori arsitektur yang teruji.

Dikisahkan oleh Rapoport tentang suatu pengkajian buku mutakhir oleh seorang pelopor teori arsitektur post modern yang menyebutkan bahwa “arsitektur menyangkut perilaku manusia, lingkungan, dan bentuk. Karena saya awam dalam hal perilaku manusia dan lingkungan, saya akan membatasi pembahasan saya khusus mengenai bentuk saja.”

Wah rasanya kilah semacam itu sungguh sulit untuk dipercaya, apalagi buat dimaafkan. Sebab selain berkutat perkara bentuk yang mengandung denotasi eksplisit tentang fungsi, arsitek mau tidak mau harus bicara tentang manusia dan lingkungan berkat konotasi implisit yang menyangkut makna dan simbolisme kolektif yang diembannya.

Sama-sama bentuk dasar kursi yang berdenotasi tempat duduk, misalnya, ada berbagai ragam variasi penampilan kursi karena konotasinya yang berlainan. Kursi pimpinan yang empuk bermahkota penuh ukiran indah pastilah berbeda dengan kursi bawahannya yang serba keras, polos, dan lugu.

Dalam skala yang lebih luas, adanya keserbaragaman sektor formal-informal, modern-tradisional, elitis-populis, kontemporer-konvensional, dan lain-lain yang mewarnai arsitektur dan lingkungan di Indonesia mesti diterima dengan kepala tegak berlapang dada. Sedapat mungkin semua itu diaransir menjadi simfoni yang laras, dan bukan sekadar dikotak-kotak untuk kemudian dicampur aduk menjadi cacophony yang kacau balau.

Lingkungan perkampungan kumuh, kaki lima, pasar, kendaraan jenis ketiga atau keempat, dan lain-lain yang serba hemat energi, akrab dengan udara terbuka, berkemampuan adaptasi tinggi, menjangkau mayoritas masyarakat yang papa, sepantasnya mendapat perhatian yang lebih proporsional dari para arsitek. Terutama Arsindo yang menduduki peran sebagai penentu kebijakan. Kiranya sulit disangkal bahwa arsitek kaki telanjang yang solider terhadap rakyat kecil dan terpanggil jiwanya untuk bergelut memecahkan masalah-masalah yang dihadapi bagian terbesar masyarakat kita, masih termasuk kategori barang langka.

Senada dengan kecaman Arifin C. Noor, kebanyakan arsitek kita di samping arsitek kota adalah juga arsitek borjuis.

Pelihara rakyat

Misi yang disandang oleh arsitek memang tidak tanggung-tanggung: tidak hanya melayani apa yang diharapkan dan dibutuhkan sekarang, melainkan juga memberikan apa yang belum diharapkan.

Pinjam kata-kata Umar Kayam, arsitektur sebagai salah satu ungkapan budaya tidak hanya diartikan sebagai ekspresi kemampuan manusia dalam menciptakan sarana-sarana untuk mewakili dan menjaga kelangsungan hidupnya, tetapi juga diartikan sebagai ekspresi manusia dalam menciptakan sarana-sarana itu menjadi prasarana untuk perkembangan selanjutnya.

Karya arsitektur Indonesia yang baik, di samping mampu memenuhi trinitas Vitruvius, juga memiliki potensi antara lain untuk lebih memperkaya jiwa, mengguyub-rukunkan masyarakat, menangkal timbulnya kecemburuan sosial, memberikan peluang guna pembauran, dan mewadahi perkembangan tuntutan kehidupan masyarakat yang selalu meningkat. Semua itu dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan mensejahterakan masyarakat, tanpa kecuali.

Dus, manakala ada arsitek yang berperan kunci dalam bidang pemukiman/real estate, dan hasil karya perencanaan lingkungannya menyengsarakan rakyat, misalnya dalam bentuk: air bersihnya ternyata kotor, fasilitas umum terutama lapangan terbuka atau tempat bermain kurang memadai, lingkungannya rawan terhadap banjir, atau menciptakan enclave yang eksklusif, alergi terhadap pencampuran dengan masyarakat sekitar, dan semacamnya, berarti bahwa dia tidak sepolos hati mengemban misinya yang luhur demi kepentingan masyarakat banyak dan generasi penerusnya.

Para arsitek mesti ingat petatah petitih: “Berkata peliharalah lidah, berjalan peliharalah kaki... berencana peliharalah rakyat.” Dan dalam kehidupan praktiknya, arsitek memang makin dituntut untuk lebih daripada seorang arsitek. Sering dia “terpaksa” harus berpikir dan bertingkah sebagai seorang sosiolog, ekonomi, psikolog, dan bahkan antropolog sekaligus. Ini bisa dianggap sebagai beban, tetapi bisa juga sebagai kehormatan sekaligus tantangan.

Dwicakap

Arsitek sering dituding sebagai “inarticulate person”, alias orang yang sulit ditangkap apalagi dicerna gagasan dan pokok-pokok pikirannya. Entah karena pandangan garda depannya yang terlalu utopian (atau justru menoleh balik mundur jauh ke belakang), atau bahasanya yang terlalu canggih, atau memang karena tidak bisa menuturkan idenya secara urutan, dan runtut.

Padahal, karena pada hakekatnya “designing is a reflective conversation” (Donald Schon), seyogyanya arsitek banyak melakukan dwicakap baik antara arsitek sendiri, antara arsitek dan profesional di bidang lain, para penentu kebijakan dan masyarakat luas. Penekanannya adalah dwi-cakap yang setara dan interaktif jadi bukan dalam bentuk pidato, penyuluhan, pengarahan, atau instruksi yang sifatnya satu arah.

Hemat saya, melalui wahana dwicakap yang intensif dan ekstensif inilah baru bisa dirumuskan secara tepat masalah yang nyata-nyata dihadapi dan perlu dipecahkan. Kata orang arif, perumusan masalah yang tepat berarti sudah setengah memecahkan masalah. Erich Mendelsohn pernah mengatakan bahwa problema utama dalam arsitektur adalah “the finiteness of mechanics and the infiteness of life.” Nah, untuk menilik perikehidupan yang tak terbatas itulah sangat diperlukan dwicakap yang demokratis dan sinambung, dituntaskan dengan penelitian lapangan yang baik dan benar.

Yang tidak kalah pentingnya, hasil-hasil dwicakap dan penelitian tersebut seyogyanya direkam dalam bentuk tulisan dan disebarluaskan melalui berbagai media. Budaya tulisan harus segera melengkapi budaya lisan. Kalau tidak, kita akan selalu berputar-putar di sekitar masalah yang sama, tanpa bisa melesat ke luar dari kurungan yang menyelubungi kita.

Akibat selanjutnya, pakar dari disiplin lainlah yang akan banyak bicara dan menulis perkara arsitektur, lingkungan binaan, dan perkotaan. Tanpa penelitian, perkembangan arsitektur akan mandek, tidak akan muncul teori baru, dan tamat pulalah kedudukannya sebagai suatu cabang ilmu. Cukup puas dipatok sebagai keterampilan saja. Ini akan sangat disayangkan, mengingat bahwa sistem pendidikan arsitektur yang telah berlangsung berpuluh-puluh tahun dinilai inovatif dipakai sebagai model bagi pendidik lain dan telah mempraktikkan apa yang dituntut oleh pendidikan radikal seperti Ivan Illich, Jean Piaget, dan Jerome Bruner, yaitu mensenyawakan ilmu dan profesi, pengetahuan dan tindakan, teori dan aplikasi.

Apresiasi dan Kritik Arsitektur

Tidak hanya masyarakat pemakai arsitektur, para arsitek sendiri juga perlu ditingkatkan apresiasinya terhadap karya-karya arsitektur.

Makin tinggi tingkat apresiasi seseorang, akan semakin tinggi pula intensitas penikmatannya. Selain kegiatan melatih apresiasi dalam bentuk pameran, penerbitan buku semacam “Karya Arsitektur Arsitek Indonesia”, diskusi dan ceramah ilmiah, perlu pula mulai dirintis pembudayaan kritik arsitektur. Kritik yang dimaksud tidak hanya kritik akademis yang mempertanyakan landasan teori yang sudah terlanjur mapan, atau memperbaharui teori yang ada, juga tidak sekadar evaluasi baik buruk dari suatu karya arsitektur (yang menuding di mana letak keberhasilan dan di mana titik-titik lemahnya), melainkan juga kritik yang mengupas, memberi dan menjelaskan nilai-nilai, lambang-lambang, dan dimensi tersembunyi yang terkandung di dalamnya. Hal yang tidak kasat mata, yang memberikan napas dan menjiwai suatu karya itulah yang lebih perlu untuk diresapi dari pada sekadar bentuk fisik saja, seperti kecenderungan yang mengarus deras dewasa ini.

Metode kritiknya bisa menggunakan metode Ganzheit yang memulai dari pemahaman atas keseluruhan atau totalitas karya, maupun metode analitis yang memulai dari pemahaman, pemerian, dan penganalisisan setiap unsur atau komponen pembentuk karya tersebut. Memang agak disayangkan bahwa arsitek Indonesia yang ketimuran ini, sebagaimana halnya dengan orang Timur pada umumnya sangat sopan santun, penuh dengan tenggang rasa. Tidak tega melontarkan kritik yang telah secara terbuka, lebih suka berdesas-desus di belakang panggung. Memang barangkali lebih nikmat, akan tetapi jelas tidak mendidik.

Melalui wahana kritik konstruktif yang gamblang, dengan bahasa yang komunikatif mudah dicerna, tanpa perlu terjerumus ke pendangkalan, kiranya semua pihak dapat saling belajar. Di satu pihak kesuksesan dan keberhasilan dapat semakin ditingkatkan, sedangkan di lain pihak kegagalan yang telah terlanjur tidak akan terulang.

Jika upaya membudayakan apresiasi dan kritik ini sudah bisa dirintis, diharapkan kesenjangan persepsi dapat dijembatani dan penilaian yang serba nisbi atas dasar selera subjektif dapat diberi bingkai yang jelas dalam bentuk pakat dan kesamaan bahasa. Tak akan ada lagi yang berani berujar bahwa kuda yng dicat belang itu namanya juga zebra.

Dan Sindrom Columbus tidak akan punya nyali untuk menjangkiti para Arsitektur tercinta.

Demikianlah hendaknya.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu